Perjanjian

Perjanjian
Episode 94


__ADS_3

Setelah pemakaman selesai, jam menunjukkan pukul 15:00 sore.


Jessica berpamitan pada Kelvin, ia mendoakan Ritha tenang di alam sana, juga kepada keluarga semua,9 Tuhan berikan ketabahan dalam menghadapi semua masalah.


Kelvin mohon maaf kepada Jessica, ia tidak bisa menghadiri acara nanti malam. Rasanya ia ingin sendiri dulu, ia masih syok dengan kepergian Ritha selamanya dari sisinya.


Semuanya telah pergi, kecuali Rose. Ia menghampiri Kelvin yang masih menggenggam erat batu nisan Ritha.


Rose kembali mencoba memberi kekuatan kepada Kelvin, agar ia tidak berlarut-larut dalam kesedihannya.


“Mas, ayo kita pergi. Ikhlaskan kepergian Ritha Mas,” ucap Rose.


“Aku yang salah Rose. Aku!”


Rose menghela nafasnya dalam. “Mas, semua yang hidup pasti akan merasakan mati. Ini sudah kehendak-Nya, kamu yang sabar ....”


Kelvin menyenderkan kepalanya di bahu Rose. “Aku layak mendapatkan ini semu Rose. Aku patut menerima ini semua.” Kelvin kembali menumpahkan air matanya.


Rose menenangkan Kelvin, dan mengajaknya pergi dari sana.


Setelah Kelvin mengantarkan Rose sampai rumah Marco, Rose terasa berat membiarkan Kelvin sendirian, dengan kondisinya yang sangat terpukul.


“Mas, maafin aku gak bisa temani kamu ya, aku sudah pergi lama, kasian suamiku ia harus menjaga anak kita sendirian.”


Kelvin memaksakan sebuah senyuman di bibirnya. “Gak apa-apa Rose, have fun ya.”


Setelah dari pemakaman dan mengantar Rose, Kelvin pulang ke rumah ia bersama Ritha.


Fenita menemui Kelvin, setelah mendapat kabar meninggalnya Ritha dari Bastian.


Sementara Simon, ia pulang kerumahnya sendiri, ditemani adik Ritha.


Fenita sudah menunggu Kelvin sejak setengah jam yang lalu. Setelah sekian lama menunggu akhirnya Kelvin tiba juga dirumah.


“Sayang, kamu darimana aja, Mama udah tungguin kamu dari tadi.”


Fenita menyentuh Kelvin dan ingin memeluk putranya yang sedang berduka, namun Kelvin menepis tangan Fenita, dan ia mundur selangkah.


“Ngapain Mama ke sini?”


Fenita mendekati Kelvin. “Nak, Mama turut berdukacita atas meninggalnya Ritha dan anakmu.”


Kelvin menyorot bola matanya tajam kearah Fenita, lalu ia buang lagi pandangannya ke samping. Lalu ia melangkah masuk kedalam seraya berkata, “Mama pulang aja, aku lagi males ketemu Mama.”


Fenita terpaku melihat punggung anaknya menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


* * *


Acara resepsi pernikahan Jessica telah dimulai, para tamu sudah hadir. Semuanya tampil gagah dan cantik.


Khusus malam itu, semua pembantu Marco liburkan, tidak ada yang bekerja. Semuanya tampil menawan malam itu.


Tawa dan senyum bahagia terukir di wajah mereka, menyambut para tamu yang berdatangan.


Sekali lagi, resepsi Jessica berbeda dengan orang lain. Mereka berdua berada di satu tempat, tidak ada acara sambutan. Jessica dan Valen, keduanya hanya keluar dari kamar menuju panggung mewah yang telah di dekorasi sedemikan rupa.


Santi dan Nindy pun telah tiba, keduanya tampil anggun dengan balutan busana yang cukup elegan.


Nindy memeluk Asmira yang menyambut kedatangannya. “Maaf ya Mir, aku gak bisa datang tadi pagi,” ucap Nindy.


“Gak apa-apa, ayok mari masuk.”__


Kolega-kolega Marco dan tamu-tamu penting lainnya terus berdatangan.


Santi tidak menemani Nindy, ia ke belakang menemui teman sesama pembantunya dulu, saat ia masih bekerja dirumah Marco.


Mereka gembira melihat kehidupan Santi kini, Santi semakin cantik, kulitnya semakin mulus.


Santi mendapat berita, meninggalnya Ritha dari mereka, ia buru-buru memberitahu Nindy. Santi menghampiri Nindy yang sedang menikmati pesta.


“Mbak ....”


Santi menceritakan berita yang ia dengar tadi, namun diluar dugaan, Nindy biasa saja mendapat berita tersebut.


“Mbak, mending temui mas Kelvin deh,” saran Santi.


Namun Nindy menolak, ia berdalih tidak ingin meninggalkan pesta, ia menikmati malam itu. Santi heran dengan sikap kakaknya. Bukankah ia mencinta Kelvin? Santi bertanya-tanya.


Jauh dalam lubuk hatinya, Nindy merasa iba terhadap Kelvin. Ia harus kehilangan dua orang sekaligus dalam hidupnya untuk selama-lamanya.


Tapi Nindy tidak berniat untuk mencari perhatian ataupun mencari kesempatan. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan Kelvin selamanya.


“Kamu yang tabah, Mas ...” lirih Nindy.


Semuanya bergembira, musik didendangkan dengan suara lantang dengan lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi terkenal. Semua berjoget ria.


Malam semakin larut, acara akan segera selesai. Para tamu satu persatu mulai pulang. Tinggal keluarga terdekat yang datang dari jauh, mungkin mereka akan menginap di rumah Marco malam itu.


Santi dan Nindy berpamitan, keduanya segera pergi karena taksi online yang mereka pesan sudah tiba. Asmira dan Darwin melambaikan tangan kepada mereka.


Rose pun berpamitan, Brandon digendong suaminya, ia sangat nyenyak di pelukan papa barunya itu.

__ADS_1


Martha terus meminta agar Rose menginap saja, kasian Brandon ketiduran. Namun Rose menolak. Ia ingin kembali ke hotel saja.


Rose pergi dengan taksi online menuju hotel yang ia inap dua hari ini. Dalam perjalanan Rose menguap, ia tidak bisa menahan kantuknya. Suaminya menyuruh ia untuk tidur.


Namun setengah perjalanan, tiba-tiba sopir taksi tersebut mengerem mobilnya mendadak.


Rose terjatuh dan ia terbangun, begitu pula Brandon.


“Mama, aku pusing.”


Suami Rose menenangkan Brandon, agar ia tidak bingung, biasanya jika bangun tidur ia tidak sepenuhnya sadar.


“Kenapa Pak?” tanya Rose lembut.


“Ada yang kecelakaan motor, neng,” sahut sopir yang sudah berusia lanjut itu. Ia turun untuk mengecek kondisi korban yang tergeletak ditengah jalan.


Suasana sangat gelap, Rose mulai panik. Namun ia mencoba tenang agar suaminya tidak ikut panik.


“Kenapa pak sopirnya lama banget ya.”


Rose ingin mengecek keadaan, namun sopir tersebut berteriak. Meminta agar Rose tidak keluar, dan memintanya untuk pergi dari sana.


Ternyata perampok yang pura-pura pingsan. Rose sangat panik, mereka tidak mungkin membiarkan sopir tersebut disana sendirian.


“Mama, aku takut!” ujar Brandon gemetar.


“Sayang, kamu disini ya, Mama Papa mau turun dulu, mau bantuin kakek sopir.”


Brandon anak baik, ia mengangguk lemah. Dengan ditemani suaminya Rose turun melihat kondisi. Namun mereka berlima, bukan hanya orang yang tadi ditengah jalan.


Rose mulai panik, mereka menggunakan senjata tajam. Rose berteriak histeris saat salah seorang perampok tersebut menodongkan senjata tajam ke lehernya.


“Serahkan semua barang-barang kalian!”


Suami Rose berteriak dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh perampok tersebut.


Suami Rose adu jotos dengan preman-preman tersebut, Rose tidak tau jika suaminya lumayan jago dalam berkelahi.


Melihat suaminya berhasil mengalahkan dua preman sekaligus, Rose menginjak kaki preman yang mendekapnya, lalu ia tendang ************ preman tersebut, ia meringis kesakitan.


Preman satunya lagi sedang berkelahi dengan suaminya, tiba-tiba preman yang sedari tadi memegang pak sopir berlari kearah suami Rose dengan pisau ditangannya.


Rose berlari menghampiri suaminya. Dan tiba-tiba.


“Arghhh!!!” Rose menjerit keras, perutnya tertusuk pisau, ia jatuh terjerembab ke aspal.

__ADS_1


Jangan lupa like ya ...


__ADS_2