
Asmira membuka matanya dengan wajah bingung di mana sekarang ia berada, bukan seperti kamarnya yang sempit dan sumpek. Ia bangun perlahan lalu keluar kamar tenggorokannya terasa kering, ia menuju dapur.
“Sayang, sudah bangun?” tanya Darwin.
“Ternyata di rumah Mas, aku kira di mana.” Asmira meneguk air putih, ia habiskan sekali teguk satu gelas berisi penuh.
“Haus banget sayang, pelan-pelan dong minumnya,” pinta Darwin.
“Kamu enggak kerja, Mas?” tanya Asmira setelah selesai meneguk segelas air putih.
“Ini hari libur Lestariku. Makan, yuk.” Darwin sudah memesankan makanan untuk mereka berdua.
“Mas pesan makanan, kenapa enggak banguni aku biar aku saja yang masak,” ujar Asmira
“Udah ayo makan, nanti kita lanjutkan mengobrolnya,” sahut Darwin.
Ting tong! Suara bel apartemen Darwin.
“Kamu lanjutkan makan, biar aku yang bukai pintu.” Darwin melangkah ke depan.
“What's up Bro,” sapa Kelvin.
“Ngapain lu kesini pagi-pagi begini?” tanya Darwin.
Tanpa disuruh Kelvin segera masuk. “Gue sengaja, ini kan weekend,” jawab Kelvin.
“Weekend seharusnya lu temani anak dan istri jalan-jalan, jangan kesini,” jawab Darwin.
Asmira mendengar di depan seperti ada keributan ia pun menyudahi makannya, ia menghampiri Darwin.
“Mas,” panggil Asmira. Sontak dua pria itu menatap tajam ke arah Asmira.
“Kamu udah makan, kenapa kesini?” tanya Darwin.
“Eits, udah aku kamu, nih,” ledek Kelvin.
“Diam lu!” teriak Darwin.
“Hai manis, aku Kelvin.” Menjulurkan tangannya kepada Asmira.
“Asmira.” Menjabat tangan Kelvin sembari tersenyum.
“Udah cukup, jangan lama-lama, gue kuliti lu berani macam-macam.” Melepaskan pegangan tangan Asmira dan Kelvin.
“Lo pacarnya?” tanya Kelvin pada Asmira.
“Bukan,” jawab Asmira.
“Iya!” jawab Darwin bersama dengan jawaban Asmira.
“Maksudmu apa bilang bukan pacarku?” tanya Darwin menatap tajam ke arah Asmira.
“Tapi memang kita belum jadian kan, Mas?” tanya Asmira membalas tatapan Darwin.
“Pacaran itu cuma status, yang penting itu rasa!” jawab Darwin tegas.
“Tapi status itu lambang, pengikat sebuah hubungan, Mas,” ujar Asmira.
__ADS_1
Darwin meraih tubuh Asmira ke pelukannya, ia menaikkan dagu Asmira, tatapan mereka beradu.
“Status apa yang kamu inginkan, ayo kita nikah,” ucap Darwin dengan suara pelan.
Mata Asmira terbelalak mendengar ucapan Darwin begitu spontan, ia tak menyangka Darwin melamarnya begitu cepat. Mereka baru saja bertemu dua Minggu yang lalu.
Belum sempat Asmira menjawabnya, Darwin ******* habis bibir Asmira hingga Asmira sulit bernafas. Darwin melepaskan ciumannya, nafas Asmira terengah-engah.
Sepasang mata yang menatap mereka, sejak tadi mereka abaikan. Seakan-akan hanya mereka berdua di sana, Kelvin berdecap kagum ternyata Darwin tidak seperti yang ia tahu selama ini .
“Ehemm!” Kelvin sengaja menyadarkan dua sejoli yang sedang kasmaran itu.
Asmira melepaskan pelukannya, ia menunduk malu. “Mas, aku beresin dapur dulu, kalian lanjut mengobrol saja, mau kubuatkan minum apa?” tanya Asmira.
“Kopi saja, sayang.”
Asmira membuatkan dua cangkir kopi untuk mereka berdua, ia kembali ke dapur membereskan meja makan.
“Akhirnya lu merasakan juga bagaimana rasanya kenikmatan surga dunia Bro,” celetuk Kelvin.
“Gue enggak ngapa-ngapain jangan gila lu!" Mata Darwin melotot ke arah Kelvin.
“Garang banget lu,” ledek Kelvin.
“Lama-lama gue bunuh lu ya!” Darwin benar-benar kesal.
Kelvin tertawa terbahak-bahak berhasil membuat sahabatnya terbakar dengan candanya.
“Siapa yang akan percaya Bro! Pria dan wanita dalam satu rumah tanpa penghuni lain, hanya akan diam saja.”
“Itu lu, bukan gue,” ucap Darwin mulai netral, ia tahu Kelvin hanya memanaskan suasana hatinya.
“Thanks Bro!” ucap Darwin.
Mereka berdua mengalihkan pembicaraan tadi soal wanita, sekarang masalah kerjaan. Tiba-tiba Darwin teringat omongan Pratiwi tentang Ritha dan Kelvin kedapatan berada di hotel berdua.
“Mas aku mau mandi, lengket banget nih,” Asmira menghampiri Darwin.
“Ya udah mandi sana,” pinta Darwin.
“Tapi aku enggak punya baju,” ucap Asmira.
Asmira begitu menggemaskan dengan nada khas ia bicara, jika saja di sana tidak ada Kelvin pasti bibir Asmira jadi sasaran.
“Aku pesan Online sekarang, kamu mandi saja dulu,” ujar Darwin.
Asmira mengangguk dan segera pergi ke kamarnya.
“Gila!” teriak Kelvin.
“Kenapa?” tanya Darwin menyipitkan matanya.
“Enggak habis pikir gue, sahabat gue bisa lembut dan romantis begini," ledek Kelvin lagi.
Darwin tidak menanggapi, ia sibuk memilih baju di aplikasi Online Shop untuk Asmira. Kemudian memesannya, setelah ia merasa cocok dengan ukuran Asmira.
“Ya udah gue ada urusan lain, gue balik dulu, ya?” ucap Kelvin.
__ADS_1
“Lo ngapain kesini, ada hal yang mau lu ceritakan?” tanya Darwin saat Kelvin melangkah ke depan.
“Enggak ada, gue cuma lewat makanya gue mampir. Eh, enggak taunya, dapat informasi menarik buat wartawan, nih,” goda Kelvin.
“Coba saja kalo sudah bosan hidup!” balas Darwin. KelvinKelvin tertawa, ia pun pamit pulang.
“Sial gue lupa tanya soal Ritha,” umpat Darwin kesal.
Tidak lama kemudian bel apartemen bunyi lagi, Darwin membuka pintu. Ternyata kurir yang membawa pesanan Darwin tadi.
Darwin mengetuk pintu kamar Asmira.
“Sayang udah mandinya, nih bajunya,” panggil Darwin.
Asmira membuka pintu, ia hanya menjulurkan tangannya keluar, ia meraih pemberian Darwin, dan menutupnya kembali.
“Kalo sudah tunggu aku ya, aku mau mandi sebentar,” ujar Darwin.
Asmira keluar dari kamar dengan baju terusan sampai lutut tanpa lengan, ia juga menjepit rambutnya ke belakang dan sebagian dibiarkan terurai. Ia duduk di sofa menunggu Darwin selesai mandi, handphone Darwin di atas meja ia letakkan saat memesan baju tadi.
Asmira meraih ponsel itu, kemudian ia membuka aplikasi kamera, dengan narsisnya Asmira memotret dirinya sendiri.
“Memang kamera handphone termahal paling oke, aku cantik banget di sini ya ampun,” puji Asmira untuk dirinya sendiri.
Setelah menjepret beberapa foto, ia letakkan kembali ponsel Darwin. Sesaat kemudian Darwin keluar, ia mengenakan kaos berwarna hitam dan celana Jeans.
Asmira menatap dari kejauhan saat Darwin turun tangga. “Beda banget. Kalau lagi pakai baju kerja terlihat berwibawa, kalau lagi begini cool banget.” Asmira gigit bibir bawahnya.
“Kamu cantik,” puji Darwin.
“Aku tahu,” ucap Asmira santai.
“Tapi bohong ...” ucap Darwin menjulurkan lidahnya.
“Mas,” rengek Asmira.
“Bercanda, cantik banget. Padahal enggak make-up,” puji Darwin ia mengelus-elus pipi Asmira.
Darwin teringat jam tangan oleh-oleh yang diberi Kelvin, ia mengambil dan memasang di tangan Asmira.
“Sini aku pasang buat Mas juga,” pinta Asmira.
“Konyol enggak sih, sayang?” tanya Darwin.
“Sekali-kali enggak apa-apalah, Mas.” Mereka berdua pun tertawa. Gara-gara Kelvin dua orang ini ikutan jadi ABG.
“Kita mau ke mana, Mas?” tanya Asmira.
“Nanti juga kamu tahu. Ayo?” Darwin menggandeng tangan Asmira keluar.
Darwin menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah tempat yang Asmira tidak tahu di mana itu.
“Kamu tidur saja dulu, perjalanannya Masih jauh,” pinta Darwin mengelus rambut Asmira.
“Aku enggak kantuk, Mas, aku mau main game saja. Pinjam Hp Mas.” Asmira menjulurkan tangannya.
Asmira asyik main game, padahal matanya mulai mengantuk tapi di tahan. Darwin tersenyum melihat tingkah Asmira. Sampai akhirnya ia tertidur, tangannya terjatuh, tapi masih memegang ponselnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik Like ya...
baca novel A BIG MISTAKE ya?