Perjanjian

Perjanjian
Episode 54


__ADS_3

Setiba di tanah air, Rose ditemani pengacaranya langsung mengurus berkas gugatan perceraiannya ke pengadilan agama.


Tanpa pikir panjang lagi, ia telah bertekad untuk melepaskan ikatan pernikahan yang sudah ia bina yang merupakan satu amanah Tuhan kasih untuknya itu.


Kenyataannya, ia telah gagal melanjutkan bahtera rumah tangganya. Sejak awal, berbagai cobaan datang silih berganti dan kini ia tak bisa lagi memendam berbagai rasa sakit itu. Rose tidak mungkin terus menerus memikul beban itu lebih lama lagi.


“Pak, saya cuma punya waktu sebulan, tolong Anda urus secepatnya ya?” pinta Rose pada pengacaranya.


Rose menginap di hotel bersama Bastian, bahkan untuk pulang ke rumah yang dulu ia tempati bersama Kelvin ia tidak ingin. Hari ini ia ke rumah Martha bersama Brandon, Bastian menolak ikut bersama dengan alasan ia punya urusan lain sebentar di luar sana.


Rose tiba di rumah Martha menggunakan taksi, semua tampak sepi. Biasanya banyak mobil yang berjejer di garasi tapi hari tidak, Rose tetap melangkahkan kakinya masuk ke halaman rumah bak istana itu.


“Mbak,” panggil gadis muda.


“Eh, permisi.” Rose terkejut ia tidak melihat ada orang di halaman depan itu.


“Saya mau ketemu Nyonya Martha, apa beliau ada di rumah?” tanya Rose pada gadis itu.


“Maaf Mbak, semua lagi pada pergi, enggak ada satu pun orang di rumah,” sahut gadis muda.


“Kasihan sekali, padahal saya sangat ingin bertemu Darwin dan juga istrinya,” ujar Rose dengan raut muka sedih.


Gadis itu menyudahi pekerjaannya , ia menyalami Rose dan memperkenalkan dirinya.


“Saya Santi Mbak, pembantu baru di sini. Tapi Mbak Tuan muda tidak tinggal di sinj, ia sudah pindah semenjak menikah, saya tahu di mana alamatnya,” beritahu Santi.


Rose tersenyum mendengarnya. “Tolong antar saya ke sana sebentar, boleh?” tanya Rose. Santi mengangguk tanda setuju.


Asmira turun dari kamarnya ia menuju pintu depan, sudah beberapa kali ia mendengar bunyi bel. Sebelum membuka ia sempat mengintip dibalik tirai jendela.


Matanya terbelalak melihat Santi sama seorang wanita yang tidak dikenalinya, ia bergegas membuka pintu.


“Santi ...” panggil Asmira ketika melihat adik sahabatnya itu.


“Aku udah cari kamu ke mana-mana, kamu di mana selama ini?” tanya Asmira.


Rose memperhatikan keduanya, ia tidak kenal satu pun di antara orang-orang yang berada di depannya kini.


“Saya bertemu dengannya di rumah Tante Martha.” Rose menyela pembicaraan mereka berdua yang melupakan kehadirannya.


“Maaf Mbak, ayo mari masuk,” ajak Asmira.


Santi dengan cekatan membantu Asmira membuatkan minuman untuk Rose.

__ADS_1


“Itu siapa?” tanya Asmira berbisik kepada Santi.


Santi tersenyum. “Saya juga enggak kenal Mbak,” bisik Santi.


Asmira menyuguhkan minuman untuk tamunya itu. “Silakan diminum mbak,” pinta Asmira.


Rose tersenyum manis, ia tengah melihat foto pernikahan Darwin dan Asmira di dinding ruang tengah itu. “Saya Rose.”


“Mbak Rose istrinya Mas Kelvin?” tanya Asmira setelah Rose memperkenalkan dirinya. Rose mengangguk sambil tersenyum.


“Ini pasti Brandon, kan?” Asmira mengelus rambut Brandon dan mencubit gemas pipinya.


Rose mengutarakan tujuannya kemari, ia menceritakan masa lalunya bersama Kelvin dan Darwin saat mereka satu kampus dulu. Hingga ia mengkhianati Darwin dan menikah dengan Kelvin.


“Tapi tujuan utama saya kemari, bukan hanya sekedar untuk menceritakan ini semua Mira.” Rose duduk di samping Asmira dan memeluknya.


Asmira terdiam mendengar semua cerita Rose, dan ia juga merasa nyaman di pelukan istri Kelvin itu.


“Wanita yang digosip bersama Darwin adalah selingkuhan Kelvin, Mira,” Rose tak ingin Asmira berlarut-larut dalam kemarahannya, sementara Darwin tidak melakukan apa pun yang merusak rumah tangganya.


Asmira terkejut mendengarnya. “Jadi anak itu.” Asmira tidak berani melanjutkan kata-katanya.


“Ya, anak hasil hubungan haram mereka berdua,” ujar Rose sembari tersenyum sinis.


Malamnya.


Dentuman keras musik di club tidak membuat Kelvin merasa tenang, pikirannya tetap gelisah dan resah, ia menghubungi Ritha berkali-kali tapi tidak ada jawaban.


Bukan Ritha yang ia khawatirkan tapi anak yang dikandungnya. Banyak wanita-wanita menggodanya tapi tidak ia gubris sama sekali, hasratnya seperti menghilang.


“Hei Brother ...” sapa Bari. Dia adalah pemilik club tersebut. “Udah lama Lo enggak mampir, Darwin juga."


“Biasa soal kerjaan enggak bisa ditinggali,” jawab Kelvin dingin.


“Lo mau jajan, biar gue pilih yang paling segar. Pancing Bari pada Kelvin ia melihat


Kelvin begitu murung.


“Gue lagi enggak mood Bar,” jawab Kelvin.


“Justru itu, biar mood lo bagus, bentar gue panggil ya.” Bari meninggalkan Kelvin sendirian.


“Hai Om ...” sapa seorang wanita.

__ADS_1


Kelvin melihat wanita itu dengan saksama mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala.


“Perkenalkan saya Nindy Om.” Nindy menjulurkan tangannya. Kelvin tidak menjawab, dengan agresif ia duduk di pangkuan Kelvin.


“Om, jangan cemberut dong, ke atas yuk,” ajak Nindy menarik tangan Kelvin pelan menuju lantai atas.


Nindy memulai dengan agresif mencumbu Kelvin tanpa ampun, ia melepaskan semua pakaiannya dan juga semua yang melekat di tubuh Kelvin.


Nafsu Kelvin mulai terpancing dengan perlakuan lihai Nindy, ia mulai membalas cumbuan Nindy ganas, mereka bermain dengan ritme yang begitu indah, saling menikmati seolah-olah itu yang mereka butuh kan, mereka berdua melampiaskan semua hasrat yang terpendam di jiwa masing-masing.


Kelvin terkulai lemas di sebelah Nindy, ia menarik nafasnya dalam-dalam. Benar kata Bari pikirannya sedikit lebih tenang ia sejenak telah melupakan masalahnya.


“Om hebat,” puji Nindy, ia merebahkan tubuhnya di dada bidang Kelvin.


“Kamu baru, ya?” tanya Kelvin.


“Iya, kok tahu?” tanya Nindy balik.


“Ketahuan, Om sering jajan ya, jangan-jangan semua wanita di sini udah pernah Om coba,” sambung Nindy lagi.


“Enak saja kamu tuduh saya, ya enggaklah,” bantah Kelvin.


Keduanya terdiam, jam menunjukkan pukul 01:00 dini hari. Kelvin enggan bangun dari tidurnya, keheningan malam membuat keduanya sama-sama larut dalam pikiran masing-masing, tampak raut wajah-wajah dirundung masalah.


“Apa yang membuat kamu memilih jalan instan untuk cari duit?” tanya Kelvin kemudian setelah lama terdiam.


“Sudahlah Om, panjang ceritanya,” Nindy menolak untuk menceritakan masalah pribadinya.


Kelvin akhirnya bangun ia menggunakan semua pakaiannya yang berhamburan ke mana-mana ia pungut satu persatu. Kelvin menarik uang dalam dompetnya ia berikan untuk Nindy.


“Om antar saya pulang,” pinta Nindy.


Kelvin pun mengiyakan kebetulan jalan pulang mereka searah.


“Belok kiri Om," Nindy menunjukkan arah pada Kelvin, mobil yang membawa mereka berhenti di sebuah rumah besar yang bertuliskan 'Bangun ini milik Bank' Kelvin terpaku, ia mengerti kenapa Nindy melakukan itu, semua orang punya alasan masing-masing ketika berbuat kesalahan, Kelvin tidak membenarkan kesalahan itu. Tapi, terkadang kenyataan yang membenarkan kesalahan itu sendiri.


“Thanks ya Om, udah mau antar saya.” Nindy keluar mobil Kelvin.


Kelvin membuka kaca mobilnya saat Nindy sudah sampai di gerbang rumahnya.


“Hey ... Nama saya Kelvin tolong jangan panggil saya Om, saya tidak setua itu,” pinta Kelvin sedikit berteriak. Nindy tersenyum ia melambaikan tangan kepada Kelvin.


Jangan lupa Like ya...

__ADS_1


__ADS_2