Perjanjian

Perjanjian
Episode 71


__ADS_3

Marco termenung. Jika benar, Rose bukan anaknya, tidak ada yang bisa ia lakukan untuk menarik kembali hartanya. Semua jelas, tanda tangan dan stempel yang sah. Marco merasa pusing.


“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Marco. Darwin sangat kesal dengan sikap kedua orang tuanya.


“Entah Pa. Buru-buru dalam mengambil tindakan. Ya, begini akibatnya,” ucap Darwin.


Valen menatap Martha, Martha merasa bingung, seakan ia tak percaya Rose bukan anaknya. Gelang yang Bik Khodijah katakan ada ditangannya.


“Begini saja Mbak, mending hubungi Rose sekarang juga. Ajak dia ke rumah sakit. Jika Mbak masih ragu,” saran Valen.


Darwin menghubungi Rose. Setelah mencoba beberapa kali tak tersambung, akhirnya terhubung juga.


“Angkat Rose!” umpat Darwin kesal.


“Ya Win,” sahut Rose setelah telepon terhubung.


“Kamu di mana Rose?” tanya Darwin.


“Aku lagi di bandara nih, mau balik ke Jepang. Ada apa ya?” tanya Rose.


Darwin sangat kesal mendengar pertanyaan Rose. Seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa.


“Kamu mau kembali ke Jepang. Setelah membohongi keluargaku?” tanya Darwin geram.


“Apa maksud kamu Win, siapa yang membohongi keluargamu. Mereka sendiri yang mengatakan aku ini anaknya. Bukan aku...” sahut Rose merasa kesal.


Darwin menarik nafas dalam. “Jika bukan bohong, kenapa kamu meminta separuh harta papa, Rose?” tanya Darwin.


“Bukan aku, tapi mama Fenita. Sertifikat yang sah juga bersama mama Fenita aku cuma punya duplikatnya saja,” sahut Rose.


Darwin memutuskan telepon dengan Rose. Tidak ada gunanya pikir Darwin. Toh, bukan Rose yang merancang rencana jahat tersebut.


Darwin merasa lututnya lemas, ia duduk di sofa. “Papa ikhlaskan saja, tidak ada yang bisa kita lakukan lagi. Surat yang sah sudah ditangan mama Kelvin.” Darwin duduk terdiam.


Martha baru mengerti sekarang, jadi ini semua ulah Fenita. Kenapa ia hadir tiba-tiba. Namun, yang aneh kenapa dia tahu kapan waktu yang tepat untuk muncul.


“Siapa mata-mata Fenita,” ucap Martha.


“Mang Joni,” jawab Jessica tegas.

__ADS_1


Marco dan Martha sangat kaget dibuatnya. Pantas, semua yang ingin mereka lakukan diketahui Fenita. Tepat, di hari mereka akan mencari informasi tentang keberadaan anak kandungnya, hari itu juga Rose datang bersama Fenita.


“Ini semua ulah Papa,” ujar Martha mulai menangis. “Papa harus tanggung jawab,” ia memukul keras bahu Marco.


Darwin menenangkan Martha. “Kenapa Mama salahkan papa,” ujar Darwin.


“Kamu enggak tahu Win, Fenita itu mantan calon istri papa, ini pasti karena ia dendam sama Mama,” ujar Martha tangisannya pecah.


Jessica baru mengerti sekarang. Kenapa Fenita melakukan hal itu, ia sengaja memisahkan Martha dari anaknya. Karena, Martha telah merebut Marco darinya.


“Lalu di mana anakku yang sebenarnya. Tuhan... sekian tahun sudah aku terpisah dengan anakku, bulan depan tanggal 20 ia akan genap berusia 38 tahun,” ratap Martha dengan suara parau.


“Aku ingin sekali memeluknya erat, mencium keningnya,” sambung Martha.


Jessica memeluk Martha. Bukan karena ingin menenangkannya, tapi karena ia begitu tersentuh dengan kata-kata Martha. Bahkan Martha mengingat tanggal ulang tahunnya.


“Kenapa kalian masih saja mencari orang lain, orang yang sebenarnya sudah bersama kalian selama ini?” tanya Jessica tidak mampu lagi menahan gejolak di dadanya.


Martha berhenti menangis. Ia menatap Jessica, tidak mengerti apa yang ia maksud.


“Aku anak kalian Pa, Ma,” ujar Jessica mulai menangis tersedu-sedu.


“Apa yang kamu katakan?” tanya Marco. Ia sadar hubungannya bersama Jessica akhir-akhir ini kurang baik.


“Sayang, jika selama ini kamu sudah tahu yang sebenarnya, kenapa kamu diam saja?” tanya Marco memeluk Jessica.


Memang sejak awal Jessica datang ke rumah itu, ia sangat menyukainya, keduanya begitu dekat.


“Untuk apa Pa, aku merasa kalian tidak mengharapkan aku,” ujar Jessica. Ia masih membenamkan wajahnya di pelukan Marco sang ayah.


Darwin meneteskan air matanya. Ia lupa kapan terakhir ia menangis, tapi melihat orang tuanya bertemu dengan anak yang hilang dari pelukan mereka selama ini, hatinya begitu pilu.


“Aku benci Papa,” ucap Jessica memukul dada Marco. “Aku pernah hampir di perkosa ayah angkat ku sendiri Pa, setelah ibu Sukma tiada,” ujar Jessica menangis mengingat kembali kejadian itu.


Marco mempererat pelukannya, ia mengecup pucuk kepala Jessica.


“Maafkan Papa, Nak, semua salah papa. Hukum papa,” ujar Marco.


Martha mendekati mereka, ia memeluk Jessica, ia kecup kedua pipinya. Semua yang berada di ruangan itu meneteskan air mata, melihat kejadian yang begitu menyentuh.

__ADS_1


Mereka bertiga saling berpelukan.


“Maafkan Mama juga Jess. Jika bukan karena Mama, kamu gak akan menderita seperti ini,” ucap Martha.


Jessica menyeka air mata di pipi Martha.


“Mama gak salah, Tuhan yang telah menakdirkan hidup kita begini, hanya saja selama ini aku belum sanggup menerimanya Ma,” Jessica memeluk Martha lagi.


“Tuhan, pelukan ini begitu hangat, pelukan ini yang selalu aku rindukan,” gumam Jessica.


Marco tersenyum di sela tangisnya. “Tuhan, beri aku umur panjang. Biar aku habiskan sisa hidupku bersama putriku tercinta,” batin Marco menjerit.


“Tuhan, biarkan mereka bahagia selamanya seperti ini,” ucap Marni. Ia menyeka air mata dengan bajunya.


“Aku sedih juga Bu,” ucap Samsul.


“Ya pak,” sahut Marni.


Handphone Darwin berdering sangat nyaring, ia sedikit terkejut dengan nada handphone barunya, semua orang yang berada di ruang tersebut tertawa terbahak-bahak. Suasana pilu tadi berubah mencari tawa riuh.


“Ini pasti ulah Lestari,” ucap Darwin. Siapa lagi yang iseng mengerjainya jika bukan istrinya sendiri.


“Ya Tiwi,” sapa Darwin.


“Pak, rapat dengan klien 20 menit lagi,” beritahu Tiwi.


“Oke, saya segera berangkat.” Darwin memutuskan telepon.


“Pa, Ma, aku berangkat ya. Yuk Om, barengan saja,” ajak Darwin setelah berpamitan kepada orang tuanya.


“Sayang, aku berangkat kerja dulu ya,” ucap Valen kepada Jessica seraya mencium mesra keningnya.


Darwin tidak tinggal diam saja melihat pemandangan tersebut.


“Ehem... udah sayang sayang, nih, nikah buru nikah, di embat Kelvin baru menangis,” ucap Darwin pedas, membuat Valen panas mendengar ucapan Darwin.


“Coba saja, selangkah dia berani dekati Jessica, ku bunuh dia,” ucap Valen berapi-api.


“Sayang, berangkat kerja gih, enggak usah gubris omongan Darwin,” ujar Martha.

__ADS_1


Darwin tertawa terbahak-bahak saat ia melangkahkan keluar, ia berhasil membuat pamannya merasa kesal.


Jangan lupa like ya....


__ADS_2