
Jessica membuka kursus melukis. Baru dua hari ia iklankan di surat kabar, ia sudah memiliki 10 murid. Sara juga ikut belajar, sepulang sekolah ia langsung ikut belajar di sanggar seni Jessica.
Jessica bahagia bisa berbagi dengan anak-anak kecil, dari dulu ia punya cita-cita ingin membuat sanggar melukis untuk anak-anak, gratis tanpa biaya. Kini impiannya terwujud. Tak habis-habis bahagia yang ia rasakan. Puji syukur selalu ia panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Sayang, Daddy ajak kita dinner nanti malam.” Jessica sibuk merapikan alat-alat lukisnya.
“No. Just Mommy. Bukan aku,” ucap Sara.
“Loh, kenapa?” tanya Jessica, tangannya berhenti sejenak saat mengumpulkan alat lukis. “Ayok lah... Mommy rasanya canggung kalau sendiri.” Jessica kembali melanjutkan aktivitasnya.
Sara tersenyum sembari membantu Jessica. “Kenapa canggung?” tanya Sara.
“Mommy belum pernah keluar berdua dengan Daddy kamu,” jawab Jessica malu-malu.
“Mulai sekarang harus belajar dong!” ujar Sara bersemangat.
“Kalau gitu kamu harus temani Mommy beli baju.” Jessica bangun, lalu ia letakkan alat lukis tersebut di pojok ruangan.
Sara tersenyum. “Ayo.”
Mereka berangkat ke Mall yang tidak terlalu jauh dari kompleks perumahan Asmira. Mereka berdua berangkat menggunakan taksi Online.
Jessica bingung memilih baju apa yang pas untuk ia gunakan nanti malam. Tentunya yang spesial, karena ia kan pergi dengan orang yang spesial pula. Sara ke toilet sebentar, ia kebelet pipis.
“Sayang lama banget, sih?” tanya Jessica ketika Sara telah kembali.
“Maaf Mom, rame tadi.” Sara melihat baju yang di tangan Jessica.
Sara meraih baju tersebut. “Jangan yang ini, Daddy enggak suka warna ini Mom.” Ia memilih sebuah long dress berwarna Navy, dengan belahan depan terbuka sampai lutut.
“Bagus sayang,” puji Jessica. “Bahannya juga lembut, nyaman di pakai,” sambung Jessica tersenyum suka.
Setelah memilih baju yang cocok dan membayarnya. Tiba-tiba Sara lihat baju terusan untuk ibu hamil. “Mom, liat deh baju itu bagus enggak kalo kita beli untuk Tante Mira?” tanya Sara menunjuk ke arah baju yang ia maksud.
Jessica melihat baju tersebut. “Ayo kita tanyakan apa ada ukuran lain,” ajak Jessica.
Sara kaget, karena baju yang ia maksud ukurannya sudah cukup lumayan untuk ibu hamil.
“Tante Mira gemuk sekarang Mom?” tanya Sara. Ia sudah lama tidak berjumpa dengan Asmira.
“Iya. Gimana enggak coba, kemarin Thany bilang sampai om Darwin marah-marah. Karena tante Mira makan camilan terus,” ujar Jessica tersenyum ketika mengingat tingkah Asmira. Ia tahu betul perangai adiknya.
__ADS_1
Sara tertawa kecil. “Aku kalau liat mereka suka ketawa sendiri Mom.” Sara menutup mulutnya.
“Kenapa?” tanya Jessica.
“Lucu, Tante Mira kekanakan banget, terus om Darwin terlalu dewasa. Ya gak sih menurut Mommy?” Sara tertawa.
Jessica mengangguk. “Mmm ... Mommy setuju. Sama-sama gak pernah pacaran sih makanya gitu,” ujar Jessica sembari tangannya meraih baju hamil tersebut.
Setelah mereka memilih ukuran baju yang muat untuk Asmira. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang, tidak lupa mampir sebentar di rumah Asmira.
“Ngomong-ngomong tentang hubungan Tante Mira, sebenarnya Mommy suka dengan cara mereka saling melengkapi,” ujar Jessica, ketika mereka sudah di dalam taksi.
“Ya Mom, sikap dewasa Om Darwin mampu mengayomi Tante Mira yang kekanakan. Terus, sikap garing Tante Mira kadang-kadang mampu membuat sikap dingin om Darwin runtuh, ya gak sih Mom?” tanya Sara.
Jessica menatap manik mata coklat milik Sara kemudian ia tersenyum manis. “Pintar nih anak Mommy,” goda Jessica.
“Bener sih, hubungan itu memang harus saling melengkapi sayang. Kita harus bisa terima pasangan kita walau bagaimanapun ia nanti. Karena pacaran dengan menikah itu 2 hal yang saling bertolak belakang,” sambung Jessica seraya merangkul bahu Sara.
Sara menyenderkan kepalanya di bahu Jessica tanpa berkomentar.
“Jika kamu memilih pasangan kelak, kamu harus benar-benar melihat seluk-beluk keluarganya. Karena biasanya, sikap seseorang berpengaruh dengan lingkungan sekitarnya. Terutama keluarga.” Jessica membelai lembut rambut Sara.
Mereka tiba di rumah Asmira. Kebetulan Santi sedang berada di luar rumah, ia sedang membersihkan taman. Mereka langsung dipersilahkan masuk oleh Santi.
Mendengar siapa yang datang, Asmira sangat semangat, ia buru-buru turun untuk menemui mereka.
“Sara... Mbak rindu banget,” ujar Asmira sembari mendekap tubuh Sara.
“Tante Mira bukan Mbak Mira!” ujar Sara mempertegas panggilannya.
Asmira mengernyitkan keningnya.
“Sebentar lagi aku jadi anaknya Mommy,” ujar Sara cengengesan.
Asmira tertawa pecah. “Ya ampun Sara, aku pikir kenapa kamu tiba-tiba jadi panggil aku Tante, apa aku udah tua,” ujar Asmira.
Semuanya tertawa.
Jessica mengeluarkan sebuah bag kecil, yang berisi baju yang ia belikan untuk Asmira.
“Nih, buat kamu.” Jessica menyodorkan bag tersebut kepada Asmira.
__ADS_1
“Thank you Mbak.” Asmira membuka bag tersebut, setelah melihat isinya baju ia tersenyum.
“Bagus kan, pilihan aku loh,” ujar Sara bersemangat.
“Mmm, Tante Mira suka,” jawab Asmira tersenyum.
Tidak lama kemudian mereka pun berpamitan. Karena sebentar lagi Jessica akan dijemput Valen, sekarang Valen sedang menyelesaikan pekerjaannya sedikit lagi akan rampung. Ia harus buru-buru dandan cantik.
“Non!” panggil Marni mengetuk pintu kamar Jessica. “Sudah ditunggu Tuan Valen di depan!” panggil Marni lagi dengan sedikit berteriak.
Jessica keluar kamar, ia tampil cantik menggunakan long dress dengan sedikit riasan di wajahnya. Ia tampak anggun menggunakan baju tersebut, pipinya merona saat ia melihat orang-orang berada di luar kamarnya.
“Cantik banget anak Papa,” puji Marco.
“Pa Ma, aku berangkat dulu, ya?” Jessica mencium punggung tangan papa mamanya.
Martha menatap punggung Jessica yang mulai menghilang dari pandangannya.
“Begini ya Pa, rasanya kalo liat anak perempuan mau dinner dengan pacarnya,” ujar Martha.
“Iya Ma, apalagi kalau prianya ugal-ugalan enggak jelas, pasti kita dibuat khawatir dengannya.” ucap Marco.
“Untungnya Pa, pacar anak kita, adik angkatnya Papa,” ujar Martha tersenyum.
Lalu keduanya tertawa bersama.
Sara melihat Daddy dan Mommy nya pergi, ia berdiri dibalik jendela. “Rasanya adem sekali melihat keduanya kembali akur, semoga saja hubungan mereka sampai ke pernikahan,” gumam sara dalam hati.
Setelah mobil yang mereka tumpangi hilang dari pandangannya, Sara menutup tirai jendelanya. Ponsel Sara berdering, ia menarik ponselnya yang ia letakkan di meja belajarnya. Sara tersenyum, ternyata Bastian yang menghubunginya.
“Halo!” sapa Sara judes.
“Hai cantik,” sahut Bastian.
“Mmm...” sahut Sara jutek.
“Judes banget sih, nanti cantiknya hilang loh,” goda Bastian .
“Garing banget sih,” balas Sara.
“Garing iya, tapi kamu suka, kan?” tanya Bastian kepedean.
__ADS_1
Jangan lupa klik like ya...