Perjanjian

Perjanjian
Episode 39


__ADS_3

Asmira terbangun karena sinar mentari pagi menerpa wajah cantiknya. Darwin masih tertidur pulas, tidak terasa sudah tiga hari setelah kepulangan Martha, mereka masih melanjutkan perjalanan ke beberapa negara terdekat, Darwin membawa Asmira ke berbagai tempat yang indah dan romantis.


Setelah mandi, Asmira menggunakan baju kaos berwarna putih dengan celana jeans yang ketat di atas lutut. Rambutnya disanggul ke atas dengan asal-asalan, ia duduk bersila di atas ranjang. Ponselnya berdering, Asmira meraih ponselnya lalu melihat sekilas layarnya sebelum ia letakkan di telinganya.


“Halo.” sapa Asmira sembari meneguk air putih ditangannya.


“Halo Mira,” sapa seorang wanita di seberang sana, dan Asmira tahu betul siapa suara dibalik telepon itu.


“Nindy, benarkah ini Nindy?” tanya Asmira dengan suara lantang membuat suaminya terbangun.


“Iya, ini aku,” jawab Nindy.


Mata Asmira berkaca-kaca mengetahui siapa yang menghubunginya pagi itu. Rasa sedih bercampur bahagia menjadi satu. Asmira mengutarakan isi hatinya, bahwa ia merindukan sosok sahabatnya selama ini. Asmira begitu kesepian tanpa Nindy.


Padahal Nindy telah lama pindah ke kota A, semenjak ayahnya bangkrut di Jepang, mereka pindah kembali ke kota A. Asmira menyesal tidak mencari keberadaan Nindy selama ini.


Darwin terbangun, ia melihat istrinya menangis menerima telepon pagi-pagi, ia tidur di pangkuan Asmira dengan manja, tangannya menghapus air mata di pipi Asmira.


“Kapan kita bertemu Nin,” tanya Asmira.


“Aku belum tahu pasti,” sahut Nindy sedih.


“Kenapa?” tanya Asmira.


“Aku sedang tidak baik-baik saja Mira,” beritahu Nindy.


“Kamu kenapa Mira, itu yang aku khawatirkan berdua dengan Bastian selama ini,” jawab Asmira.


“Nanti kalau aku punya waktu aku akan datang ke rumah keluarga mertuamu ya Mira,” pinta Nindy.


Mereka menyelesaikan pembicaraan singkat itu setelah sekian lama tak bertukar kabar. Sahabatnya itu menghilang tanpa jejak, kini ia mendengar suaranya saja Asmira begitu bahagia, ia berjanji apa pun yang terjadi pada Nindy ia akan meminta suaminya menyelesaikan semuanya.


“Sayang, siapa yang telepon pagi-pagi begini,” tanya Darwin memeluk Asmira.


“Sahabat aku Mas, aku khawatir dia mengatakan kondisi sedang tidak baik-baik saja,” sahut Asmira.


“Memangnya kenapa?” tanya Darwin.


“Aku enggak tahu Mas, berjanjilah apa pun yang menimpanya, bantu dia Mas,” pinta Asmira sungguh-sungguh.

__ADS_1


Anggukan Darwin cukup untuk jawabannya.


- Di pengadilan agama.


Marco menemani Jessica dengan didampingi oleh dua pengacara sekaligus. Mata Hardi terbelalak saat melihat seorang Marco Antonio mendampingi Jessica, bagaimana mungkin anak buahnya bisa membawa Jessica pulang kembali padanya, sementara selama ini Jessica berada dikandang singa, kapan saja ia mau ia bisa menerkam dirinya, Hardi merinding.


Marco dengan tegas menolak proses mediasi, karena keputusan Jessica telah bulat, jangankan untuk kembali bersamanya melihatnya saja Jessica jijik, Hardi tidak bisa berkutik lagi, Marco melotot ke wajah Hardi dengan sorot matanya yang seperti ingin menerkamnya.


“Jika Papa Kelvin masih hidup ia akan malu mempunyai adik sepertimu, memalukan!” kata Marco dengan suara tinggi ditelinga Hardi.


Pengacara keluar dari ruang pengadilan, menemui Marco dan Jessica.


“Kita hanya perlu ikuti prosedur dan instruksi dari pengadilan, yang terutama sekali menghadiri setiap kali sidang,” kata pengacara.


“Baik, lakukan yang terbaik, semoga semuanya lancar,” jawab Marco tegas.


Jessica menatap lekat wajah Marco, ia merasa seperti orang tuanya sendiri, terlihat jelas di wajah Marco kekhawatiran terhadap dirinya.


Sementara Hardi seperti kesetanan, ia berteriak-teriak keras setibanya di kantor, ia hempaskan semua yang ada di hadapannya, terlebih saat asistennya mengatakan mereka lagi-lagi kalah tender, perusahaannya sudah diujung tanduk.


Hardi menghubungi Kelvin, sudah berkali-kali ia coba tapi tidak terjawab, namun ia tidak putus asa untuk terus menghubungi Kelvin, harapan satu-satunya ada pada keponakannya itu.


“Gawat Vin, Bantu Om ...” pinta Hardi memelas.


Hardi mengatakan jika perusahaannya hampir saja bangkrut. Semua saham telah ia jual, hutang sana-sini, pikirannya begitu kacau. Namun sayang, sambutan Kelvin tidak seindah harapan Hardi. Kelvin acuh tak acuh saat Hardi mengatakan semua itu.


“Untuk sekarang aku lagi sibuk dan juga sedang berada di luar kota, Om atasi saja dulu sebisa om, oke?” Kelvin memutuskan telepon sepihak.


Bukannya lega pikiran Hardi semakin memburuk, otaknya berpikir keras tidak mungkin orang licik seperti Hardi tidak punya ide, ia punya seribu satu cara untuk bisa mengelabui orang lain selama ini.


Sementara itu, seusai dari kantor pengadilan, Marco tidak langsung pulang, ia mengantar Jessica ke rumah mantan suaminya, untuk mengambil semua barang-barang miliknya, setelah selesai berkemas untuk kepergiannya selama-lamanya dari rumah yang lebih mencekam dari penjara itu seorang pembantu menghampiri Jessica.


“Mbak mau ke mana?” tanya gadis muda itu.


“Kamu ikut Mbak ya, ayo?” Jessica menarik tangan sang gadis


“Mbak jangan, aku takut aku enggak mau.”


Jessica tetap memaksa gadis itu untuk ikut bersamanya. Jessica meyakinkan bahwa jika ia bersama Jessica, ia akan aman dan Hardi tidak akan berani mencarinya.

__ADS_1


Marco menghampiri Jessica ke dalam, ia telah lama menunggu di luar, tapi Jessica tak kunjung keluar.


“Nak, di mana kamu?” panggil Marco.


“Om...” panggil Jessica.


Marco mendekat.


Jessica meminta pertolongan pada Marco untuk membawa gadis itu ikut serta, juga menyuruh Marco untuk meyakinkan bahwa jika ia ikut ia akan aman.


“Nak, mari ...” ajak Marco. Setelah yakin, akhirnya gadis tersebut mau ikut bersama Jessica.


Martha menyambut kepulangan mereka dengan wajah khawatir bercampur penasaran, Marco menjelaskan tentang persidangan hari ini Martha mendengar dengan saksama, ia juga bercerita tentang wanita itu yang bersama Jessica. Martha yang begitu mudah iba terhadap seseorang, air mata meleleh pipinya.


Martha menyayangkan sikap Hardi. Dulu ia baik dan bertanggung jawab. Tapi kini perlakuannya sungguh biadab dan tak berperikemanusiaan.


“Apa Fenita tahu jika adik iparnya begitu?” Martha bertanya-tanya.


“Entah Ma, kita sudah lama tidak berkomunikasi dengan Fenita setelah Handoko tiada,” jawab Marco.


“Bagaimana dengan Kelvin Pa?” tanya Martha.


“Kelvin tidak tahu-menahu Ma,” sahut Marco.


- Di rumah Ritha.


“Non, Non Ritha bangun ...” panggil Minah, ia menggoyangkan tubuh Ritha.


“Saya pusing Bik.” Ritha tersadar dari pingsannya.


Minah ingin menghubungi dokter dan Kelvin. Namun Ritha menolak, ia takut membuat Kelvin terganggu saat sedang keluar kota. Ritha tidak mau membuat Kelvin panik dengan keadaannya. Minah panik melihat kondisi Ritha sangat lemas.


“Bik, saya mau bubur sepertinya lambung saya kambuh, kemarin saya makan rujak pedas,” pinta Ritha.


Minah segera ke dapur untuk memasak apa yang majikannya inginkan, akhir-akhir ini nafsu makan Ritha menurun ia juga sering demam, Kelvin seolah-olah tidak peduli ia lebih menomor satukan pekerjaannya yang tiada habis-habisnya.


Minah ingin sekali memberitahu Kelvin tapi Ritha melarangnya, menurut Minah Ritha sedang tidak baik-baik saja, ia sedang tidak enak badan. Jika langsung ditangani dokter mungkin penyakitnya tidak akan parah.


Jangan lupa like yaaa..

__ADS_1


__ADS_2