
Setelah menjemput sekretarisnya, keduanya segera menuju sebuah Cafe. Kelvin berusaha agar ia lebih dulu tiba dari pada kliennya.
Setibanya di sana. 20 menit Kelvin sudah menunggu namun klien belum juga tiba.
“Mohon maaf Pak, klien menghubungi saya,” ujar sekretaris Kelvin.
“Ya, tanyakan sudah sampai mana beliau?” sahut Kelvin.
Setelah berbincang dengan klien melalui telepon seluler, raut wajah sekretaris Kelvin seketika berubah.
“Kamu kenapa?” tanya Kelvin setelah sekretarisnya selesai berbicara.
Bukannya menjawab pertanyaan Kelvin, sekretaris itu wajahnya tampak pucat pasi.
“Katakan ada apa?” tanya Kelvin mengulangi pertanyaannya.
Karena tidak mendapat respons dari sekretarisnya, Kelvin menghubungi kembali klien tersebut.
“Mohon maaf Pak, apa ada kesalahan?” tanya Kelvin.
“Saya sudah mengatakan kepada sekretaris Anda, saya memutuskan hubungan kerja sama kita,” sahut klien.
“Tapi ada apa pak? Tidak bisakah kita perbaiki jika memang ada kesalahan?” tanya Kelvin.
“Apa yang bisa kami harapkan dari perusahaan Anda pak, 95 persen saham Anda telah dibeli oleh perusahaan cabang milik Marcell Darwin Antonio,” jelas klien tersebut.
Kelvin begitu marah mendengar ucapan klien tersebut. “Maaf, jika Anda memutuskan hubungan kerja dengan saya tidak masalah. Tapi jangan membawa berita palsu seperti ini.” Kelvin memutuskan telepon sepihak dengan klien tersebut.
Sekretaris Kelvin terdiam, ia tidak berkomentar apa pun. Hanya raut wajahnya yang membuat Kelvin berpikir pasti ada sesuatu.
Setelah tiba di kantor, Kelvin segera menemui manajer keuangan. Wajah pria yang sudah lama bekerja dengannya itu tampak ketakutan.
“Katakan ada apa Budi?” tanya Kelvin.
“Maaf Pak, saya tidak tahu menahu, saat saya kembali ke kantor sudah begini,” sahut Budi ketakutan.
Kelvin menaikkan alisnya. “Begini? Begini apa? Katakan ada apa sebenarnya?”
Budi mengatakan, bahwa Fenita telah menjual saham perusahaan kepada perusahaan cabang milik Darwin. Tersisa hanya milik Kelvin 5 persen saja. Semua sudah terjual termasuk milik Brandon.
Kelvin sangat pusing, ia jambak rambutnya ke belakang. Kelvin tidak lupa, bahwa Fenita bukan wanita bodoh, dulu saat papanya masih ada, Fenita punya peran penting di kantor.
__ADS_1
“Terus sekarang gimana Pak, gaji karyawan gimana?” tanya Budi.
Kelvin tidak menjawab pertanyaan Budi, ia keluar dari ruangan tersebut.
Kelvin segera meluncur menuju rumah ibunya. Amarah di dadanya sudah memuncak tak tertahankan lagi.
“Ma! Mama di mana? Keluar Ma!” panggil Kelvin.
Begitu Kelvin masuk, Fenita sedang menangis tersedu-sedu, ia memeluk foto almarhum suaminya. Begitu mendengar kedatangan Kelvin, ia langsung memutar otak, apa yang harus ia lakukan untuk bersandiwara di depan putranya.
Kelvin berdiri di pintu kamar Fenita, namun Fenita langsung bersujud di depan anaknya itu.
“Maafkan Mama, Mama enggak tahu harus ngapain lagi. Rumah kita akan disita Bank sayang.” Fenita mengeluarkan air mata buayanya.
Fenita menceritakan bahwa ia telah dibohongi Marco, mereka mengatakan Rose anak kandung mereka. Namun kenyataannya, pada malam ulang tahun Jessica, ia mengatakan Jessica lah anak yang sebenarnya yang selama ini hilang dari pelukan mereka.
Mereka memberikan sertifikat palsu, akhirnya ia menjual sertifikat tersebut ke sebuah perusahaan besar. Lalu uang tersebut telah ia investasikan dan sisanya untuk membeli perhiasan.
Fenita menutup muka dengan tangannya. “Mama enggak menyangka Marco dan Martha tega memperlakukan Mama seperti ini, padahal mereka adalah sahabat terbaik papamu,” ujar Fenita sembari mengintip ekspresi Kelvin melalui celah jemarinya.
Tanpa mencerna dengan baik perkataan Fenita. Kelvin langsung percaya begitu saja.
Setiap hari ia lalui begitu kacau, karyawan yang sudah tahu berita terbaru, satu persatu mulai resign. Sementara begitu banyak karyawan lainnya yang belum ia bayar gajinya.
Seminggu telah berlalu, belum ada solusi untuk masalah yang sedang ia hadapi. Lebih tepatnya, ia hanya menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting, ketimbang mencari solusi untuk membantu keuangan perusahaannya.
Suatu siang, saat Kelvin baru selesai menarik uang dari ATM, uang tabungannya selama ini ia simpan baik-baik, kini terpakai untuk bayar gaji karyawan. Kelvin tidak ingin sampai di demo besar-besaran oleh karyawannya.
Kelvin melihat Ritha, Ritha sedang belanja di sebuah market bersama Minah. Kelvin sangat terkejut melihat perut Ritha masih membuncit, bahkan semakin membesar.
Kelvin menepikan mobilnya, ia turun ingin memastikan apakah benar itu Ritha, atau ia hanya salah lihat saja.
“Ritha!”
Ritha menoleh, saat ia mengetahui siapa yang memanggilnya, Ritha buru-buru pergi menarik tangan Minah untuk keluar. Namun langkah Kelvin yang begitu cepat ia berhasil menarik Ritha.
“Tunggu,” pinta Kelvin.
Kelvin mengamati dengan saksama mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu ia bertanya, “Kamu enggak keguguran?”
“Minah, ayo kita pergi, aku enggak mau lihat muka dia lagi,” ajak Ritha.
__ADS_1
Namun lagi-lagi, Kelvin mencengkeram erat lengan Ritha, hingga Ritha tidak bisa bergerak atau ia akan merasa kesakitan.
“Kamu kenapa berbohong?” tanya Kelvin.
Ritha memutar bola matanya ia menatap Kelvin dengan tatapan tajam. “Kamu enggak berharap anak ini lahir, kan?” tanya Ritha.
“Bukannya kamu sendiri yang bersikukuh untuk mempertahankan sandiwara di depan keluarga Marco Antonio? Apa kamu lupa?” tanya Kelvin.
Ritha tidak tahu harus jawab apa, tiba-tiba perutnya sakit, secara refleks Kelvin mengelus perut Ritha.
“Jangan sentuh aku!”
Ritha berteriak cukup keras, tapi tanpa sadar perutnya berangsur-angsur pulih.
“Kamu rindu papa, Nak?” gumam Ritha dalam hati.
“Jawab aku Ritha, kenapa kamu berbohong? Kenapa kamu bilang anak kita keguguran?” tanya Kelvin.
Ritha lagi-lagi menyorot Kelvin dengan bola matanya yang tajam.
“Jangan bilang ini anak kita, aku jijik dengarnya Mas, kamu enggak pernah mau nikahi aku, buat apa kamu anggap ini anak kamu!" lagi-lagi teriakan Ritha memekik telinga.
Marni mengelus-elus bahu Ritha, ia coba menenangkannya. “Non, udah dong ... malu dilihat orang banyak,” bujuk Minah.
“Tuan Kelvin maaf, bukan saya lancang. Tapi dokter mengatakan Non Ritha tidak boleh terlalu emosional, bahaya untuk kandungannya,” ujar Minah.
Ritha mencegat sebuah taksi yang lewat. Ia buru-buru meninggalkan Kelvin yang masih terpaku di sana. Rasanya, ia begitu syok mengetahui bahwa Ritha tidak keguguran.
Kelvin mengikuti taksi yang Ritha tumpangi. Dan benar saja, Ritha masih mendiami rumah yang Kelvin belikan. Otomatis, ia masih menaruh rasa terhadap Kelvin.
Simon menyambut kepulangan anaknya, namun ia sangat terkejut melihat kehadiran Kelvin di sana.
“Jangan mendekat, ngapain kamu kemari?” tanya Simon.
“Kenapa kalian bohongi aku, kalian sengaja ingin pisahkan aku dari anakku, anakku butuh sosok ayah!” ujar Kelvin dengan nada tinggi.
Simon mengambil kesempatan untuk mengadu domba antar Darwin dan Kelvin. Simon dendam karena Darwin telah menolak Ritha mentah-mentah.
Jangan lupa like ya...
Note: ini ceritanya masih flashback ya..
__ADS_1