Perjanjian

Perjanjian
Episode 90


__ADS_3

“Darwin yang menyuruh saya untuk pergi keluar negeri, dia memberi segepok uang kepada saya,” ujar Simon berbohong.


Ritha tidak peduli dengan kehadiran Kelvin di sana, ia masuk kamarnya.


“Apa hak dia mengatur hidup kalian?” tanya Kelvin mengerutkan keningnya.


“Dia tidak punya hak, tapi setidaknya ia lebih bertanggung jawab dari pada kamu, ia menyelamatkan nyawa Ritha dan anaknya, bukan seperti kamu yang sama sekali tidak peduli!” ujar Simon.


“Bagaimanapun kalian memisahkan aku dan anakku, dia tetap darah dagingku.”


Setelah mengatakan itu, Kelvin bergegas pergi meninggalkan Simon yang masih berdiri di sana memperhatikannya sampai ia tak terlihat lagi.


“Arghhh!!!”


“Kenapa lo harus laku in ini semua Win, kenapa!!!”


Akhirnya Kelvin memutuskan untuk menemui Darwin. Tapi sudah dua hari ia mendatangi kantornya, ia tak terlihat disana. Karena berbarengan saat Kelvin datang, Darwin sedang ambil cuti.


Namun saat kedatangannya untuk yang ketiga kalinya, Darwin ada dikantornya. Kelvin langsung meluapkan emosi yang sudah la.a terpendam dan tak tertahankan lagi.


FLASHBACK OFF.


* * *


“Jangan gila Vin!” ujar Darwin ketika cerita Kelvin sudah usai.


Darwin menggaruk kepalanya, ia mondar-mandir di depan Kelvin. Pikirannya ikut kacau karena cerita tidak masuk akal yang Kelvin ungkapkan.


“Yang pertama, gue enggak menyuruh Ritha keluar negeri, gue enggak tahu menahu soal dia keluar negeri, oke?” Darwin menarik nafasnya dalam.


Kelvin ingin mengatakan sesuatu, namun Darwin mencegahnya. “No, dengar gue jangan ngomong dulu!”


Kelvin kembali terdiam, sekarang gilirannya untuk mendengar semua penjelasan dari Darwin. Bukan saatnya untuk berkomentar banyak.


“Yang kedua, keluarga gue gak bohongi mama lo. Lo tau? sebaliknya, dia yang mau nipu kita dan Rose. Namun karena pengacara gue ,nerasa dan merasa ada kejanggalan, ia sengaja berikan sertifikat palsu.”


Darwin menarik nafasnya dalam, namun tiba-tiba suara Pratiwi memanggilnya.


“Masuk!”

__ADS_1


“Pak, meeting kita?” tanya Pratiwi.


“Undurkan saja, kalau kliennya komplain, batal in sasaj” ujar Darwin dengan nada tinggi.


Pratiwi segera menghilang dibalik pintu ruang kerja Darwin.


“Oya, tadi sampai mana gue ceritanya?” tanya Darwin, ia memutar otaknya sejenak mengingat cerita yang sempat terputus.


“Dan kesalahan terbesar yang udah mama lo laku in lo tahu apa? Dia yang dulu tukar mbak Jessica dengan bayi orang, dan gue punya bukti kalau lo ingin tahu!” ujar Darwin.


Kelvin terkejut sekaligus merasa malu karena perbuatan orang tuanya yang membuat Marco bertahun-tahun kehilangan anaknya.


“Dan satu lagi, soal om Hardi. Ya, gue mengakui gue yang buat dia bangkrut, tapi lo tahu kenapa? Dia udah buat mbak Jessica kek binatang bukan manusia, dipukul di tendang, enggak dikasih makan dan lain-lain perlakuan biadabnya ke mbak Jessica. Kalau lo di posisi gue apa yang akan lo lakukan?” tanya Darwin menatap serius wajah Kelvin.


Darwin sebenarnya tidak ingin mengatakan apa pun yang nantinya akan membuat Kelvin merasa tersinggung dengan perkataannya. Namun keadaan yang sudah terlanjur kacau, terpaksa Darwin harus menceritakan yang sebenarnya.


“Lo harusnya senang Vin, gue anggap lo sahabat gue, gue hargai lo, gue sengaja main aman, biar persahabatan kita baik-baik saja. Dan soal om Hardi mohon maaf nih, gue enggak bisa tolerir perbuatannya, syukur enggak gue jebloskan penjara dia,” lanjut Darwin.


Darwin merasa lega setelah menjelaskan semua permasalahan yang ada, kesalahpahaman terkadang membuat pikiran rumit dan emosional yang tak terkontrol. Darwin tidak mau ambil risiko, persahabatannya lebih penting dari sekian banyak masalah yang sudah menimpa keduanya.


Namanya hidup, tentu ada pasang surutnya, hari ini boleh orang lain berada di bawah dan tertekan, belum tentu kita tidak akan mengalami hal yang serupa. Begitu pikir Darwin ketika itu.


“Win gue ...”


“Udah, lo santai saja, saham lo aman, lo terus lanjuti kerjaan lo kek biasa. Gue udah tahu mama lo jual saham, makanya gue gerak cepat menyuruh Pratiwi ambil alih,” jelas Darwin.


Kelvin tersenyum mendengar ucapan Darwin, “Thank you Win, lo memang sahabat terbaik gue.”


Keduanya berpelukan, Darwin senang melihat senyum kembali merekah di bibir sahabatnya itu.


“Udah enggak usah lama-lama jijik gue,” ujar Darwin membuat Kelvin tertawa dan melepas pelukannya.


Darwin jauh-jauh hari sudah mengetahui berita tentang Fenita menjual saham perusahaan, karena ia telah menghabiskan uang dari hasil menjual sertifikat palsu.


Setelah mendapat berita dari Rose bahwa itu sertifikat palsu, Darwin menyuruh Pratiwi memantau Fenita.


Tapi Darwin enggan menceritakan yang sebenarnya tentang Fenita, ia menghindari terjadi kekacauan di antara ibu dan anak itu.


“Lo gak usah tanya apa-apa lagi ke orang tua lo,” pinta Darwin.

__ADS_1


“Kenapa, gue penasaran dengar cerita versi dia gimana,” sahut Kelvin.


“Udah, lo percaya sama gue.”


Setelah semuanya selesai, Kelvin pergi. Dan Darwin kembali melanjutkan meeting, karena klien mau berbaik hati menunda meetingnya.


*


“Mas capek banget, ya?” tanya Asmira ketika Darwin menjemputnya.


“Enggak, kata siapa capek?” sahut Darwin balik bertanya.


“Kalian menginap di sini saja,” pinta Martha.


“Ya Win, sekalian aku mau mengobrol sesuatu sama kamu,” ujar Jessica.


Akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di rumah Marco malam itu.


Setelah makan malam, Asmira meminta Marni untuk memijat badannya, rasanya pegal sekali.


“Sayang biar Mas saja yang pijati,” pinta Darwin.


“Enggak usah, kalian mengobrol saja. Maaf ya aku enggak bisa ikut, enggak enak badan nih,” sahut Asmira menolak untuk dipijit Darwin.


Jessica bicara empat mata dengan Darwin, tentunya mengenai acara pernikahannya nanti.


Acaranya akan dilaksanakan awal bulan depan, tinggal menghitung hari acaranya akan segera tiba. Jessica menyusun semuanya jauh-jauh hari, ia ingin semuanya sempurna di hari H nanti.


“Oke, aku setuju semua ide yang mbak usul, mengenai om Valen gimana?” tanya Darwin.


“Jangan Om dong, nanti orang-orang pikir apa coba, ya kali suami Mbak om-om,” sahut Jessica.


Darwin tertawa kecil. “Ya, mas Valen gimana?”


“Mas Valen setuju-setuju saja sih,” sahut Jessica.


“Ini belum aku diskusikan sama mama papa ya, kamu tahu sendiri kan mereka gimana, ribet banget, Mbak pusing,” ujar Jessica.


Darwin kembali tertawa, akhirnya sekarang ia bisa berbagi rasa dengan seseorang. Bagaimana pusingnya Darwin menghadapi sikap kedua orang tuanya. Mereka selalu ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya menurut mereka sendiri. Padahal keduanya tahu, jika hal tersebut tidak membuat anaknya bahagia.

__ADS_1


Jangan lupa like ya....


__ADS_2