
Valen baru saja ingin melamar Jessica, tapi sekarang ia tidak mungkin menikah dengan keponakannya sendiri. Setelah mengetahui informasi tentang anak kandung Martha ia mulai menjauh dari Jessica. Rupanya Sara mengetahui akan hal tersebut.
“Daddy jangan coba-coba permainkan Mommy, aku gak akan sudi jika Daddy nikah dengan perempuan lain!” teriak Sara pada Valen.
Namun, Valen tidak menggubrisnya. Sara semakin kesal karena Daddy-nya tidak mengindahkan kata-katanya. Jessica merasa bersedih dengan sikap Valen akhir-akhir ini, ia juga mulai menyukai pria itu. Tapi kini, Valen mengacuhkannya.
Hari ini seisi rumah dibuat panik dengan sikap Ritha yang tidak mau makan, jika bukan Darwin yang menyuapinya. Jessica yang sedang kesal dengan sikap Valen, melampiaskannya pada Ritha.
“Eh lo, mending udahan deh aktingnya, gak bermutu tahu enggak!” bentak Jessica, ia geram dengan Ritha yang tidak tahu malu.
Ritha memutar bola matanya ke arah Jessica, selama ini ia selalu menghindar bertatap muka dengan Jessica.
“Om, yang dia kandung itu bukan anak Darwin, tapi anak Kelvin Om,” ujar Jessica. Sikap Marco terhadap Ritha sudah di luar batas menurut Jessica.
Marco marah dengan ucapan Jessica barusan. “Jessi, Om tahu udah anggap kamu sebagai anak kandung Om sendiri. Tapi, kamu enggak berhak memfitnah Ritha seperti ini!” ucap Marco tegas.
Jessica tidak mau tinggal diam. “Om tanyakan saja sendiri pada Kelvin, benar apa gak itu anak dia,” sambung Jessica.
“Om, aku berani bersumpah, yang aku kandung ini cucu Om,” ujar Ritha memeluk lengan Marco.
“Dasar pelakor lu!” teriak Jessica.
“Jessi cukup, kalau enggak ada bukti om gak bakalan percaya dengan omongan kamu!” lagi-lagi Marco tidak mendengarkan kata-kata Jessica.
“Om, aku gak bohong. Dia cuma mau harta Om,” beritahu Jessica.
“Om bilang cukup, ya cukup!” teriak Marco sangat keras. Semua orang yang berada di rumah itu terkejut dengan suara teriakan yang menggelegar bak suara petir itu.
Jessica masuk ke kamarnya, ia kecewa dengan sikap Marco yang tidak mendengarkan kata-katanya sama sekali, harusnya ia selidiki terlebih dahulu apa benar yang seperti Jessica katakan.
“Pa!” teriak Martha. “Papa tahu gak sikap Papa udah di luar batas?” Martha sudah tidak tahan terhadap sikap Marco akhir-akhir ini.
__ADS_1
Sudah hampir sebulan ia tidak tidur dan makan bersama, tapi bukannya peduli, Marco malah semakin acuh tak acuh. Ia lebih percaya orang lain dari pada anaknya sendiri.
“Papa harusnya bisa lebih bijaksana, jangan kekanakan seperti ini.” Martha meninggalkan Ritha dengan Marco.
Martha menghubungi Darwin, ia baru mengerti maksud ucapan Darwin kemarin, ia menyuruh Kelvin selesaikan semua sebelum terlambat. Ternyata, benar apa yang Jessica katakan.
“Halo Ma,” sapa Darwin dari seberang.
“Kamu di mana, Mama mau ketemu kamu sekarang!” ujar Martha dengan suara tinggi.
Darwin diam sesaat, ia tahu. Dari suaranya saja Martha sedang tidak baik-baik saja.
“Baik Ma, di dekat kantor aku, ya?” ajak Darwin. Martha pun segera berangkat.
“Ada apa Ma?” tanya Darwin hati-hati.
“Kamu harus tegas dong!” ujar Martha dengan suara tinggi.
“Mama sangat kesal dengan kehadiran Ritha di rumah, mama merasa terusik Win,” ujar Martha.
“Atau jangan-jangan memang benar itu anak haram mu,” tanya Martha ia memutar bola matanya tajam ke arah Darwin.
“Mama jangan ngomong sembarangan!” sergah Darwin membantah tuduhan mamanya.
“Ya, kalo bukan harus tegas dong. Mama muak dengan papa kamu Win. Semakin tua sikapnya semakin menjadi, gak ada baik-baiknya sama sekali,” curhat Martha pada anaknya.
Darwin diam saja, tanpa Martha beritahu pun ia sangat mengerti dengan watak papanya itu.
Darwin sangat kesal dengan Kelvin, harus yang disalahkan dalam kondisi seperti ini adalah dia.
“Mama tenang, sekarang pulang ke rumah Darwin dulu, ya?” Darwin membujuk mamanya. “Nanti malam kita sama-sama pulang ke rumah papa.”
__ADS_1
Setelah Martha hilang dari pandangannya, Darwin segera meluncur dengan mobilnya menuju kantor Kelvin. Amarah sudah memuncak di kepalanya, ia tidak bisa berpikir jernih. Tanpa permisi Darwin langsung menyelonong masuk ke ruang Kelvin, hingga Kelvin terkejut dibuatnya.
“Eits, ke mana sopan santun lo?” tanya Kelvin ia tidak tahu jika Darwin sedang kesal terhadapnya.
“Diam lu” sergah Darwin.
“Kenapa sih, datang langsung marah-marah?” tanya Kelvin menyentuh bahu sahabatnya itu.
“Lo tahu gak, Ritha buat keributan di rumah gue?” tanya Darwin geram. “Gue heran, kenapa lu berubah jadi monster kek begini,” ujar Darwin.
“Maksud lu apa!” teriak Kelvin emosinya mulai terpancing.
Darwin mendorong keras tubuh Kelvin ke sofa. “Lo masih tanya kenapa gue ngomong kek gini?” tanya Darwin geram.
“Yang pertama lo tega hampir memperkosa mbak Jessica. Yang kedua lo tega sekongkol dengan Ritha bersandiwara buat tipu keluarga gue,” ujar Darwin mengepalkan tangannya.
“Gue gak tahu maksud lo apa,” bantah Kelvin.
Membuat Darwin semakin kesal. “Ternyata benar, lo bukan lagi Kelvin yang gue kenal. Malu gue selama ini aku in lo sebagai sahabat gue Vin!” tunjuk Darwin ke arah Kelvin.
Kelvin sama sekali tidak bisa berkata-kata.
“Lo jangan buat kesabaran gue hilang Vin, gue bisa melakukan apa yang gue mau,” ujar Darwin dengan nada rendah.
“Lo ancam gue?” tanya Kelvin dengan mata melotot.
“Ya! gue ancam lo, kenapa!” Darwin menantang pandangan Kelvin.
Kelvin tidak bisa berkata-kata.
“Gue gak mau tahu, lo ikut gue sekarang, jemput paksa Ritha atau lo enggak bakalan ketemu anak lo sampai kapan!” Darwin keluar dari ruang Kelvin ia menutup pintu dengan keras.
__ADS_1
Jangan lupa like ....