
Usia kandungan Asmira sudah memasuki bulan ke 4. Perutnya semakin hari semakin membesar. Badannya semakin gemuk, pipinya semakin tembam. Darwin gemas dengan Asmira, ia selalu mencubit pipi istrinya itu.
Kemarin, mereka baru saja selesai periksa kandungan. Janin yang dikandung Asmira baik-baik saja, begitu pula dengan Asmira. Dokter menyuruhnya memperbanyak minum air putih dan konsumsi buah-buahan.
Asmira tampak lebih manja semenjak ia hamil. Seperti kejadian pagi ini, Asmira ingin ikut Darwin keluar kota. Padahal kemarin dokter mengatakan, agar Asmira jangan sampai terlalu kelelahan. Bagaimana mungkin Darwin membolehkan ia ikut.
Asmira ambek. Ia segera masuk ke dalam, padahal ia baru saja keluar, mengantar suaminya berangkat kerja. Namun, berhubung ia sudah kesal, ia tinggalkan begitu saja suaminya di luar.
Darwin mengikutinya, ia tidak ingin ibu dari calon anaknya tidak baik-baik saja. Ia bujuk Asmira perlahan-lahan agar ia tidak marah lagi terhadapnya.
“Sayang. ini demi bayi yang ada di kandungan kamu juga,” ujar Darwin kehabisan kata-kata.
“Mas janji, kalau udah pulang, nanti kita nonton ya?” sambung Darwin, ia mengajak Asmira pergi menonton. Karena Darwin tahu, Asmira sangat suka menonton layar lebar.
Asmira tidak menjawab ia berpaling dari Darwin. “Jangan ragu ... Mas enggak bohong,” sambung Darwin lagi.
“Mas janji?” tanya Asmira memonyongkan bibirnya.
“Mmm,” sahut Darwin. Ia kecup mesra kening Asmira.
“Ya udah, Mas hati-hati ya?” ucap Asmira setelah amarahnya hilang.
Setelah mendapat angin segar, Darwin bergegas berangkat menjemput Tiwi. Mereka akan keluar kota pagi ini.
“Santi!” panggil Asmira. Santi dengan sedikit berlari ia menghampiri Asmira yang masih berada di teras rumah.
“Ada apa Mbak?” tanya Santi.
“Nindy mau kemari, ia telepon semalam. Kamu buatkan kue kesukaannya ya?” pinta Asmira pada Santi.
Santi terkejut mendengar ucapan Asmira barusan. “Mbak Nindy mau kemari?” tanya Santi.
Asmira mengangguk. “Ya ampun... kenapa Mbak Mira izinin Mbak Nindy datang kemari,” gumam Santi khawatir.
Santi takut jika Nindy nekat dengan ancamannya kemarin. Ia tahu bagaimana sikap Nindy yang sebenarnya. Ia akan menghalalkan segala cara agar keinginannya terwujud. Meskipun harus mengorbankan orang lain.
*
Nindy tiba di rumah Martha. Ia tidak tahu alamat rumah baru Asmira, makanya ia datang ke rumah orang tua Darwin. Barangkali Asmira masih di sana, begitu pikir Nindy.
“Permisi!” panggil Nindy saat ia melihat Marni di halaman rumah. Marni menoleh, ia tidak tahu siapa yang datang. Pagar yang menjulang tinggi, menghalangi pandangan Marni.
__ADS_1
“Ya, ada yang bisa saya bantu?” tanya Marni membukakan pintu gerbang.
“Saya mau bertemu Asmira. Saya sahabatnya,” ujar Nindy memperkenalkan dirinya.
Martha keluar, Marco menyuruhnya untuk mengambil koran yang tergeletak di meja, tadi tertinggal saat ia minum teh pagi, ia melihat Marni sedang mengobrol dengan seseorang.
“Marni!” panggil Martha.
“Ya buk Nyonya” sahut Marni sedikit berteriak.
“Siapa yang datang, kenapa enggak disuruh masuk?” tanya Martha.
Marni akhirnya mempersilahkan Nindy masuk. “Buk Nyonya, ini ada tamu, katanya mau bertemu istri tuan muda,” beritahu Marni.
Martha menyapa Nindy dan mengajaknya masuk. “Ayo mari, kita mengobrol-obrol di dalam,” ajak Martha.
Nindy tersenyum manis, ia sangat pandai berbaur dengan orang yang baru ia kenal. Berbeda dengan Santi yang pendiam dan malu-malu.
Setelah Marni suguhkan minuman, Martha duduk bersama Nindy.
“Lestari gak beritahu alamat barunya?” tanya Martha kemudian.
Martha menceritakan tentang kehidupan rumah tangga anak dan menantunya. Mereka sudah mandiri, Darwin juga membelikan rumah untuk istrinya. Mereka tidak ingin terus bergantung di ketiak orang tuanya.
Nindy sangat kesal mendengar semua cerita Martha.
“Tan ... aku boleh ke toilet bentar, enggak tahan lagi nih?” ujar Nindy.
“Boleh. Marni!” panggil Martha.
“Antar Nindy ke toilet sebentar,” pinta Martha.
Marni mengantar Nindy ke toilet yang berada di sebelah dapur.
“Gila, beruntung banget lo Mira, suami lo kaya parah!” gumam Nindy dalam hati.
Nindy berdecak kagum, toilet rumah Marco sangat mewah. Berbeda dengan rumahnya. Apalagi sekarang rumahnya sudah disegel bank.
“Kenapa sih Mira, lo selalu selangkah di depan gue!” gumam Nindy mengepal tangannya erat.
Nindy berbohong ia ingin ke toilet. Padahal ia kabur dari Martha. Nindy tidak sanggup mendengar Martha menceritakan tentang Asmira dan suaminya. Nindy benci mendengar orang lain bahagia.
__ADS_1
Saat keluar dari toilet, Nindy kembali ke ruang tamu. Namun saat ia melintasi sebuah kamar, tampak pintunya terbuka. Marni sedang membersihkan kamar tersebut. Ternyata, kamar itu milik Darwin. Martha menyuruhnya untuk membuang barang-barang yang sudah tidak dibutuhkan lagi.
“Non Rose, cantik sekali waktu masih muda,” ujar Marni. Nindy mengintip dari balik pintu, ia penasaran siapa yang bersama Darwin dalam foto tersebut.
Saat Marni membawa keluar sebuah plastik besar yang berisikan kumpulan berkas lama Darwin yang sudah tak terpakai lagi, Nindy segera masuk. Ia mengambil foto tersebut, ia masukkan ke dalam tasnya. Setelah itu ia buru-buru keluar.
“Lama banget Nindy?” tanya Martha saat Nindy kembali ke ruang tamu.
“Ya Tan, tadinya mau pipis, eh, sampai toilet malah jadi mules,” bohong Nindy dengan tersenyum dan menampakkan gigi putihnya.
“Ini Tante kasih kamu alamat baru Lestari ya.” Martha menyodorkan, secarik kertas yang bertuliskan alamat rumah baru Asmira.
“Terima kasih ya Tan. Maaf jadi merepotkan,” ujar Nindy sungkan.
Nindy ingin menanyakan sesuatu, tapi ia tidak punya cara untuk mengelabuhi Martha. Nindy berpikir keras bagaimana cara ia mengetahui siapa wanita dalam foto tersebut. Lalu Nindy menarik foto dari tasnya, ia jatuhkan sengaja di lantai, di bawah kakinya.
“Loh, siapa ini Tan?” tanya Nindy mengambil foto tersebut dari lantai.
“Mana?” tanya Martha meraih foto tersebut.
“Oh, ini Rose dan Darwin,” beritahu Martha.
Nindy tersenyum. “Siapa Rose ini Tan, mantannya Mas Darwin?” tanya Nindy. Martha menggeleng tidak tahu.
Martha menceritakan kepada Nindy, bahwa Rose satu-satunya teman wanita yang pernah Darwin ajak ke rumah. Meski ia tidak pernah mengatakan Rose kekasihnya, namun keduanya begitu akrab. Namun, tiba-tiba saja, Rose bertunangan dengan Kelvin. Beberapa bulan kemudian, mereka langsung menggelar acara pernikahan yang cukup mewah.
Setelah itu Darwin tidak pernah lagi membawa wanita mana pun ke rumah, hingga Marco memutuskan untuk menjodohkan Darwin dengan anak rekan bisnisnya. Barulah Darwin membawa Asmira ke rumah dan mengenalkan sebagai calon istrinya.
“Oh, gitu ya Tan. Ya udah aku boleh bawa foto ini gak Tan?” tanya Nindy setelah ia beranjak dari duduknya.
“Untuk apa?” tanya Martha mengerutkan keningnya.
“Mau liatin Asmira, gimana wajah mas Darwin dulu,” bohong Nindy lagi.
“Oh, ya sudah.”
Setelah berpamitan, Nindy segera naik taksi menuju rumah baru Asmira yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah Marco.
Setibanya di sana, ia disambut hangat oleh sahabat lamanya itu.
Jangan lupa like ya
__ADS_1