
Rose terdiam bukan berarti mengiyakan. Namun, ia coba kuatkan hatinya, tekadnya makin bulat untuk melepaskan ikatan yang selama ini hanya sia-sia ia perjuangkan. Tapi, setidaknya ia telah bersabar untuk waktu yang lama.
“Maaf Mas, aku enggak bisa,” sahut Rose.
“Aku tahu aku salah, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semua Rose,” pinta Kelvin dengan wajah serius.
“Terlambat Mas, aku terlanjur sakit dengan semua yang udah kamu lakukan.” Rose membuang pandangannya ke samping. Ia memejamkan matanya, saat matanya terbuka air mata perlahan menetes di pipinya.
“Sekian lama aku coba bertahan. Tapi rasanya, aku enggak sanggup lagi Mas. Biarkan aku bahagia dengan yang lain,” ujar Rose sembari menyeka air mata dengan punggung tangannya.
Kelvin rebahkan kepala Rose ke bahunya.
Rose mendengus dingin lalu ia berkata lagi,
“Aku enggak akan melarang kamu untuk ketemu Brandon Mas.” Ia angkat kepalanya dari bahu Kelvin, ia tersenyum manis di sela tangisnya.
“Tapi, kamu harus ke Jepang buat ketemu Brandon. Karena, aku akan menetap di sana,” sambungnya lagi.
Kelvin tidak tahu harus berbuat apa lagi, ia kehabisan kata-kata. Mulutnya tak bisa terbuka meski hanya sekadar untuk mengatakan, 'Jangan pergi' .
Kelvin bisa membohongi orang lain, tapi tidak dengan dirinya sendiri. Meskipun, setiap kali ia menyalahkan Rose, pada kenyataannya dirinyalah yang tak bisa menahan hasrat terhadap wanita-wanita. Kelvin lebih menyukai perempuan liar di luar sana, ketimbang istrinya sendiri yang lugu dan lemah lembut.
“Aku cuma punya waktu sebulan di sini Mas, tolong kamu jangan hadir di persidangan. Biar semua cepat selesai,” ujar Rose.
Ia bangkit dari duduknya, lalu ia mengajak Kelvin makan malam, Brandon dan Fenita sudah menunggu mereka berdua di lantai bawah.
Kelvin meraih tangan Rose ia genggam erat. “Semoga kamu bahagia.” Ia kecup kening Rose beberapa saat dengan mata terpejam.
Ponsel Darwin berdering, ia menggumam kesal siapa yang mengganggunya sedang meeting.
“Permisi sebentar,” ujar Darwin merasa tidak enak dengan klien.
“Ya, tidak apa-apa,” jawab klien bule tersebut dengan logat bahasa yang susah untuk dimengerti.
“Halo sayang,” sapa Darwin sedikit berbisik.
“Mas, kamu jangan pulang telat ya, aku udah masak. Jangan coba-coba makan di luar, aku gak mau makanan yang aku masak jadi basi.” Asmira ngomong panjang lebar, belum sempat Darwin jawab.
Tut.. tut.. telepon terputus, Asmira memutuskan telepon sebelah pihak.
Darwin mendengus pelan, ia elus dadanya. “Kalo cuma mau ngomong itu, kenapa gak SMS saja,” gumam Darwin ia mengatupkan bibirnya.
Darwin lanjutkan kembali meeting yang sempat tertunda barusan. Pratiwi tersenyum geli, ia tahu pasti telepon tersebut dari istri bosnya. Akhir-akhir ini ia sering melihat kejadian seperti itu.
__ADS_1
Setelah selesai, klien pun berpamitan. Darwin melonggarkan dasinya ia merasa gerah.
“Sepertinya, Bapak gemukkan ya?” tanya Tiwi pada Darwin.
“Iya Wi, saya makan banyak akhir-akhir ini,” sahut Darwin melipat lengan bajunya.
Tiwi tersenyum. “Bu Asmira lagi hobi masak ya Pak?” tanya Tiwi.
“Ya tuh, sekarang juga saya harus pulang buat menghabiskan semua makanannya lagi.” Darwin menutup mukanya dengan tangan.
Tiwi mau ketawa, tapi tidak berani. “Awal-awal kehamilan memang begitu, banyak-banyak sabar saja Pak,” ujar Tiwi.
Darwin tersenyum, sebelumnya ia tidak terpikirkan ke sana. Asmira juga tidak mengatakan apa pun kepadanya. Atau mungkin jangan-jangan benar yang Tiwi katakan.
“Wi, kamu pesan taksi Online saja, ya?” pinta Darwin, ia tidak sempat lagi mengantarnya pulang. Darwin ingin buru-buru kembali ke rumah bertemu istri tercintanya.
Darwin menekan bel berkali-kali tapi tidak ada yang membukakan pintu untuknya.
Setelah sekian lama ia menunggu di luar, akhirnya Santi membukakan pintu untuknya.
“Nyonya lagi mandi Tuan,” beritahu Santi.
Darwin segera masuk ke kamarnya, ia mendapati istrinya sedang mengeringkan rambut, bawahannya masih terlilit handuk. Darwin memeluk Asmira dari belakang.
“Mas, mengagetkan saja,” Asmira mengubah posisinya, ia lingkarkan tangannya di leher Darwin.
“Biar!” Darwin mencium leher Asmira tanpa ampun.
“Mas, mandi dulu sana.” Asmira melepaskan pelukan Darwin.
Setelah siap mandi dan berpakaian, Darwin segera turun ke bawah, Asmira sudah menunggunya sedari tadi. Melihat masakan yang tersusun rapi di meja makan, Darwin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Banyak banget sayang.” Darwin melebarkan senyumannya. Asmira sangat bersemangat mengambil masakannya untuk Darwin, hingga satu piring penuh.
“Sayang udah dong,” Darwin menepikan tangan Asmira pelan.
Asmira tersenyum lebar, ia juga menyantap hidangan sendiri dengan lahap. “Selamat makan sayang,” ucap Asmira menampakkan gigi putihnya.
Darwin menyuapi beberapa sendok makanan yang ada di piringnya, perutnya terasa begah.
“Sayang, udah kenyang, nih,” ujar Darwin dengan nada memelas.
“Enggak enak ya, Mas?” Asmira memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
“Enak kok sayang, enak banget malah,” sahut Darwin menyuapkan kembali masakan Asmira ke dalam mulutnya hingga penuh.
Asmira tersenyum manis. “Gitu dong Mas. Mas itu harus banyak makan, biar tetap sehat.” Asmira menambahkan lagi lauk ke piring Darwin.
Selesai makan, Darwin mengelus-elus perutnya, ia duduk di sofa kamarnya.
“Bisa-bisa perut gue jadi buncit kalo begini terus,” gumam Darwin.
Asmira masuk ke kamar, dengan masker di wajahnya yang ia suruh oleskan pada Santi. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu ia segera masuk ke kamarnya.
Darwin menoleh pada Asmira.
“Arghhh!!” teriak Darwin memekik telinga.
Dengan bersamaan Asmira pun berteriak, karena kaget mendengar Darwin berteriak.
“Mas, ini aku. Kenapa sih kek liat setan,” ujar Asmira santai, seperti tidak terjadi apa-apa.
“Apa itu di mukamu, cepat cuci sana,” perintah Darwin.
“Bikin jantungan saja.” Darwin mengelus-elus dadanya karena terkejut.
Asmira menahan senyumnya, ia tidak menyangka ternyata Darwin takut hantu, ia jadi punya ide untuk menjahili suaminya besok-besok.
“Enggak mau, enak saja Mas suruh cuci, belum kering juga,” jawab Asmira membantah.
“Kamu ini, cepat cuci!” suruh Darwin lagi.
“Enggak mau titik!” Asmira gak mau kalah.
Darwin kehabisan kata-kata, ia tidak mau terlalu keras dengan istrinya, apalagi karena hal sepele.
“Lagian masker warnanya aneh kek gitu, ihhh ... “ Darwin memasang wajah seperti jijik akan sesuatu.
Asmira tertawa pecah dengan tingkah suaminya, ia mendekati Darwin, namun Darwin menjauh, ia hampir saja terjatuh dari tempat tidur. Asmira kembali tertawa sampai cekikikan.
“Kamu usil banget ya sekarang,” ucap Darwin, ia menggelitik pinggang Asmira sampai Asmira terengah-engah.
“Mas udah, aku capek,” ujar Asmira.
Darwin pun tidur di pangkuan Asmira, ia cubit gemas pipinya.
“Kamu yang mulai dulu, kan?” tanya Darwin memejamkan matanya.
__ADS_1
Asmira duduk membaca buku, ia asyik membolak-balik halaman demi halaman. Sementara Darwin sudah tertidur pulas di pangkuannya.
Jangan lupa like ya....