Perjanjian

Perjanjian
Episode 68


__ADS_3

Valen lelah menunggu di luar kamar Jessica, ia sudah mengetuk pintu berulang-ulang. Namun tak urung jua dibuka.


“Buka saja pintunya, ya?” pinta Sara.


“Kasihan Daddy di luar Mom,” sambung Sara lagi.


Jessica terus saja menggeleng kepalanya.


“Ya udah, aku temui Daddy bentar ya Mom.” Sara melangkah keluar.


Sara menarik tangan Valen menjauh dari kamar Jessica. Ia masih bingung apa yang membuat dua orang dewasa itu saling marahan dan diam-diaman.


Valen menggaruk kepala. “Daddy salah paham sayang,” ujar Valen kepada anaknya.


Sara menyentuh bahu Valen, kemudian ia memeluk ayahnya itu.


“Apa yang udah Daddy lakukan, aku enggak mau Mommy batal in pernikahan kalian Dad.” suara Sara mulai serak. Tampak ia menahan tangisnya.


Valen tidak tahu harus berkata apa.


“Apa yang sudah aku lakukan,” gumam Valen.


Valen menyesali kata-kata yang kemarin ia lontarkan untuk Jessica. Seharusnya, ia pertanyakan terlebih dahulu, sebelum menyimpulkan bahwa Jessica benar melakukan atau tidak dengan Kelvin seperti yang terlihat dalam foto tersebut.


* *


Marco menghubungi pengacaranya. Hari ini ia ingin mewariskan hartanya kepada Rose.


“Anda yakin, Tuan?” tanya pengacara itu setelah ia mendengar ucapan Marco.


“Saya yakin, Pak,” ucap Marco.


“Anda sudah berkompromi dengan tuan muda Darwin?” tanya pengacara lagi.


“Tidak perlu, ini tidak ada sangkut paut dengannya. Ini murni harta saya sendiri,” ucap Marco.


Pengacara tersebut diam, ia tidak punya hak apa pun untuk melarang Marco. Semua kembali padanya, hak sepenuhnya milik Marco sendiri.


“Saya akan membawa sertifikatnya besok,” ujar pengacara tersebut.


Marni membersihkan meja di ruang tamu, ia pindahkan sisa minuman tamu tuan besarnya. Tanpa sengaja, ia melihat mang Joni sedang menelepon seseorang, ia berbisik-bisik. Karena terlihat aneh, Marni pun inisiatif untuk menguping pembicaraan Joni.


Samsul melihat Marni sedang berdiri dibalik pintu. “Bu, ngapain?” tanya Samsul.


“Ssttttt!” Marni menarik Samsul kesampingkannya. “Tuh liat, mang Joni lagi bicara dengan seseorang,” bisik Marni ditelinga suaminya.


“Lah, memangnya kenapa, Bu?” tanya Samsul. Seperti biasa, pikunnya kambuh.


Marni menepuk jidatnya. “Ampun Pak, Mang Joni sedang menghubungi ibu Fenita,” bisik Marni dengan mengatupkan kedua bibirnya.

__ADS_1


Samsul baru ingat, jika Fenita tengah mengelabui majikannya. Namun, mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Keduanya cuma bisa menunggu kepulangan Jessica.


“Bu, bapak punya ide,” ucap Samsul menampakkan gigi palsunya.


“Ihhh ... Bapak jelek sekali jika ketawa seperti itu,” ujar Marni kepada suaminya.


“Ya Bu. Memang dari sananya udah jelek, mau gimana lagi Bu,” ujar Samsul menimpali omongan istrinya.


“Ihh... si Bapak baper lagi. Kan Ibu cuma bercanda saja, Pak,” ujar Marni lagi-lagi menepuk jidatnya.


“Baper itu apa Bu?” tanya Samsul menggaruk kepalanya.


“Bahasa anak jaman sekarang Pak, bawa perasaan katanya,” sahut Marni tersenyum geli.


“Lah, Ibu kan udah tua, ngapain ikut-ikutan. Malu sama umur Bu, ingat!” ujar Samsul.


“Bapak, Ibu udah tua?” tanya Marni menatap tajam suaminya.


“Jadi, ibu merasa masih muda?” tanya Samsul balik.


Marni memukul bahu suaminya. “Ampun deh si Bapak, Ibu kesal!” Marni memalingkan wajahnya dari Samsul.


“Ibu ambekan kek begini, Bapak jadi ingat masa-masa muda dulu, Bu,” ujar Samsul seraya tersenyum.


Marni tidak menjawab apa-apa.


Saat Samsul mengatakan itu seolah-olah dirinya masih gadis. Padahal, jika mereka punya anak, mungkin sekarang mereka sudah menjadi kakek nenek. Namun sayangnya, Tuhan tidak memberikan keturunan kepada mereka.


“Eits! malah mesra-mesra di sini. Capek saya panggil-panggil tidak ada yang menyahut.” Martha menghampiri pasangan suami istri itu.


Samsul segera masuk ke dalam, tinggal Marni dengan Martha yang masih di sana.


“Ada apa, Buk Nyonya?” tanya Marni.


“Saya kangen Asmira, saya mau ke rumahnya. Ayuk temani saya?” ajak Martha.


Marni tersenyum lebar. “Wah, kebetulan Bu, saya juga sangat merindukan nyonya muda. Ayo Bu?” ajak Marni bersemangat.


Satu jam kemudian.


“Nyonya muda tampak gemuk, ya?” tanya Marni saat Asmira membukakan pintu.


Asmira mempersilahkan mertuanya masuk, ia belum mengatakan pasal kehamilannya, kebetulan hari ini Martha menjenguknya. Hari ini ia akan memberitahu berita gembira itu.


“Santi!” panggil Asmira.


Dengan sedikit berlari, Santi menghampiri mereka yang berada diruang tamu.


“Ya Mbak,” sahut Santi setelah berada diruang tersebut.

__ADS_1


“Buatkan minuman untuk tamu kita ya,” pinta Asmira dengan lembut. Santi mengangguk ia segera ke dapur. Marni bangkit ia ingin membantu Santi buatkan minuman.


“Eh, Bibi mau ke mana?” tanya Asmira.


“Mau bantu Santi buat minum,” jawab Marni menunjukkan arah dapur.


“Bibi duduk saja, di sini Bibi tamu bukan pembantu,” perintah Asmira. Marni menduduki kembali sofa meski merasa sedikit canggung.


“Sayang, mama kangen sekali,” ujar Martha menggenggam tangan Asmira.


“Aku juga Ma. Enggak sempat ke rumah Mama. Mas Darwin sibuk banget,” sahut Asmira.


Martha mengelus-elus pipi Asmira. Asmira cengengesan, ia menggenggam tangan Martha. Ia ingin memberitahukan sesuatu pada mertuanya itu.


“Ma,” panggil Asmira lembut.


“Ya sayang,” jawab Martha tersenyum.


“Aku mau kasih tahu sesuatu,” ujar Asmira. Bibirnya masih menyungging senyum.


“Apa?” Martha penasaran.


Asmira menarik nafasnya dalam. “Aku hamil,” ujarnya perlahan.


Martha membulatkan matanya, ia tersenyum gembira. “Benaran, sayang?” tanya Martha. Ia menutup mulut dengan tangannya. Asmira mengangguk berkali-kali.


Martha memeluk Asmira, ia mencium pucuk kepala Asmira. Pantas, ia begitu merindukan Asmira, taunya ada si kecil di perut Asmira yang membuat rindunya memuncak. Martha mengelus-elus perut Asmira. Tampak Asmira sangat anteng dengan sentuhan Martha.


“Sayang, udah cek ke dokter kandungan?” tanya Martha disela kebahagiaannya.


Asmira menggeleng.


“Kenapa?” tanya Martha. Aura wajahnya tampak berubah.


“Mas Darwin selalu pulang larut Ma, aku enggak tega ajaknya. Kasihan mas Darwin capek,” ujar Asmira.


Martha berdecak kesal. Ia akan memarahi Darwin, Martha mengomel-omel karena sikap Darwin yang acuh tak acuh. Harusnya ia tinggalkan semua pekerjaan demi istri yang sedang mengandung bukan malah sebaliknya.


“Jangan dong, Ma,” timpal Asmira.


“Kenapa?” tanya Martha.


Martha membandingkan Darwin dan Marco dulu. Saat awal-awal kehamilan Marco sangat peduli dan perhatian bukan seperti Darwin yang selalu tinggal pergi Asmira.


Asmira jadi serba salah. Tampaknya Martha kesal dengan sikap Darwin yang lebih mementingkan kerjaan daripada istri dan calon anak yang dikandung Asmira.


Sementara Asmira tidak mempermasalahkan hal itu, ia lebih senang Darwin tidak di rumah. Karena jika Darwin di rumah ia tidak leluasa makan Snak. Dasar Asmira.


Jangan lupa klik like ya...

__ADS_1


__ADS_2