
“Kamu tahu dari mana tempat sebagus ini Tari?” tanya Martha setelah ia merasa sedikit lega.
“Dulu waktu masih sekolah, aku sama dua sahabat aku sering ke sini Ma,” jawab Asmira.
“Pasti bolos sekolah kan, ayo mengaku?” Goda Martha.
Asmira tersenyum manis. “Mama tahu saja.”
Pandangan Asmira mengarah pada sopir pribadi mertuanya, mata Asmira membulat lalu ia tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa sih sayang, apanya yang lucu?” tanya Martha.
“Mama liat deh mang Joni.” Asmira tidak mampu menahan tawanya.
Martha melihat mang Joni yang begitu narsis sedang Selfi layaknya anak muda. Ia menggunakan kaca mata hitam, lengkap dengan background danau indah.
Martha pun tidak bisa menahan tawanya. Tawa mereka berdua pecah, apalagi saat Mang Joni memonyongkan bibirnya dan mengangkat dua jari.
“Masa muda mang Joni kurang bahagia deh kayaknya Ma,” ucap Asmira cekikikan.
“Bisa jadi ya, sayang,” balas Martha.
“Ma pulang, yuk,” ajak Asmira.
“Suasananya asyik banget, Mama enggan pulang sayang," ucap Martha.
“Tapi Mama janji ini jadi tempat rahasia kita berdua ya ...” pinta Asmira.
“Janji dong, bentar lagi kita pulangnya ya,” jawab Martha. Asmira pun mengiyakan.
Martha dan Asmira pulang hampir menjelang sore, saat Martha tiba di rumah Marco tidak berani menanyakan apa pun padanya. Martha tidak memedulikan kehadiran Marco di meja makan, ia seolah-olah sendiri. Selesai makan ia langsung ke kamar.
* *
Kelvin bangun menjelang siang, perutnya sudah keroncongan, entah kapan ia terakhir makan ia lupa. Setelah mandi dan siap-siap untuk ke kantor, Kelvin menuju dapur, ia tidak melihat apa-apa di meja makan.
“Rose ... sayang, persediaan di dapur kita habis ya?” tanya Kelvin sedikit berteriak.
Tapi tidak ada jawaban, ia baru tersadar rumah terasa begitu sepi tidak seperti biasanya. Ia menuju kamar Rose, tapi tidak ada siapa-siapa begitu juga dikamar Brandon.
“Apa Rose sedang keluar belanja,” pikir Kelvin, melihat di dapur tidak tersedia apa-apa.
Kelvin berangkat ke kantor dengan perut kosong, ia meluncur dengan mobilnya menuju kantor, tapi dalam perjalanan mamanya menelepon.
“Sayang bisa ke rumah Mama sebentar, bawa Brandon juga ya, Mama rindu cucu Mama,” suara wanita paruh baya di telepon.
“Enggak ada Brandon Ma, aku lagi di jalan mau ke kantor nih,” ujar Kelvin.
“Yah, mama rindu Brandon,” ucap mama Kelvin sedih.
“Nanti malam aku dan Rose ke rumah deh,” hibur Kelvin.
__ADS_1
“Ya udah deh, Mama tunggu ...." Mama Kelvin mengakhiri panggilan itu.
Kelvin mempercepat laju mobilnya menuju kantor, setibanya di sana ia memesan Go food. Kelvin tidak bisa lagi menahan laparnya.
* *
“Pak kita ada pertemuan terakhir hari ini dengan klien, setelah itu kita pulang. Tiket pesawat sudah saya pesankan,” beritahu Tiwi.
“Usahakan klien jangan membuat keadaan rumit, jika mereka terlalu banyak permintaan cancel saja,” ucap Darwin. Ia tidak sabar untuk segera pulang.
Mereka sudah tiga hari di luar kota, Darwin begitu rindu dengan calon istrinya, ia memandang potret Asmira hasil jepretan Asmira sendiri. Darwin tersenyum melihat foto itu, ia heran sempat-sempatnya Asmira Selfi menggunakan ponselnya.
Darwin menghubungi Asmira tapi tidak ada jawaban, sudah tiga kali Darwin mencoba tetap saja tidak ada jawaban.
“Mungkin lagi mandi, coba sekali lagi,” gumam Darwin.
Telepon tersambung.
“Sayang lama banget angkatnya,” tanya Darwin.
“Maaf sayang, aku baru selesai mandi,” jawab Asmira.
“Pasti wangi, cium dong?” pinta Darwin.
“Enggak mau!” jawab Asmira judes.
“Sayang pindah video call ya,” pinta Darwin.
“Pelit amat sih sayang, cuma minta cium doang,” ujar Darwin.
“Biar in, wek.” Asmira menjulurkan lidahnya.
“Awas ya kalo aku pulang aku gigit tuh lidahnya,” ucap Darwin gemas.
“Mas mulai nakal ya,” Asmira membulatkan bola matanya.
“Habisnya kamu yang godai,” ucap Darwin.
“Udah cepat pulang, aku kangen Mas,” rengek Asmira.
“Jadi ambek dan galaknya gara-gara aku enggak pulang-pulang nih,” Goda Darwin.
“Mas ...” panggil Asmira manja.
Darwin tersenyum. “Besok pagi aku udah pulang sayang, ya udah kamu baik-baik ya, mau lanjut kerja lagi nih, bye sayang.” Darwin memutuskan telepon.
Darwin dan Pratiwi sedang menunggu kedatangan klien di sebuah kafe, tidak lama kemudian klien pun tiba. Mereka mulai meeting dengan tenang dan nyaman hingga selesai.
* *
Kelvin bergegas pulang saat menjelang magrib, ia sudah berjanji dengan mamanya untuk membawa Brandon berkunjung ke sana malam ini.
__ADS_1
Setibanya di rumah, semua lampu padam. Tidak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya, Kelvin mulai panik, ia menyalakan semua lampu dan beberapa kali memanggil Rose, tapi tidak jawaban.
Seluruh ruangan Kelvin telusuri, tidak henti-hentinya memanggil Rose dan anaknya. Tapi nihil tidak ada siapa pun di sana. Ia ponselnya menghubungi Rose tapi nomornya tidak bisa dihubungi.
Kelvin begitu frustrasi, berulang kali ia menghubungi tapi tetap tidak aktif.
“Ke mana kamu, sayang,” batin Kelvin menjerit. Ia bingung ke mana pergi Rose, seingatnya mereka sedang baik-baik saja, tidak ada pertengkaran di antara mereka.
“Apa yang harus aku katakan pada mama,” gumam Kelvin.
Otaknya berpikir keras, ia keluar rumah segera melaju dengan mobilnya menuju sebuah tempat, mungkin saja Rose berada di sana.
Kelvin tiba di panti asuhan, tempat Rose hidup dan besar di sana, Rose yatim piatu kata pemilik panti. Pemilik panti begitu menyayangi Rose, banyak orang tua asuh yang menginginkan Rose tapi ibu panti tidak mengizinkannya.
“Permisi Bu,” sapa Kelvin.
“Kelvin, mari masuk, Nak. Rose dan Brandon mana?” tanya pemilik panti.
Deg
Jantung Kelvin serasa berhenti berdetak, berarti Rose juga tidak di sana, ke mana sebenarnya Rose pergi pikir Kelvin.
“Rose di rumah Bu, saya cuma kebetulan lewat jadi mampir kemari.” Kelvin berbohong.
“Semua baik-baik saja Nak, kapan-kapan ajak Rose juga ibu kangen,” ucap Ibu panti.
“Pasti Bu, saya pamit dulu, kasihan Rose dan Brandon menunggu saya di rumah,” ujar Kelvin.
“Hati-hati di jalan ya, Nak.” Ibu panti melambaikan tangannya.
Kelvin semakin stres, ia mencari Rose ke mana saja tempat yang mungkin akan Rose datangi.
Tiba-tiba ia teringat Bastian, ia menghubungi Bastian, kepanikannya begitu terlihat jelas di raut wajah Kelvin.
“Halo Kak,” sapa Kelvin saat telepon sudah terhubung.
“Gawat Bas, Rose pergi dari rumah,” ujar Kelvin dengan suara parau karena ia menahan tangisnya.
“Jangan bercanda Kak, maksud Kakak apa?” tanya Bastian.
“Kakak enggak bercanda Bas, Rose enggak ada di rumah, udah aku cari ke mana-mana tapi enggak ketemu,” jawab Kelvin.
“Brandon di mana?” tanya Bastian.
“Brandon dibawa Rose, apa yang harus aku ceritakan pada mama Bas,” Kelvin frustrasi.
“Jangan ceritakan apa-apa pada mama Kak, kalo penyakit jantung mama kumat, Kakak juga yang repot.” Bastian pun mulai panik.
“Mungkin Rose ke Jepang, kamu tunggu in dia Bas, kalo dia tiba di sana segera hubungi aku,” pinta Kelvin.
Kelvin mengakhiri panggilan dengan Bastian adik kesayangannya itu. Rose juga tidak bersama Bastian, ke mana sebenarnya Rose menghilang, Kelvin menggaruk kepalanya ia begitu khawatir dengan Rose dan Brandon.
__ADS_1
Jangan lupa klik Like ya....