Perjanjian

Perjanjian
Episode 85


__ADS_3

Fenita baru bangun pagi, ia dikagetkan dengan dentuman pintu yang cukup keras. Nenek Kelvin menjerit histeris. Usianya yang sudah menginjak 80 tahun, pendengarannya sudah tidak berfungsi dengan baik lagi, tapi ia mampu menangkap suara keras dan keributan di luar.


“Mama ... Fenita di sini Ma, Mama tenang ya ...” ujar Fenita mencoba menenangkan ibundanya.


Fenita segera menuju pintu depan, dengan penuh penasaran, ia mengendap-endap lalu menyibak gorden, ia mencoba mengintip keluar. Namun, sepasang mata di luar sedang melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan, membuat Fenita terkejut bukan kepalang.


“Keluar lo!” teriak pria bertubuh besar itu.


Dengan hati-hati Fenita menarik gagang pintu perlahan.


“Cari siapa ya?” tanya Fenita kepada dua pria yang bertubuh besar, sepertinya mereka adalah preman.


“Cari siapa! cari elo, penipu tua!” umpat pria itu.


Dengan kasar, pria itu menarik tangan Fenita yang bersembunyi dibalik pintu.


“Sakit Pak!” teriak Fenita.


“Berani ya lo teriak-teriak, setelah lo tipu bos gue habis-habisan.” pria itu menarik tangan Fenita ke belakang.


Fenita meringis kesakitan, pria bertubuh gempal itu mencengkeram tangannya begitu erat.


“Maksud kalian apa sih, aku enggak ngerti. Lepas!” teriak Fenita.


“Lo masih pura-pura enggak tahu. Setelah lo berikan sertifikat palsu ke bos gue?” tanya preman itu lagi.


“Sertifikat palsu?” gumam Fenita dalam hati. Bagaimana bisa sertifikat palsu, sedangkan kemarin, ia melihat surat sah lengkap dengan tanda tangan Marco.


“Bohong!” teriak Fenita.


“Bohong lo bilang?” tanya salah satu preman itu.


“Kemarin malam tuan Marco mengatakan anaknya Jessica bukan Kenny Rose, berani-beraninya kamu bermain-main dengan bos kami!” sambung pria itu.


“Apa?” tanya Fenita kaget.


Pria itu menjambak rambut Fenita kasar, ia tarik tangan Fenita lalu ia hempaskan tubuh wanita paruh baya itu ke lantai.


“Gue beri waktu 2x24 jam. Lo baliki semua duit yang udah bos gue kasih plus bunga, kalau enggak, lo akan tahu akibatnya!” teriak preman-preman itu.


Lalu mereka bergegas pergi meninggalkan rumah Fenita. Untung saja, jarak antara rumahnya dengan para tetangga berjauhan. Jika tidak mungkin mereka akan bisa mendengar semua yang preman tadi katakan.

__ADS_1


Fenita sangat gugup, ia takut. Apa yang harus ia lakukan, uang hasil penggadaian sertifikat palsu itu telah ia investasikan, dan membeli perhiasan. Jika dijual harganya pasti anjlok.


Fenita menghubungi Kelvin, berulang kali ia coba tapi tidak tersambung juga. Fenita sangat frustrasi.


“Bagaimana ini, kalau aku ditangkap polisi gimana, terus semua acara berita meliputnya, terus gimana dengan MaMa?” gumam Fenita kacau balau.


“Oke, sekarang aku harus tenang, waktu masih panjang. Aku gak bisa begini, aku gak mau masuk penjara, no no no!” Fenita mondar-mandir di kamarnya.


Ia terus memutar otaknya, ia harus bisa menemukan jalan keluarnya. Bagaimanapun, ia tidak mau mendekam di balik jeruji besi.


* *


Santi berkali-kali menggedor pintu rumahnya, rumah yang di diami oleh Nindy seorang diri semenjak ayahnya tiada.


“Mbak! buka ini aku!” teriak Santi di luar.


Tapi nihil, sepertinya tidak ada siapa pun di saba. Santi putus asa, ia sandarkan tubuhnya ke dinding, perlahan-lahan lututnya terasa lemas, ia duduk di lantai. Santi terus meratapi perbuatan kakaknya itu.


Santi ingin menghubungi Nindy, tapi bagaimana caranya, nomornya saja ia tidak punya. Pikiran Santi buntu, apa yang harus ia lakukan untuk membantu kakaknya keluar dari masalah sebesar itu.


Hari semakin sore, langit semakin gelap. Siang berganti malam. Setelah turun dari angkot, Santi berniat untuk menemui Nindy di salah satu tempat, mungkin saja ia berada disana.


Santi nekat mendatangi, tempat biasa Nindy menanti Om-om yang lewat. Lorong yang Santi lewati sekarang, tempat yang cukup gelap, biasanya banyak preman-preman yang mabuk-mabukan di sana.


Tanpa menoleh kiri-kanan Santi terus saja berjalan, hatinya bimbang antara takut terhadap preman, atau keselamatan kakak satu-satunya.


“Hai neng, baru ya?” sapa salah satu preman, ia tampak mabuk sekali, ia berjalan sempoyongan.


Santi tidak menggubris pertanyaan pria mabuk itu, ia percepat langkahnya. Jarak dengan tempat Nindy berada tidak jauh lagi, semoga saja Nindy berada di sana, begitu harapan Santi.


Namun, belum tiba Santi di tempat Nindy, ia dicegat tiga preman-preman yang tubuhnya penuh dengan tato. Pakaian mereka compang-camping seperti kekurangan bahan, Santi tampak gemetar.


“Hai,” sapa salah seorang preman pecicilan.


“Jangan ngomong kek gitu, gue jijik!” teriak temannya.


“Preman mana ada pecicilan kek lo!” sambungnya lagi.


Santi mencoba berlari, namun sia-sia. Salah satu pria menjambak rambutnya dengan kasar.


“Mau kemana lo?” tanya pria itu.

__ADS_1


“Jangan ganggu saya, please!” pinta Santi. Air mata berlinang membasahi pipinya.


Pria bertubuh lebih besar di antara kedua temannya itu, menarik dagu Santi.


“Ayolah sayang ...” ujarnya.


“Aku mohon jangan!” teriak Santi, ia tepis tangan pria itu.


Kedua temannya yang berada di belakang. Berteriak seru, seperti sedang memenangkan lotre. “Mantap bos! malu-malu kucing kayaknya,” ujar keduanya tertawa terbahak-bahak. “Meow ....” keduanya menirukan suara kucing.


“Tolong Bang ... jangan ganggu saya, saya Cuma mau ketemu kakak saya, dia di sana!” ujar Santi memelas, seraya menunjuk tempat tujuannya.


“Bro! mantap nih, adik kakak doyan om-om,” teriak pria bertubuh besar itu. “Ayolah sayang, kami bisa memuaskanmu,” sambung pria itu mesum.


“Tolong!” teriak Santi menjerit keras.


Karena kesal gara-gara Santi berteriak, pria itu menjambak rambut Santi kasar, ia tarik ke belakang, sehingga Santi mendongak ke atas. Lalu ia cengkeram dagu Santi dengan tangannya yang satu lagi.


“Gue ajak baik-baik, lo maunya secara kasar. Baiklah!” ujar pria itu.


Lalu pria bertubuh besar itu membawa Santi ke tepi jalan, ia dorong tubuh Santi merapat dengan pohon besar di belakangnya.


Pria itu merobek baju yang Santi kenakan, ia jamah tubuh Santi secara kasar. Santi terus berteriak minta tolong tanpa putus asa.


“Tolong! tolong saya!”teriak Santi terus menerus.


Santi menangis tersedu-sedu, ia tidak mau keperawanannya direnggut oleh pria bejat di hadapannya.


Namun tiba-tiba. Bruukkk.


Sebuah tendangan yang cukup keras mendarat di kepala pria yang ingin memperkosa Santi.


“Arghhh!” teriak pria itu. Mereka langsung adu jotos dengan preman-preman lainnya.


Santi melihat Nindy mendekatinya, “Mbak!” teriak Santi.


“Sayang... kamu ngapain di sini?” Nindy menutup tubuh Santi karena pakaian sudah dirobek.


Santi menangis tersedu-sedu di pelukan Nindy. Ia tidak bisa bayangkan jika bantuan tidak datang, apa yang akan terjadi padanya.


Jangan lupa like ya!

__ADS_1


__ADS_2