Perjanjian

Perjanjian
Episode 74


__ADS_3

Jessica dan Valen berada di sebuah resto elit di lantai 3 dengan view kota di bawahnya yang sangat memukau. Jessica berdecak kagum dengan selera tempat yang dipilih Valen.


“Mas, kok sepi?” tanya Jessica.


“Mana sepi, tuh di lantai bawah rame,” jawab Valen. Sempat-sempatnya ia bercanda.


“Ya, di bawah rame. Di sini sepi,” balas Jessica lagi.


“Mas cuma mau berduaan denganmu.” Valen menggenggam tangan Jessica lalu ia menciumnya dengan lembut.


Pipi Jessica merona, ia tersenyum malu-malu.


Jessica sangat menikmati hidangan lezat yang ada di depannya. Alunan suara musik yang merdu dan indah, menambah suasana romantis dinner mereka berdua.


“Kamu suka?” tanya Valen.


Jessica mengangguk sembari tersenyum.


Selesai makan, tiba-tiba lampu seluruh ruangan tersebut dibuat redup. Dalam suasana remang-remang tersebut, Jessica mencari di mana keberadaan Valen.


“Mas, kamu di mana?” tanya Jessica.


Valen berdiri di depan Jessica, lalu ia berlutut. Lengkap dengan sebuah cincin permata ditangannya.


“Di sini...” sahut Valen.


Dan tiba-tiba lampunya kembali bersinar terang seperti semula.


“Sayang... bersediakah kamu jadi milikku selamanya?” tanya Valen menatap manik mata milik Jessica. Tatapan yang benar-benar tulus. Tatapan yang bisa membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan luluh.


“Mas...” Jessica menutup mulutnya. Air mata berlinang di pipinya. Jessica begitu terharu dengan sikap romantis Valen. Ia tidak menyangka bahwa ia akan dilamar secepat itu oleh Valen.


“Percayalah sayang, aku hanya mencintaimu seorang,” sambung Valen.


“Bangunlah Mas,” pinta Jessica.


Valen berdiri, Jessica langsung memeluknya. Ia menangis tersedu-sedu di pelukan Valen.


“Aku juga mencintaimu Mas, sangat mencintaimu...” ucap Jessica disela tangisnya yang sudah tak dapat ia tahan lagi.


“Jangan nangis lagi sayang.” Valen menyeka air mata di pipi Jessica dengan lembut. Ia kecup mesra keningnya. Valen meraih tangan Jessica, ia pasangkan cincin di jari manisnya.


Jessica kembali tersenyum disela tangisnya ketika ia lihat cincin permata yang melingkar di jari manisnya.


“I love you sayang,” bisik Valen ditelinga Jessica, ia kembali memeluk tubuh calon istrinya itu.


“I love you so much , Mas,” sahut Jessica hampir tidak terdengar karena suaranya parau.


* * *


Nindy sangat lihai dalam bermain-main dengan Kelvin di atas ranjang. Kelvin selalu terkapar dibuatnya. Semenjak Nindy menjadi tempat pelampiasan nafsu Kelvin, ia tidak lagi pergi ke club. Ia hanya menunggu kapan Kelvin menghubunginya.

__ADS_1


“Kamu ke kantor, ya?” pinta Kelvin di telepon.


“Tapi Mas...” jawab Nindy.


“Jangan berpikiran aneh-aneh, aku enggak mungkin melakukan itu di kantor. Aku mau ajak kamu makan siang bareng klien,” balas Kelvin.


“Oh, sorry Mas. Aku langsung otw ya...”


“Perkenalkan ini pasangan saya saat ini,” ucap Kelvin kepada kliennya.


“Saya turut prihatin dengan perceraian Anda,” jawab klien tersebut.


Mereka berjabat tangan. Nindy tersenyum manis. Penampilannya yang elegan menambah daya tariknya tersendiri.


Klien tersebut memandang wajah Nindy dengan saksama.


“Kamu mirip sekali dengan almarhum teman saya,” ujar klien tersebut.


Nindy hanya tersenyum.


Setelah acara makan siang selesai.


“Mas...” panggil Nindy setelah klien itu pergi


“Mmm,” sahut Kelvin. Mereka segera meluncur pergi dari Cafe tersebut.


“Kamu tahu siapa pria tadi?” tanya Nindy seraya menyunggingkan senyum sinis.


“Dia selingkuhan mama aku, mama lebih pilih dia karena pria itu kaya,” sambung Nindy lagi.


“Biarkan aku cerita Mas, aku hanya ingin berbagi. Selama ini aku hanya bisa memendam sendiri,” ujar Nindy lagi.


Kelvin tidak tahu harus berkata apa, masalah yang sedang ia hadapi sekarang juga persoalan yang sama.


“Apa mungkin jika Brandon besar nanti, ia juga akan membenciku seperti Nindy membenci mamanya,” gumam Kelvin dalam hati.


“Mas,” panggil Nindy.


“Mas!” panggil Nindy lebih keras.


“Eh iya, cerita saja. Aku siap dengar kok,” sahut Kelvin terkejut dari lamunannya.


“Sudahlah Mas, malas juga, yang ada buat aku makin benci mama kalau ingat masalah itu,” ujar Nindy. Matanya menatap keluar jendela mobil yang sedang melaju kencang.


“Kalau kamu mau cerita sesuatu, bilang saja. Mungkin aku gak bisa bantu apa-apa, tapi setidaknya kamu bisa lega,” ujar Kelvin tersenyum melihat Nindy yang tampak tidak bersemangat.


“Terima kasih, ya Mas,” ucap Nindy tersenyum.


* * *


Pukul 23:00 malam.

__ADS_1


“Mas,” panggil Asmira, ia menggoyang-goyangkan tubuh Darwin yang sudah tertidur pulas.


“Mmm, apa sih sayang, inu udah malam,” jawab Darwin. Ia mengubah posisi tidurnya menelungkup.


“Mas, bangun!” panggil Asmira mulai kesal.


Darwin menggaruk kepalanya, ia bangun,


“Kenapa sih sayang teriak-teriak?” tanya Darwin.


Asmira mengelus-elus perutnya. “Mas, kayaknya anakmu lapar deh,” ucap Asmira tersenyum lebar. Mata Darwin yang masih terpejam kini terbuka lebar.


“Ini hampir tengah malam loh, sayang,” ujar Darwin tak percaya.


“Ya namanya lapar, mau pagi siang atau malam ya lapar!” balas Asmira kesal.


Darwin turun dari tempat tidurnya. “Ya udah ayo ke dapur,” ajak Darwin. Asmira mengekor di belakang.


Darwin membuka kulkas, ia mengambil beberapa sayuran hijau ia ingin menumis sayuran tersebut.


“Jangan sampai Lestari suruh aku keluar jam segini buat beli makanan,” gumam Darwin dalam hati.


“Mas, brokolinya jangan dimasak, Mas buat jus aja,” pinta Asmira.


“Tiba-tiba lapar aku hilang, aku kepingin jus segar,” sambung Asmira. Darwin tersenyum senang, ia segera melakukan yang Asmira pinta.


Santi baru saja tertidur, tiba-tiba ia terbangun karena mendengar suara-suara dari arah dapur, ia segera bangun.


“Jangan-jangan maling,” ujar Santi panik. Ia beranjak keluar, namun ia urungkan niatnya.


“Nanti kalau aku diapa-apain gimana?” ujar Santi lagi.


Santi pejamkan matanya. “Aku harus berani!” ujar Santi bersemangat pada diri sendiri. Lalu ia ambil sapu yang terletak tidak jauh dari pintu kamarnya. Santi mengendap-endap menuju arah dapur, ia telah siap dengan sapu ditangannya.


Darwin melihat Santi dari kejauhan, meski dalam keadaan remang-remang, ia mengenali bahwa itu Santi. Namun Darwin tidak menggubris, ia sibuk mempersiapkan brokoli untuk ia blender.


“Hei!” teriak Santi keras. Darwin terperanjat mendengar teriakan Santi.


“Hei! siapa di sana! keluar!” teriak Santi lagi.


“Mas, Santi pikir kita maling,” ujar Asmira terkekeh melihat Santi.


“San, ini aku!” teriak Darwin memberitahu.


Santi sangat terkejut. “Hah, masak maling itu kenal aku,” ujar Santi.


“Hei, lo jangan pura-pura kenal gue ya. Keluar lo kalo berani!” teriak Santi lagi.


Darwin tertawa kecil. “Santi, Santi.” Darwin menepuk jidatnya.


“Santi, cepat kemari ... ini Mbak Mira,” panggil Asmira, ia tidak mampu lagi menahan tawanya.

__ADS_1


“Ternyata Mbak Mira sama tuan Darwin. Mati gue!” gumam Santi perlahan, ia tidak berani menemui mereka berdua, Santi berlari masuk ke kamarnya.


Jangan lupa like ya...


__ADS_2