Perjanjian

Perjanjian
Episode 95


__ADS_3

Darwin menghempaskan tubuhnya di ranjang, lengkap dengan pakaian yang tadi ia gunakan. Rasa penat dan lelah menjadi satu, namun ia bahagia, hari ini merupakan hari bahagia kakaknya.


Namun disisi lain, ada yang berduka. Kelvin harus ikhlas atas semua yang terjadi, semoga ia bisa bangkit dan menata hidupnya kembali. begitu harap Darwin.


Asmira sedang membersihkan makeup diwajahnya, kali ini ia lumayan tebal menggunakan makeupnya, tidak seperti biasanya.


Suara handphone Darwin berdering, tapi tampaknya Darwin sedang melamun. Sudah dua kali Asmira memberitahunya, namun Darwin masih saja berbaring dengan pandangan lurus ke langit-langit kamar.


Asmira bangun dari duduknya, ia melihat layar sebelum mengangkat teleponnya.


“Ya halo Mbak Rose.”


“Halo Tante, tolongin mama Tante.”


Asmira terperanjat mendengar jawaban suara Brandon dari balik telepon.


“Ya sayang, halo, mama kemana, ada apa?”


Darwin baru sadar, ia melihat Asmira sedang menerima panggilan. Asmira membesarkan load speaker agar Darwin ikut mendengarkan.


“Mama Papa lagi berantem sama preman. Aku takut ...” bisik Brandon.


Terdengar suara Brandon serak, ia menahan tangisnya dan mencoba menceritakan kronologis kejadian.


“Sayang, kalian dimana, Om segera kesana ya.” Kali ini Darwin yang jawab.


“Aku gak tau dimana Om, tapi ini belum jauh Sepertinya dari rumah Om.”


“Kamu baik-baik ya, tetap sembunyi, Om segera kesana.”


Darwin memanggil Valen, dan mengajaknya untuk melihat kondisi Rose. Jika benar jalan yang mereka lalui seperti pikiran Darwin. Mereka dalam bahaya. Kawasan tersebut merupakan kawasan biasanya terjadi begal dan perampokan.


“Mas aku ikut ....”


Martha melarang keras Asmira ikut, akhirnya Asmira pun mengiyakan, mengingat ia juga sedang mengandung.


Darwin segera melajukan mobilnya dengan kecepatan full, ia tidak bisa bayangkan jika terjadi apa-apa dengan keluarga kecil itu. Valen menghubungi polisi, sementara Darwin fokus menyetir.


Tidak lama kemudian mereka tiba di sana, disusul mobil polisi. Mereka sempat kabur, namun salah satu diantara mereka tertangkap dan kena tembakan di kaki kirinya.


Rose berlumuran darah, ia tidak sadarkan diri. Sementara suaminya memangku kepala Rose dan terus memanggil Rose. Wajahnya penuh dengan luka tonjokan. Sedangkan sopir taksi luka parah, ia juga tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Valen mengajak Brandon keluar, dan membawa ia sedikit menjauh dari lokasi kejadian.


“Om, mama kenapa?” tanya Brandon polos.


“Mama baik-baik sayang, kita disini ya?”


Brandon mengangguk lemah, dia anak yang menggemaskan, pintar dan lucu sekali.


“Om, telepon papa Kelvin,” pinta Brandon dengan suara yang lemah.


Valen merasa iba dengan Brandon. Valen mencoba menghubungi Kelvin dan menyuruhnya segera ke rumah sakit.


Ambulance sudah tiba, mereka segera membawa sopir taksi ke rumah sakit, serta Darwin membawa Rose ditemani salah satu polisi. Brandon dan Valen pergi dengan mobil polisi mengikuti mobil Darwin dari belakang. Valen juga menghubungi Jessica memberitahu informasi terkini.


* * *


Darwin dan lainnya semua sudah berada dirumah sakit. Jam menunjukkan pukul 01:30 dini hari.


Rose dan sopir taksi yang bernama pak Samsudin itu segera dibawa ke ruang gawat darurat.


Polisi juga sudah menghubungi keluarga beliau, suasana sangat mencekam. Semua was-was.


Tidak lama kemudian Kelvin tiba, Brandon berhamburan ke pelukannya. Ia bertubi-tubi mencium pucuk kepala anaknya. Air mata berlinang di pipinya.


Brandon menyeka air mata Kelvin dengan tangannya yang kecil, seraya berkata, “Papa jangan nangis, mama gak apa-apa. Kita harus kuat, kata mama laki-laki harus kuat.”


Kelvin kembali memeluk anaknya itu, ia tidak bisa menahan tangisnya. Bahkan ia tidak punya waktu untuk mendidik anaknya selama ini, Rose telah membuatnya tumbuh menjadi anak yang pintar dan tegar.


Mata Asmira berkaca-kaca melihat pemandangan dihadapannya kini. “Tuhan, selamatkan mbak Rose,” lirih Asmira.


Keluarga dari pak Samsudin, yaitu sopir taksi, sudah berdatangan, anaknya bertanya bagaimana kronologi kejadian, dan bagaimana kondisi ayahnya kini.


Dokter keluar dari ruang operasi, ia membuka masker diwajahnya, ia menyeka keringatnya. “Keluarga dari pasien Kenny Rose?”


“Kami Pak,” sahut Darwin.


“Rose kehilangan banyak darah, luka tusukannya sangat dalam. Rose harus membutuhkan transfusi darah, pihak rumah sakit cuma menyediakan dua kantong saja, Sementara Rose butuh tiga kantong,” ujar dokter.


“Golongan darah Rose apa, dok?” tanya Darwin.


“A+, apa ada yang bergolongan darah AB+?” tanya dokter.

__ADS_1


“Saya AB dok, tapi saya gak tau negatif atau positif,” sahut Valen.


Asmira bangun dari duduknya. “Darah saya A+ dok, ambil darah saya aja?” pinta Asmira.


Dokter menggelengkan kepalanya. “Anda sedang hamil, tidak dianjurkan untuk mendonor darah bagi wanita hamil.”


Akhirnya darah Valen diperiksa, untuk mengetahui ia tergolong positif atau negatif.


Namun setelah menunggu hasil, sayangnya golongan darahnya AB negatif.


“Memangnya beda sedikit gak boleh, dok?” tanya Darwin.


“Tidak boleh, inilah gunanya mengetahui karakteristik golongan darah, resiko terkena komplikasi akan berkurang. Ketidakcocokan Rh dan ABO pada saat transfusi darah, bisa menyebabkan reaksi serius yang bisa membahayakan nyawa.”


Asmira kembali mengutarakan maksudnya, “Dok, ambil darah saya aja, waktu gak banyak, mbak Rose dalam bahaya.”


Dokter angkat tangan, ia tidak ingin jika terjadi sesuatu pada Asmira nanti ia yang disalahkan.


Darwin bersikeras melarang Asmira untuk mendonorkan darahnya untuk Rose. “Sayang, ingat kandungan kamu.”


Asmira meneteskan air matanya. “Mas, aku mohon, lihat Brandon Mas, dia butuh mbak Rose. Jika kita masih bisa menyelamatkan nyawanya, kenapa gak kita coba, jika terjadi apa-apa dengan mbak Rose kita akan menyesal seumur hidup Mas.”


Darwin tidak menggubris perkataan Asmira, ia membuang pandangannya ke samping, Asmira mengguncang lengan Darwin.


“Mas, aku yakin, aku dan anak kita akan baik-baik aja. Tuhan menjaga kita Mas.” Usaha terakhir yang Asmira lakukan untuk membujuk suaminya itu.


Darwin mengangguk lemah, ia menggenggam erat tangan Asmira ketika ia menuju ruangan untuk transfusi.


Setelah selesai, perawat memberikan satu kantung darah tersebut pada dokter, Asmira baik-baik saja, ia hanya mengeluhkan sakit kepala.


Dokternya menyuruhnya untuk berbaring, jangan terlalu banyak gerak, Asmira harus menunggu sampai pusingnya reda. Harapan semua orang, semoga ia dan bayi yang dikandungnya baik-baik saja.


Pak Samsudin telah selesai menjalani operasi, ia segera dipindahkan ke ruang rawatan. Beliau masih belum sadarkan diri.


Pak Samsudin akan baik-baik saja, hanya satu luka yang parah, dokter sudah menjahit luka tersebut, sementara di sekujur tubuhnya dipenuhi luka-luka lecet.


Keluarga bersyukur, Tuhan masih menyelamatkan nyawa pak Samsudin, namun mereka turut berduka atas apa yang menimpa Rose.


Keluarga pak Samsudin juga mendoakan kesembuhan pada Rose, semoga saja operasinya berjalan lancar.


* * *

__ADS_1


Jangan lupa like ya, bergabung juga di grup, dan klik profil jangan lupa untuk mengikuti saya ya.Jika terjadi banyak kesalahan mohon bimbingannya, ini karya pertama saya. Thanks semuanya...


__ADS_2