
Nindy terpaku, ia ingin membalas pelukan Asmira. Tapi, apa boleh buat, hati dan pikirannya masih tidak sekata.
Marco menarik tangan Asmira. “Kamu apa-apaan sih Tari?”
“Biar Pa! biar Nindy tahu, aku enggak pernah benci dia. Sekalipun ia hampir mencelakakan aku dan anakku!” ujar Asmira lantang.
Asmira menarik nafasnya dalam-dalam, ia hembuskan dengan kasar.
“Aku hanya ingin mendengarkan langsung dari mulutnya, kenapa ia begitu membenciku,” sambung Asmira lagi.
Nindy masih mematung, dengan berbagai pikiran muncul di benaknya.
“Aku benci kamu Mira!” lirih Nindy.
“Aku benci, kamu selalu selangkah di depanku!” teriak Nindy menatap Asmira tajam.
Asmira terkejut dengan ucapan Nindy yang begitu tajam, dengan sorot mata yang menampakkan kejujuran. Asmira tidak ingin berkomentar, ia masih menunggu Nindy keluarkan semua isi hatinya.
“Dulu, semua pria menyukaimu, bahkan aku lebih cantik. Tapi tidak ada satu pun yang melirikku. Kamu lebih segalanya Mira!” teriak Nindy seperti orang kesetanan.
Santi mendekat, namun Asmira memberikan isyarat biar saja dia keluarkan semua unek-uneknya.
“Aku mencintai Bastian, tapi dia mencintai kamu. Dan kini, saat aku mencintai Kelvin kakaknya Bastian, dia menyukai mbak Jessica. Aku benci kalian berdua!” teriak Nindy, ia menangis tersedu-sedu.
“Kamu itu miskin, enggak ada teman perempuan yang mau berteman denganmu. Cuma aku satu-satunya yang mau berteman denganmu, tapi kamu tega merebut semuanya dariku!” sambung Nindy masih berapi-api.
Asmira memeluk Nindy, meski Nindy mencoba melepaskan pelukan itu. Asmira tetap merangkulnya erat.
“Jebloskan aku ke penjara Mira, biar saja aku mendekam di sana. Percuma Mira aku di sini, enggak ada satu pun yang peduli.” Nindy menangis pilu di pelukan Asmira.
Asmira membelai lembut rambut Nindy, ia usap penuh kasih. Perlahan air mata jatuh berlinang di pipinya.
“Terkadang, harapan tidak seindah kenyataan Nin. Tapi percayalah, Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan hamba itu sendiri.” lirih Asmira.
Asmira menarik nafasnya, ia menyeka air matanya. “Enggak akan Nin, aku enggak akan pernah menjebloskanmu ke penjara. Enggak akan!” ujar Asmira.
Marco sangat geram mendengar ucapan Asmira. “Maksudmu apa Lestari? Kamu membiarkan pembunuh ini berkeliaran begitu saja?”
“Pa! aku mohon, dia sahabat aku.”
“Lestari, dia saja enggak menganggapmu temannya,” ujar Marco.
“Pa udah dong!” Martha ikut berkomentar.
__ADS_1
“Dia begitu karena dia enggak tahu yang sebenarnya Pa, andai saja dia tahu gimana pahitnya hidup aku, mungkin dia enggak akan begini,” ujar Asmira dengan suara tertahan.
Nindy menatap Asmira, tapi Asmira membuang pandangannya ke samping. “Aku pamit pulang ya Santi, kalau ada apa-apa hubungi aku.”
Tanpa menoleh, Asmira berkata kepada Nindy. “Aku masih sahabatmu, Nin.”
Asmira mengajak Darwin pulang, Marco tidak bisa berkata apa-apa lagi. Meski ia tidak setuju dengan keputusan Asmira.
Saat ingin masuk mobil, Asmira sekali berkata kepada Nindy. “Pintu rumahku selalu terbuka untukmu, aku masih sahabatmu. Datanglah, aku merindukan Nindyku yang dulu.”
Darwin melaju keluar dari halaman rumah Nindy. Air mata Asmira perlahan jatuh membasahi pipinya, Martha rebahkan kepala Asmira di bahunya, ia seka air mata Asmira dengan punggung tangannya.
Martha bangga dengan sikap dewasa Asmira dalam menghadapi masalah. Darwin beruntung mendapatkan istri yang sempurna. Ya, sempurna lahir dan batin.
“Mbak, ayo tidur, ini udah larut,” ajak Santi, saat ia baringkan tubuhnya ke samping, ia mendapati Nindy masih belum tertidur.
“Mbak enggak kantuk San.”
Santi bangun dari tidurnya, ia sandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.
“Katakan, apa yang membuat Mbak enggak bisa tidur?”
“Entah Santi.”
“Jika Mbak penasaran dengan kehidupan mbak Jessica dan mbak Asmira, aku boleh menceritakan sedikit apa yang aku tahu,” tawar Santi. Karena ia tahu, Nindy penasaran dengan ucapan Asmira tadi.
Santi mulai bercerita satu persatu tentang kehidupan Asmira dan Jessica. Siang dan malam Asmira sendiri di rumah kontrakan kecil dan kumuh, ia harus ditinggalkan Jessica karena membayar hutang-hutang ayahnya. Santi juga bercerita bagaimana Jessica mendapatkan perlakuan dari Hardi suaminya.
“Singkat cerita, mbak Asmira tidak seperti yang mbak pikirkan,” ujar Santi.
Nindy terpaku, ia tidak bisa berkata-kata.
“Dan, mengenai Bastian. Dia tahu, Mbak simpanannya Tuan Hardi.”
Meskipun ragu, Santi tetap meneruskan perkataannya. Biar tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kedua sahabat itu.
“Kamu!” Nindy kaget bukan kepalang.
“Mbak kaget, kenapa aku tahu?” tanya Santi.
Nindy menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap wajah adiknya.
“Aku yang bayar semua utang-utang Mbak Nindy kepada tuan Hardi,” ujar Santi lagi.
__ADS_1
Santi bercerita, saat itu. Ketika ia pulang sekolah, anak buah Hardi datang ke rumah. Mereka mengancam akan mengambil rumah, dan mengusir mereka. Sementara ayahnya sedang terbaring lemah di rumah.
“Maaf in Mbak, Santi!”
Nindy merasa menyesal telah membuat orang-orang di sekelilingnya menderita. Ia sibuk dengan yang harus tampil glamor di depan teman-temannya. Tanpa memikirkan bagaimana kondisi keluarganya.
“Sudahlah Mbak, ayo kita tidur. Aku punya kabar gembira buat Mbak, tapi ...”
“Tapi apa?” tanya Nindy penasaran karena Santi menggantungkan ucapannya.
Santi tersenyum. “Mbak harus istirahat dulu, besok kita mulai lagi lembaran baru, kita lupakan semua masa lalu,” ujar Santi.
Keduanya berpelukan, Nindy mengecup kening Santi, ia selimuti tubuh adiknya itu.
“Tuhan, beri aku kesempatan untuk perbaiki semua ini,” gumam Nindy dalam hati.
Santi terbangun, ia mendapati Nindy tidak ada di sebelahnya. Ia begitu panik, dengan tergesa-gesa ia berlari keluar mencari Nindy dan memanggilnya berkali-kali.
“Kenapa sih teriak-teriak?”
Santi langsung memeluk Nindy. “Aku kira Mbak pergi lagi,” ujar Santi.
Nindy tersenyum, ia lepas pelukan Santi. “Mbak masak buat kamu nih, mandi gih?”
“Mbak janji jangan pergi lagi ya?” tanya Santi. Nindy pun mengangguk sembari tersenyum manis.
Setelah mandi dan berpakaian, Santi turun ke dapur dan keduanya pun sarapan. Santi tidak henti-hentinya tersenyum.
“Kamu Kenapa, sih?” tanya Nindy tertawa kecil melihat tingkah adiknya itu.
“Enggak apa-apa,” sahut Santi.
Setelah sarapan dan membersihkan meja makan, Nindy tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya dengan berita bagus yang akan Santi sampaikan.
“Dek, kamu mau kasih tahu apa sih?” tanya Nindy.
Santi tersenyum. “Mbak maaf sebelumnya ya. Tapi mbak jangan marah,” ujar Santi.
“Iya, enggak akan marah,” sahut Nindy.
“Sebenarnya, rumah kita enggak di segel bank.”
“Maksud kamu?” tanya Nindy bingung.
__ADS_1
“Sebenarnya, itu cuma akal-akalan papa saja. Malam itu, sebelum papa meninggal, papa bilang. Kalau kertas itu, sengaja papa tempelkan, agar mama tidak merebut rumah ini dari kita,” cerita Santi.
Jangan lupa like ya...