Perjanjian

Perjanjian
Episode 42


__ADS_3

“Meeting kita dengan klien perusahaan S kamu atur jadwal kembali besok, hari ini saya pulang lebih awal,” pinta Darwin pada Tiwi.


“Baik, Pak,” ujar Tiwi.


Senyum menghiasi bibir Asmira saat ia menyambut suaminya pulang kerja.


“Kamu udah siap, ayo?” ajak Darwin.


“Mau ke mana kita, Mas?” tanya Asmira, saat Darwin sudah meluncurkan mobilnya menuju sebuah tempat yang masih rahasia.


Darwin membeli sebuah rumah seperti yang Asmira inginkan dan memberi namanya pada sertifikat rumah tersebut, ia sudah menyuruh Pratiwi membelikannya semenjak mereka masih berada di Eropa kemarin.


Mobil yang disetir Darwin memasuki kompleks perumahan mewah di kawasan Melati.


“Ayo, turun,” ajak Darwin.


“Mas, rumah siapa, nih?” tanya Asmira.


“Rumah kita,” jawab Darwin sembari membuka pintu rumahnya.


“Wow...” Cuma satu kata yang mewakili perasaan Asmira saat Darwin membuka pintu rumah tersebut.


Rumah yang bernuansa putih dan biru serta berbagai macam furnitur menghiasi rumah baru Asmira lengkap juga dengan kolam renang di dalamnya.


“Besok kamu pindahkan barang yang kamu suka dari apartemen kemari, ya?” pinta Darwin.


“Iya Mas, semua buku-buku yang ada di ruang kerja kamu boleh enggak Mas aku pindahkan ke sini?” tanya Asmira.


“Boleh dong sayang, kamu suka enggan rumah ini?” tanya Darwin mencubit pipi Asmira.


“Terima kasih ya Mas, suka banget,” Asmira memeluk tubuh suaminya itu.


Ketika Darwin membawa Asmira keliling rumah barunya itu tiba-tiba ponselnya berdering. "Siapa sih kan gue udah suruh Tiwi tunda semua meeting," gumam Darwin kesal,


ia meraih handphone dari saku celananya.


“Ini dengan pak Darwin?” tanya seorang pria dibalik telepon.


“Iya, ada apa?” tanya Darwin ketus.


“Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahu bahwa ibu Jessica masuk rumah sakit beliau tidak sadarkan diri dan kehilangan banyak darah,” ujar pria itu.


Darwin mencoba setenang mungkin agar Asmira tidak panik.


“Di mana tempatnya?” tanya Darwin berpura-pura santai.


Darwin segera mengajak Asmira pulang, mobilnya meluncur cepat menuju rumah sakit tanpa menyahut setiap pertanyaan yang keluar dari mulut Asmira. Saat mereka tiba di rumah sakit semuanya telah berkumpul di sana.

__ADS_1


“Ma apa yang terjadi?” tanya Asmira saat melihat semua berada di rumah sakit.


“Jessica kecelakaan Tari,” ujar Martha.


“Mas, kenapa kamu diam saja tadi kenapa enggak kasih tahu aku?” Asmira memukul bahu Darwin.


“Sayang tenang, aku sengaja enggak kasih tahu biar kamu enggak panik,” Darwin memeluk tubuh istrinya.


Dokter keluar dari ruang operasi, “Jessica kehilangan banyak darah kami kehabisan stok darah golongan tersebut,” ujar dokter.


“Pak, ambil darah saya saja saya ayahnya,” ujar Marco.


“Baik, ikut saya” ajak dokter.


Semenjak mereka menganggap Jessica sebagai anak angkatnya, hari-hari Martha juga Marco terasa lebih hidup.


“Dad, aku enggak mau Tante kenapa-kenapa,” Sara menangis di pelukan Valen.


“Sayang, tenang. dokter akan lakukan yang terbaik untuk Tante,” bujuk Valen.


“Iya sayang, Cony juga udah donor darah buat Tante,” sambung Martha menenangkan Sara yang sudah tersedu-sedu.


Operasi berjalan lancar darah Marco cocok dengan darah Jessica tapi ia belum sadarkan diri, dokter melarang mereka menemui Jessica sampai ia siuman dulu.


“Apa sebenarnya yang terjadi, Sus?” tanya Martha pada suster yang menangani Jessica.


“Jalan mana maksud Suster?” tanya Darwin.


“Jalanan Sepi daerah Mawar,” ujar Suster.


Semua heran ngapain Jessica ke tempat sepi tersebut.


“Kita tunggu Jessica pulih baru kita tanyakan apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Marco.


Keesokan harinya.


“Dokter, apa sebenarnya yang terjadi pada anak saya, sudah 24 jam ia belum sadar juga,” tanya Martha panik.


Dokter memeriksa kondisi Jessica. “Mungkin pengaruh obat bius operasi saja Buk, Jessica baik-baik saja detak jantungnya juga normal,” jawab dokter.


Sara akhirnya menyetujui untuk sekolah setelah dibujuk Asmira, ia bersikeras untuk menunggu sampai Jessica siuman.


Sementara Darwin dan Valen sudah bekerja, sisanya hanya Martha dan Marco yang menjaga Jessica di rumah sakit.


Setelah beberapa hari dirawat dengan pelayanan nomor satu, akhirnya kondisi Jessica sudah stabil, dokter memperbolehkannya pulang, tetapi ia harus rutin check-up.


“Apa yang sebenarnya terjadi, Nak?” tanya Marco hati-hati sesampainya mereka di rumah.

__ADS_1


Jessica enggan menjawab pertanyaan Marco, ia hanya diam seribu bahasa.


“Besok, sidang putusan pengadilan agama,” sambung Marco. Tapi rasanya percuma Marco berkoar-koar sendiri sementara Jessica sedang tidak ingin membahas apa pun.


Malam harinya.


Jessica duduk dilantai merebahkan kepalanya di tepi ranjang, Valen masuk terkejut melihat Jessica duduk dilantai.


“Jess...”


Valen mengangkat tubuh Jessica ke ranjang. Air mata meleleh di pipi Jessica.


“Apa yang sebenarnya terjadi Jess, aku tahu aku hanya orang baru untuk kamu, tapi percayalah Jess aku mencintaimu tulus,” ucap Valen tanpa sadar. Jessica menatap Valen.


“Maaf terlalu cepat, tapi aku rasa aku tidak bisa memendamnya terlalu lama,” ujar Valen.


Jessica memeluk erat tubuh Valen tanpa berkata sepatah kata pun.


Malam harinya.


Saat makan malam, Darwin meminta kedua orang tuanya untuk membantu Asmira membersihkan apartemen dan memindahkan semua barang dari sana ke rumah baru mereka.


Martha awalnya melarang mereka pindahan. Namun Marco mengatakan tidak mungkin mereka terus-menerus berada di rumah itu, mereka juga harus mandiri. Setelah mendengar ucapan Marco, akhirnya Martha setuju walau ia merasa bersedih.


Martha masih sulit untuk melepaskan kepergian mereka darinya, semenjak Darwin tinggal di apartemen ia sangat jarang mengunjunginya apalagi sekarang ia sudah beristri kelak semakin ia lupa untuk mengunjunginya. Pikir Martha.


"Ma, kita akan sering-sering mampir kemari nanti, Mama jangan sedih dong," pinta Asmira memeluk Martha.


"Janji ya?" pinta Martha.


Asmira mengangguk berkali-kali ia tersenyum disela tangisnya.


Keesokan harinya.


Marco mendapatkan informasi tentang sidang perceraian Jessica terus berlanjut, akan tetapi Hardi tidak pernah menampakkan batang hidungnya, ia hanya hadir dua kali sidang saja. Kondisi tersebut tentu mempermudah jalannya proses sidang.


Dan tepat pada hari ini Pengadilan agama mengesahkan perceraian Jessica dan Hardi, lantaran tidak ada bantahan dan bukti apa pun untuk menolak bukti yang Jessica berikan. Pelaporan selanjutnya pun berlangsung, pengacara Marco kini membawa perkara KDRT ke P2TP2A disertai bukti-bukti yang kuat.


Jessica tidak banyak bicara setelah ia keluar dari rumah sakit kecuali dengan Sara, ia hanya menyunggingkan senyum di wajahnya.


Marco memberitahukan putusan pengadilan padanya saat makan malam, Valen tersenyum simpul.


“Besok kita akan pulang kampung, sekalian liburan dan berkunjung ke makam anak pertama Papa,” ujar Marco tegas.


Melihat kondisi Jessica, Marco rasa, anak angkatnya itu butuh udara segar di luar sana untuk menenangkan pikirannya yang sedang tidak baik-baik saja.


“Yeay ... liburan, liburan...” teriak Sara berulang-ulang ia sangat kegirangan.

__ADS_1


jangan lupa like ya ..


__ADS_2