
“Pa ...” panggil Martha.
Tanpa menjawab Marco menoleh, Martha meyakinkan diri sendiri mungkin sudah saatnya ia katakan pada suaminya kejadian masa silam yang selama ini ia simpan rapi.
“Mama mau cerita sesuatu pada Pa, bukan cerita sih sebenarnya, lebih tepatnya jujur, gitu,” ujar Martha terbata-bata.
Marco bingung mendengar ucapan Martha barusan. “Maksudnya?” tanya Marco kemudian.
Martha menarik nafasnya dalam, lalu ia hembuskan perlahan.
“Papa janji enggak akan marah?” tanya Martha. Ia genggam tangan suaminya.
“Mama kenapa jadi aneh sih, kek di sinetron-sinetron deh, mau cerita ya tinggal cerita Ma,” ujar Marco merasa penasaran.
Martha terdiam, ia pejamkan matanya lalu ia ceritakan perlahan pada Marco.
Martha ceritakan semua kejadian masa silam pada Marco, baik yang ia ketahui setelah ia tersadar, maupun cerita Bik Khodijah. Sukma mengatakan pada Bik Khodijah bahwa anak mereka telah tertukar . Ia juga tidak lupa mengatakan penyebab utama, kenapa sampai hati ia berikan anaknya kepada Sukma sahabatnya. Martha ungkapkan rasa penyesalannya sangat dalam pada Marco. Namun, rasanya tidak akan ter maafkan semua kesalahan yang ia perbuat.
Air mata Martha berlinang di pipinya, suaranya parau, terdengar suara tangisannya semakin pilu. Yang paling ia sesalkan kini ia tidak tahu keberadaan anaknya di mana.
Tujuan utama Martha memberikan anak kesayangannya pada Sukma biar hatinya tenang, setidaknya ada sahabat yang ia percaya untuk menjaga buah hatinya. Namun, kenyataan tak seindah khayalan Martha.
Kini, ia hanya bisa meratapi kepergian buah hatinya yang entah di mana sekarang, siapa yang telah mencurinya, apakah dia masih hidup atau telah tiada. Pahitnya lagi, selama ini ia hanya bisa memendam sendiri, tiada tempat untuk berbagi.
Marco terdiam. Tak ada yang mampu ia ucapkan, ia mengaku bersalah tiada kata yang dapat terbantahkan. Ia sama sekali tidak menginginkan anak perempuan. Bahkan hanya sekedar periksa kandungan saja ia selalu beralasan tidak punya waktu.
Meski Martha menyembunyikan hasil jenis kelamin setelah USG. Tapi, dokter itu sendiri yang mengatakan pada Marco, bahwa anak yang dikandung Martha adalah perempuan. Setelah mengetahui itu, sikap Marco pun semakin acuh tak acuh terhadap Martha.
Martha tidak pernah mengeluh sakit pada Marco ketika ia hamil, karena ia tahu Marco tidak akan peduli. Yang ia mau hanyalah anak laki-laki agar ada yang meneruskan pekerjaannya kelak.
“Mama tahu salah Pa, tapi Mama enggak punya pilihan lain kala itu.” Martha tidak bisa berhenti menangis.
__ADS_1
“Andai saja Mama tidak memberikan anak kita untuk Sukma waktu itu,” ujar Martha disela tangisnya.
Marco memeluk Martha erat, ia belai rambut Martha perlahan.
“Mama enggak bersalah, semua sudah terjadi tidak ada yang perlu disesali lagi,” ujar Marco dengan bijaksana.
Martha kaget mendengar jawaban Marco. Hal yang selama ini ia takuti adalah kemarahan suaminya, tapi setelah ia ceritakan tidak ada kemarahan di wajah Marco.
Andai saja ia tahu Marco tidak akan marah mungkin saja ia tidak akan merahasiakan permasalahan itu rapat-rapat.
“Papa juga bersalah Ma, sekarang marah bukan solusi. Papa ambil pengalaman dari kejadian yang sudah-sudah. Buru-buru hanya akan membuat Papa menyesal, sekarang kita tenangkan pikiran dulu, kita cari di mana keberadaan anak kita sebenarnya.” Marco mencoba tenangkan Martha, agar ia berhenti menangis dan tidak menyalahkan diri sendiri.
Sikap Marco kemarin, permasalahannya dengan Ritha sudah cukup jadi pengajaran untuknya. Bahkan, sampai detik ini Asmira masih tidak bertutur kata dengannya. Asmira tidak menampakkan kemarahan padanya, tapi dengan mengacuhkan saja sudah lebih dari sebuah tamparan keras untuk Marco.
“Tapi kita harus cari ke mana Pa?” tanya Martha sembari menyeka air matanya.
“Mama punya sesuatu barang yang mama kasih untuk bayi kita?” tanya Marco kemudian.
“Satu lagi Pa, kata Sukma anak kita punya tahi lalat di belakang telinganya,” sambung Martha.
Marco pun tersenyum. Akhirnya ada titik terang dari permasalahan itu, Martha mengucap puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah mempermudah kan semuanya. Semoga Tuhan kembali mempertemukan ia dan anaknya yang telah sekian lama terpisah.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang menguping pembicaraan mereka berdua, lalu ia menghubungi seseorang dan mengatakan semua apa yang ia dengarkan barusan.
Fenita sedang asyik bermain dengan cucunya. Brandon sangat aktif dan menggemaskan. Rose sengaja memberikan waktu lebih pada Fenita untuk bersama dengan Brandon sepuasnya, karena setelah sidang perceraiannya selesai ia akan segera kembali ke Jepang.
“Sayang, bentar ya handphone Nany bunyi, Nany angkat dulu,” ujar Fenita pada cucu satu-satunya itu.
“Ya halo ada apa?” tanya Fenita ketus ketika telepon sudah tersambung.
“Nyonya saya punya kabar gembira,” ujar Mang Joni pada majikannya tersebut.
__ADS_1
“Apa, cepat katakan saya tidak punya banyak waktu?” tanya Fenita lagi.
Joni pun menceritakan semua yang ia dengarkan dari Martha. Fenita tersenyum puas, ia telah bersabar dengan waktu yang begitu lama. Kini, saat-saat yang ia nantikan telah tiba, hasil dari buah kesabarannya selama ini.
“Bagus, ada untungnya juga selama ini saya bayar kamu mahal-mahal. Awas saja, sekali lagi kamu lengah seperti kejadian kemarin, saya habisi semua keluargamu,” ancam Fenita tanpa ampun, Joni dibuat ketar-ketir olehnya.
Pasalnya, kemarin Joni dimarahi habis-habisan oleh Fenita karena ia tidak tahu-menahu kejadian Kelvin sampai ia menghamili Ritha.
Malamnya.
Ketika sedang makan malam, Fenita memutar otaknya, bagaimana caranya agar ia bisa mengetahui apa Rose masih menyimpan gelang kayu itu, atau sudah hilang.
“Sayang, ngapain menginap di hotel, kan mahal, mending besok kita pulang ke rumah saja, ya?” ajak Fenita pada Rose.
Kelvin menatap Rose lalu ia memberikan isyarat agar Rose menyetujuinya.
“Boleh Ma.” Rose menyetujuinya karena Kelvin menyuruhnya demikian.
Fenita tersenyum puas, kini selangkah lebih dekat dengan rencananya.
* * *
Pratiwi hari turun lapangan, karena Darwin tidak bisa ikut. Hari ini Sanggar seni yang ia dirikan untuk Jessica telah selesai dan siap untuk digunakan, lengkap dengan perlengkapan lukisnya.
“Saya puas sekali dengan desain Anda,” puji Darwin ketika ia sudah berada di gedung yang baru saja selesai itu.
“Terima kasih Pak, kami juga senang bekerja sama dengan Anda,” sahut desainer muda itu.
Setelah selesai melihat-lihat setiap sudut sanggar itu, Darwin segera pulang. Ia tidak sabar untuk memberitahukan Asmira berita gembira itu.
“Semoga saja Mbak Jessica suka dengan sanggar yang aku buatkan ini,” gumam Darwin dalam hati. Darwin segera meluncur dengan pulang.
__ADS_1
jangan lupa like ya....