Perjanjian

Perjanjian
Episode 30


__ADS_3

Berita pernikahan Marcell Darwin Antonio tersebar ke seluruh pelosok negeri. Ada yang memuji dengan keserasian mereka tidak sedikit pula yang nyinyir dengan keberuntungan gadis yang akan menjadi calon Nyonya muda pria tampan itu. Harta kekayaan saja tidak akan habis dinikmati tujuh turunan, wanita mana yang tidak . menjadi istrinya.


“Itu kan gadis yang harusnya jadi mangsa gue kemarin, wah, berita bagus nih.”


Darwin melarang Asmira menonton televisi dan YouTube, ia tidak mau Asmira melihat berita-berita receh yang tersebar luas di luar sana.


Sementara Ritha yang gagal jadi pasangan Darwin, ia terlihat biasa saja, Kelvin telah merebut hatinya, hingga tidak ada lagi ruang kosong di sana untuk siapa pun.


Ia rela hanya menjadi tempat pemuas hawa nafsu Kelvin, tanpa ikatan yang pasti tanpa kejelasan mau dibawa ke mana hubungan mereka ke depan. Memang kata ‘cinta itu buta' tidak dapat terbantahkan.


“Sayang ... lusa aku ke kondangan ya, anak teman papa nikah.” Ritha membawa segelas kopi ditangannya.


“Boleh, Mau aku antar atau kamu bareng papa?” Tanya Kelvin.


“Bareng papa saja sayang ...” balas Ritha.


Sementara itu Martha tidak memperbolehkan Asmira ke mana-mana lagi, sepulangnya mereka dari pemakaman kemarin seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tidak ada yang berbeda dari sikap dan tingkah mereka terhadap Jessica.


“Mira, kalian udah planning bulan madu ke mana nih?” goda Jessica. Membuat pipi Asmira merona.


“Mbak apaan sih,” sahut Asmira tersipu.


“Benaran Mira, masa nikah sama orang terkaya di negeri kita kamu enggak minta mau ke mana gitu?” tanya Jessica.


“Kalo mbak sukanya ke mana?” tanya Asmira.


“Maldives, atau enggak Venice mungkin,” jawab Jessica.


“Nanti aku pikiri lagi deh Mbak, pusing.” Asmira menggaruk kepalanya.


Darwin pulang ke apartemen hanya untuk mandi dan ganti baju saja, ia selalu menghabiskan waktu di rumah papanya. Selama calon istrinya di penjarakan mamanya sudah dua hari ini ia selalu menggoda Asmira, mengajaknya makan es krim mengajaknya nonton film terbaru, yang selalu berhasil membuat Asmira mengiler.


“Puas-puas in deh kalian berdua ketemu, besok kalian gak boleh bertemu sampai kalian akad,” ucap Martha.


“Ya ... bakal ada yang rindu aku sampai mati nih Ma," goda Asmira.


“Yang ada nih ma, nanti bakalan ada yang mengomel-omel, Mas kenapa sih enggak pulang, kerja melulu dan BLA BLA ...” Darwin tidak mau kalah.


“Itu kan kamu kerja, beda dong, ini keharusan yang enggak bisa disepelekan tahu enggak?” Asmira menyilang kan kedua tangan Di dadanya.

__ADS_1


“Kalian terusi saja, Mama mau masuk.” Martha tersenyum melihat tingkah keduanya.


Asmira mencubit Darwin kesal. “Kamu bikin malu saja sih Mas,” ujar Asmira kesal.


Darwin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Asmira dengan mimik wajahnya yang cantik dan menggemaskan ketika sedang marah. Ia mencubit pipi Asmira gemas.


“Mas boleh minta cium gak?” kepolosan Asmira kambuh.


“Widih ... agresifnya calon Nyonya muda nan cantik jelita ini,” ledek Darwin.


“Ya udah aku mau masuk dulu.” Asmira ambekan.


Darwin menarik Asmira ke pelukannya tangannya mengelus pipi Asmira lembut, Asmira memejamkan matanya tangan Darwin kini mengelus bibir Asmira ia dekatkan bibirnya ia cium lembut bibir Asmira dengan penuh kasih sayang yang tulus.


* * *


Darwin keluar kota dengan Pratiwi, mobil yang membawa mereka menuju hotel macet total membuat Darwin geram ia tidak mau klien menunggunya terlalu lama, sifat Darwin yang Pratiwi suka ya itu, Boss yang satu ini sangat disiplin, tidak semena-mena meskipun ia bisa besar.


“Pak kita naik ojek saja gimana?” tanya Tiwi.


“Boleh, pesankan segera,” perintah Darwin.


Hasil perjuangan keduanya tidak sia-sia klien sangat puas dengan hasil kerja Darwin, klien bahkan menandatangani kontrak dengan perusahaan Darwin untuk setahun ke depan dalam bentuk proyek apa pun itu.


“Jangan tergesa-gesa pak, untuk proyek ini kami sukses belum tentu ke depan juga demikian,” ujar Darwin merendah.


“Tidak, saya percaya kinerja Anda, proyek besar ini saja mampu Anda kerjakan, hebat sekali,” puji klien.


selesai meeting mereka menunggu jemputan sopir pribadi Darwin dan segera mengatur jadwal kepulangannya.


* * *


“Mira, kamu deg-degan enggak?” tanya Jessica.


“Banget Mbak, sumpah!” balas Asmira.


“Banyak media lagi besok,” goda Jessica.


“Mbak jangan gitu ah ....” rengek Asmira.

__ADS_1


“Tenang saja, kan besok Mbak temani,” ujar Jessica.


Asmira menjalani semua acara adat istiadat yang Martha lakukan, ia hanya menurut saja pada calon mertuanya itu. Sesekali Darwin menggodanya yang selalu berhasil membuat mood calon istrinya kacau balau.


Setiap hari ada saja media yang mendatangi rumah Marco, banyak juga yang berdiri dipagar rumah menunggu siapa saja yang keluar. Hingga pemilik rumah merasa risih dan terganggu.


Rumah Marco telah di hias sedemikian rupa, W.O profesional yang Martha sewa menghias rumah mewah mereka membuatnya semakin mewah, Darwin menolak untuk menyewa gedung bangunan lain ia lebih memilih rumahnya.


Marco dan Jessica bercanda ria di halaman belakang, orang lain rasa papa kalau kata Jessica pada Asmira, Asmira hanya membalasnya dengan senyuman setiap kali Jessica mengatakan itu padanya.


“Om... Tante punya penyakit?” tanya Jessica.


“Kenapa kamu ke pikiran begitu?” tanya balik Marco.


“Kenapa Tante cuma punya satu anak, biasanya kalo punya penyakit kan rahimnya harus di angkat,” tanya Jessica.


Marco tertawa dengan pertanyaan Jessica, yang seolah-oleh sangat mengerti dengan urusan medis.


“Om punya anak perempuan kakaknya Darwin, tapi meninggal setelah beberapa saat ia lahir,” ucap Marco sedih.


“Maaf Om, jadi buat Om sedih deh,” ujar Jessica.


“Tidak apa-apa, Om menyesal dulu tidak mengharapkan anak perempuan, hingga membuat Tuhan murka dan mengambilnya kembali,” sambung Marco.


“Kenapa Om tidak mau anak perempuan?” tanya Jessica.


“Dulu Om berpikir mempunyai anak perempuan itu membosankan, tidak mengerti apa-apa soal bisnis, tapi ternyata Om salah, punya anak perempuan itu punya teman masa tua, seperti om dengan kamu sekarang, lihat Darwin ia terlalu sibuk bahkan tidak punya waktu hanya sekedar makan bersama kami saja ia tidak bisa.” mata Marco berkaca-kaca.


“Om ... “panggil Jessica.


Marco bercerita banyak pada Jessica, Jessica pun bercerita tentang masa lalunya yang pahit pada om rasa papa itu. Martha juga sangat menyayangi Jessica setelah sepulangnya dari kampung halamannya. Entah kenapa meski Khodijah telah menceritakan bahwa Jessica bukan anaknya tapi ia begitu sayang pada anak itu.


Marco meminta meski nanti Asmira telah pindah rumah, ia berharap Jessica masih mau tinggal bersama mereka sampai Darwin menyelesaikan perceraian Jessica nanti.


*


jangan lupa like ya guys.


bantu vote juga 😘

__ADS_1


__ADS_2