Perjanjian

Perjanjian
Episode 8


__ADS_3

Tiba di rumah Kelvin, keluar seorang wanita dan anak kecil yang membukakan pintu.


“Papi!” panggil Brandon berlari memeluk Kelvin yang baru turun dari mobil.


“Hai, ganteng,” sapa Darwin.


“Hai juga, Om,” balas Brandon yang langsung memeluk Papinya.


“Masuk dulu, Win,” ajak Rose istrinya Kelvin.


“Lain kali saja Rose, gue buru-buru ada janji,” tolak Darwin.


“Mmm, ada yang lagi kasmaran, nih,” ledek Kelvin.


“Gue balik dulu, ada urusan, enggak ada waktu bercanda,” kata Darwin, matanya membulat ke arah Kelvin. sontak membuat Kelvin tertawa terbahak-bahak.


“Hati-hati, Win, kapan-kapan bawa calon lu kemari, ya?” pinta Rose.


Darwin hanya tersenyum, lalu bergegas pergi meninggalkan rumah Kelvin menuju rumah Asmira.


••••


“Langsung gue antar pulang, atau lu mau ke mana lagi, nih?” tanya Bastian.


Mereka baru saja selesai nonton film tayang perdana itu.


“Enggak usah di antar Bas, gue bisa pulang sendiri,” jawab Asmira.


“Jangan gitu dong, tadi gue jemput sekarang ya harus gue antar pulang,” ujar Bastian.


“Enggak apa-apa, lu balik, gih,” jawab Asmira.


“Gue paksa, nih,” ucap Bastian.


“Ya udah,” jawab Asmira mengalah.


Setelah tiba di rumah Asmira.


“Besok gue balik ke Jepang, lu baik-baik ya, gue titip salam buat mbak Jessica,” pinta Bastian.


“Pasti Bastian, lu juga baik-baik di sana,” jawab Asmira.


Setelah berpamitan, Bastian pun pergi dengan mobil putih Kelvin meninggalkan rumah Asmira, setelah sekian lama baru bertemu kembali, besok mereka akan berpisah lagi.


•••••


Darwin tiba di rumah Asmira, jam menunjukkan pukul 07:00 malam. Asmira sedang di kamar mandi membersihkan make-up di wajahnya, setelah itu ia mandi. Tubuhnya terasa lengket setelah seharian di luar rumah.


Darwin berulang kali menggedor pintu tapi tidak ada yang menyahut, ia pun menelepon Asmira .


“Halo Mas, aku baru saja siap mandi Mas udah OTW?” tanya Asmira.


“Aku di depan rumahmu,” jawab Darwin.


“Bentar ya, aku siap-siap dulu terus kita berangkat.” Asmira bergegas memakai baju tidak lupa make-up tipis, ia meraih tasnya dan keluar menemui Darwin.


“Udah siap?” tanya Darwin.

__ADS_1


“Udah Mas, ayo kita berangkat,” ajak Asmira.


Sebentar saja mobil yang dikendarai Darwin keluar dari area rumah Asmira, kemudian segera memasuki deretan apartemen dan kompleks perumahan mewah tempat Darwin tinggal.


“Ayo turun,” Darwin membuka pintu mobil untuk Asmira.


“Pantes kemarin Mas tahu arah rumahku, ya, padahal rumah Mas daerah sini juga,” ucap Asmira, Darwin hanya tersenyum.


Mereka masuk ke apartemen Darwin, mewah dan rapi sekali, jiwa miskin Asmira bergetar. Matanya menelusuri semua isi ruangan itu ia berdecap kagum.


Asmira menghempaskan tubuhnya di atas sofa. “Ya ampun, sofanya lebih empuk daripada kasur gue,” gumam Asmira.


Asmira berkeliling diruang tamu sambil menunggu Darwin mandi. Selesai mandi dan ganti pakaian, Darwin keluar menemui Asmira.


“Ayo ke dapur,” ajak Darwin.


"Mau di masak in apa, Mas?" tanya Asmira.


“Masak apa saja bakalan aku makan,” jawab Darwin.


“Ih, serius Mas?” tanya Asmira, ia membuka kulkas dan melihat bahan makanan apa saja yang ada untuk dimasak.


“Nasi goreng seafood," ucap Darwin.


Asmira mempersiapkan semua bahan-bahan ia mengupas sedikit udang lalu diberi perasan jeruk nipis dan garam, ia mulai menumis bumbu halus hingga harum. Lalu ia masukkan udang diaduk-aduk sebentar, kecap, saus tiram dan nasi yang telah ia dinginkan, terakhir taburan daun bawang dan seledri yang telah dicincang halus, selesai dan siap dihidangkan.


Asmira cuma butuh waktu berapa menit saja, memasak sudah menjadi hal biasa untuknya.


Asmira menghampiri Darwin yang asyik mengotak-atik laptop di meja makan.


Darwin tersenyum melihat tingkah Asmira barusan, ia suka dengan pelayanan Asmira calon istri idaman menurutnya. Darwin mulai makan.


“Enak Mas, kok enggak kasih komentar, sih?” tanya Asmira.


“Lagi makan enggak boleh mengobrol,” jawab Darwin.


Darwin menghabiskan sepiring nasi goreng buatan Asmira, menurutnya itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan Asmira tadi. Asmira tersenyum senang, melihat Darwin menghabiskan masakan buatannya.


Selesai makan Darwin mengajak Asmira duduk di ruang televisi.


“Mas, orang tuamu mana?” tanya Asmira.


“Aku tinggal sendirian,” jawab Darwin.


“Innanilah, maaf Mas aku enggak bermaksud buat kamu sedih,” jawab Asmira.


“Mereka belum meninggal, kamu ini,” jawab Darwin, ia mencubit pipi Asmira.


“Terus kenapa kamu tinggal sendiri, aku kirai uda meninggal Mas,” kata Asmira.


“Jadi laki-laki harus mandiri dong,” balas Darwin.


“Terus pembantu Mas?” tanya Asmira, “Terus yang bersih-bersih semua ini siapa, rapi begini,” sambung Asmira sembari tangannya menunjuk ke seluruh ruangan.


“Pembantu rumah mama datang seminggu sekali,” jawab Darwin matanya terus menatap wajah Asmira.


“Mas antar aku pulang, yuk?” ajak Asmira.

__ADS_1


“Bentar lagi,” jawab Darwin.


“Tapi ini udah jam berapa, nanti kemalaman Mas,” sahut Asmira.


“Ya udah tidur di sini saja, itu ada kamar.” Darwin menunjukkan sebuah kamar.


“Enggak mau, maunya pulang,” rengek Asmira.


Darwin sangat gemas melihat tingkah Asmira, tangannya mencubit pipi Asmira.


“Ya udah, ayo.” Darwin meraih kunci mobilnya yang tergeletak di meja. Mobil Darwin meluncur pelan menuju rumah Asmira.


“Terima kasih sayang udah masak in makanan buat aku.” Darwin mengelus pipi Asmira.


Asmira tersipu malu, ia menahan senyumnya


“Mas apaan, sih?” jawabnya sambil mencubit lengan Darwin.


Tiba di rumah Asmira Darwin menarik tangan Asmira mencegah ia turun.


“Ada apa, Mas?” tanya Asmira.


Darwin menarik Asmira hingga wajah mereka berhadapan dengan pandangan mata saling beradu, jantung keduanya berdegup kencang, Darwin mencium bibir Asmira sesaat, tidak ada penolakan, Asmira memejamkan matanya.


Darwin mencium lagi bibir Asmira, tangannya mengelus-elus leher belakang Asmira, Asmira merasa geli nafasnya memburu, ia mulai membalas ciuman Darwin bibir mereka beradu, ciuman mereka semakin cepat dan nafas keduanya semakin memburu, Asmira melepas ciumannya.


Tidak ada kata, hanya pandangan yang saling beradu, keduanya berciuman lagi jauh lebih hot dari yang pertama, hingga menciptakan suara-suara aneh.


Setelah ciuman mereka terlepas. “Maaf aku terbawa suasana,” ucap Darwin pelan. Matanya terus menatap Asmira.


Asmira hanya terdiam, ia membuang pandangannya ke bawah. Darwin menarik dagu Asmira, pandangan keduanya beradu kembali, Darwin mencium kening Asmira kedua pipi dan dagu, Asmira Hanya memejamkan matanya mendapat perlakuan dari Darwin yang begitu lembut.


“Besok antar makan siang ke kantor aku, ya,” kata Darwin setengah berbisik. Asmira hanya mengangguk. Darwin memberikan password apartemennya.


“Kamu masak di apartemen saja, ya?” Tangannya menyentuh pipi Asmira sesekali mengelus-elus lembut.


“Kamu masuk, gih, jangan lupa kunci pintu, ya.” Darwin mencium bibir Asmira sebentar dan melepasnya.


Asmira keluar dari mobil melangkah ke halaman rumahnya. Darwin menyusulnya lagi di belakang dan memeluk Asmira lagi


“Mas pulang sana.”Asmira membalikkan badannya.


“I love you,” ucap Darwin menatap Asmira.


Asmira kaget mendengar ucapan Darwin.


Darwin ******* lagi bibir Asmira tangannya masih memeluk tubuh mungil itu.


“Aku pulang, ya.” Darwin melepaskan pelukan dan masuk ke mobilnya ia segera menuju apartemennya.


Asmira masih terpaku dengan wajah seakan ia tak percaya apa yang barusan ia dengar, jantungnya berdegup kencang, sedari awal perjumpaan mereka di club malam. Asmira telah menaruh hati pada Darwin, namun ia tak menyangka pria ganteng itu juga suka padanya.


Asmira senyum-senyum sendiri ia rebahkan tubuhnya di ranjang dengan pikiran melayang, rasanya begitu rileks sehingga tidak butuh waktu lama ia terlelap dengan mimpi indahnya.


Jangan lupa Like, terima kasih ...


Baca novel A BIG MISTAKE juga..

__ADS_1


__ADS_2