
Setelah kejadian di club malam kemarin, Asmira jera cari kerja melalui ponselnya, ia takut terjadi penipuan semacam itu lagi.
Sudah tiga hari ini Asmira terus mencari lowongan pekerjaan, setiap tempat yang ia datangi belum ada yang mau menerimanya. Apalagi Asmira menggunakan ijazah SMA tentu saja tidak mudah.
Asmira tiba di depan sebuah gedung bangunan yang sangat besar dan megah. Kepalanya menengadah ke atas, menatap gedung yang menjulang tinggi itu.
Pratiwi dan Darwin baru selesai meeting dengan klien, mereka turun dari mobil melangkah masuk ke gedung itu, yang tak lain adalah kantornya sendiri.
Asmira yang melihat Darwin dari kejauhan memanggil namanya dengan sedikit berteriak.
“Mas!” panggil Asmira berlari kecil.
Darwin dan Pratiwi berhenti dan mendengar dari mana arah panggilan itu.
“Mas, di sini juga?” tanya Asmira.
“Iya, lu ngapain di sini?” tanya Darwin balik.
“Enggak Mas, aku kebetulan lewat, aku lihat Mas di sini,” jawab Asmira.
“Mas kerja di sini ya. Wah hebat, apa jabatan, Mas?” sambung Asmira dengan pertanyaan lainnya.
Pratiwi ingin memberitahu bahwa Darwin adalah pemimpin perusahaan itu, tapi sang direktur mencegahnya dengan memberi isyarat diam.
“Kenalkan ini Pratiwi,” pinta Darwin pada Asmira.
“Halo Mbak, aku Asmira.” Asmira menjabat tangan Tiwi.
“Mbak ini siapanya, Mas?” tanya Asmira to the point.
“Rekan kerja,” jawab Darwin singkat.
“Alhamdulillah.” Asmira tersenyum manis.
“Kenapa Alhamdulillah?” tanya Tiwi.
“Aku kira Mbak pacar atau gebetan Mas Marcell, hilang deh kesempatan buatku,” jawab Asmira santai, Tiwi yang mendengarnya langsung tertawa.
Darwin menggaruk kepalanya melihat tingkah Asmira. “Tiwi kamu silakan kembali bekerja,” perintah Darwin. Tiwi bergegas pergi.
“Mas bantu aku minta kerjaan sama bos Mas dong, jadi OB pun enggak apa-apa Mas?” pinta Asmira.
“Makan, yuk,” ajak Darwin.
“Mas, aku lagi ...” Saat Asmira sedang ingin mengatakan sesuatu. Darwin langsung menyela pembicaraan Asmira.
__ADS_1
“Nanti kita bahas di sana.” Darwin menarik tangan Asmira dan membukakan pintu mobilnya.
Darwin melaju dengan kecepatan sedang menuju sebuah restoran makan yang pernah ia datangi bersama Asmira malam itu.
“Mas ini tempat malam itu, kita makan, ya?” tanya Asmira ketika mereka tiba di sebuah restoran.
“Iya. Gue suka liat lu makan gitu,” sahut Darwin, lalu ia memarkir mobilnya.
“Terus Mas mengajak aku kesini cuma buat liat aku makan doang?” tanya Asmira lagi.
Darwin mendekatkan wajahnya pada Asmira, hidung mereka hampir bersentuhan.
“Iya.” jawab Darwin singkat dan keluar dari mobil.
Asmira terkejut setengah mati dengan posisi barusan, jantungnya berdegup kencang. Ia mengira Darwin akan menciumnya.
Tiba di dalam restoran, Darwin mengajak Asmira duduk di pojokkan agar tidak terlalu jadi pusat perhatian banyak orang.
Darwin memesan makanan dan minuman yang sama persis seperti malam itu.
Sesaat kemudian pesanan pun datang, tanpa basa-basi Asmira langsung makan.
Darwin memperhatikan tingkah wanita itu dengan mencuri-curi pandang. Sesekali ia tersenyum geli.
Selesai makan dan bayar Darwin tanya, “Mau dibungkus?”
“Ayo gue antar pulang,” ajak Darwin. Tangannya meraih tangan Asmira dan menggandengnya keluar.
Dalam perjalanan mereka berdua diam, tak saling bicara. Hanya pandangan yang saling beradu. Sesekali mereka saling melempar senyum manis. Hingga tiba di rumah Asmira.
“Mas enggak mampir dulu?” ajak Asmira.
“Boleh, gue juga lagi enggak sibuk,” angguk Darwin.
Darwin masuk setelah Asmira mempersilahkannya, rumah yang ukurannya lebih kecil dari kamar mandinya itu. Matanya terhenti di sebuah lukisan cantik.
“Itu lukisan kakakku, Mas,” beritahu Asmira.
Darwin memperhatikan lukisan indah itu, seperti lukisan profesional, bukan lukisan biasa. Makna yang terkandung di dalamnya sangat Alamiah, lukisan dua wanita yang terjerat dalam kepedihan dengan seorang ibu yang berada di kejauhan seperti sudah berbeda alam.
“Mas, kenapa bengong,” panggil Asmira.
“Kakak lu mana?” tanya Darwin.
“Di rumah suaminya, ini lukisan dulu sebelum ia menikah,” jawab Asmira.
__ADS_1
“Oh,” jawab Darwin membulatkan bibirnya.
“Mas aku enggak punya sofa, duduk dikamarku saja, yuk?” ajak Asmira.
Darwin mengikuti Asmira masuk ruang yang pengap dan kecil itu, tapi bersih dan rapi.
“Orang tua lu mana?” tanya Darwin.
“Udah meninggal Mas,” jawab Asmira.
“Sorry, gue enggak bermaksud buat lu jadi sedih.” Darwin merasa bersalah.
"Enggak apa-apa kok mas, udah terbiasa, mau nangis pun seakan air mata udah kering,” jawab Asmira tersenyum.
Darwin memperhatikan Asmira, pantas saja Asmira melakukan pekerjaan itu, hidupnya tidak baik-baik saja. Rasanya, Darwin semakin penasaran dengan wanita satu ini. Begitu batin Darwin.
“Lukisan itu kenapa enggak dijual, itu bisa mahal banget, loh,” ujar Darwin.
“Masih banyak Mas di rumah aku yang dulu, kapan-kapan aku ajak Mas ke sana kalau Mas mau, sih,” jawab Asmira.
“Terus kenapa kalian pindah ke sini?” tanya Darwin.
“Dulu, aku sama mbak Jessica pergi dari rumah itu karena enggak sanggup hadapi tiap hari ada saja yang datang menagih hutang. Lalu kami memutuskan untuk pindah kemari,” cerita Asmira sedih.
Baru pertama kali Asmira menceritakan masalah pribadi kepada orang lain, selain dua sahabatnya.
“Rumah itu kami biarkan begitu saja, dulu kalo dijual mungkin laku. Tapi, mbak Jessica enggak mau, banyak kenangan masa kecil kami di sana,” ujar Asmira. Matanya mulai berkaca-kaca.
Darwin semakin penasaran dengan wanita ini serasa ia ingin tahu semua tentang masa lalunya, entah mengapa hatinya semakin tersentuh dengan Asmira.
Darwin meraih tubuh Asmira dan membenamkan wajah cantik itu di pelukannya. Asmira merasakan kehangatan tubuh pria ganteng itu. Darwin mengelus pelan rambut Asmira dan menyentuh pipinya lembut, Asmira memejamkan matanya.
“Mas, jangan begini,” ucap Asmira setengah berbisik.
Asmira menengadah wajahnya menatap mata Darwin dalam, pria tampan itu mengelus lembut bibir bawah Asmira, Asmira memejamkan matanya. Lalu Darwin mendekatkan wajahnya dan ******* bibir Asmira sesaat, melepasnya pelan, pandangan mereka beradu.
* * *
Darwin mengenang kejadian kejadian hari itu, hatinya tak tenang, pikirannya melayang, hanya wanita itu yang terlintas di pikirannya. Berulang kali ia coba tepis pikiran konyolnya, tapi gagal.
Pesona Asmira, matanya yang indah dengan bulu mata yang lentik, bibirnya yang mungil, dengan semua kesempurnaan yang Asmira miliki telah membuat Darwin jatuh hati, begitu cepat dari yang ia bayangkan.
Semua wanita yang ia lihat seakan-akan Asmira dimatanya, pikirannya melayang mata dan hatinya penuh dengan Asmira, Asmira dan hanya Asmira.
Darwin menarik nafas dalam-dalam, ia menenangkan pikirannya yang lagi kacau, Darwin bolak balik di ruang kerjanya, sesekali menatap keluar dari jendela, beginikah rasanya jatuh cinta pikirnya.
__ADS_1
Jangan lupa klik Like ya ...
Baca novel A BIG MISTAKE juga ya?