
Akhir-akhir ini sikap Kelvin terhadap Rose semakin dingin. Setiap kali ia kembali ke rumah, hanya peduli pada Brandon, seolah-olah Rose tidak ada.
Rose semakin jenuh dengan sikap acuh tak acuh Kelvin. Selama ini ia tidak mempermasalahkan hal itu, tapi semakin hari semakin menjadi sikap Kelvin terhadapnya.
“Aku mau ke kamar Brandon dulu. Setelah itu aku ada acara lain di luar,” ucap Kelvin.
“Malam-malam begini, enggak terusi besok saja Mas?” tanya Rose.
“Ini penting enggak bisa ditunda,” jawab Kelvin.
Meski sedih, Rose membiarkan Kelvin pergi begitu saja. Bahkan sudah sebulan, Kelvin tidak menyentuhnya. Rose tahu betul bagaimana sifat asli Kelvin, ia tipikal pria hiper sex, jika tidak menyentuhnya berhari-hari, berarti ia jajan di luar sana.
“Kamu mengulanginya lagi Mas,” gumam Rose.
Rose mengelus-elus rambut Brandon, ia bertahan karena anak tak berdosa itu. Jangan sampai karena sikap bejat ayahnya, ia yang menanggung semua derita.
Rose meraih telepon genggamnya, ia menghubungi seseorang. Seseorang yang dulu pernah ia khianati dan ia lebih memilih Kelvin yang sekarang tidak memedulikannya sama sekali.
“Halo,” suara pria di seberang sana.
“Hiks hiks.” tangisan Rose terdengar begitu pilu.
“Rose kamu kenapa, ada apa jawab lah.” pria itu tampak khawatir.
“Kelvin mengulanginya lagi. Berkali-kali, dia berjanji akan berubah. Tapi yang terjadi malah sebaliknya,” ujar Rose di sela tangisnya.
“Kamu jangan berpikiran aneh-aneh, kasihan Brandon.” Pria itu mencoba menangkan Rose.
“Aku menyesal menikah dengannya, maafi aku yang dulu mengecewakanmu,” ucap Rose.
“Lupakan Rose. Biar itu jadi masa lalu, aku juga udah merelakan kamu untuk Kelvin,” balas pria itu.
“Bantu aku terlepas dari Kelvin!” Tangisan Rose semakin menjadi.
“Aku bisa apa Rose, enggak ada yang bisa aku lakukan,” jawab pria itu sedih.
“Jangan munafik! aku tahu kamu belum memiliki siapa-siapa di hati kamu. Karena kamu masih mencintai aku dan mengharapkanku!” teriak Rose dengan suara parau.
“Kamu salah Rose, aku akan segera menikah dalam waktu dekat. Tidurlah, ini sudah larut,” pria itu memutuskan telepon.
Rose menangis sejadi-jadinya di tepi ranjang, ia berteriak-teriak seorang diri. “Aku bodoh benar-benar bodoh!” umpat Rose.
Brandon terbangun karena teriakan Rose. “Mama kenapa?” Brandon memeluk Rose.
__ADS_1
“Sayang besok kita akan pergi berlibur ke Jepang, ke tempat om Bas ....” Rose menghapus air matanya.
“Yeay! ... Mau, mau...” Brandon kegirangan.
“Kalau gitu. Sekarang kamu harus tidur.” Rose mencium kening Brandon dan menyelimutinya.
“ Tapi papa ikutkan?” tanya Brandon.
“Papa sibuk sayang, nanti kalau kerjanya udah selesai papa juga menyusul,” jawab Rose mencari alasan. Ia tak ingin Brandon bersedih.
“Mama temani Brandon tidur di sini, ya,” pinta Brandon.
“Ya sayang ...” Rose memeluk tubuh kecil itu, satu-satunya buah hati ia dan Kelvin.
“Senggaknya, cuma kamu yang aku punya,” gumam Rose dalam hati. Air matanya menetes kembali.
* *
30 menit yang lalu.
Asmira duduk di balkon dengan Darwin, Asmira merebahkan kepalanya di bahu kekar Darwin.
“Mas ...” panggil Asmira.
“Sepertinya papa Mas enggak suka ya sama aku?” tanya Asmira. Ia menatap lekat wajah Darwin.
“Kata siapa, suka kok,” jawab Darwin.
“Mungkin Hanya pikiranku saja ya Mas,” ucap Asmira.
Darwin mengelus rambut Asmira. “Aku mencintaimu, sayang,” Darwin mengecup pucuk kepala Asmira.
“Aku juga Mas,” balas Asmira.
Rthhhhh ... Rthhhhh.
Handphone Darwin berdering.
“Mas handphone kamu,” beritahu Asmira.
Rose.
“Sayang bentar ya, istri Kelvin yang telepon.” Darwin sedikit menjauh dari Asmira.
__ADS_1
Asmira memonyongkan bibirnya. “Kenapa harus menjauh, kan aku enggak bisa dengar,” Asmira menggerutu kesal.
Asmira menatap Darwin yang menerima telepon dari istri sahabatnya itu dari kejauhan. Darwin tampak menggaruk kepalanya, wajahnya kelihatan bersedih .
Darwin kembali ke tempat Asmira dengan wajah sendu.
“Kasihan Rose,” lirih Darwin tapi terdengar di telinga Asmira.
“Ada apa sayang?” tanya Asmira.
“Kamu panggil apa barusan?” tanya Darwin seketika wajahnya terlihat gembira.
“Sayang...” jawab Asmira polos.
Darwin mencium habis bibir Asmira. “Aku suka panggilan itu,” bisik Darwin.
“Kamu jangan mengalihkan suasana Mas, cepat cerita!” Asmira membulatkan matanya.
“Rose udah tahu kalau Kelvin selingkuh,” ucap Darwin.
“Ya ampun kasihan banget Mas ...” Asmira bersedih mendengar ucapan Darwin. Ia begitu mudah iba terhadap seseorang.
“Lebih kasihan lagi anaknya,” sambung Darwin.
“Ya ampun Mas.” Mata Asmira berkaca-kaca.
“Brandon baru berusia 5 tahun,” ujar Darwin.
“Kegagalan orang tuanya harus di tanggung anak, kasihan Brandon,” ucap Asmira.
“Udah larut ayo masuk, nanti kita masuk angin,” ajak Darwin.
Darwin mengantar Asmira ke kamar, menyelimuti tubuhnya dan mengecup keningnya. “Mimpi indah sayang,” ucap Darwin.
Darwin masuk ke kamarnya, ia berdiri di jendela menatap jauh keluar. Malam yang gelap tanpa bintang dan rembulan yang bersinar. Ia mengingat masa lalunya bersama Rose, saat-saat mereka kuliah dulu. Kelvin dan dirinya sama-sama mencintai Rose. Kelvin tidak mengetahui kalau dirinya berpacaran dengan Rose
Rose main di belakang Darwin, tanpa sepengetahuan Darwin Rose menjalin kasih dengan Kelvin. Tanpa sengaja, saat Darwin menemani Mamanya belanja, ia melihat Kelvin dan Rose di Mall sedang bermesraan layaknya pasangan kekasih.
Ia begitu terpukul, awalnya ia mengakui hanya bermain-main saja dengan Rose. Tapi, semakin hari semakin ia mencintai Rose. Namun, apa daya Rose membohongi dirinya.
Darwin begitu sesak mengingat masa-masa itu.
“Arghhh!” teriak Darwin.
__ADS_1
Jangan lupa Like ya...