
“Jadi itu penyebabnya?” tanya Marni mengelus-elus perutnya.
Jessica bersedih.
“Udah, gak usah sedih. Kalian itu bukan ponakan dan paman. Valen itu cuma adik angkat Tuan Marco,” cerita Marni serius. Mulutnya terasa keram, ia tertawa cekikikan dengan omongan Jessica.
Jessica tidak percaya, ia menganggap Marni sedang menggodanya saja.
“Suka banget ya, suami istri goda aku,” ujar Jessica kesal.
“Ya ampun Non, benaran. Kami udah puluhan tahun bekerja untuk mama papa Non, percaya deh,” Samsul ikut menjelaskan.
Jessica tersenyum bahagia, ia percaya 100% dengan omongan Marni, seperti yang mereka katakan sendiri. Mereka sudah lama bekerja untuk Martha, apa yang diragukan lagi.
Jessica mengetuk pintu kamar Sara, besok hari terakhir Sara ujian semester, ia sangat giat belajar. Setelah makan malam tadi, ia langsung masuk ke kamarnya.
“Sayang, boleh Mommy masuk?” tanya Jessica. Terdengar jawaban Sara dari dalam sedikit berteriak. “Masuk aja Mom!”
Jessica segera masuk, setelah ia mendapat izin dari empunya kamar. Bukan apa-apa, takutnya mengganggu Sara yang sedang belajar.
“Duduk Mom,” pinta Sara menepuk-nepuk sofa kamarnya.
Jessica duduk di sebelah Sara. “Besok udah selesai ujiannya ya?” tanya Jessica. Sara hanya mengangguk.
Jessica ingin mengatakan sesuatu tapi ia ragu, ia pejamkan matanya.
“Mommy mau menyusul Daddy, kamu mau ikut enggak?” tanya Jessica dengan suara pelan.
Sara tersenyum. “Benaran, Mommy gak marah lagi?” tanya Sara dengan wajah bahagia.
Jessica mengangguk. “Daddy kamu cuma salah paham,” ujar Jessica memeluk Sara.
“Alhamdulillah, akhirnya Tuhan kabulkan doaku Mom, besok setelah aku selesai ujian kita berangkat ya,” ujar Sara membuat Jessica tersenyum air mata bahagia jatuh di pipinya.
Setelah mengantar Sara sekolah, Jessica mampir ke rumah Asmira. Ia rindu sekali dengan adiknya itu. Santi membukakan pintu untuk Jessica.
“Kamu ini ya, gak rindu sama Mbak?” tanya Jessica pada Santi.
Santi tersenyum. “Rindu Mbak, tapi mau gimana, Mbak sih jarang main kesini,” sahut Santi.
“Alah itu alasan kamu saja. Oya, Asmira mana?” tanya Jessica setelah melepaskan sepatunya di pintu depan.
“Ada, ayo masuk?” ajak Santi menuju dapur.
Jessica terkejut melihat adiknya itu, baru seminggu mereka tidak bertemu. Tampak banyak perubahan yang terjadi pada Asmira.
“Dek, ini benaran kamu?” tanya Jessica menyentuh pipi Asmira yang tampak tembam.
“Apaan sih Mbak?" jawab Asmira judes.
__ADS_1
“Kamu gendut banget sih...” ujar Jessica berputar-putar di depan Asmira. Ia kaget melihat adiknya itu.
Asmira bangkit dari duduknya, ia kesal dikatai gendut.
“Masa sih gendut, memangnya iya Santi?” tanya Asmira.
Santi tidak berani menjawab, bagaimanapun Asmira sekarang majikannya.
“Eng, enggak, gak kok...” jawab Santi terbata-bata.
“Alah bohong kamu,” sanggah Jessica menyahut jawaban Santi.
Asmira berputar-putar di depan cermin.
“Enggak kok...” ia berkata pada dirinya sendiri.
Jessica tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Asmira yang lucu seperti itu. Jessica menggeleng kepalanya berkali-kali.
“Dek, dek...” Jessica menepuk jidatnya. Kemudian matanya terbelalak tawanya
terhenti.
“Jangan-jangan kamu lagi hamil, ya?” tanya Jessica kemudian.
Asmira mengerutkan keningnya. “Hamil, siapa yang hamil?” tanya Asmira balik.
Asmira menepis tangan Jessica pelan, ia mundur ke belakang.
“Ada-ada saja sih mbak, orang aku gak apa-apa kok,” jawab Asmira berjalan menuju ruang televisi.
Jessica dan Santi mengikutinya di belakang.
“Eits, kamu jangan salah, ada ibu hamil yang enggak mengalami apa-apa di awal kehamilan. 3-4 bulan baru deh mual-mual,” cerita Jessica.
Asmira terdiam, ia coba mengingat-ingat kapan terakhir ia datang bulan. Ternyata benar, sudah 20 hari telat, ia belum juga datang bulan. Asmira tersenyum.
“Jangan-jangan benar aku hamil,” ujarnya.
Jessica tertawa kecil melihat adiknya itu,
“Masak sih kamu enggak merasa tentang perubah tubuh kamu sendiri, Aneh deh,” ujar Jessica menyenggol lengan Asmira.
Asmira menyuruh Santi membeli testpack untuknya, ia sengaja tidak menyuruh Darwin belikan, jika benar ia hamil, itu akan menjadi sureprise untuk suaminya nanti.
“Ngomong-ngomong, ada apa nih Mbak kesini,” tanya Asmira mulutnya penuh dengan camilan.
“Mbak mau menyusul Valen ke luar negeri,” ujar Jessica. Asmira terdiam, ia menatap wajah kakaknya itu.
“Mbak yakin, Om Valen udah cuek sama Mbak,” tanya Asmira khawatir.
__ADS_1
“Sebenarnya, cuma salah paham saja Mira,” balas Jessica matanya terus menatap layar televisi.
Asmira bangun, ia mengambil dua gelas minuman di dapur, lalu ia kembali duduk di sebelah kakaknya.
“Salah paham gimana maksud Mbak?” tanya Asmira.
“Panjang ceritanya Mira,” jawab Jessica serius.
“Mau sepanjang apa pun pokoknya aku mau Mbak ceritakan, aku paksa,” ucap Asmira menyilang kedua tangan di dadanya.
Jessica pun bercerita panjang lebar kepada Asmira, meski banyak pertanyaan bersarang di kepala Asmira, ia tahan. Asmira sabar menunggu sampai Jessica selesai bercerita.
“Aku bingung Mbak, kalo darah Mbak 100% cocok dengan papa Marco, kenapa ibu aku bilang pada bik Khodijah Mbak bukan anaknya mama Martha?” tanya Asmira penasaran.
“Entah lah,” Jessica meraup wajahnya.
Asmira terdiam, ia berpikir lagi. Ia mencoba mencerna kata-kata Jessica yang tadi bercerita panjang lebar kepadanya.
“Aku mengerti Mbak,” ujarnya memegang dagunya seraya mangut-mangut.
“Apanya?” tanya Jessica.
“Pokoknya, Mbak susuli saja Om Valen, biar aku dan mas Darwin yang urus semuanya, oke?” ujar Asmira mengedipkan matanya pada Jessica.
Jessica tertawa. “Kamu ini,” Jessica mencubit pipi Asmira.
*
Malam harinya.
“Mas, tadi Mbak Jessica kemari, loh,” beritahu Asmira pada suaminya ketika makan malam.
“Oya, kamu udah kasih tahu masalah sanggar seni itu gimana, Mbak Jessica suka?” tanya Darwin.
Asmira menepuk jidatnya. “Ampun, aku lupa Mas, maaf ya?” ucap Asmira.
Darwin mencubit gemas pipi Asmira yang mulai tembam. “Enggak apa-apa,” ujar Darwin.
Setelah selesai makan Asmira berinisiatif untuk memberitahukan kepada Darwin apa yang Jessica katakan tadi, tapi rasanya momennya kurang pas, Darwin lelah sekali, ia pasti ingin segera istirahat.
“Mending besok deh, kan besok hari libur,” gumam Asmira dalam hati.
Asmira menarik selimut menutupi tubuh ia dan suaminya, ia memeluk Darwin dari belakang karena posisi Darwin membelakanginya. Setelah memejamkan matanya beberapa kali namun ia tidak bisa tidur juga.
“Mas, aku enggak bisa tidur,” rengek Asmira menggoyangkan tubuh Darwin.
“Mas...” panggil Asmira lagi. Namun Darwin bagaikan orang mati, ia tidak terbangun meski Asmira sudah memanggilnya beberapa kali.
Jangan lupa like ya....
__ADS_1