Perjanjian

Perjanjian
Episode 49


__ADS_3

3 Hari kemudian.


Hari ini, Ritha mengajak Kelvin untuk periksa kandungannya tapi Kelvin tidak bisa, ia sedang meeting dengan klien. Ritha memutuskan untuk berangkat sendiri ke rumah sakit menggunakan taksi, ia menunggu di pinggir jalan dengan perut yang mulai membuncit.


Darwin pulang kantor, matanya tampak lelah, kerjaan yang menumpuk mengharuskannya untuk kerja keras bersama Tiwi. Darwin melihat Ritha sedang dipinggir jalan dengan perut hamilnya, Darwin menepikan mobilnya.


“Ritha ...” sapa Darwin turun dari mobil.


“Kamu kenapa di sini, apa yang kamu lakukan?” tanya Darwin.


Ritha tersenyum dan berkata. “Aku mau ke rumah sakit, Mas.”


Mata Darwin terhenti di perut buncit Ritha. “Kamu hamil Tha?” tanya Darwin kaget.


Ritha mengelus-elus perutnya. “Ya, Mas,” ia menundukkan kepalanya.


Darwin menggeleng kepala tak percaya. “Anak Kelvin?” tanya Darwin lagi. Ritha mengangguk sambil memegang pinggangnya karena merasa pegal.


Darwin menawarkan tumpangan, awalnya ditolak Ritha, tapi akhirnya ia menyetujui untuk ikut bersama Darwin, tidak ada satu pun taksi yang lewat sudah hampir 30 menit lebih ia menunggu.


Sesampainya mereka di rumah sakit. Darwin memapah Ritha yang kesusahan berjalan karena kakinya keram masuk ke dalam, Semua mata tertuju padanya apalagi berita yang baru-baru ini viral.


Asmira baru selesai menyiapkan makan malam untuk suaminya, kemudian ia tata rapi di meja makan. Sembari menunggu suaminya pulang, ia duduk manis membaca buku dan menonton televisi. Darwin sudah menghubunginya tadi, ia akan segera pulang dan makan malam bersama.


“Informasi terkini, kita baru saja meliput sebuah berita heboh yang sangat menggemparkan, Marcell Darwin Antonio yang baru-baru ini dikabarkan menikah dengan seorang wanita malam, meskipun ia membantahnya, kini kembali kedapatan membawa seorang wanita hamil ke dokter kandungan, wanita tersebut sedang mengandung, apakah itu anaknya?”


Tanpa terasa air mata meleleh di pipinya mendengar berita tersebut bagaikan tercabik-cabik hatinya, rumah tangga yang baru genap 2 bulan mereka jalani bersama, diterpa isu yang begitu memilukan, hatinya hancur berkeping-keping, ia menekan channel lainnya, semua berita tentang suaminya yang membawa seorang wanita ke dokter kandungan. Terlihat dalam video Darwin memapah wanita itu masuk rumah sakit, sementara tangan wanita itu melingkar di pinggangnya.


Baru saja beberapa hari yang lalu mereka menyelesaikan masalah yang menimpa rumah tangga mereka. Kini masalah lainnya datang menghampiri.

__ADS_1


“Wanita tersebut diisukan adalah wanita pilihan Marco Antonio anak rekan kerjanya Simon. Tapi Darwin menolaknya dan baru-baru ini ia melangsungkan pernikahan dengan wanita lain, tapi diam-diam ia menghamili wanita tersebut, sungguh di luar dugaan seorang Marcell Darwin Antonio mempunyai sisi kelam seperti itu.”


Asmira berlari ke kamarnya, ia mengunci pintunya, ia menangis tersedu-sedu. “Harapan aku satu-satunya kamu, cuma kamu yang aku punya sekarang, mbak Jessica enggak peduli lagi padaku, Mas,” gumam Asmira dalam Isak tangisnya.


Pohon rumah tangga Asmira yang baru sebiji jagung kini diterpa badai dahsyat. “Andai saja kamu pria biasa Mas, aku lelah begini, apa saja yang kita lakukan jadi sorotan publik,” gumam ia dalam hati.


Marco tersenyum mendengar berita yang sedang tayang di televisi.


“Itu enggak mungkin.” Martha menggeleng kepalanya berkali-kali.


“Anakku tidak akan melakukan hal sekeji ini,” ucap Martha meneteskan air mata.


Marco memperhatikan istrinya. “Apa maksud Mama enggak mungkin, itu lihat Ritha begitu mesra dengan Darwin, dari awal aku tidak menyetujui pernikahan Asmira dengannya, Ritha adalah pilihanku.” Marco dengan bangga memuji Ritha di hadapan Martha, membuat istrinya muak dengan kelakuannya itu.


Setelah mengantar Ritha pulang, Darwin segera meluncurkan mobil menuju rumahnya, istri tercinta pasti sedang menunggu kepulangannya di rumah.


Sesampainya di rumah berkali-kali ia memanggil sang istri tapi tidak ada yang menyahuti, hanya televisi yang dibiarkan menyala, dan buku yang berserakan. Mata Darwin melotot saat melihat video dirinya dan Ritha beredar.


Darwin menggedor-gedor pintu kamar Asmira. “Sayang buka pintunya, biar aku jelaskan semua ...” pinta Darwin berulang kali.


Terdengar suara tangisan Asmira yang tersedu-sedu. Darwin mengetuk pintu berulang-ulang. “Sayang percaya padaku, biar aku jelaskan semua, jangan mudah percaya dengan berita yang beredar, itu hanya akan membuatmu sakit!” ujar Darwin sedikit berteriak. Asmira tetap tidak membukakan pintu.


Darwin menggaruk kepalanya yang terasa gatal.


“Sayang please ... hanya sekecil ini kepercayaan dan cintamu untukku?” tanya Darwin hampir putus asa.


Darwin menuju meja makan, selera makannya hilang tapi ia tetap menghabiskan makanan buatan istrinya itu. Asmira tetap tidak mau membuka pintu meskipun berulang kali Darwin memanggilnya.


Darwin menahan rasa kesal, ia menggigit bibir bawahnya, ia meraih handphone genggamnya ia menghubungi Pratiwi.

__ADS_1


“Putuskan semua proyek dengan channel televisi!” titah Darwin.


Pratiwi terkejut mendengar perintah bosnya. “Semua proyek besar Pak?” tanya Tiwi. Darwin memutuskan telepon sepihak, ia tidak pernah main-main dalam setiap ucapannya. Malam itu Darwin terpaksa harus tidur di sofa.


Sementara Kelvin, ia langsung menghubungi Ritha setelah mendengar berita yang beredar di televisi. Ia terkejut sekaligus kesal dengan berita itu.


“Kenapa kamu enggak bilang Darwin yang dijodohkan oleh papamu!” tanya Kelvin dengan nada tinggi. Ritha tidak menjawab.


“Jawab!” bentak Kelvin.


“Aku enggak terima perjodohan itu Mas, aku hanya pura-pura menerimanya di depan papa, Darwin juga dengan tegas menolakku, Mas,” jawab Ritha.


Kelvin tersenyum mendengar ucapan Ritha, mana mungkin ia mau dengan Ritha, wanita itu sudah jadi simpanannya, ia ingat betul ketika Darwin menanyakan Ritha padanya, ternyata sahabatnya itu punya tujuannya sendiri.


Pagi-pagi aroma masakan buatan Asmira tercium di hidung Darwin membuatnya terbangun, ia membuka matanya dan segera bangun.


Darwin melihat istrinya sedang sibuk mempersiapkan sarapan pagi untuk mereka berdua, ia peluk istrinya dari belakang meskipun tak ada tanggapan dari Asmira.


“Sayang, aku enggak ...” Darwin mencoba mengatakan sesuatu.


“Mandi sana ...” Asmira memotong omongan yang keluar dari mulut Darwin.


Darwin tidak berani komentar apa pun lagi, ia segera mandi dan berpakaian rapi. Setelah selesai ia segera turun untuk sarapan bersama sang istri, ia juga berharap ada celah untuk dirinya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Ketika sarapan Asmira hanya diam saja, ia bahkan tidak mau menatap wajah Darwin yang berhadapan dengannya. Darwin merasa canggung dengan sikap Asmira yang dingin terhadapnya. Ia ingin sekali libur kerja, tapi kerjaan yang menumpuk sudah menunggunya.


“Sayang aku berangkat kerja ya ...” Darwin mencium mesra kening Asmira.


Diam-diam Marco menatap mereka dari kejauhan, setelah menunggu Darwin pergi, ia segera masuk ke rumah Asmira.

__ADS_1


Jangan lupa like ya...


__ADS_2