Perjanjian

Perjanjian
Episode 53


__ADS_3

Asmira tetap saja melakukan tugasnya sebagai seorang istri, meskipun ia masih puasa bicara dengan Darwin. Sudah 3 hari ini ia tidak bertatap muka dengan suaminya itu, setiap hari ia menyiapkan semua keperluan kantor dan sarapan pagi ketika Darwin masih tertidur pulas. Hari ini Asmira melakukan hal yang sama, jam menunjukkan pukul 05:30 masih sangat pagi.


Ketika Asmira sedang asyik masak di dapur, tiba-tiba Darwin memeluknya dari belakang, tangan kekarnya melingkar erat di tubuh Asmira. Asmira merasakan air mata Darwin meleleh di lehernya.


“Kenapa, kenapa Mas menangis. Bukankah Mas bahagia udah buat aku begini?” Asmira bertanya-tanya dalam hati. Asmira tidak memberikan respons apa pun.


“Jangan hukum aku begini, sayang,” ucap Darwin di telinga Asmira.


Asmira masih saja tidak ingin menjawab sepatah kata pun untuk menanggapi apa yang suaminya ucapkan.


Selesai masak Asmira bergegas ke kamarnya, ia sengaja menghindari Darwin, Asmira sedang tidak mood untuk berdebat. Darwin yang baru siap mandi dan berpakaian rapi bergegas keluar tapi ia tidak menemukan lagi Asmira di dapur.


“Sayang...” panggil Darwin dengan suara parau, ia hampir putus asa, jika saja bukan karena cintanya yang terlalu besar untuk istrinya sungguh ia tidak akan sanggup diperlakukan seperti itu.


Semakin Asmira tidak mengatakan apa pun, semakin besar kesalahpahaman dia antara keduanya. Darwin yang tidak tahu-menahu apa hal yang membuat Asmira bersikap acuh tak acuh terhadapnya. Sementara ia telah membawa Ritha untuk menjelaskan semuanya kepada Asmira, namun tidak ada perubahan yang terjadi pada Asmira.


Setelah selesai sarapan Darwin bergegas menuju kantor, dalam perjalanan ponsel Darwin berdering. Ternyata Ritha yang menghubunginya.


“Ada apa?” tanya Darwin ketus, ia merasa terganggu pikirannya yang sedang kacau semua orang salah dimatanya.


“Mas, gimana keadaan Asmira?” tanya Ritha seakan-akan sangat peduli.


“Masih puasa bicara,” jawab Darwin singkat.


“Loh, kenapa?” tanya Ritha lagi, padahal hatinya berkata, “Yes!”


“Entah lah Ritha... aku stres. Arghhh!” teriak Darwin keras membuat telinga Ritha berdenging.


“Mas, yang sabar ya. Bujuk terus sampai ia kembali kek dulu lagi,” ucap Ritha. “Apa perlu aku ke rumah Mas sekali lagi?” tanya Ritha kemudian.


“Nanti kita liat dulu.” Darwin memutuskan telepon setelah selesai berbicara dengan Ritha yang membuatnya sedikit bersemangat untuk membujuk istrinya.


* * *


"Bi... " panggil Martha.

__ADS_1


Dengan tergopoh-gopoh Marni berlari menghampiri Martha yang memanggilnya.


Martha menyuruh Marni menyiapkan sarapan dua meja terpisah, ia tidak mau satu meja dengan Ritha. Biarkan Marco bersama Ritha, perempuan pilihannya sendiri. Martha berdecak kesal.


Marco sangat panik, ia berkali-kali memanggil Ritha tapi tidak ada yang menyahuti, semua yang sedang asyik sarapan tidak ada yang peduli dengan teriakan Marco. Ia mengetuk pintu Ritha tapi tidak respons apa pun.


“Kalian!” ucapnya kesal dengan muka memerah.


Marco memanggil Samsul untuk mendobrak pintu kamar Ritha ia khawatir terjadi apa-apa dengan Ritha, entah sandiwara apalagi yang akan dilakoni oleh Ritha yang membuat banyak orang merasa rugi dengan perlakuannya itu.


“Cepat kemari,” panggil Marco lagi.


“Ada apa Tuan?” tanya Samsul.


Marco menyuruhnya untuk ambil kunci cadangan untuk membuka pintu kamar Ritha, jika tidak ada maka mereka akan mendobraknya.


“Ma!” panggil Marco kesal seolah-olah Martha tidak peduli dengan kondisi Ritha.


“Kenapa sih teriak-teriak?” tanya Martha santai. Marco mendekati Martha yang sedang asyik-asyiknya menikmati sarapan pagi.


“Gimana bisa Mama tenang-tenang saja, sementara kita tidak mengetahui kondisi Ritha dan calon cucu kita?” tanya Marco berapi-api.


Valen berangkat dengan Jessica dan Sara untuk mengantarkan anak semata wayangnya sekolah. Dalam perjalanan Sara meminta kepada Daddy-nya dan calon Mommy nya untuk menghadiri acara yang diadakan di sekolahnya esok.


“Acara apa sih, Nak?” tanya Valen.


“Itu loh Dad, acara kesehatan gitu. Nanti pihak rumah sakit mengunjungi sekolah kami,” jelas Sara kepada Daddy-nya.


“Kenapa gitu?” tanya Jessica masih tidak mengerti.


Sara tersenyum melihat kebingungan mereka.


“Kemarin udah disuruh pilih kami mau praktik apa, pilihannya pada diri masing-masing. Kalo aku maunya ketemu dokter kandungan, nanti dijelaskan gimana proses persalinannya,” jelas Sara lebih detail lagi.


Jessica dan Valen mangut-mangut saja.

__ADS_1


Sesampainya di sekolah Sara, Jessica dan Valen tertawa kecil melihat papan informasi yang terletak di depan sekolah, mereka mendengar penjelasan Sara yang ribet tadi, sekarang baru paham apa yang dimaksud Sara.


Acara pertolongan pertama yang akan di ajarkan untuk para siswa siswi jika berada dalam keadaan yang mengharuskan tidak ada orang lain di sekitarnya.


***


Keesokan harinya Sara telah bersiap-siap dengan pakaian Susternya, Martha menghampiri Sara yang sedang berputar-putar di depan cermin melihat penampilannya sendiri.


Martha memuji kecantikan Sara, wajahnya yang ayu ditambah dengan pakaian yang cukup serasi di tubuhnya ia semakin cantik saja.


Jessica tampil anggun dengan Valen yang berpenampilan gagah, keduanya tampak serasi.


Setibanya disekolah tampak suasana sangat meriah, semua berpenampilan sesuai pilihan sendiri. Seorang anak muda berpakaian pemadam mendekati mereka.


Mereka masuk ke ruang kelas yang telah disulap menjadi ruang persalinan, Semuanya mendapatkan pertanyaan satu-satu, kenapa alasan memilih mengetahui pertolongan pertama pada wanita hamil.


“Sara, apa alasan kamu memilih praktik persalinan?” tanya dokter kandungan tersebut.


“Karena, saya tidak ingin banyak anak yang terlahir ke dunia ini kehilangan ibunya karena terlambat mendapatkan pertolongan. Jika saya lulus nanti, saya juga akan melanjutkan pendidikan di bidang ini,” jawab Sara lantang.


Tanpa terasa air mata Jessica meleleh di pipinya. “Kasihan Sara Mas.”


Acara berlangsung sukses, semua siswa-siswi menikmati pembelajaran yang sangat mendidik itu, pelajaran yang sebenarnya tidak ada dalam kurikulum. Tapi karena pihak sekolah berinisiatif untuk melakukan acara itu, maka tercapailah niat baik tersebut.


“Anda orang tuanya Sara?” tanya dokter kandungan tadi.


“Ya!” jawab Jessica, Valen menatap Jessica dan tersenyum.


“Anak Anda sangat berbakat dalam bidang ini,” puji dokter itu.


“Sebaiknya Anda sekolahkan ia kelak dia di bidang yang seharusnya ia kuasai,” lanjut dokter itu.


“Baik pak, saran Anda kami terima, kami sangat berterima kasih kepada Anda,” ucap Valen.


Setelah acara selesai, dokter itu berpamitan pada Valen dan Sara. Sebelum pergi dokter itu meninggalkan kartu namanya.

__ADS_1


Dokter Susi Susanti begitu nama yang tertera di kartu itu.


Jangan lupa Like ya...


__ADS_2