Perjanjian

Perjanjian
Episode 55


__ADS_3

“Ada apa?” tanya Kelvin pada asistennya setelah mempersilahkan ia masuk.


Kelvin baru saja selesai meeting dan makan siang bareng klien di sebuah rumah makan bintang lima yang terletak tidak jauh dari kantornya.


“Maaf Pak, mengganggu jam makan siang Anda,” ujar asisten menundukkan kepalanya.


“Apanya yang penting, cepat katakan?” tanya Kelvin dengan wajah serius. Perawakannya yang tegas selalu membuat karyawan segan terhadapnya.


“Ini yang pertama.” Asisten itu membawa berkas-berkas ke hadapan Kelvin.


Kelvin melihat berkas itu ia membolak-balikkan halamannya, tiba-tiba matanya membulat sempurna memperhatikan berkas-berkas itu.


“Bagaimana ini bisa terjadi!” Kelvin melemparkan berkas-berkas itu dengan keras ke mejanya.


Kelvin marah besar. Bagaimana tidak, perusahaan Hardi bangkrut dan sebagian besar hutang-hutangnya atas nama Kelvin.


“Ini satu lagi, Pak.” Asistennya menyodorkan sebuah amplop berwarna kuning ke hadapan Kelvin. Setelah tugasnya selesai ia segera permisi keluar.


Kelvin meraih amplop itu. “Pengadilan Agama?” gumamnya dalam hati.


Kelvin mengerutkan keningnya mengapa ia menerima surat dari pengadilan. Kelvin membuka amplop, ia mengeluarkan secarik kertas di dalamnya dan betapa terkejutnya ia ternyata isi surat tersebut merupakan panggilan dari Pengadilan Agama yang diajukan Rose istrinya.


Muka Kelvin merah padam, ia menerima dua kabar sekaligus yang membuatnya bisa-bisa mati berdiri.


“Arghhh!!” teriak Kelvin keras.


“Apa yang kamu lakukan Hardi!” teriak Kelvin geram, ia menendang sofa diruang kerjanya.


Satu berita itu saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling, ditambah lagi dengan Rose yang menggugat cerainya, belum lagi Ritha yang sedang mengandung tidak diketahui di mana keberadaannya sekarang.


Kelvin meraih ponselnya ia menghubungi seseorang. “Halo Win,” sapa Kelvin ketika telepon sudah terhubung, ternyata ia menghubungi sahabatnya.


“Bisa kita ketemu, ada yang mau gue bahas,” ajak Kelvin. Tentu saja ia menghubungi Darwin, harapan satu-satunya yang bisa membantunya adalah Marcell Darwin.


“Oke, gue hubungi lagi ya.” Kelvin memutuskan telepon dengan sahabat karibnya itu.

__ADS_1


Kelvin memejamkan matanya, ia memikirkan bagaimana jika Fenita tahu, Rose menantu kesayangannya menggugat cerai dirinya. Selama ini ia begitu peduli terhadap Rose dan Brandon, tidak ada yang boleh menyakiti cucu dan menantunya, tapi sekarang malah ia sendiri yang menyakiti istri dan anaknya.


“Apa yang harus aku lakukan,” gumam Kelvin dalam hati.


* * *


Setelah Rose ke rumahnya, Asmira merasa bersalah karena kemarin ia tidak mau mendengarkan penjelasan Darwin terlebih dahulu. Kini ia sangat merindukan kepulangan suaminya yang sedang keluar kota bersama Pratiwi.


Tapi sekarang ia tidak sendiri, ada Santi yang menemaninya, kemarin ia melarang Santi kembali ke rumah mertuanya. Tapi ia belum sempat menanyakan kepada Santi kenapa ia pergi dari rumah, setiap kali ia ingin menanyakannya selalu saja Santi menghindar.


“Mbak, masak apa kita hari ini?” tanya Santi mengagetkan Asmira dari lamunannya.


“San, duduk dulu.” Asmira menepuk-nepuk sofa.


Santi mendekat dan duduk di sebelah Asmira.


Asmira sedikit canggung sebenarnya, terlebih permasalahan Santi dan keluarga bukan urusannya tidak ada sangkut paut dengannya pula. Tapi ia peduli dengan kondisi keluarga sahabatnya Nindy, Asmira hanya ingin membahagiakan orang-orang di sekitarnya hanya itu saja.


“Mbak mau mengobrol serius dengan kamu, San.” Asmira menggenggam tangan Santi.


“Kamu harus jawab jujur, ya?” pinta Asmira sembari tersenyum manis.


Santi sudah siap dengan berbagai pertanyaan yang akan Asmira ajukan, bagaimanapun ia menyembunyikan itu tak akan bertahan lama.


“Apa sebenarnya yang terjadi di keluarga kalian Santi, kenapa kamu harus putus sekolah?” tanya Asmira dengan suara yang lembut.


Santi bersedih mendengar pertanyaan dari Asmira, pertanyaan yang tidak ia temui bahkan dari keluarganya sendiri.


“Aku harus cari uang untuk papa berobat Mbak,” ujar Santi menahan tangisnya.


“Kan, bisa kerja paruh waktu, dibantu Nindy juga, kan?” tanya Asmira.


Santi menggeleng kepala, ia memeluk Asmira air matanya tumpah, ia tidak bisa lagi membendung tangisnya.


Asmira mengelus-elus rambut Santi penuh perhatian.

__ADS_1


“Aku gak bisa sekolah Mbak, uang yang aku dapat dari kerja paruh waktu tidak akan cukup untuk membiayai pengobatan papa. Mbak Nindy gak mau kerja, bahkan uang yang aku simpan untuk papa berobat ia habiskan untuk membeli barang-barang mewah yang gak penting.” Santi mengeluarkan semua unek-unek yang ia pendam selama ini.


Betapa terkejutnya Asmira mendengar cerita dari Santi, apa mungkin Nindy sahabatnya sekejam itu.


Santi menceritakan sifat asli Nindy yang selalu memperbudaknya, hingga ia tidak tahan dan kabur dari rumah. Tidak sampai di situ saja Nindy juga salah satu simpanan Hardi mantan suami Jessica, hingga suatu hari ia mencuri puluhan juta uang milik Hardi dan ia dijadikan Santi sebagai penebusnya.


“Mbak Nindy persis kek mama Mbak, wanita penggoda suami orang, yang rela meninggalkan anak dan suami demi harta.” kesabaran Santi benar-benar telah habis.


Asmira baru tahu jika selama ini Nindy menghindarinya karena salah paham. Ternyata ia sangat mencintai Bastian tapi karena Bastian mengetahui keburukannya bahwa sejak masih sekolah dulu Santi sudah menjadi wanita panggilan pamannya.


Asmira tidak habis pikir bagaimana semua ini terjadi pada sahabatnya itu, apa yang membuatnya gelap mata hingga rela melakukan apa pun demi uang.


“Apa Nindy sampai sekarang masih jadi wanita panggilan?” tanya Asmira kemudian.


“Entah lah Mbak, semenjak papa meninggal aku udah gak peduli lagi,” ujar Santi sembari menghapus air mata dengan tangannya.


Asmira makin dibuat kaget oleh Santi, bagaimana bisa ia bilang ayahnya telah tiada sementara kemarin jelas-jelas Nindy mengatakan padanya ayahnya masih hidup.


“Sumpah demi Tuhan Mbak, papa udah meninggal 2 Tahun yang lalu,” ujar Santi sungguh-sungguh, tidak ada kebohongan dimatanya.


Asmira benar-benar syok mendengar semuanya, sahabat yang selama ini ia sayangi ternyata wanita kejam yang menghalalkan segala cara demi uang. Baru-baru ini ia juga meminta Darwin memberinya sebuah pekerjaan di kantor cabang untuk Nindy.


* * *


Sara mengajak Jessica jalan-jalan ke Mall, ia belanja dan bermain game sepuasnya bersama calon ibunya itu. Valen sudah merencanakan waktu yang tepat untuk melamar Jessica, tapi waktu selalu tidak tepat. Akhir-akhir ini permasalahan begitu banyak di keluarga Marco ia tidak ingin bahagia di atas penderitaan orang-orang terdekatnya.


“Ma, liat deh itu Mang Joni, kan?” Sara memanggil Mommy nya.


“Mana sih, sayang?” tanya Jessica melihat ke arah yang Sara tunjukkan.


Ternyata benar Mang Joni yang sedang memantaunya dari kejauhan.


“Kenapa dia selalu mengikuti kita?” tanya Jessica heran.


Sara menggeleng kepalanya, Jessica mengajak Sara untuk menemui Mang Joni dan menanyakan alasan kenapa ia selalu mengikuti ke mana pun mereka pergi.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jempolnya ya.


__ADS_2