Perjanjian

Perjanjian
Episode 31


__ADS_3

Hari yang ditunggu dan dinanti-nantikan oleh semua orang telah tiba. Acara akad nikah pria ternama dan tersohor di negeri ini sebentar lagi akan dimulai, ribuan mata menanti baik yang menghadiri acara maupun yang menantikan tayangan Live di televisi.


Marcell Darwin di dampingi sahabatnya yang tak lain adalah Kelvin Sanjaya, keduanya begitu gagah dan tampan, dengan balutan busana serba putih yang dikenakan Darwin. Para wanita harus menelan kekecewaan. Kenyataannya Asmira Lestari yang mampu meluluhkan hati Darwin, yang pertama dan terakhir kalinya. Karena bagi Darwin pria hebat hanya memiliki satu wanita disisinya.


Martha merangkul lengan Marco, mereka jalan beriringan. Martha sangat anggun lengkap dengan kebaya modern terbaru hasil rancangan desainer ternama, wajahnya yang mulai ada kerutan faktor usia ditutupi make-up flawles, keduanya berjalan berdampingan. Sedangkan Marco menggunakan setelan yang serasi dan warna yang senada dengan Martha.


Semua mata tertuju pada sebuah karunia Tuhan yang hampir mendekati kata sempurna itu. Wanita cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih dengan riasan yang melekat di wajahnya dan rambut yang di sanggul ke atas, dengan poni yang dibiarkan tergerai bebas menambah kecantikan dan keanggunannya membuat semua orang berdecak kagum. Siapa gerangan wanita pilihan Marcell Darwin ini, berada dari kasta mana ia sebenarnya, dilihat dari kecantikan yang hakiki yang ia miliki tampaknya dari keluarga kalangan atas.


“Para hadirin sekalian mari kita sambut sang mempelai wanita!” panggil MC di acara akad tersebut.


Asmira sangat anggun ditemani Jessica sang Kakak, ia memeluk erat lengan Jessica, bibirnya yang pucat karena nervous ditutupi oleh lipstik Pink yang menghiasi bibirnya, bibir khas orang Indonesia pada umumnya.


Jessica juga tidak kalah cantiknya ia memakai gaun berwarna pink soft, usianya yang sudah menginjak 37 Tahun seolah-olah baru berusia 25 Tahun.


Ruangan itu dipenuhi dengan kelap-kelip lampu kamera yang memotret keduanya. Jessica membimbing Asmira duduk di sebelah Darwin, sesaat matanya beradu dengan Kelvin, seolah-olah melalui pandangan keduanya saling bertanya-tanya.


Ritha dengan Simon yang berada di kejauhan diantara para hadirin lainnya pandangannya tertuju pada pria kekasih hatinya yaitu Kelvin yang berada di sebelah Darwin kepalanya penuh dengan tanda tanya. Sementara yang menjadi pusat perhatian Ritha malah mengalihkan pandangannya ke arah wanita lain yaitu Jessica. Sungguh kisah cinta yang sangat menarik.


Dengan mengucap bismillah dan mukadimah, dan serentetan acara lainnya di mulai hingga acara akad yang di nanti-nanti dimulai oleh Penghulu.


Darwin menjabat tangan Penghulu, Dengan suara lantang sang penghulu mengucap ijab kabul, dengan sekali tahan nafas Darwin menjawab dengan suara yang nyaring tanpa ada kesalahan.


“Bagaimana para saksi sah?” tanya penghulu.


“Sah ...” jawab para saksi.


Air mata Martha meleleh di pipi, ikrar janji suci antara Darwin dan Asmira telah usai, kini keduanya sah menjadi suami istri. Acara yang penuh khidmat itu berlangsung dengan damai.


Darwin memasangkan cincin pernikahan dijari manis Asmira. Asmira mencium punggung tangan Darwin, dengan mesra Darwin mengecup kening Asmira.


Dengan gemetar Asmira menandatangani buku nikahnya seolah-olah ia mimpi, kini di usia mudanya ia telah menjadi menantu keluarga tersohor sejagat raya itu.


Asmira tidak bisa berkata-kata, hanya air mata bahagia yang mewakili seluruh isi hatinya. Perjalanan cinta mereka cukup terbilang singkat, bahkan Asmira sangat awam dan kaku dalam urusan asmara.


Tapi kini, sah di depan Agama dan negara, keduanya telah resmi menjadi sepasang suami-istri. Tanggung jawab kini berada di pundak masing-masing yang nantinya akan menjadi kebiasaan sehari-hari.


Malamnya dilanjutkan dengan acara resepsi, acara terlalu mewah menurut Asmira, tapi apa boleh buat ia hanya jadi pemain saja ia mengikuti semua yang disediakan tanpa harus banyak bicara. Asmira mulai pegal menyalami tamu yang datang bibirnya telah lelah menyunggingkan senyuman.

__ADS_1


“Mas ... rasanya aku mau pingsan,” Bisik Asmira pada Darwin.


“Jangan pingsan sayang, duduk dulu sebentar.” Darwin khawatir.


Darwin memanggil Marni meminta air putih, Martha panik ia meminta Jessica dan Darwin memapah Asmira ke dalam biar ia dan Marco yang menyambut kedatangan tamu. Acara sedikit terganggu karena mempelai wanita tumbang.


Jessica menemani Asmira yang merebahkan tubuhnya di spring bed, sementara Darwin kembali menyapa tamu yang datang.


“Mira, kamu enggak kenapakenapa-kenap” tanya Jessica. Sambil menempelkan tangannya di kening Asmira.


“Enggak apa-apa Mbak, hanya sedikit pusing,” tidak sahut Asmira.


“Kamu mau makan?” tanya Jessica.


Asmira menggeleng. “Aku cuma mau istirahat sebentar, Mbak kalo mau keluar lanjuti acara enggak apa-apa,” jawab Asmira.


“Benaran,?” tanya Jessica.


“Benar mbak, nikmati saja pestanya,” balas Asmira.


“Kenapa tadi mereka bawa aku kemari, kok seram rasanya ya?” Asmira bertanya pada diri sendiri.


Asmira menghapus make-up dan mengganti baju tidur. Kakinya terasa pegal sedari tadi berdiri, ia rebahkan tubuhnya di ranjang ia langsung tertidur pulas karena kecapaian.


Kelvin yang dari siang dibuat penasaran oleh Jessica matanya terus mencari di mana keberadaan wanita itu. Jessica asyik bercanda bersama Marni dan pembantu lainnya di ruang yang berbeda.


“Mbak cantik banget deh, bikin pangling saja,” goda salah satu pembantu.


“Tadi para tamu bisik-bisik tahu enggak?” goda pembantu yang lainnya.


“Bisik-bisik apa sih?” tanya Marni.


“Katanya Mbak Jessica mirip Tuan Marco,” jawab pembantu lainnya.


Marni kaget. “Apa yang kalian bicarakan, hushhh!” Marni meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


Semua terdiam, Jessica tertawa melihat mimik wajah para pembantu mereka tampak ketakutan dengan bos pembantu yaitu Marni.

__ADS_1


Tiba-tiba Kelvin datang, meraih tangan Asmira menariknya keluar. Marni dan pembantu lain kaget dengan perlakuan tuan Kelvin.


“Kamu kenapa di sini, mereka siapanya kamu?” tanya Kelvin to the point.


“Asmira adik aku, Vin,” sahut Jessica.


“Apa?” Kelvin kaget setengah mati.


“Iya, Asmira kecil dulu,” balas Jessica tersenyum.


“Aku masih enggak percaya ternyata Asmira wanita yang berhasil buat Darwin jatuh hati,” ucap Kelvin.


Kelvin wajar tidak tahu, pasalnya Darwin memanggil Asmira dengan nama 'Lestari' pantas Kelvin tidak mengenalinya.


“Jodoh enggak ada yang tahu Vin,” ujar Jessica.


“Ngomong-ngomong kamu cantik banget malam ini,” puji Kelvin.


Wajah Jessica merona. “Kamu bisa sana Vin,”


“Benaran, aku enggak bohong,” jawab Kelvin.


Kelvin menggenggam tangan Jessica, ia tidak menolak, ia salah tingkah dan sangat kikuk di hadapan Kelvin. Wajah mereka berdekatan nafas keduanya saling terasa di wajah masing-masing. Kelvin mencium bibir Jessica, lagi-lagi tidak ada penolakan ia memejamkan matanya, Kelvin yang mendapat lampu hijau, menambah volume ciumannya semakin lama dan sedikit bermain-main di sana.


Jessica mendorong tubuh Kelvin pelan saat nafasnya mulai terengah-engah. Jessica tidak mengatakan apa pun, ia hanya terdiam pandangannya lurus ke depan.


“Apa kita bisa dekat seperti dulu lagi?” bisik Kelvin ditelinga Jessica.


Jessica menatap wajah Kelvin dan ia mengangguk pelan. Entah apa yang dipikirkan Jessica sepertinya benih-benih cinta akan kembali tumbuh dihatinya.


Kelvin menggenggam erat tangan Jessica dan memeluknya, ia memejamkan matanya.


“Pelukan hangat ini, tidak aku temui pada Rose,” batin Kelvin berkata


Jangan lupa Like dan Favoritnya ya.


.

__ADS_1


__ADS_2