Perjanjian

Perjanjian
Episode 98


__ADS_3

Minggu pagi, Kelvin menjemput Brandon dirumah Asmira. Hari ini ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan anaknya.


Setiba dirumah Kelvin, Brandon langsung akrab dengan Minah, Brandon berlarian kesana-kemari di halaman rumah. Ia bergembira sekali, di Jepang ia tidak punya teman bermain kecuali teman di sekolahnya saja.


Fenita datang dengan tergesa-gesa ia segera masuk, menanyakan Kelvin pada Minah. Fenita tidak menghiraukan keberadaan Brandon disana.


Brandon anak manis dan pintar ia menatap punggung GrandManya sayu. Tampak kesedihan di wajahnya.


“Tuan kecil?” panggil Minah.


Brandon menatap Minah, ia tersenyum dan menutupi kesedihannya. “Bibi panggilnya Brandon aja. Ayo kita main petak umpet lagi.”


Minah mengusap lembut kepala Brandon. Ia kagum dengan kerendahan hati dan kepintaran Brandon.


“Kelvin!” teriak Fenita.


Kelvin baru siap mandi dan berpakaian rapi, ia ingin mengajak Brandon dan Minah ke kebun binatang.


“Kamu mau kemana, Nak? Mama butuh bantuan kamu, tolongin Mama.”


Kelvin mengabaikan kepanikan Fenita, dengan santai ia membuka laci mengambil minyak wangi dan ia semprotkan ke tubuhnya.


“Kamu dengar Mama lagi ngomong gak, sih?”


Kelvin meraih sepatunya, ia duduk ditepi ranjang, ia memakai sepatunya.


“Ngomong aja Ma, aku sibuk, nih.”


Fenita mendekat, ia duduk di samping putranya, ia menceritakan keluh kesah tentang Rose yang melaporkan ia ke polisi. Ia meminta bantuan agar Kelvin mencarikan pengacara handal untuk menangani kasusnya.


Kelvin berdiri, ia meraih handphone dan dompetnya. “Udah Ma curhatnya? ayo kita keluar. Kelvin mau jalan-jalan sama Brandon.”


Fenita melototi wajah Kelvin, ia bangkit dan sebuah tamparan keras melayang di pipi Kelvin.


“Dasar anak durhaka kamu! dari kecil Mama urus kamu, kamu sama sekali gak peduli dengan Mama, dimana pikiran kamu Kelvin?”


Kelvin menatap balik Fenita yang baru saja memaki-maki dirinya.

__ADS_1


“Mama tau kenapa aku diam, agar aku gak semakin durhaka sama Mama!”


“Kenapa diam? bentak-bentak aja Mama, kamu udah dewasa makanya kamu lupa siapa Mama kamu!”


Kelvin menghela nafasnya, ini yang ia takutkan jika bertemu dengan Fenita. Ia takut emosinya tak terkontrol.


“Ma, please, cukup!” Kelvin menjambak rambutnya, ia duduk kembali di tepi ranjang. Ia tau bagaimana sifat mamanya. Jika keinginannya tak terpenuhi, bisa-bisa Kelvin tidak jadi pergi dengan Brandon karena amukan Fenita.


“Stop buat kekacauan Ma, aku malu Ma!” ujar Kelvin dengan nada tinggi.


“Terlalu banyak kesalahan yang udah Mama lakukan yang buat orang lain menderita. Bayangin Ma, gimana rasanya jadi Rose, orangtuanya gak tau anaknya masih hidup, bahkan ia tidak pernah menatap wajah Rose sama sekali sampai sudah meninggal.”


Kelvin mewakili perasaan Rose, ia mengeluarkan semua unek-uneknya. Kelvin tau, itu akan semakin membuat Fenita merasa semakin hancur, tapi apa yang harus ia lakukan. Kelvin tidak punya pilihan lain selain membiarkan Fenita bertanggung jawab atas semua kesalahannya.


“Sorry Ma, aku gak bisa bantu Mama kali ini!”


Kelvin bergegas meninggalkan Fenita yang masih terpaku disana seorang diri. Ia mengajak Brandon dan Minah untuk segera berangkat. Minah tidak berani menanyakan apapun, ia menurut saja.


Satu jam kemudian, Kelvin tiba di kebun binatang, Brandon sangat gembira ia mengajak Minah berkeliling.


Kelvin mendapatkan pesan dari Fenita, ia mengancam akan bunuh diri. Kelvin benar-benar tidak mau ambil pusing dengan drama yang Fenita lakukan lagi.


Fenita sangat geram mendapat balasan seperti itu dari Kelvin, Fenita stress memikirkan penjara. Jika ia lari maka ia akan menjadi buronan. Jika tidak lari, seluruh media akan memberitakan tentang dirinya.


“Maaf Ma, aku berjanji setelah mama berubah, aku akan mengeluarkan mama dari penjara. Untuk sekarang, mama harus bertanggungjawab atas semua kekacauan ini.” Kelvin memejamkan matanya seraya menarik nafas dalam-dalam.


* * *


Proses persidangan terus berlanjut, Fenita tidak bisa membantah apapun. Kelvin tidak pernah menemani Fenita mengikuti persidangan, Bastian yang selalu setia mendampingi.


Hari ini, seluruh media menyiarkan siaran langsung sidang putusan pengadilan. Fenita akan divonis bersalah dengan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya.


Rose tiba di pengadilan ditemani suaminya. Rose mengenakan rok hitam dan kemeja putih ditambah dengan kacamata hitamnya.


Sidang pembacaan putusan pidana dimulai, sidang terbuka untuk umum. Fenita di vonis 10 Tahun penjara dengan kasus penculikan bayi, dikenakan pasal 38.


Fenita menangis tersedu-sedu mendengar putusan pengadilan padanya, ia tidak pernah menyangka akan mendekam dibalik jeruji besi selama itu.

__ADS_1


Sudah 5 hari Kelvin dikejar-kejar awak media, ia tidak masuk kantor, semua kerjaan ia selesaikan di rumah. Dengan berat hati Kelvin mengabaikan semua yang terjadi pada orangtuanya.


* * *


Setelah semuanya selesai, Asmira mengajak Rose mengunjungi makam kedua orangtuanya di kampung halaman. Ditemani Darwin mereka berlima berangkat.


Rose menumpahkan segala isi hatinya di makam kedua orangtuanya, andai waktu bisa diputar kembali Rose ingin sebentar saja memandang wajah mereka berdua.


“Ma, pa. Aku datang, aku bersama Mbak Rose, anak mama.” Asmira mengelus-elus batu nisan kedua orangtuanya.


“Ma ...” gumam Rose, ia menyenderkan kepalanya di bahu Asmira.


Setelah dari pemakaman umum, Asmira juga mengajak Rose ke rumah orang tua mereka. Lagi-lagi Rose cuma bisa menangisinya, semua kenangan tentang kedua orangtuanya yang telah tiada.


Rose menyentuh foto Sukma dengan jemari tangannya, foto yang sudah berdebu dan pudar dimakan usia.


“Mama cantik kan, Mbak?” tanya Asmira.


Rose mengangguk, namun Darwin menyela pembicaraan mereka, "Mirip kalian berdua. Cantik."


“Aku ingat, Bastian pernah bilang kita mirip. Foto Mbak waktu masih kuliah, benar-benar mirip,” cerita Rose.


Mereka tidak langsung pulang, setelah pergi dari rumah lama Sukma, mereka menginap di villa yang biasa Darwin inap bersama keluarganya.


Keesokan harinya mereka baru pulang ke kota. Dalam perjalanan, Rose sempat membicarakan tentang ingin tinggal di Indonesia pada Ryu. Namun Ryu belum memberikan keputusan, i masih menimang-nimang terlebih dahulu permintaan Rose.


Asmira tidak memaksa jika memang nanti keputusan Ryu mengatakan ia tidak mau menetap di Indonesia. Toh, mereka masih bisa video call atau atau sekali-kali berlibur ke Jepang.


Kehamilan Asmira sudah memasuki usia ke 6. Perutnya semakin membesar, ia kewalahan jika bepergian jauh seperti hari itu. Namun ia bersemangat demi Rose.


Sebulan lebih Rose telah berada di Indonesia. Ryu sudah berkali-kali di telpon oleh direktur tempat ia bekerja. Namun ia terus nemambah hari cutinya demi Rose. Mau tak mau Rose harus segera kembali ke Jepang.


“Sayang, kamu jangan sedih ya. Mbak janji kalau nanti kamu lahiran, Mbak akan ambil cuti sebulan penuh,” ujar Rose, ia mencoba menghibur Asmira, jika memang keputusan Ryu harus kembali ke Jepang.


Jangan lupa like ya ...


Mohon maaf, besok author gak update ya.

__ADS_1


thanks buat kalian semua, pantengin terus ya, jangan sampai terlewat episode-episode terakhir.


__ADS_2