Perjanjian

Perjanjian
Episode 34


__ADS_3

Pagi hari Asmira dan Darwin telah bersiap-siap, mereka akan diantar oleh Mang Joni menuju bandara, Martha melambaikan tangannya ketika mobil yang membawa anak dan menantunya meninggalkan pekarangan rumah mewahnya.


Tiba di bandara Soetta mereka langsung check-in.


“Mas, berapa jam nanti kita dalam pesawat?” tanya Asmira.


“Sekitar 16 jam sayang,” sahut Darwin.


“Apa!” Tanpa sadar semua yang berada di dekat keduanya menatap Asmira.


Darwin tersenyum melihat tingkah Asmira. “Jadi berangkat enggak, nih?” goda Darwin.


“Jadi dong Mas, Cuma terkejut saja,” balas Asmira.


“Yakin?” tanya Darwin sekali lagi.


Asmira mengangguk berkali-kali.


Sekitar 2 jam kemudian pesawat menuju Venice pun berangkat. Ini pertama kali Asmira ke luar negeri.


Sementara itu, Marco ditemani pengacaranya menuju pengadilan agama membawa berkas-berkas yang telah di persiapkan Darwin. Dalam perjalanan Jessica hanya diam saja Marco terus menatap wajah Jessica yang tidak tenang.


Setelah terdaftar di pengadilan agama mereka tinggal menunggu panggilan dari pihak pengadilan saja.


Sampai rumah Jessica masuk kamarnya, Martha membiarkan Jessica menenangkan diri, tidak mudah menghadapi prahara rumah tangga yang dijalani oleh Jessica berbagai derita telah ia rasakan.


Ponsel Jessica berdering membuyarkan lamunannya, ia menatap layar ponselnya sebelum ia angkat.


“Halo Vin,” sapa Jessica.


“Aku rindu kamu, ayo kita bertemu?” ajak Kelvin.


Jessica menyunggingkan senyum di wajahnya, pikirannya yang sedang kalut mendapat angin segar ketika Kelvin mengajaknya bertemu.


“Ayo Vin,” sahut Jessica.


“Tunggu aku jemput.” Kelvin mengakhiri panggilan.


Selesai mandi dan berpakaian cantik, Jessica berdiri di depan cermin, ia menatap saksama penampilannya sendiri ia berputar-putar di depan cermin. Setelah ia rasa penampilannya cukup memuaskan ia pun pamit pada Martha untuk pergi sebentar.


Kelvin meluncurkan mobilnya menuju suatu tempat yang jauh dari bisingnya kota.


“Vin, ini bukannya jalan menuju rumahmu?” tanya Jessica.


“Kamu masih ingat?” tanya Kelvin.


Jessica mengangguk.


Mereka tiba di rumah Kelvin, rumah di mana ia menghabiskan masa kecilnya dulu bersama kedua orang tuanya. Rumah itu masih indah seperti dulu, terawat dengan baik, ada pembantu yang selalu membersihkannya.

__ADS_1


Mereka duduk di bangku halaman depan, di bawah pepohonan rindang, angin sepoi-sepoi berembus menyibakkan rambut Jessica menutupi wajah cantiknya.


Kelvin dengan lembut menyibakkan rambut yang menutupi wajah Jessica dengan jemarinya.


Pandangan keduanya beradu, tampak dari mata keduanya sama-sama menyimpan guratan pilu. Kelvin membelai pipi Jessica lembut, ia bisa melihat ada sesuatu yang tersembunyi di balik wajah cantik itu, Jessica membuang muka dari tatapan Kelvin.


“Gimana Brandon?” tanya Jessica mengalihkan suasana.


“Belum ada kabar,” jawab Kelvin singkat.


“Kamu pasti sangat merindukan istri dan anakmu, kan?” tanya Jessica.


“Enggak ...” sahut Kelvin dingin.


“Kalo kamu mau cerita aku siap dengarkan,” ujar Jessica menggenggam tangan Kelvin mencoba memberi kekuatan.


“Ribet ceritanya ...” imbuh Kelvin dengan wajah sedih.


Jessica terdiam, membiarkan Kelvin dengan pikirannya yang menerawang jauh entah ke mana.


“Kamu sendiri kenapa?” tanya Kelvin tiba-tiba.


“Kenapa apanya?” Jessica menyipitkan matanya.


“Aku bisa lihat dari matamu, kamu sedang tidak baik-baik saja Jessi ...” ucap Kelvin.


“Jangan sok tahu kamu Vin,” balas Jessica.


Jessica terdiam, mimik wajahnya berubah yang sedari tadi dibuat setegar mungkin kini matanya mulai berkaca-kaca, ia rebahkan kepalanya di bahu kekar Kelvin. “Aku akan bercerai Vin,” lirih Jessica.


“Kenapa?” tanya Kelvin.


Jessica membelakangi Kelvin menyibakkan rambutnya ke depan.


“Buka resletingnya Vin,” pinta Jessica.


Dengan wajah bingung Kelvin melakukan apa yang Jessica pinta, ia tarik resleting baju Jessica ke bawah.


Mata Kelvin terbelalak melihat tubuh Jessica penuh lebam-lebam, Kelvin memeluk Jessica dari belakang dengan resleting yang masih terbuka.


“Kenapa sampai begini Jess ....” suara Kelvin parau.


Air mata Jessica perlahan keluar, ia rasakan kehangatan pelukan Kelvin, Jessica mulai tergugu tangisannya pecah di pelukan Kelvin.


Sementara itu Darwin tiba di kota terapung Venice. Setelah menempuh perjalanan jauh, keindahan malamnya membuat Asmira terpukau, angin yang berembus kencang membuat tubuh Asmira kedinginan, Darwin mengajak Asmira istirahat.


“Besok kita naik gondola keliling kota, sekarang kita istirahat dulu,” ajak Darwin.


Asmira pun akhirnya mengiyakan.

__ADS_1


selesai membersihkan badan keduanya terkapar di kamar hotel karena kelelahan perjalanan yang cukup jauh membuat tubuh terasa pegal semua.


Pagi hari Asmira terbangun, ia turun dari ranjang menuju jendela, ia tarik gorden yang menghalangi indahnya kota yang dikelilingi kanal. Matanya tidak berkedip sama sekali, benar-benar indah lebih indah dari yang Jessica gambarkan.


Darwin memeluk Asmira dari belakang, mengagetkan Asmira yang sedang menikmati indahnya kota dengan view kanal di depannya. Asmira memejamkan matanya, nafas Darwin terasa hangat berembus di tengkuknya.


selesai mandi dan sarapan, Darwin dan Asmira dengan pakaian santai, keluar hotel dengan jalan kaki menyusuri lorong-lorong sempit, Darwin menggandeng tangan Asmira menyusuri jalan setapak itu.


Darwin mengajak Asmira menuju pulau kecil Burano, pulau yang memiliki bangunan berwarna warni, mereka menuju pulau dengan menyusuri kanal menggunakan water bus.


Asmira Selfi ria menggunakan ponsel genggam milik Darwin, dengan background bangunan-bangunan tua di sepanjang kanal. Pulau Burano salah satu pulau yang ada di Venice dengan keindahan bangunan yang dicat warna warni.


“Sayang foto 7,dong ...” pinta Asmira.


Dengan gaya bak model profesional Asmira lenggak-lenggok di hadapan Darwin ketika tiba di pulau Burano, yang membuat Darwin sakit perut menahan tawanya.


"Udah ya sayang, nanti foto-foto lagi," pinta Darwin. Tangannya menyodorkan satu cup


berisi gelato untuk Asmira.


“Hm ... enak banget Mas,” ujar Asmira.


Darwin tersenyum saat menyeruput kopi yang ada ditangannya.


Mereka mengakhiri berkeliling pulau Burano dengan membeli beberapa souvernir yang ada di sana, Asmira meminta Darwin belikan renda dan taplak meja khas Venice. Setelah selesai jalan-jalan mereka meninggalkan pulau indah Venice.


Malamnya Asmira dengan baju tidur merebahkan tubuhnya di atas ranjang, tangannya asyik memainkan ponselnya.


Asmira mengupdate sebuah fotonya bersama Darwin di akun sosial media miliknya.


Darwin duduk di tepi ranjang menatap lekat wajah Asmira, ia mendengus dingin.


“Aku tau ini bukan yang pertama kali buat kamu, tapi entah kenapa aku sangat mencintai kamu,” gumam Darwin dalam hati.


Darwin mendekatkan diri kepada Asmira, ia mencium pipi Asmira dan memeluknya. “Sayang, tidur yuk ...” ajak Darwin sembari mengambil handphone ditangan Asmira.


“Mas, aku belum siap ...” Asmira menggigit ujung kukunya.


“Tapi aku menginginkannya sayang,” ucap Darwin nafsunya yang sudah di ubun-ubun.


“Aku takut ...” sahut Asmira memeluk erat tubuh Darwin.


“Enggak sakit kok, percaya deh.” Darwin meyakinkan Asmira.


Darwin bingung menanggapi Asmira, dalam pikirannya Asmira adalah wanita malam, sementara ia sendiri sangat menjunjung tinggi pahamnya sendiri, ia tidak menyentuh wanita sama sekali. Baginya nafsu dan cinta berdampingan, jika tidak mencintainya bagaimana bisa bernafsu padanya.


“Mas... besok malam saja ya?” pinta Asmira.


Darwin mengangguk kecewa. “Ya udah ayo kita tidur,” ajak Darwin sembari menarik selimut menutupi tubuh keduanya.

__ADS_1


jangan lupa like dan favoritnya ya..


bantu vote juga boleh.


__ADS_2