
“Buk Nyonya ada tamu,” beritahu Marni pada majikannya.
Marni sudah puluhan tahun bekerja di rumah keluarga Marco, kadang Martha sering juga mengajaknya jalan-jalan setiap kali mereka keluar negeri. Hubungan mereka sudah seperti keluarga, bukan lagi antara pembantu dan majikan.
Martha yang sedang asyik membaca majalah bangun. “Siapa Bik?” tanya Martha.
“Calon tuan muda Buk nyonya, saya lupa namanya.” Marni coba mengingat.
Panggilan Marni kepada Martha terlihat lucu dan juga aneh. Pasalnya, Martha menolak untuk dipanggil nyonya, tapi Marni tetap kekeh untuk memanggilnya Nyonya, dengan menambahkan ‘Bu’ di depan.
“Ritha yang datang, suruh masuk?” pinta Martha.
“Iya, Non Ritha Bu, saya suruh masuk katanya cuma mau ajak Ibu belanja-belanja, di tunggu di luar saja,” ujar Marni.
“Terima kasih, ya Bik.” Martha keluar menemui Ritha yang duduk di teras rumah.
“Kenapa enggak tunggu di dalam saja, sayang?” tanya Martha.
“Eh, Tante.” Ritha Salim dan cipika-cipiki dengan Martha. “Di sini lebih enak Tante, halamannya indah, bunganya cantik-cantik,” ucap Ritha.
“Kita mau Shopping ke mana nih, Tante senang banget loh akhirnya bisa belanja sama anak gadis Tante, eh, calon mantu maksud Tante,” Martha tersenyum.
“Ke mana saja Tante, Tante siap-siap gih,” pinta Ritha. Martha pun masuk untuk siap-siap.
Mobil yang membawa mereka menuju sebuah Mall, jalanan sedikit macet, dua wanita ini tidak henti-hentinya berbicara, sopir yang membawa mereka sesekali mengintip lewat spion mobil, ia tersenyum heran, ada saja yang jadi obrolan mereka.
“Darwin mana, Tan?” tanya Ritha.
“Kerja sayang, kalian enggak komunikasi?” tanya Martha menaikkan alisnya.
“Nomor saja enggak punya Tante, mau hubungi ke mana,” jawab Ritha.
“Oya, Tante lupa, ketemu saja baru sekali ya, ini catat nomornya.” Martha memberikan ponselnya pada Ritha.
Dengan senang hati disambut Ritha ia langsung nge-save nomor Darwin.
Dua wanita gila Shopping itu pun belanja sepuasnya.
“Sayang ambil saja, Tante yang bayar, oke?” pinta Martha.
“Enggak apa-apa Tante, aku bayar sendiri saja,” tolak Ritha.
“Udah ambil saja, jangan ada bantahan,” ucap Martha tegas.
“Asyik, calon mertua yang baik,” gumam Ritha dalam hati dengan senyum jahatnya.
“Tante bagaimana kalo Tante ajak Darwin makan siang bareng kita,” ujar Ritha memberi saran.
“Ide bagus sayang, Tante telepon dulu.” Martha merogoh tasnya mengambil ponselnya menghubungi Darwin.
Tuttt ... tuttt.
“Halo Ma, ada apa?” jawab Darwin di balik telepon.
“Makan siang bareng Mama yuk, Mama lagi di Mall, nih,” ajak Martha.
__ADS_1
“Aku enggak bisa Ma, sibuk, banyak kerjaan juga nih,” jawab Darwin.
“Ayolah sayang, Mama rindu kamu,” ucap Martha.
“Mama sendiri apa sama Bik Marni?” tanya Darwin.
“Sendiri, sayang.” Bohong Martha, kalau Darwin tahu ada Ritha ia pasti akan menolaknya.
“Mama tunggu di sana aku OTW, nih.” Darwin mematikan telepon.
Martha tersenyum senang, ia kembali bersama Ritha, karena saat menelepon Darwin ia menjauh sebentar, Martha merasa tidak enak kalau Ritha mendengarnya berbohong.
Rthhhhh ... rthhhhh.
Suara handphone Martha.
Papa.
“Iya Pa.” Martha mengangkat telepon dari suaminya.
“Mama ke mana sih, Papa tanya sama Bik Marni Mama ke mana, enggak tahu katanya,” tanya Marco.
“Ampun deh, kumat lagi tuh pikunnya Bik Marni, tadi kan dia tahu aku dijemput Ritha jalan-jalan,” jawab Martha.
“Terus kalo Bi Marni pikun, Mama apa namanya dong, pergi gak pamit sama Papa, bukan pikun?” tanya Marco.
"Maaf in Mama ya Pa, habisnya Mama senang banget bisa belanja sama anak gadis,” ucap Martha dengan mimik wajah sedih.
“Ya udah lanjut sana.” Marco langsung memutuskan telepon dengan Martha.
“Eh, enggak sayang, om enggak marah kok, cuma om bilang Tante pikun doang,” jawab Martha.
“Jangan di ambil hati ya Tan, om cuma bercanda saja tu,” Ritha menyangka Martha sedih karena itu.
“Iya sayang, Tante tahu. Ayo kita belanja lagi sambil tunggu Darwin.” Martha menggandeng tangan Ritha melanjutkan belanjaan yang sempat terhenti tadi.
* *
Darwin menghubungi Asmira, ia ingin memberitahu Asmira jangan mengantarkan makanan, karena ia akan makan siang dengan Martha.
“Ya, mas,” sapa Asmira ditelepon.
“Sayang kamu di mana?” tanya Darwin.
“Aku baru sampai apartemen Mas, nih,” jawab Asmira.
“Jangan antar makanan buatku ya, mama mengajak makan siang di luar,” kata Darwin.
“Oh, ya udah, aku balik lagi kalo gitu,” ucap Asmira.
“Ikut makan siang bareng mama, yuk?" ajak Darwin.
“Enggak ah, Mas,” tolak Asmira.
“Kamu enggak usah pulang di situ saja, kan bisa nonton, baca-baca buku, ambil di ruang kerjaku,” pinta Darwin.
__ADS_1
“Aku liat dulu Mas, ya udah sana jangan sampai mama Mas capek tunggunya,” balas Asmira.
“Bye sayang.” Darwin menekan tombol merah.
Darwin langsung meluncur ke Mall yang dimaksud Martha, lengkap dengan pakaian kantor kecuali jas, lengan kemejanya dilipat sampai siku.
Darwin terkejut melihat Mamanya bersama wanita yang sangat tidak ia suka, ia menghampiri Martha.
“Kenapa Mama ajak dia?” tanya Darwin berbisik ditelinga mamanya saat
Martha hanya tersenyum
“Hai,” sapa Ritha.
Darwin hanya membalas dengan senyuman yang dipaksakan. Makanan yang dipesan Martha tiba, ia memesan makanan kesukaan Darwin, semua serba sea food. Saat makan sesekali Ritha mencuri-curi pandang kepada Darwin.
“Mama ke toilet bentar, ya.” Martha meninggalkan dua orang itu dengan sengaja.
Mereka lanjutkan makan, Darwin melihat Ritha saja seolah-olah ia enggan apalagi untuk mengajaknya mengobrol.
“Kamu ... “ Ritha ingin mengatakan sesuatu.
“Lagi makan enggak baik mengobrol nanti tersedak,” potong Darwin. Ritha pun terdiam dengan wajah kurang suka.
“Susah banget sih dekati cowok pendiam begini,” Ritha menggerutu kesal dalam hatinya.
Niat Martha meninggalkan dua orang itu, agar ada komunikasi di antara keduanya namun yang terjadi malah sebaliknya.
Selesai makan Darwin mengelap bibirnya dengan tisu. “Mama mau balik, apa lanjut belanja lagi?” Mata Darwin melirik ke arah tumpukan belanjaan Mamanya.
“Bagaimana Tha, belanja atau pulang kita setelah ini?” tanya Martha pada calon mantunya saat ia baru kembali dari toilet.
“Pulang yuk Tante,” jawab Ritha.
“Ya udah kalau mau balik, ayo kita turun bareng ke bawah,” ajak Darwin sambil mengangkat belanjaan Mamanya tapi tangannya tidak bisa memegang semua belanjaan itu.
“Biar Mama bawa sisanya,” ucap Martha.
“Mama kalau belanja barang yang enggak perlu, ya enggak usah diborong juga,” balas Darwin tidak suka. Martha hanya diam.
Sampai di tempat parkir, sopir Martha langsung memasukkan belanjaan mereka ke mobil.
“Lo masuk mobil dulu, gue mau bicara sama mama bentar,” pinta Darwin tanpa menatap wajah Ritha.
“Mau bicara apa, sayang?” tanya Martha setelah Ritha masuk mobil.
“Aku enggak suka Mama kek gini ya, Mama lupa perjanjian Mama kemarin, apa?” tanya Darwin sekaligus mengingatkan Martha.
“Iya sayang, Mama tahu, bukannya lupa. Mama cuma ingin merasakan belanja dengan anak gadis itu gimana asyiknya,” ucap Martha dengan wajah sedih.
Darwin tahu Martha sangat suka dengan anak perempuan, bahkan saat Kelvin berkunjung ia membawa Rose ke rumah, wajah Martha begitu bahagia. Darwin memeluk Martha dan coba menenangkannya, ia juga minta maaf telah salah mengartikan maksud Martha.
Jangan lupa klik Like ya ...
baca novel A BIG MISTAKE ya?
__ADS_1