Perjanjian

Perjanjian
Episode 78


__ADS_3

Setelah kedatangan Nindy kemarin ke rumah Asmira, Santi tampak khawatir dengan Asmira yang sedang mengandung. Santi tahu jika Nindy begitu membenci Asmira kini, persahabatan mereka telah hancur sejak Bastian menolak cinta Nindy. Lebih parahnya lagi, Asmira lah penyebab Bastian menolak cinta Nindy.


Tetapi Asmira tidak tahu sama sekali, jika ia menjadi penyebab Nindy menghilang darinya selama ini. Bagi Asmira, posisi kedua sahabatnya itu punya sisi tersendiri dihatinya. Tidak bisa ia lupakan begitu saja. Namun berbeda dengan Nindy.


Pukul 07:00 pagi.


Asmira masih uring-uringan bangun dari tidurnya. Darwin telah siap dengan pakaian kantornya, ia mendekati Asmira lalu mengecup keningnya.


“Sayang ... ayo sarapan?” ajak Darwin, ia belai lembut pipi istrinya.


“Aku enggak selera makan Mas.” Asmira memejamkan matanya.


Darwin tersenyum, meski ada yang aneh dari sikap Asmira. Namun ia tidak mau berpikir negatif. Mungkin saja hanya mood ibu hamil yang tidak stabil.


“Mbak Mira enggak ikut makan, Tuan?” tanya Santi ketika Darwin turun untuk sarapan.


“Enggak selera makan katanya San, aku titip Lestari ya. Kalau ada apa-apa hubungi saya,” pinta Darwin.


Tidak salah lagi, pasti ada sesuatu yang Nindy katakan, tidak mungkin Asmira mengacuhkan suaminya.


“Ya Tuhan... semoga saja tidak terjadi apa-apa,” gumam Santi dalam hati.


* *


Nindy nekat mendatangi kantor Kelvin. Setibanya di sana, ia dicegat oleh pegawai kantor Kelvin. Karena Kelvin sedang meeting dan ia tidak boleh diganggu.


“Kamu berani sama saya!” teriak Nindy.


Pegawai tersebut tersenyum sinis.


“Memangnya, lu siapa, kenapa gue harus takut,” sahut pegawai wanita tersebut.


“Perlu lo ketahui, gue calon istri barunya bos kalian!” ucap Nindy bangga dengan status yang ia sebut, meski itu tidak benar adanya sama sekali.


Pegawai tersebut tertawa terbahak-bahak,


“Eh, guys. Kesini bentar deh, ada perempuan halu nih,” panggil wanita tersebut.


Kedua pegawai lainnya ikut bergabung. “Siapa sih Say?” tanya wanita yang baru bergabung.


“Ini loh, ada yang mengaku-ngaku calon istri Bos Kelvin.” Mereka bertiga kembali tertawa.


“Ha ha ha, enggak lucu!” Nindy meniru gaya mereka tertawa dengan kesal.

__ADS_1


“Eh, perempuan halu, mending lo jangan terlalu ngarep deh, kalo cuma tidur sekali dua kali setelah itu lo berharap bakal dinikahi, jangan mimpi!” ujar salah satu di antara mereka.


“Maksud lo apa?” tanya Nindy.


“E eh, lo kok nyolot?” tanya wanita yang pertama bertemu Nindy.


“Lo perlu gue kasih tahu ya, gue udah puluhan kali tidur sama bos Kelvin, tapi gue enggak halu kek lo minta dinikahi,” bisik salah satu wanita ditelinga Nindy.


Nindy tertegun mendengar ucapan wanita-wanita di hadapannya. Benarkah yang ia dengar kini, atau mereka hanya sedang memanas-manasi dirinya saja.


Tiba-tiba ketiga wanita tersebut bubar, Nindy masih terpaku dengan omongan mereka.


“Hei!” panggil Kelvin menyentuh pundaknya Nindy.


“Eh, hai” sapa Nindy hambar.


“Ada apa?” tanya Kelvin.


Kelvin tersenyum. “Maksud aku, ada apa kamu kemari?” tanya Kelvin.


Ketiga wanita yang tadi nyinyir kepada Nindy kaget mendengar Kelvin begitu lembut dengan Nindy, apalagi mereka bicara aku kamu.


“Ditanya malah bengong,” ujar Kelvin lagi.


Nindy masih saja terdiam saat mereka tiba di ruang kerja Kelvin. Kelvin tiba-tiba seperti kesetanan, ia mendekati Nindy, ia kecup keningnya lalu turun ke hidung, dan berhenti di bibir ranum Nindy. Ia belai lembut tengkuk Nindy.


Namun Nindy melepaskan diri dari Kelvin, ia sedikit menjauh.


“Kenapa?” tanya Kelvin.


Lagi-lagi Nindy hanya bisa diam ia tidak menjawab.


“Bukannya kamu kesini karena lagi mau?” tanya Kelvin lagi.


Nindy menatap Kelvin yang tidak mengerti apa-apa. “Mas, apa semua wanita kamu perlakuan seperti ini?” tanya Nindy.


Kelvin tersenyum mendengar pertanyaan Kelvin. “Ya! habisnya semua wanita seperti kamu,” ujar Kelvin membelai lembut pipi Nindy.


Nindy menepis tangan Kelvin. “Maksud kamu apa Mas?” tanya Nindy.


Kelvin tertawa. “Nindy, Nindy ... wanita butuh uang, pria butuh kenikmatan. Bukankah itu barter yang baik, saling menguntungkan, kan?” tanya Kelvin menatap tajam bola mata Nindy.


Nindy tidak menyangka apa yang ia dengar dari Kelvin. “Jadi Mas, kamu anggap aku selama ini begitu?” tanya Nindy membalas tatapan Kelvin.

__ADS_1


Kelvin tidak mampu menahan tawanya.


“Kenapa kamu jadi baper seperti ini, sih?” tanya Kelvin, lalu ia menyibak rambut Nindy ke samping, ia mencium tengkuk Nindy dengan kecupan yang sangat lembut.


Lagi-lagi Nindy menjauh dari Kelvin.


“Mas, cukup ya!” ujar Nindy kasar. Namun Kelvin tidak menyerah, tampaknya nafsunya sudah terpancing dengan aroma tubuh Nindy yang begitu menggairahkan.


“Jadi, benar apa yang karyawan kamu bilang Mas?” tanya Nindy lagi.


“Mereka juga sama seperti kamu sayang, mereka gak bisa hidup tanpa uang, uang yang menunjang penampilan mereka,” bisik Kelvin ia cium habis telinga Nindy.


Nindy memejamkan matanya, tanpa sadar air mata berlinang membasahi pipinya. “Tuhan enggak adil, saat aku temukan pria lain pun, masih saja aku tidak bisa memilikinya,” gumam Nindy dalam hati, Nindy menggigit bibir bawahnya.


Kelvin sadar jika Nindy menangis, ia hentikan aksinya. Tampak kekesalan di wajahnya, ia hempaskan tubuh Nindy di sofa.


“Apa yang terjadi sama kamu Nindy?” tanya Kelvin menahan geram.


Nindy memangku lututnya, ia benamkan wajahnya di sana. “Aku mau bukan hanya jadi tempat pemuas nafsu kamu saja, Mas!” ujar Nindy mulai menangis tersedu-sedu.


Kelvin sangat mengerti ke mana arah pembicaraan Nindy. Selama ini ia juga mengerti jika Nindy telah menyimpan rasa untuknya, namun ia abaikan begitu saja. Kelvin menatap langit-langit ruang kerjanya.


“Sorry Nin. Aku cuma menginginkan satu wanita saat ini,” ujar Kelvin, ia tidak ingin Nindy terus berharap ke tidak pastian darinya.


“Siapa Mas, siapa wanita itu?” tanya Nindy. Ia bangkit dari duduknya, menghampiri Kelvin.


“Jessica,” jawab Kelvin hambar.


Mata Nindy membulat sempurna. “Jangan bilang Jessica kakaknya Asmira,” ujar Nindy mundur dari Kelvin.


Kelvin tersenyum. “Benar Nin, Jessica kakaknya Asmira,” sahut Kelvin santai.


Nindy terus mundur, hingga kakinya berhenti karena kepentok sofa, ia raih tasnya.


“Bilang kamu bohong Mas, coba bilang kamu bohong!” teriak Nindy. Kelvin menyipitkan matanya, Nindy terlihat aneh dimatanya.


“Aku enggak bohong, dari dulu aku mencintai Jessica,” ujar Kelvin.


“Enggak, enggak mungkin!” setelah itu Nindy berlari keluar dari ruangan Kelvin dengan sangat cepat.


Kelvin masih terpaku, ia garuk-garuk kepalanya. “Dia ke sambet apa sih?" tanya Kelvin pada sendiri.


Nindy tidak bisa membendung tangisnya, saat ia berada di dalam lift semua orang menatap ke arahnya. Namun Nindy tidak peduli, air matanya terus mengalir membasahi pipinya.

__ADS_1


Jangan lupa klik like ya...


__ADS_2