Perjanjian

Perjanjian
Episode 32


__ADS_3

Bastian dan Brandon asyik bermain-main, ia begitu dekat dengan ponakannya bahkan rela membohongi Kelvin. Rose yang sedang menonton televisi dibuat terkejut dengan berita dalam negeri, betapa hebatnya Darwin kabar berita pernikahannya tersebar bukan hanya di Indonesia tapi juga di negara-negara lainnya.


“Kamu benar Win, tidak ada lagi aku di hatimu ....” air mata Rose perlahan jatuh di pipinya.


Bastian melihat Rose menangis menghampirinya. “Mbak ada-ada saja, selalu ditipu sinetron!” cetus Bastian.


Matanya menatap layar televisi ia juga sama terkejutnya baru 3 Minggu yang lalu ia bertemu sahabatnya itu, ia mengaku single padanya, Bastian berharap penuh sekarang ia bersanding dengan teman kakaknya sendiri.


“Mbak kenapa menangis?” tanya Bastian.


Rose kaget dengan kehadiran Bastian dan Brandon. “Tangis bahagia Bas, teman kami akhirnya menikah.” Rose berbohong pada Bastian.


Bastian kecewa ia mengelus dadanya. “enggak berdarah tapi kok sakit ya?” gumam Bastian dalam hati.


Rose melihat Bastian yang melamun di sebelahnya. “Bas ... tidur sana, besok kamu kuliah,” ujar Rose.


“Iya Mbak.” Bastian masuk ke kamarnya dengan Brandon.


Rose yang masih menonton televisi penasaran juga enek melihat berita itu, apalagi Live dari akad sampai resepsi ia begitu muak. Rose mematikan televisi dan segera masuk kamar untuk tidur.


Semenjak Rose berada di Jepang, ia kembali bekerja membantu perekonomian Bastian dan dirinya, jika Bastian meminta uang lebih, pasti Kelvin akan curiga. Sedangkan kebutuhan ia dan Brandon sangat besar, Rose yang lulusan kuliah sama dengan Kelvin juga Darwin begitu mudah mendapatkan pekerjaan yang dengan gaji lumayan besar.


* *


Ritha menunggu kepulangan Kelvin, ia bolak-balik di depan rumah tepatnya di teras. Sudah larut sekali tapi Kelvin tidak kunjung terlihat batang hidungnya. Ritha berkali-kali menghubungi Kelvin tapi tidak tersambung.


Sesaat kemudian mobil putih memasuki pekarangan rumah. Kelvin tersenyum pada Ritha saat turun dari mobil, Ritha menghampirinya, ketika Ritha ingin bertanya kelvin begitu pintar mengalihkan suasana.


“Ayo masuk sayang, nanti masuk angin. Kenapa tunggu di luar?” tanya Kelvin.


“Mas pulangnya lama sekali ... Aku rindu,” rengek Ritha manja.


“Gimana acara temen papa tadi, seru?” tanya Kelvin.


Ritha enggan mengatakan Darwin adalah pria yang dijodohkan dengannya. “Biasa saja Mas,” sahut Ritha.


“Mas tadi ke mana?” tanya balik Ritha.


“Sahabat aku nikah,” jawab Kelvin singkat.


“Ya udah mandi gih, terus kita makan,” ujar Ritha.


“Udah makan tadi sayang, aku mau istirahat saja, capek.” Kelvin segera masuk kamar.


Ritha ketiduran menunggu Kelvin mandi, itu kebiasaan Kelvin yang dibenci Ritha jika mandi Kelvin bisa menghabiskan waktu lebih lama dari ia mandi.


Kelvin duduk di tepi ranjang, bayangan Jessica tidak bisa hilang di benaknya, ia tidak menyangka Asmira adiknya Jessica, bahkan ia menolak hadir di acara Asmira karena Darwin nikah di hari yang sama dengan yang dimaksud Jessica. Tidak taunya alamat yang dimaksud Jessica adalah rumah keluarga Marco Antonio. Kelvin meraih ponselnya, ia menghubungi Jessica hanya sekedar mengucap selamat malam, layaknya ABG yang lagi kasmaran.


* *


Darwin masuk kamar melihat Asmira terkapar lemas di ranjang yang penuh bunga-bunga, ia mencium kening wanita yang kini jadi istrinya itu. Selesai mandi dan ganti baju ia ikut tidur di sebelah Asmira.

__ADS_1


Sementara Marco dan Martha di wajah mereka tidak tampak sedikit pun kelelahan, yang ada hanya kebahagiaan.


Pagi harinya, Jessica dan Martha sarapan pagi disusul Marco, sementara sang pengantin baru belum terlihat.


“Makan banyak dong Om ...” pinta Jessica.


“Enggak ah, nanti Om kena diabet, Tante kamu nikahi Om baru deh,” ledek Marco kepada Martha.


“Papa apa-apaan sih, yang ada Papa tuh,” Martha tidak mau kalah.


Jessica hanya tersenyum melihat keduanya. Entah kenapa ia merasa seperti keluarga sendiri, kehangatannya begitu terasa.


Darwin bangun dan segera mandi, ia tidak membangunkan Asmira yang masih tertidur nyenyak, selesai mandi ia segera sarapan pagi, tidak lama kemudian Asmira keluar.


“Mas, kenapa enggak bangunin aku, sih?” tanya Asmira mengagetkan Darwin yang sedang makan.


“Pagi sayang ...” sapa Darwin.


“Aku pusing Mas,” ucap Asmira.


“Makan dulu, nanti minum obat,” pinta Darwin.


Saat mereka sedang asyik makan, Jessica menghampiri keduanya.


“Ehemm ....” Jessica pura-pura batuk.


“Mbak kenapa, minum dulu ...” pinta Asmira.


Darwin sedang menerima telepon dari Pratiwi, sementara Asmira jadi bulan-bulanan Jessica, ia menggoda Asmira habis-habisan.


“Gimana tadi malam Mira?” tanya Jessica.


“Seru banget Mbak, aku capek, lelah, lemas tapi aku suka.” Asmira tersenyum lebar.


“Rasanya gimana?” tanya Jessica.


“Rasanya senang, sih,” jawab Asmira.


Jessica tersenyum puas. “Enak atau enggak?” goda Jessica lagi.


“Enak enggak enak sih Mbak,” jawab Asmira polos.


“Tapi kamu ketagihan, kan?” tanya Jessica.


Asmira yang jadi bulan-bulanan sang kakak, sama sekali tidak tahu-menahu bahwa dirinya sedang digoda.


“Tunggu bentar, kita lagi bahas apa sih, tentang resepsi semalam, kan?” tanya Asmira.


Jessica tertawa terbahak-bahak ia segera masuk meninggalkan Asmira yang masih kebingungan. Asmira menggaruk tengkuknya.


Darwin yang baru selesai menerima telepon dari Pratiwi duduk di sebelah Asmira. “Kamu kenapa?” tanya Darwin.

__ADS_1


“Enggak apa-apa Mas, mbak Jessica tuh aneh,” sahut Asmira.


Darwin mengerutkan keningnya. “Aneh gimana?”


“Tanya enak apa enggak, rasanya gimana, apaan sih, enggak jelas banget, kan?” sahut Asmira kesal.


Darwin tertawa pecah, ia mengacak-acak rambut Asmira. Benar-benar polos, ia tidak sadar istrinya sepolos itu.


“Mas ... diam dong, tadi mbak Jessica juga ketawa bikin kesal,” ujar Asmira.


“Ya udah lupain soal mbak Jessica, kita bahas yang lain saja,” ucap Darwin.


Darwin sibuk menghubungi orang suruhannya untuk persiapan dinner romantisnya dengan Asmira, ia sengaja membuat sureprise buat istrinya tercinta nanti malam.


Asmira telah siap-siap dengan gaun yang dibeli oleh Darwin, Jessica juga merias wajah Asmira tampak sangat cantik sekali.


“Mantu Mama Papa cantik banget,” puji Martha, saat Asmira keluar kamar bersama Jessica.


“Siapa dulu dong yang dandani?” tanya Jessica.


“Tanpa dandan aku juga udah cantik, ya?” jawab Asmira narsis.


Semua tertawa.


“Udah siap, ayo?” ajak Darwin, ia menggandeng tangan Asmira menuju mobil.


Mobil yang membawa mereka berhenti di sebuah restoran romantis yang sangat terkenal.


“Mewah banget tempatnya Mas, ada tamannya lagi.” Asmira menyukai tempat itu.


“Ini salah satu restoran kita sayang,” ucap Darwin.


“Oya, ide siapa desain tempat yang indah banget begini?" Asmira memutar bola matanya ke seluruh ruangan.


“Aku dong,” jawab Darwin.


Saat pesanan tiba, mereka melahap habis semua makanan tanpa tersisa sedikit pun. Keduanya sama tidak ada romantis sama sekali, sama-sama datar, sama-sama baru dekat satu sama lainnya.


“Sayang, kamu mau kita bulan madu ke mana?” tanya Darwin.


“Venice, sayang,” jawab Asmira.


Darwin menyipitkan matanya. “Tahu dari mana Venice?” tanya Darwin, bukan Asmira yang biasanya, Asmira tidak mungkin punya wawasan seluas itu.


“Rekomendasi mbak Jessica, terus aku searching di google, deh,” sahut Asmira.


“Diam-diam kamu nakal ya, jauh-jauh hari udah siapin tujuan bulan madu kita,” ledek Darwin.


“Mas .... aku enggak tahu apa-apa, mbak Jessica yang menyarankan.” Asmira tersipu malu, Jessica benar-benar sengaja menggoda Asmira.


Darwin tertawa kecil melihat pipi Asmira merona, ia tahu betul tingkat wawasan Asmira justru terlihat aneh jika ia mengetahui banyak hal.

__ADS_1


Jangan lupa Like ya...


__ADS_2