Perjanjian

Perjanjian
Episode 63


__ADS_3

Marni resah dengan kehadiran Fenita kemarin ke rumah majikannya. Pasalnya, ia tahu betul sudah sekian lama mereka tidak saling bertukar kabar, kenapa sekarang tiba-tiba ia muncul kembali di keluarga Marco. Pastinya, ada sesuatu hal yang ia rencanakan untuk merusak kembali rumah tangga Martha dan suaminya.


“Ada apa sih, Bu?” tanya Samsul pada Marni ia berbaring di sebelah istrinya itu.


“Aku khawatir, Pak,” sahut Marni memejamkan matanya.


Samsul memiringkan tubuhnya menghadap Marni. “Apa yang ibu pikirkan sih, cerita, biar Bapak dengarkan,” pinta Samsul.


“Kemarin bapak enggak liat ibunya pak Kelvin kemari?” tanya Marni memandang suaminya.


“Lihat. Loh, memangnya kenapa?” tanya Samsul balik, ia mengernyitkan keningnya.


Marni bangkit dari tidurnya, ia duduk bersila menghadap Samsul. “Bapak gimana sih, masa lupa siapa ibu Fenita itu?” tanya Marni mulai kesal, Samsul masih belum mengerti dengan pembicaraan mereka.


“Maklum Bu, Bapak lupa, mending ibu cerita saja, dari pada marah-marah. Enggak baik buat kesehatan loh, Bu,” balas Samsul pada Marni.


“Apa aku cerita saja ya Pak, bahwa bu Fenita itu telah menukar bayinya bu Sukma sahabatnya buk nyonya?” tanya Marni pada suaminya.


Samsul bertambah pusing, ia tidak mengerti apa hubungannya dengan permasalahan Martha.


“Hubungannya apa toh, Bu?” tanya Samsul menggaruk kepalanya. “Lagian bukannya ibu Sukma itu sudah tiada?” tanya Samsul.


“Itu masalahnya Bapak, kita enggak tahu apa hubungannya, jadi kalo aku kasih tahu buk nyonya, kita jadi tahu alasannya Fenita apa menukar bayi Sukma dengan bayi yang meninggal.” Marni menjawab dengan mengatupkan bibirnya.


Samsul tertawa melihat cara Marni berbicara.


“Kalo dipikir-pikir ya juga ya Bu, kenapa coba buk nyonya masih tahan gitu. Kenapa ia enggak cari di mana ibu Sukma. Kan anaknya dikasih Sukma, Bapak loh yang antar Bu, bapak ingat betul kejadian itu,” ujar Samsul.


“Ada yang aneh gak sih menurut Bapak?” tanya Marni menggaruk-garuk keningnya.


Samsul mengangkat kedua tangannya mengisyaratkan bahwa ia tidak tahu.


“Cerita saja ke buk nyonya. Biar ada titik terang gitu, di mana anaknya yang sebenarnya,” saran Samsul setelah ia rasa cerita Martha sedikit rumit menurutnya.


Marni akhirnya mempertimbangkan saran suaminya, karena tidak ada orang lain yang mengetahui kejadian masa lalu mereka, kecuali, Marni, suaminya dan Bik Khodijah.


* * *


Fenita membantu Rose bersih-bersih di kamar, padahal ia punya maksud terselubung yang sedang ia rencanakan.

__ADS_1


Rose mengemasi barang-barangnya, ia mengambil sebuah kotak kecil dari kayu ia masukkan ke dalam kopernya.


“Pasti ini,” gumam Fenita dalam hati.


“Apa itu, Nak?” tanya Fenita.


“Ini barang-barang aku waktu di panti Ma,” sahut Rose.


“Boleh ibu lihat?” tanya Fenita lagi.


Rose mengangguk kemudian ia menyerahkan kotak itu pada Fenita.


Fenita tersenyum, ternyata masih ada gelang itu.


*


Keesokan harinya, Fenita mengajak Rose pergi ke rumah Martha. Tanpa merasa aneh, Rose mengiyakan, sekilas memang tidak terlihat keanehan. Toh, Rose juga sering bermain ke rumah Martha.


“Sayang, pakai gelang yang semalam Mama liat, dong?” pinta Fenita.


“Kenapa dengan gelang itu Ma?” tanya Rose menyipitkan matanya.


“Kenapa harus disimpan, gelangnya cantik gitu. Mama saja suka,” ujar Fenita mencari alasan.


“Kenapa enggak diangkat?” tanya Fenita.


“Nanti saja aku telepon balik,” sahut Rose.


Mereka tiba di rumah keluarga Marco.


Martha sedang minum teh, ia asyik membolak-balik halaman majalahnya.


“Ya ampun, serius banget. Tamu pun gak digubris,” ujar Fenita ketika ia menginjakkan kaki di tangga teras.


Martha tertawa kecil. “Maaf Feni lagi asyik lihat-lihat model tas terbaru, nih,” sahut Martha.


Rose bersalaman dengan Martha ia mencium punggung tangan Martha.


“Apa kabar, Tan?” tanya Rose.

__ADS_1


Mata Martha terbelalak melihat gelang yang ada di tangan Rose. Fenita tersenyum puas, rencananya berjalan sempurna.


“Tan?” panggil Rose.


“Tamu enggak diajak masuk, nih?” goda Fenita coba mencairkan suasana.


“Ya, ya. Mari masuk,” ajak Martha salah tingkah.


Setelah Marni menyuguhkan minuman untuk tamu-tamu, Martha mencari Marco.


"Buk Nyonya cari tuan, tuh di belakang sama suami saya,” beritahu Marni.


Martha segera menemui Marco ia tak sabar memberitahukan tentang apa yang ia lihat. Setelah sedikit menjauh dari Samsul, Martha menceritakan apa yang ia lihat di tangan Rose.


“Masa sih Ma?” tanya Marco seakan-akan tak percaya. Martha mengangguk berkali-kali.


Dengan rasa penasaran Marco mengikuti Martha. Rose bersalaman dengan Marco, Mata Marco tak lepas dari gelang yang ada ditangan Rose.


“Fenita bisa aku bicara dengan Rose sebentar?” pinta Marco.


“Oh, tentu. Silakan!” ucap Fenita dengan senang hati.


Belum satu kata pun keluar dari mulut Martha, ia telah meneteskan air mata di pipinya, ia tidak menyangka kini anak yang selama ia cari-cari, ternyata ada di sekitarnya.


“Tante kenapa?” tanya Rose.


Martha menggelengkan kepalanya. “Tangis bahagia sayang,” ucap Martha membuat Rose kebingungan.


“Oya, Om mau ngomong apa ya?” tanya Rose pada Marco.


Marco terdiam, Martha memeluk erat lengan Marco. Apa yang harus mereka katakan, apa mungkin Rose akan terima begitu saja pengakuan mereka, atau ia akan marah dan benci. Orang tua yang sudah membuat anaknya harus menghabiskan masa kecilnya di panti asuhan. Mereka bertanya-tanya dalam hati.


“Papa tahu, gak mudah buat kamu terima. Tapi papa minta maaf sayang,” ucap Marco menatap Rose sungguh-sungguh.


Rose mengerutkan keningnya, lalu ia tertawa kecil. “Om sama Tante kenapa, sih?” ia menggaruk kepalanya.


“Coba lihat gelang yang ditanganmu” pinta Martha, ia menarik tangan Rose lalu melepaskan gelang itu.


“Ini lihat, ada nama Mama.” Martha menunjukkan bahwa ada namanya di bagian dalam gelang itu.

__ADS_1


Rose menatap Martha dalam, ia bingung. Selama ini ia tidak pernah memakai gelang itu, apalagi memperhatikannya.


Jangan lupa like ya.


__ADS_2