
Sebenarnya, bukan tidak ada alasan dibalik mengapa Marco membuat acara besar-besaran. Tentunya ada sesuatu hal yang membuat Marco memutuskan untuk mengundang awak media pula.
“Terima kasih kepada para hadirin semua, yang telah menyempatkan waktu memenuhi undangan saya malam ini,” ujar Marco menggunakan mikrofon.
Suara Marco membuat suasana seketika menjadi hening. Marco tampak gagah dengan perpaduan kemeja dan jas yang berwarna abu-abu tua. Darwin yang memilih setelan yang Marco kenakan itu.
“Saya ingin mengumumkan sesuatu hal, yang mengganjal di hati dan pikiran saya. Rasanya jika tidak segera saya umumkan, saya merasa orang yang paling bersalah di muka bumi ini.” Marco tampak berhati-hati dalam mengeluarkan kata per kata dari mulutnya.
Marco menghampiri Jessica, ia raih tangan Jessica lalu ia bawa ke atas panggung bersamanya.
“Perkenalkan wanita di sebelah saya ini, Jessica Antonio, putri saya yang sempat tertukar 38 tahun yang lalu,” ujar Marco.
Jessica sangat terkejut, ia tidak menyangka Marco akan memberitahukan kepada khalayak ramai bahwa dia adalah anaknya, serta diliput oleh wartawan.
Semua orang yang berada di ruangan itu merasa terkejut. Bagaimana tidak, selama ini Marco hanya mempunyai seorang putra, tapi kenapa tiba-tiba kini ada seorang putri.
“Saya tahu, kalian bingung. Tapi, Jessica ini benar-benar darah daging saya, yang sengaja ditukar oleh orang yang tidak bertanggung jawab 38 tahun yang lalu,” ujar Marco lagi.
Semua orang mangut-mangut mendengar ucapan Marco. Meski ada satu dua di antara mereka yang merasa tidak percaya, apa yang bisa mereka lakukan.
Marco menggenggam tangan Jessica. “Maafkan Papa Nak, sudah terlalu banyak waktu yang kita lewatkan.” Marco mencium kening Jessica.
Langsung Disambut tepukan tangan yang sangat riuh. Jessica kembali berkaca-kaca, tapi bibirnya menghiasi senyuman. Iya, Senyuman kebahagiaan yang tiada habis-habisnya.
Lalu tiba-tiba lampu menjadi redup, suasana menjadi hening, hanya alunan musik yang bersuara pelan, hampir tidak terdengar.
“Sayang...” panggil Valen.
Jessica mencari dari mana sumber suara, suara pria yang sangat ia cintai.
Lampu kembali menyala dengan sempurna saat Valen bertekuk lutut di hadapan Jessica dengan cincin ditangannya.
“Sebenarnya, saya sudah melamarnya, namun kali ini, saya ingin kembali melamarnya secara resmi di depan kedua orang tuanya,” ujar Valen tampak percaya diri.
“Sayang,” panggil Valen. Ia genggam erat tangan Jessica.
“Will you marry me?” tanya Valen dengan kotak cincin ditangannya.
“Terima!” teriak Asmira yang berada di hadapan mereka.
Jessica tidak bisa menggambarkan kebahagiaan yang tengah ia rasa kini. Air mata berlinang membasahi pipinya, tapi bibirnya tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum manis.
__ADS_1
“Yes,” sahut Jessica disela tangis dan tawanya.
Tepuk tangan kembali meriah, membuat suasana semakin ramai. Jessica memeluk Valen, setelah cincin terpasang indah dijari manisnya.
“I love you so much Mas,” bisik Jessica.
Valen mencium kening Jessica dan kedua pipinya.
Sara berlari kecil menuju panggung, ia peluk Jessica erat.
“Thank you Daddy,” ujar Sara menatap ayahnya. “Ini salah satu hadiah paling indah yang pernah Daddy berikan,” sambung Sara.
“Oke para hadirin, sekarang mari sama-sama kita nikmati pesta malam ini. Silakan nikmati juga semua hidangan yang kami sajikan!” ujar Darwin kepada semua tamunya.
* *
Nindy diam-diam mendatangi rumah Asmira. Namun, satpam kompleks mengatakan Asmira tidak berada di rumah, karena ia sedang menghadiri acara ulang tahun kakaknya.
“Apa mungkin acaranya di rumah keluarga Darwin?” tanya Nindy pada diri sendiri.
Setelah memutuskan untuk mendatangi rumah Marco akhirnya Nindy segera berangkat menggunakan taksi.
Setibanya di sana, Nindy berdecak kagum, acara yang terbuka umum tersebut sangat mewah.
“Ngapain kamu kesini?” tanya Santi ketus.
“Ya ke pesta lah,” sahut Nindy tidak kalah judesnya.
“Memangnya kamu diundang?” tanya Santi lagi.
“Halah, awas kamu. Banyak tanya!” sahut Nindy kesal dengan Santi yang terkesan suka mengaturnya.
Nindy tidak menghiraukan Santi, ia mencari di mana keberadaan Jessica dan Asmira. Ia sudah merencanakan salah satu di antara keduanya harus ia celakakan.
Nindy melihat Asmira memanggil seorang pembantu, ia meminta diambilkan secangkir minuman. Nindy tersenyum, pucuk dicinta ulam pun tiba.
Sasaran utama Nindy adalah Asmira dan janin yang ia kandung. Nindy mengambil secangkir minuman, lalu ia campur dengan minuman alkohol yang sengaja ia bawa dalam tasnya.
“Mbak!” panggil Nindy kepada salah satu pembantu rumah Marco yang tidak mengenali Nindy.
“Ya Mbak, ada yang bisa saya bantu?” tanya pembantu itu.
__ADS_1
“Tadi Nyonya Asmira meminta saya ambilkan secangkir minuman, tapi saya buru-buru harus pergi. Tolong berikan sebentar,” pinta Nindy kepada pembantu itu.
Tanpa menaruh rasa curiga pembantu itu langsung menuruti permintaan Nindy. Ia bawakan secangkir minuman yang telah tercampur alkohol. Jika diminum oleh ibu hamil, kemungkinan akan terjadi keguguran.
“Nyonya muda, ini minumannya.” pembantu itu memberikan secangkir minuman yang diterima oleh Asmira.
“Terima kasih Mbak, dari tadi udah haus banget.” Asmira langsung meneguk habis minuman tersebut.
Setelah meneguk habis, Asmira merasa aneh dengan minuman tersebut, rasanya sedikit berbeda, ia merasa pusing dan matanya berkunang-kunang.
Asmira ingin sekali memanggil Darwin, namun ia urungkan niatnya, karena Darwin sedang sibuk menjamu tamu yang hadir. Asmira mencari kursi kosong, ia benar-benar pusing.
Tiba-tiba Asmira merasa perut bawahnya sangat sakit, rasanya seperti kram di aw kehamilan, tapi kali ini lebih sakit. Asmira mengelus-elus perutnya, ia mulai merintih perlahan-lahan.
“Ya Allah sakit banget,” gumam Asmira.
Pandangan Asmira semakin berkunang-kunang, ia sangat kesakitan di perut bawahnya. Namun tiba-tiba,
Bruukkk!!
Asmira pingsan, ia tidak sadarkan diri.
“Tolong ada yang pingsan!” teriak salah seorang tamu yang hadir yang berada di dekat Asmira.
Semua orang berhamburan menghampiri wanita yang tergeletak di lantai.
“Asmira!” teriak Jessica.
Darwin berlari menuju kerumunan karena ia mendengar Jessica berteriak menyebut nama Jessica. Darwin sangat panik ketika ia lihat darah segar yang mengalir di paha Asmira.
“Sayang, bangun sayang.” Darwin menepuk-nepuk pipi Asmira.
“Darwin!” teriak Jessica keras. “Kamu mau buat Asmira mati, ayo kita bawa dia ke rumah sakit,” ujar Jessica.
Darwin seakan tidak bisa berpikir lagi, ia seperti orang kehilangan akal, air mata perlahan jatuh di pipinya.
“Sayang bangun,” panggil Darwin ketika ia mengangkat tubuh Asmira menuju mobil.
“Ini semua gara-gara aku, harusnya aku perhatikan kamu, gak tinggali kamu sendirian.” Darwin merasa sangat bersalah, jika Asmira keguguran ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
“Biar aku yang bawa,” pinta Valen.
__ADS_1
Asmira segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif. Darah terus mengalir di pahanya, Darwin semakin panik dengan kondisi tersebut.
Jangan lupa like ya...