
Satu jam kemudian dokter keluar dari ruang operasi, suami Rose segera menghampiri dokter, ia tidak sabar mengetahui kondisi Rose.
“Doctor, how is my wife now? iam her husband.”
Dokter tersebut, ia menarik masker diwajahnya. “Thank to God, she's fine. Thank Asmira for donating blood.”
Suami Rose menjabat tangan Asmira, ia berulangkali mengucapkan terimakasih padanya.
“Oya, mbak Asmira, apa kalian saudara kandung?” tanya dokter.
“Maksudnya?” jawab Asmira dengan balik bertanya.
“Maaf, maksud saya kamu dan Rose kakak adik? soalnya kecocokan darah kalian 100%, jarang saya menemukan pendonor dan penerima bisa cocok seperti ini,” ujar dokter yang bernama Rudi itu.
Asmira mengerutkan keningnya. “Bukan kok, dok.”
Asmira tidak mengerti dengan maksud dokter. Namun Martha buru-buru menanggapi omongan dokter Rudi.
“Apa dokter serius?”
“Ya, saya serius. Tapi kalau kalian ragu saya boleh minta sampel rambut Asmira, biar kita cek sekali lagi.” Dokter Rudi memberikan saran. Karena ia pun merasa heran, tidak biasanya terjadi hal demikian.
“Boleh, dok,” sahut Martha.
“Siapa tau kan, pernah tertukar dulu waktu bayi, biasanya hal tersebut sering terjadi di Indonesia.” Dengan santai dokter Rudi mengatakan hal tersebut, ia sama sekali tidak mengetahui jika hal yang ia ucapkan benar adanya.
Asmira memberikan rambutnya, dan dokter menyuruh perawat mengambil sehelai rambut Rose juga.
“Terimakasih, saya permisi dulu. Hasilnya bisa diambil besok.” Dokter Rudi berlalu dari hadapan mereka.
Rose belum sadar, ia akan segera dipindahkan ke ruang rawatan. Suami Rose berterimakasih pada semuanya yang telah membantu dia dan Rose.
Suami Rose menitipkan Brandon pada Kelvin. Kasian ia jika harus menginap dirumah sakit, lagian ia sudah tertidur pulas di pangkuan Kelvin.
Asmira menyenggol lengan Darwin. “Ssttttt, Mas,” bisik Asmira.
“Ada apa sih sayang bisik-bisik, kek tetangga aja deh,” ujar Darwin.
“Ih Mas, apaan sih bawa-bawa tetangga, tau aja mereka emang suka nyinyir.”
“Ya udah ada, apa?”
“Tanyain nama suaminya mbak Rose dong, ya ampun dia ganteng banget. Kek artis Korea gitu,” celetuk Asmira.
__ADS_1
Darwin berkacak pinggang seraya bertanya, “Oh, jadi menurut kamu suaminya Rose itu ganteng?”
Semua mata menatap mereka berdua, Valen menahan senyumnya ia sedari tadi menguping pembicaraan mereka berdua.
“Ya Mas, mirip Lee min ho.”
Darwin mengepalkan tangannya, ia pura-pura batuk. “Ma, titip Lestari ya, aku pulang duluan.”
Asmira kaget. “Mas Darwin kenapa, sih?”
Valen tertawa pecah. “Cemburu lah, masak kamu gak ngeh, sih? ngomongin pria lain ganteng didepan suami.”
“Udah sana kejar Masmu.” Martha menggelengkan kepalanya melihat tingkah suami istri itu. Ada-ada saja tingkah mereka berdua.
Kelvin pulang duluan, ia kasihan Brandon yang sudah tertidur. Begitupun Martha, ia berpamitan pada suami Rose. Dan meminta agar ia menghubunginya jika terjadi sesuatu atau butuh sesuatu.
Suami Rose mengiyakan permintaan Martha, sekali lagi ia berterimakasih pada semuanya yang telah membantu. Ia berjanji akan segera memberi kabar jika Rose sudah siuman.
“Who should i call you?” tanya Martha saat suami Rose mengantarnya sampai teras rumah sakit.
“Oh i'm really sorry. I forgot to introduce my self. My name Ryuichi, call me Ryu.” Ryu menjabat tangan Martha.
“Ok Ryu, bye, see you tomorrow.”
“Mas, kamu beneran marah?”
“Menurut, kamu?”
Asmira memeluk Darwin, ia cium Darwin bertubi-tubi, “Udahan marahnya, kamu satu-satunya suami aku yang paling ganteng.” Asmira terus membujuk Darwin.
Darwin tersenyum melihat Asmira panik karena kemarahannya. Padahal ia cuma berpura-pura, ia hanya sedang menggoda Asmira saja.
“Makanya lain kali peka dikit dong.”
* * *
Esok harinya, Ryu terbangun karena suara lemas Rose memanggilnya, tangan Rose mengusap kepala Ryu yang tertidur pulas. Semalam ia tertidur karena terus mengecek keadaan Rose yang masih dibawah pengaruh obat bius.
“Mas, aku haus.” Rose mengusap-usap lehernya.
Rose selalu berbicara bahasa Indonesia dengan Ryu. Biar ia terbiasa, meski terkadang ia berulangkali harus mengulanginya dalam bahasa Inggris karena Ryu tidak mengerti.
Tanpa menjawab, Ryu bergegas keluar mencari makanan untuk Rose. Sesaat kemudian ia kembali membawa bubur dan air mineral untuk Rose.
__ADS_1
Ryu tidak lupa memberi kabar pada Martha bahwa Rose telah siuman. Martha mengatakan nanti siang ia akan menjenguk Rose.
Ryu menceritakan kejadian semalam pada Rose, bahwa Asmira yang telah mendonorkan darah untuknya, padahal dokter melarang keras ia melakukan itu karena sedang hamil.
Ryu juga keberatan dengan apa yang Rose lakukan semalam. Itu membahayakan nyawanya. Bagaimana jika nyawanya tak tertolong.
“Next time, don't do it again. Brandon needs you, remember that.”
Ryu bukan marah, ia sebenarnya lebih peduli dengan keadaan mereka. Terlebih Brandon yang masih kecil, tentunya ia membutuhkan Rose.
“Sorry, i don't mean to hurt you, i really love you.”
Rose menggenggam tangan Ryu, ia tau maksud baik Ryu. Bahkan Ryu tidak pernah sekalipun marah padanya. Ryu mencium kening Rose lembut.
“Honey, Brandon mana?”
Setelah mengetahui Brandon bersama Kelvin Rose tersenyum lega. Setidaknya Brando tidak melihat kondisinya yang terluka parah semalam.
* * *
Siangnya Martha datang bersama keluarganya, kecuali Darwin. Ia sudah berangkat kerja, tadi pagi ia ada pertemuan dengan klien.
Saat mereka tiba, kebetulan dokter sedang memeriksa kondisi Rose. “Kebetulan nih dok, gimana hasil tesnya udah keluar?”
“Sudah, mari ikut ke ruangan saya. Rose, istirahat yang cukup ya, makan yang sehat biar segera sembuh, saya permisi dulu.”
Dokter Rudi segera keluar, Martha mengikutinya dari belakang.
Martha tersenyum setelah melihat hasil tes DNA Rose dan Asmira, mereka benar-benar saudara kandung. “Sukma, aku telah menemukan anakmu,” gumam Martha dalam hati, ia mendekap hasil tes tersebut, ia tidak sabar untuk segera memberitahu kabar gembira itu.
Rose berulangkali berterimakasih pada Asmira yang telah menyelamatkan nyawanya. Namun Martha mengatakan hal lain yang lebih membuat Rose terkejut.
Rose merasa kaget, tiba-tiba Martha masuk membawa berita yang sulit ia terima. Selama ini ia hanya sebatang kara, dan besar di panti asuhan, tidak ada siapa-siapa. Tidak punya ayah dan ibu, apalagi adik.
“Tante tau ini sulit kamu terima, tapi ini hasilnya.” Martha memberikan kertas hasil lab tersebut.
Saat Rose membaca surat tersebut, Martha mengambil kesempatan menceritakan semuanya yang terjadi dimasa silam. Sampai Martha berkaca-kaca.
“Terserah kalau kamu tidak percaya, Tante sudah mengatakan yang sebenarnya. Tante akui ini semua kesalahan Tante ....”
“Kenapa jadi salah Mama, inikan ulahnya Fenita mamanya Kelvin,” Jessica menyela pembicaraan Martha.
Jessica tidak mau jika nanti Rose salah faham, Rose tidak bisa menerima dan menyangka kalau Martha lah penyebab semua kejadian itu.
__ADS_1
Jangan lupa like ya....