Perjanjian

Perjanjian
Episode 97


__ADS_3

“Mama Fenita lagi!” ujar Rose dengan nada emosi.


Asmira mengelus-elus pipi Rose. “Mbak yang tenang, jangan emosi dulu.”


“Gak bisa Dek, mbak gak bisa tolerir lagi perbuat mama Fenita kali ini.”


Asmira tidak bisa berkata apa-apa lagi, sudah berkali-kali Fenita telah membuat keributan yang merugikan banyak pihak. Apalagi kemarin Darwin cerita, ia hampir membuat perusahaan anaknya bangkrut.


Sungguh orang tua yang egois sekali, bukannya membantu anaknya bangkit malah ia hampir membuat bangkrut.


“Mbak harus lapor polisi!” ucap Rose tegas.


Semua terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rose. Tiba-tiba Kelvin masuk dengan Brandon di gendongannya.


“Kelvin ....” Martha terkejut melihat Kelvin yang datang. Mereka merasa tidak enak karena barusan membicarakan orangtuanya.


Kelvin tersenyum, senyum yang benar-benar ia paksakan. “Kalian gak perlu sungkan seperti itu. Aku gak masalah, mama udah terlalu banyak membuat keresahan. Aku gak melarang kamu untuk lapor polisi Rose, beliau berhak tanggung jawab atas semua kesalahannya.”


Rose diam, ia tau pilihan yang ia buat sulit. Tapi ia harus melakukan itu demi kebaikan semua.


“Mama kamu udah persiapkan semuanya dengan matang dari nol Vin, aku gak pernah ketemu orang senekat dan setega mama Kamu.” kali ini ucapan sadis keluar dari mulut Jessica.


Martha menarik tangan Jessica, ia melarang anaknya untuk mengatakan itu. Pastinya Kelvin akan merasa bersalah sekali jika semua unek-unek yang Rose dan Jessica rasakan ditumpahkan semua kepada Kelvin. Sementara yang bersalah bukan dia.


“Gak apa-apa kok Tante,” Kelvin tersenyum kecut.


“Asmira ...” panggil Rose, Asmira yang sedang duduk disebelahnya menunduk memandang wajah kakaknya yang selama ini berpisah dengannya.


Rose memeluk Asmira, keduanya tidak bisa menahan tangisnya, puluhan tahun terpisah tidak saling tau, bahkan ibu sendiri tidak kenal. Asmira tidak bisa bayangkan bagaimana perasaan Rose kini, wajar jika ia benar-benar marah terhadap Fenita.


“Selama ini mbak berharap punya keluarga, satu aja, gak muluk-muluk Dek, tempat untuk berbagi keluh kesah, tapi sekarang mbak punya kamu.” Rose mencium kening Asmira, ia menyeka air mata yang keluar di pipi adiknya itu.


“Tuhan telah mengatur ini semua sedemikian rupa Dek, syukur Alhamdulillah.” Rose tidak lupa untuk memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan sang pencipta.


Asmira berjanji akan mengajak Rose ke makam orangtuanya di kampung setelah Rose pilih nanti.


Martha mendekat pada keduanya, ia tersenyum puas melihatnya. “Sukma ibu kalian pasti bahagia, melihat anak-anaknya bersama, takdir tuhan tidak pernah salah, sayang.”


Martha mengusap kepala Rose penuh kasih, Martha begitu terenyuh dengan ketabahan Rose, dari kecil ia sebatang kara, hidup susah di panti asuhan. Berbagai suka duka telah ia lewati, tidak heran jika dulu ia memilih Kelvin untuk jadi suaminya. Berharap Kelvin bisa menjadi suami yang baik dan mengayomi hidupnya kelak bersama anak-anak.


Namun siapa sangka, Kelvin bersikap diluar dugaan. Entah siapa yang salah dan siapa yang memulai, semuanya sudah berlalu. Tidak ada gunanya mengungkit-ungkit kembali masa lalu. Toh, sekarang mereka sudah bahagia dengan kehidupan masing-masing.

__ADS_1


Penyesalan selalu datang terlambat, inilah ungkapan yang sesuai untuk menggambarkan isi hati Kelvin saat ini. Namun nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang bisa ia lakukan. Semuanya sudah terjadi.


* * *


Asmira setiap hari mengunjungi Rose dirumah sakit, ditemani Darwin suaminya. Hari ini Rose boleh pulang, Asmira sudah siap untuk menjemputnya, ia menunggu proses administrasi yang dipersiapkan oleh Darwin.


Asmira akan membawa pulang Rose kerumahnya sementara waktu, ia tidak membiarkan mereka kembali ke hotel. Ryu suami Rose sangat dekat dengan Darwin, keduanya akur, memang itu harapan Asmira.


Tidak ada yang ingat Bastian, kemana ia sebenarnya, mulai dari Rose musibah sampai ia keluar dari rumah sakit, ia sama sekali tidak mengunjungi Rose.


“Selamat datang dirumah aku, mbak ....” Asmira mempersilahkan kakaknya masuk, setibanya mereka dirumah.


“Terimakasih, Dek,” ucap Rose.


“Gak perlu sungkan.” Asmira mengajak Rose kekamar yang telah ia persiapkan tadi. Dokter bilang ia harus banyak istirahat dulu.


Malam harinya mereka makan malam bersama, Ryu memuji masakan Asmira yang lezat, ia makan dengan lahap.


Asmira memulai perbincangan malam itu di ruang televisi. “Gimana caranya kita lapor polisi kita kan gak punya bukti.”


Asmira setuju dengan Rose, tapi ia bingung bagaimana cara jebloskan Fenita ke bui, sementara bukti konkrit tidak ada.


Asmira menyipitkan matanya. “Maksudnya Mas?”


“Bukti semua udah lengkap, Pratiwi sudah mengumpulkan semua bukti dan saksi dari rumah sakit mama melahirkan dulu.”


Rose tersenyum lega, kali ini benar-benar telah memantapkan hati untuk melaporkan Fenita.


* * *


Keesokan harinya, ditemani Darwin, Rose dan Asmira berangkat ke kantor polisi.


Setelah membawa laporan dan memberikan berkas-berkas yang lengkap. Laporan mereka diterima, penyidik memberikan surat tanda terima pada mereka.


Mereka hanya perlu menunggu kapan akan di panggil lagi, Fenita akan segera menerima surat panggilan dari kantor polisi.


Asmira meminta kepada Darwin agar ia mencari pengacara yang handal.


Setelah mengantar mereka pulang, Darwin segera berangkat kantor, ia barusan mendapat telepon dari Pratiwi ada meeting dadakan.


“Mbak gak di sini, aja?” tanya Asmira saat keduanya sedang masak siang.

__ADS_1


“Maksudnya, Mir?”


“Ya mbak disini aja, gak usah kembali ke Jepang.”


Rose tersenyum, ia merapatkan kepalanya pada Asmira. “Adik mbak gak mau jauh-jauh, ya?”


Asmira mengangguk, matanya berkaca-kaca, Rose memeluknya, ia menepuk-nepuk pundak Asmira menenangkannya.


“Udah, jangan nangis. Nanti Mbak coba bicarakan sama Ryu.”


Asmira tersenyum lebar mendengar jawaban Rose.


* * *


Keesokan harinya.


Pagi-pagi saat Asmira sedang sarapan bersama, tiba-tiba ada yang menggedor-gedor pintu dan menekan bel berkali-kali.


Asmira ingin membuka pintu, namun Darwin melarangnya. Darwin segera menuju ke depan, ia menarik gagang pintu perlahan.


“Mana Mbak Rose? Mbak!” teriak Bastian keras.


Semuanya terkejut mendengar teriakan, mereka bergegas menuju ke depan.


“Bastian, kenapa teriak-teriak?” tanya Rose yang baru keluar.


“Hei perempuan gak tau diri!” teriak Bastian lagi.


Bastian mengeluarkan semua isi hatinya, ia mengungkapkan kekecewaannya dengan sikap Rose yang melaporkan Fenita ke polisi.


Rose tidak menjawab apa-apa, ia terpaku dengan semua sumpah serapah yang dilontarkan oleh Bastian.


Ryu suami Rose mengepalkan tangannya, namun Rose menahannya. Bastian hanya anak kecil yang tidak tahu-menahu tentang masalah mereka, ia pasti sudah termakan omongan Fenita.


Fenita pasti telah mencuci otak Bastian dengan pikiran jahatnya. Asmira ingin membela Rose, tapi lagi-lagi Rose mengisyaratkan diam.


“Aku mohon Mbak cabut semua tuntutannya.”


Rose tersenyum, “Maaf Bas, Mbak gak bisa. Kalaupun kamu marah dan benci Mbak dengan keputusan ini, Mbak tetap gak bisa.” Rose benar-benar tegas dengan keputusannya


Jangan lupa like ya ...

__ADS_1


__ADS_2