Perjanjian

Perjanjian
Episode 83


__ADS_3

Martha sangat panik ketika Sara memberitahukan Asmira masuk rumah sakit. Tanpa sepengetahuannya mereka telah pergi ke rumah sakit secara diam-diam.


Martha menghubungi Darwin, ia geram dengan sikap anak-anaknya yang tidak memberitahunya kabar tentang Asmira.


“Halo Ma,” sapa Darwin.


“Bagaimana keadaan Lestari sayang, kenapa kalian enggak beritahu Mama, janinnya baik-baik saja, kan?” tanya Martha.


“Ma, tanyanya satu-satu dong,” sahut Darwin.


Martha menarik nafasnya dalam-dalam. “Habisnya Mama kesal, kenapa kalian enggak kasih tahu Mama,” ujar Martha setelah agak sedikit tenang.


“Lestari baik-baik saja Ma, tadi cuma salah minum saja. Janinnya masih sehat Alhamdulillah,” jelas Darwin.


Martha lega mendengar menantu dan calon cucunya baik-baik saja. Tadi Martha begitu panik, setelah mendengar semuanya baik-baik saja, Martha begitu bahagia.


“Eh, eh, tunggu dulu, maksud kamu salah minum?” tanya Martha penasaran.


“Lestari cerita, ada seorang pembantu yang memberinya minuman, Tari enggak tahu minuman tersebut mengandung alkohol,” cerita Darwin.


“Pembantu?” ulang Martha penasaran.


“Ya Ma,” sahut Darwin. “Nanti kita selidiki siapa yang berani melakukannya,” sambung Darwin.


“Sayang, Mama mau ke sana ya?” tanya Martha.


“Jangan Ma, ini udah malam, mama istirahat saja, lagian besok Tari udah boleh pulang,” cegah Darwin.


“Ya udah, kalian baik-baik ya, kalo ada apa-apa hubungi Mama,” pinta Martha.


Setelah memutuskan telepon, Martha sudah tenang, ia telah mengetahui bahwa Asmira baik-baik saja. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya, bagaimana bisa Asmira minum alkohol. Sedangkan, tidak tersedia minuman yang beralkohol di pesta malam ini.


“Marni!” panggil Martha.


“Ada apa Buk Nyonya?” tanya Marni.


“Kumpulin semua pembantu, ada yang mau saya bicarakan. Segera!” pinta Martha dengan aura wajah yang menakutkan. Tanpa menunggu besok, ia langsung ambil alih untuk menyelidiki sendiri.


Dengan tergopoh-gopoh Marni berlari menuju dapur, ia ajak semua pembantu rumah itu berkumpul seperti permintaan majikannya. Meski penasaran, mereka tidak berani menanyakan ada hal apa yang membuat mereka di panggil oleh majikan.


“Sudah Buk,” beritahu Marni.

__ADS_1


“Oke, ini untuk semua pembantu di rumah ini, kecuali kamu Marni,” ujar Martha.


Semua tampak ketar-ketir dengan Martha. Ia jarang bicara, apalagi mengajak semuanya berkumpul. Tidak biasanya ia seperti itu, tentu ada hal yang sangat penting.


“Baik, tujuan saya memanggil kalian kemari. Karena ada salah satu di antara kalian, yang telah membuat menantu dan calon cucu saya hampir terancam nyawanya,” ujar Martha tegas.


Semuanya tampak memandang satu sama lainnya, mereka berbisik-bisik saling bertanya dan beradu pandang. Namun tiba-tiba salah seorang di antara mereka mengangkat tangannya.


“Ya kamu, ada yang ingin kamu bicarakan?” tanya Martha menatap tajam kepada wanita muda di hadapannya.


“Maaf sebelumnya Nyonya, tadi istri tuan muda meminta kepada saya segelas minuman. Namun saat saya kembali, beliau sudah tidak saya temukan lagi,” jelas wanita itu gemetar.


“Kamu tahu akibatnya jika berbohong, kan?” tanya Martha dengan sedikit mengancam.


Wanita itu mengangguk pelan. “Saya tidak mungkin berani macam-macam Nyonya,” sahut wanita itu kemudian.


Tiba-tiba salah seorang pembantu lainnya mendekati Martha, ia baru saja dari kamar mandi. Saat Marni mengajak semuanya berkumpul ia tidak tahu. Ia menghampiri Martha dengan wajah pucat karena ketakutan. “Maafkan saya Nyonya,” ucap wanita itu.


“Ada apa?” tanya Martha.


“Maafkan keteledoran saya,” ucapnya lagi.


“Maksud kamu apa, to the point aja, jangan bertele-tele saya tidak suka,” hardik Martha tidak senang.


“Tadi ada seorang wanita yang menyuruh saya memberikan segelas minuman kepada istri tuan muda,” ujar wanita itu terbata-bata.


Martha terkejut mendengarnya. “Kamu kenal wanita itu?” tanya Martha. pembantunya menggeleng kepala.


“Jika kamu tidak mengenalinya, kenapa kamu memenuhi permintaannya!” tanya Martha mulai murka.


pembantunya terkejut karena bentakan Martha yang keras di telinganya. “Maafkan saya Nyonya, seharusnya saya lebih teliti,” ucap wanita itu menundukkan kepalanya.


“Untung saja, cucu saya masih baik-baik saja, kalau tidak kamu sudah saya pecat,” ujar Martha menahan amarahnya.


“Kamu saya hukum karena telah lalai dalam bekerja,” sambung Martha lagi.


Setelah Martha membubarkan para pembantunya, ia menghampiri Marco yang masih menjamu rekan kerjanya dulu. Marco sangat gembira bisa bernostalgia dengan rekan bisnisnya lagi.


“Mama ke mana saja, sih?” tanya Marco berbisik ditelinga Martha. Martha hanya membalasnya dengan senyuman.


Malam semakin larut, tamu satu persatu sudah beranjak pulang. Martha masuk ke kamarnya terlebih dahulu, ia tidak sabar ingin memeriksa Cctv di kamarnya.

__ADS_1


Dengan penasaran Martha memutar ulang menit demi menit. Ia tidak berkedip menatap layar monitor di hadapannya. Marco masuk ke kamar, dengan jas ditangannya yang telah ia lepas.


“Mama kenapa sih?” tanya Marco mendekati istrinya. Martha tidak menjawab.


“Ma!” teriak Marco. Martha menoleh sebentar, lalu ia menatap lagi monitor di depannya.


“Papa apa-apaan sih teriak-teriak, aneh,” sahut Martha cuek.


Karena sebal, Marco mencubit lengan Martha. “Sakit, Pa!” teriak Martha.


“Biar saja, apa perlu Papa jewer kuping Mama biar dengar kalau Papa lagi tanya?” Marco berkacak pinggang.


Martha mendengus pelan. “Papa pikir Mama anak kecil apa,” sahut Martha sewot.


“Habisnya, salah sendiri, kan?” keduanya saling adu mulut.


Martha sangat terkejut, melihat Nindy sahabat Asmira yang memanggil seorang pembantu dan menyuruhnya untuk memberikan minuman kepada Asmira. Lebih terkejutnya lagi, ia memasukkan alkohol ke dalam gelas tersebut.


“Mama liat apa, sih?” tanya Marco mendekati layar monitor.


“Astaghfirullah ....” Martha menutup mulut dengan tangannya.


Martha menceritakan yang sebenarnya, daripada penasaran Marco semakin berkelanjutan. Marco sangat murka mengetahui yang sebenarnya.


“Kita lapor polisi!” ucap Marco tegas,


“Pokoknya besok kita bawa barang bukti ke kantor polisi,” sambung Marco berapi-api.


“Pa ... Papa tenang dulu dong. Kita tanyakan Darwin dulu, kita enggak boleh bertindak gegabah,” ujar Martha. Ia mencoba mencairkan suasana.


“Mama gimana sih, ini kriminal namanya,” ujar Marco bangkit dari duduknya.


Martha semakin panik melihat Marco yang begitu murka. “Pa ... tarik nafas dulu, besok kita pikirkan sama-sama. Ingat kesehatan papa.” Martha mengelus-elus dada suaminya.


Nafas Marco sudah memburu, untung saja ia masih bisa berpikir logis. Jika tidak, ia bisa saja mendatangi kantor polisi malam itu juga. Marco jika sedang marah, ia tampak seperti singa yang sedang mengamuk. Martha tahu betul sifat keras kepala suaminya.


“Kita istirahat dulu, besok kita pikirkan sama-sama jalan keluarnya ya?” bujuk Martha. Marco mengangguk lemah, Martha menyelimuti tubuh suaminya itu.


“Alhamdulillah Papa udah tenang,” gumam Martha.


Martha ingin sekali menghubungi Darwin dan memberi tahu siapa dalang sebenarnya. Namun ia urungkan niatnya, ia tidak mau hal yang terjadi pada Marco barusan terjadi pada Darwin. Anak dan ayah mempunyai perangai yang tidak jauh berbeda.

__ADS_1


Jangan lupa like ya...


__ADS_2