
“Tadi perasaan Mang Joni di sini,” ujar Jessica pada Sara.
Jessica hanya sekedar ingin tahu saja, apa penyebabnya ia selalu mengikuti ke mana pun Jessica pergi, siapa yang mengutusnya untuk melakukan itu.
Akhirnya Sara mengajak Jessica kembali ke tempat ia belanja tadi.
Keduanya asyik mengobrol hingga mereka tidak memperhatikan betul langkah kakinya dan tiba-tiba.
Bruukkk!
Jessica dan Sara menabrak Rose dan Bastian, semua belanjaan mereka berhamburan ke mana-mana.
“Maafkan saya, saya enggak sengaja,” ucap Jessica pada Rose. Barang-barang yang berhamburan ia pungut satu-satu.
“Enggak apa-apa, salah saya juga.” Rose pun ikut mengambil barang-barang yang berjatuhan.
Sara melarang Jessica untuk memungut barang itu, ia menarik tangan Jessica.
“Mom, ngapain sih. Orang mereka kok yang tabrak kita,” kata Sara ketus.
“Eits... lo kalo ngomong hati-hati ya. Jelas-jelas lo yang tabrak kita berdua!” sergah Bastian kesal dengan tingkah Sara.
“Elo tuh, jalan enggak pakai mata,” timpal Sara.
Bastian tertawa geli. “Jalan tuh pakai kaki, mata buat ngeliat kali Neng.” pandangan mereka beradu, Sara seakan-akan ingin menerkam habis mangsa di hadapannya itu.
Jessica menarik tangan Sara mundur, begitu pun Rose ia menarik Bastian ke sampingnya.
“Udah dong Sayang,” lerai Jessica. Sara menatap tajam Bastian.
“Iya Bas udah, dia perempuan loh.” Sambung Rose tersenyum.
“Ya kali Mbak gadis galak amat kek gitu, enggak ada anggun anggunnya sama sekali.” Bastian tersenyum manis.
“Biar! terserah gue dong!” timpal Sara kesal. Matanya melotot menatap Bastian.
“Mbak kenali, ini istrinya Kak Kelvin,” ujar Bastian pada Jessica.
Jessica dan Rose bersalaman dan saling berkenalan satu sama lain. Sementara Bastian menatap lekat wajah Sara yang sedang dilanda amarah sembari tersenyum geli.
“Mom, enggak salah Mommy kenal sama cowok aneh kek begini?” tanya Sara judes.
“Sayang, gak boleh kek gitu. Kenali ini Kak Bastian temannya mbak Asmira.” Jessica menarik tangan Sara agar ia bersalaman dengan Bastian.
Bastian menjabat tangan Sara, sementara Sara membuang pandangannya ke samping.
Rose melanjutkan kembali belanjaannya. Saat meninggalkan Sara, Bastian sempat-sempatnya menggoda lagi gadis itu.
__ADS_1
“Guk guk ....” Bastian menirukan suara ****** galak, terlihat Sara sangat kesal dibuatnya.
Rose memperhatikan Bastian, di bibirnya masih saja terlihat senyuman. Padahal Sara sudah tak tampak lagi di hadapannya.
* * *
Malam harinya.
Asmira menyiapkan makanan favorit suaminya ditemani Santi, ia sudah tampil cantik menunggu kepulangan suaminya dari luar kota. Asmira sangat merindukan Darwin ia ingin sekali memeluknya erat. Bel berbunyi, dengan semangat Asmira membukakan pintu.
“Ini pasti Mas Marcell,” gumamnya dalam hati.
Darwin berdiri di depan pintu, dengan bunga mawar ditangannya, ia berikan kepada istri tercintanya.
“Happy Anniversary yang ke 3 bulan, sayang.” Darwin mencium mesra kening istrinya.
“Terima kasih Mas.” Asmira mencium pipi Darwin dan memeluknya. “Aku rindu Mas,” ucap Asmira malu-malu.
Darwin tersenyum ia mencubit gemas pipi Asmira. “Syukurlah sayang, kamu udah enggak marah lagi.” Darwin mencium bibir Asmira sebentar.
“Aku bahagia sayang, akhirnya kamu percaya aku tidak melakukan itu.” Darwin peluk Asmira.
“Maafkan aku, Mas. Harusnya aku enggak seegois itu, harusnya aku dengarkan penjelasan, Mas.”
“Yang terpenting, sekarang semuanya baik-baik saja.”
Setelah mandi Darwin turun ke bawah, ia tidur di pangkuan Asmira yang sedang asyik menonton televisi.
Darwin sangat gembira, akhirnya Asmira tidak lagi marah terhadapnya.
“Santi mana?” tanya Darwin.
“Udah tidur kayaknya Mas. Oya Mas, aku lupa kasih tahu, kemarin mbak Rose datang kesini loh,” ujar Asmira sembari mengunyah camilannya.
“Oya, sama Brandon?” tanya Darwin matanya tidak berkedip dari latar televisi.
“Iya, dia udah gugat cerai Mas Kelvin katanya,” beritahu Asmira.
“Apa?” tanya Darwin terkejut mendengar ucapan Asmira.
Darwin mengubah posisi duduknya, ia menyilang kedua kakinya berhadapan dengan Asmira. “Kamu serius Rose cerita gitu?” tanya Darwin ragu. Asmira mengangguk.
“Pantesan Kelvin ajak aku ketemu,” gumam Darwin.
*
Kelvin sedang menunggu kedatangan Darwin, ia berada di sebuah kafe dekat dengan kantor Darwin. Pikirannya kacau, semalam ia habiskan malamnya bersama Nindy.
__ADS_1
“Udah lama?” tanya Darwin langsung duduk, membuyarkan lamunan Kelvin yang menerawang entah ke mana.
“Kering gue tunggu lu di sini,” jawab Kelvin ketus. Darwin tertawa kecil.
Kelvin memanggil waiters, ia pesan mochaccino untuk dirinya, dan satu cappuccino untuk Darwin.
“Gue butuh bantuan lu.” mulai Kelvin dengan nada serius.
“Apa yang bisa gue bantu?” tanya Darwin.
Kelvin menceritakan satu persatu masalah yang saat ini menjeratnya, ia mengeluh sakit kepala dan bingung bagaimana cara menyelesaikannya. Darwin mendengar semua kata-kata Kelvin tanpa memberi komentar apa pun.
“Bantu gue Win,” ucap Kelvin setelah menceritakan panjang lebar permasalahannya.
Darwin mendengus pelan, ia mengusap wajah dengan kedua tangannya.
“Sorry banget Vin, yang pertama soal om Hardi gue gak bisa bantu apa-apa. Dan soal Ritha mending sekarang lu ikut gue ke rumah nyokap gue karena dia lagi bersandiwara di sana.” Darwin diam sesaat ia menyeruput cappuccino miliknya. “Dan soal Rose gue gak mau ikut campur urusan pribadi kalian berdua, kalian sama-sama dewasa, silakan kalian selesaikan berdua.”
Kelvin tidak mengerti maksud Darwin kenapa ia mengatakan Ritha sedang di rumahnya.
“Soal Ritha maksud lu?” tanya Kelvin ingin memperjelas omongan Darwin.
“Bokap gue terlalu percaya dengan berita yang beredar, gue rasa Simon manfaatin suasana ini,” ujar Darwin santai.
“Sialan tuh kakek tua,” gumam Kelvin dalam hati, ia mengepalkan tangannya.
“Untung saja Asmira udah gak peduli dengan masalah yang beredar, gue harus terima kasih sama Rose,” ujar Darwin.
“Maksud lu?” tanya Kelvin lagi.
Darwin terdiam, ia keceplosan ngomong, harusnya ia tidak mengatakan apa pun yang menyangkut dengan Rose.
“Win maksud lu, Rose tahu tentang Ritha?” tanya Kelvin.
Darwin mengangkat kedua tangannya seraya berkata, “Sorry Vin, gue enggak bisa ngomong apa-apa.”
Kelvin menghembuskan nafasnya perlahan, bukannya lega ia tambah pusing.
“Sekarang mending lu selesaikan satu-satu yang menurut lu masih bisa lu selamatkan.” Darwin memberikan saran pada sahabatnya itu, walau bagaimanapun ia tidak ingin Kelvin gegabah dalam menyelesaikan masalahnya.
Kelvin ikut dengan Darwin menuju rumah keluarga Marco Antonio, dalam perjalanan ia sama sekali tidak bisa rileks, pikirannya kacau.
“Arghhh!!” teriak Kelvin, ia sangat bingung dengan keputusannya sekarang, satu sisi ia sangat merindukan Brandon. Namun, ia juga ingin janin yang ada diperut Ritha. Kelvin tahu hubungannya bersama Rose tidak akan bisa terselamatkan lagi, makanya ia lebih mementingkan Ritha yang sedang mengandung.
Di rumah Marco.
Kelvin dan Darwin tiba di sana, Martha menyambut hangat kedatangan mereka berdua. Ini kali pertama Darwin kembali ke rumah setelah ia cekcok dengan Marco kemarin.
__ADS_1
Jangan lupa like ya...