
Sama halnya dengan Asmira, ia senyum-senyum sendiri, sesekali menyentuh bibirnya. Seminggu yang lalu, seakan baru terjadi kemarin.
Rthhhhh ... rthhhhh.
Bastian.
“Halo Bas,” sapa Asmira.
“Keluar yuk, makan, setelah itu kita nonton,” ajak Bastian.
“Boleh, kita ketemu di sana saja,” kata Asmira.
“Jangan dong, gue jemput, ya?” pinta Bastian.
“Ya udah, gue siap-siap dulu, ya.” Asmira menekan tombol merah, lalu bergegas menuju kamar mandi.
* *
Seminggu ini, aktivitas Darwin sangat padat, ia bolak balik keluar kota bersama Pratiwi, rindunya pada Asmira semakin memuncak, rasanya begitu sesak.
Mereka sedang bertemu dengan klien di sebuah kafe, pemilihan tempatnya kurang tepat menurut Darwin, di sana begitu banyak pasangan muda-mudi yang berpacaran.
Ting! Bunyi pesan masuk dari Kelvin untuk Darwin.
[Selesai meeting lo jemput gue ya, mobil gue dipinjam Bastian.]
Asmira dengan Bastian juga berada di tempat yang sama dengan Darwin, tapi mereka duduk di area luar.
Bastian terus menatap wajah Asmira, rambutnya yang dikucir kuda, dengan make-up tipis di mukanya, lengkap dengan pakaian santai yang ia kenakan. Terlihat biasa, namun sangat memesona.
“Lo masih sendiri, Mir?” tanya Bastian.
“Iya, sekali-kali mbak Jessica juga pulang,” jawab Asmira.
Bastian tertawa. "Bukan itu maksud gue, lu masih singgel?” tanya Bastian menahan tawa.
“Oh, sorry gue salah paham,” jawab Asmira menyengir. “Masih sendiri saja, nih,” lanjutnya lagi.
Bastian senyum-senyum mendengar Asmira mengatakan ia masih sendiri. “Aku masih punya harapan, enggak bakalan aku sia-siakan kesempatan ini,” gumam Bastian.
“Kenapa lu senyum-senyum, bahagia banget sahabatnya masih jomblo,” kata Asmira sewot.
“Gue juga masih sendiri kok Mir, ngapain gue tertawai lu,” jawab Bastian. “Mira, gue boleh foto in lu enggak, please!” pinta Bastian.
“Boleh kok, sini hpmu biar aku Selfi.” Asmira meraih handphone ditangan Bastian.
Cekrek, cekrek. Bunyi kamera handphone Bastian. Asmira mengambil beberapa gambar dengan narsisnya, setelah selesai ia kembalikan pada Bastian.
“Yang kurang bagus kamu hapus ya, Bas,” pinta Asmira.
Ponsel Bastian berdering disaku celananya yang barusan ia masukkan.
“Mamaku telepon, bentar ya, Mira.” Bastian menjauh kemudian ia mengangkat telepon Mamanya.
Darwin dan Pratiwi yang baru selesai pertemuan dengan kliennya, keluar dari kafe tersebut, Darwin melihat Asmira duduk di bangku sendirian.
“Tiwi kamu kembali ke kantor naik taksi saja ya, aku mau jemput Kelvin,” ujar Darwin.
__ADS_1
“Baik Pak, saya permisi, ya?” Tiwi sekilas memandang ke arah Asmira.
Darwin menghampiri Asmira.
“Tari!” panggil Darwin.
“Ya ampun! tadi ada orang yang mirip Marcell, sekarang kenapa jadi suaranya juga ikut-ikutan mirip.” Asmira menepuk-nepuk pipinya.
“Ya Tuhan. Bisa gila gue.” Asmira menutup wajah dengan kedua tangannya.
Darwin menyentuh bahu Asmira. “Kamu kenapa?” tanya Darwin.
Asmira terkejut setengah mati. “Mas, sejak kapan udah di sini?” tanya Asmira.
“Sejak kamu ngomong sendiri,” jawab Darwin menggoda.
“Mas ngapain sih di sini?” tanya Asmira tanpa menoleh karena malu. Darwin pasti mendengar omongannya barusan pikir Asmira.
“Selesai pertemuan nih, kamu sama siapa di sini?” tanya Darwin. Entah kenapa jadi Aku Kamu.
“Sama teman aku mas, ia mau kembali ke luar negeri, jadi kami mau menghabiskan waktu bersama untuk hari ini,” jawab Asmira.
“Kirim pesan untukku, ke mana saja kamu pergi,” pinta Darwin.
“Kenapa Mas?” tanya Asmira.
“Aku mimpi buruk tentangmu, aku cuma khawatir kamu kenapa-kenapa.” bohong Darwin. Begitu mudah menipu wanita yang satu ini pikirnya, padahal alasannya begitu konyol.
Darwin mengecup kening Asmira mesra dan mengelus rambutnya, membuat Asmira terkejut dan membulatkan matanya.
“Hati-hati ya, sayang,” ucap Darwin.
Darwin melihat mobil Kelvin di tempat parkir. “Berarti Bastian di kafe itu dong,” pikir Darwin dalam hati. Darwin berniat kembali ke dalam kafe tersebut, tapi tiba-tiba Kelvin telepon.
“Lo lama banget sih Win, bisa jamuran gue tunggu lu di sini,” omel Kelvin.
Darwin mengurungkan niatnya, lalu ia bergegas jemput si ABG Tua, begitu panggilannya untuk Kelvin.
Bastian kembali ke tempat duduknya bersama Asmira, Bastian melihat Asmira senyum-senyum sendiri. “Lo kenapa Mira?” tanya Bastian.
“Enggak kenapa-kenapa Bastian, udah teleponnya?” tanya Asmira.
“Udah, gue balik ke Jepang besok Mira,” jawab Bastian sedih.
“Udah, enggak usah menyun gitu, nanti kapan-kapan kita ketemu lagi kok,” hibur Asmira.
“Ya Mira, lu baik-baik di sini ya, kalo ada apa-apa jangan lupa beritahu gue,” pinta Bastian.
Asmira mengangguk lalu ia bertanya, “Jadi enggak kita nonton?”
“Jadi dong. Ayo?” ajak Bastian.
“Eh, bayar dulu dong,” ujar Asmira.
“Udah Mira.” Bastian melangkah keluar kafe tersebut diikuti Asmira di belakangnya.
••••
__ADS_1
“Lo yang setir.” Darwin turun pindah posisi.
Kelvin langsung menyetir mobil Darwin meninggalkan kantor menuju rumahnya.
“Lagian mobil lu banyak, kenapa Bastian harus pilih yang itu coba?” tanya Darwin kesal.
“Sama selera Win, lu kan tahu Anak laki itu pasti mengikuti apa yang ayahnya laku in, apa yang ayahnya suka, sementara papa gue udah meninggal sejak Bastian kecil, makanya apa saja yang gue laku in, gue suka, dia juga sama,” ujar Kelvin. Darwin hanya mendengar tidak berkomentar sama sekali.
Ting! Bunyi pesan handphone Darwin.
Asmira.
[Mas, aku di bioskop ya sama temanku.]
Darwin tersenyum membaca pesan Asmira, “Benar-benar kasih kabar ni anak,” gumam Darwin .
Kelvin yang memperhatikan sahabatnya itu tersenyum geli. “Ehemm, kenali dong,” kata Kelvin.
Darwin tidak menggubris, tangannya asyik mengetik pesan dengan Asmira.
•••
Mereka tiba di bioskop, Bastian membeli tiket dan makanan, sementara Asmira menunggunya dari kejauhan.
“Oh ya, aku lupa belum kirim pesan ke mas Marcell.” Merogoh tasnya mengambil handphone.
[Aku di bioskop sama temanku.]
Darwin.
[Nanti pulang dari sana aku jemput ya.]
[Mau ke mana, Mas?]
Darwin.
[Mau ajak kamu ke apartemenku.]
[Ngapain ke apartemen Mas, enggak ah.]
Darwin.
[Aku lapar belum makan, aku mau kamu masak in makanan buatku.]
[Mas beli saja.]
Darwin.
[Ya udah aku enggak makan]
[Ya ampun Mas, awas kalo ketemu aku gigit kamu, udah aku mau nonton bye.]
Asmira senyum-senyum sendiri dengan tingkah Darwin. Bastian selesai membeli tiket dan makanan, segera mengajak masuk Asmira supaya tidak ketinggalan film yang sebentar lagi akan dimulai.
Saat film sedang tayang, Bastian menggenggam tangan Asmira, Asmira tidak menolaknya, ia menganggap Bastian adalah sahabat terbaiknya. Toh, hanya pegang tangan saja, sama sahabat apa salahnya. Begitu pikir Asmira, tapi Bastian salah mengartikannya, Bastian begitu senang ia merasa Asmira juga menyukainya.
Jangan lupa jempolnya ya guys.
__ADS_1
Terima kasih...
Baca novel A BIG MISTAKE ya?