Perjanjian

Perjanjian
Episode 57


__ADS_3

Kelvin bersalaman dengan Martha yang sedang asyik mengobrol dengan Jessica. Namun, Jessica menghindar dari Kelvin, ia mengajak Sara masuk ke dalam. Kelvin terdiam. Entah mengapa setiap kali ia melihat Jessica hasratnya selalu bergejolak yang tidak ia temui dari wanita mana pun.


“Ritha di dalam Vin, mending lu temui, lu selesaikan semuanya sebelum terlambat,” titah Darwin pada sahabatnya itu.


Martha tampak bingung dengan perkataan Darwin, tapi ia tidak menanyakan apa pun. Kelvin segera masuk ke dalam mencari di mana keberadaan Ritha.


Marni memperhatikan Kelvin dibalik pintu, Ritha terkejut melihat Kelvin berada di rumah Marco. Sementara Marco di ruang televisi, Ritha bergegas menarik tangan Kelvin sebelum ia bertemu Marco. Jika tidak, bisa-bisa aktingnya terbongkar.


“Kamu ngapain di sini!” tanya Ritha ketus.


“Kamu yang ngapain di sini sayang?” tanya Kelvin memeluk Ritha, ia hembuskan nafasnya pelan di telinga Ritha.


Ritha melepaskan pelukan Kelvin dengan kasar.


“Kenapa, kenapa cari aku, apa kamu ingin melampiaskan nafsumu?” tanya Ritha seraya berkacak pinggang dengan pandangan yang tajam.


Pertanyaan itu membuat Kelvin murka, wajah putihnya tampak memerah, ia cengkeram lengan Ritha dengan keras.


“Jika hanya untuk kepuasan belaka, kamu bukan tipe aku, banyak wanita di luar sana yang lebih menggoda dari pada kamu, yang aku pedulikan anak yang kamu kandung, mengerti kamu!” kesabaran Kelvin mulai terpancing.


“Lepas Mas, sakit!” teriak Ritha pelan, dengan mengatupkan kedua bibirnya.


Kelvin menarik dagu Ritha ke atas, mencengkeram erat lehernya, hingga Ritha kesulitan bernafas.


“Mas, jangan buat aku begini, aku cuma ingin anakku lahir punya ayah dan diakui hanya itu saja.” Air mata membasahi pipi Ritha.


Mendengar jawaban Ritha Kelvin lepaskan tangannya dari leher Ritha.


“Kamu selalu bilang enggak bakalan nikahi aku, lalu apa yang bisa aku harap, Mas?” tanya Ritha menggoyangkan tubuh Kelvin.


Kelvin terpaku dengan ratapan Ritha. memang benar, selama ini ia selalu mengatakan itu, pada kenyataannya ia tidak mencintai Ritha sama sekali, ia hanya menjadikan Ritha tempat pelampiasan nafsu belaka.


“Kamu jangan ganggu aku lagi Mas, hanya itu pintaku. Apa kamu tidak ingin anakmu hidup bahagia dengan kekayaan yang tidak akan habis tujuh turunan?” tanya Ritha menatap wajah Kelvin. Kelvin tercengang dengan ucapan yang keluar dari mulut Ritha.

__ADS_1


“Maksud kamu?” tanya Kelvin dengan pandangan tajam.


“Biarkan aku bersandiwara di rumah keluarga Marco, Mas,” pinta Ritha memegang kedua tangan Kelvin.


Kelvin seakan tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


“Jika itu mau kamu silakan!” ucap Kelvin benar-benar kesal lalu ia pergi meninggalkan Ritha yang berada di sana sendirian.


Ritha tersenyum puas ia berhasil mengajak Kelvin bekerja sama dengannya.


Saat menyusuri rumah mewah Marco, Kelvin melihat Jessica berada di teras samping, ia asyik dengan ponselnya. Kelvin menghampiri Jessica ia memeluknya dari belakang lalu di kecup mesra leher jenjang Jessica.


“Mas, udah pulang,” tanya Jessica. Ia menyangka itu adalah Valen.”


“Enggak biasanya Mas Valen begini,” gumamnya dalam hati.


“Kamu!” Jessica kaget ternyata bukan Valen yang memeluknya.


Kelvin meraih tangan Jessica yang ingin menjauh darinya. “Beri aku kesempatan Jess,” pinta Kelvin sungguh-sungguh.


Marni menarik tangan Jessica. “Non, ikut saya sebentar, ada yang mau saya bicarakan,” ajak Marni ke halaman belakang, Jessica menurut saja.


Darwin melihat Kelvin keluar rumah, ia bergegas pergi dengan mobilnya. Darwin bingung kenapa dia tidak membawa Ritha bersamanya, bukankah tadi ia bilang ia ingin anak yang dikandung Ritha.


Darwin menggaruk kepalanya yang terasa gatal.


Darwin pun berpamitan kepada Martha, ia ingin kembali ke kantor ada pekerjaan yang akan diselesaikan dengan Pratiwi.


* * *


Valen melaju kencang dengan mobilnya menuju sebuah rumah sakit, ia akan bertemu dengan seorang dokter kemarin ia telah membuat janji dengannya.


“Anda Tuan Valen?” tanya seorang perawat. Valen mengangguk.

__ADS_1


“Mari masuk, dokter sudah menunggu Anda di dalam.”


Valen dengan rasa penasaran pun masuk menemui dokter Susi, kenapa tiba-tiba ingin bertemu dengannya, apa ada masalah dengan Sara. Bukannya kemarin ia bilang Sara anak yang berprestasi, Valen bertanya-tanya sendiri dengan rasa was-was.


“Maaf saya terlambat dok,” ucap Valen ketika bersalaman dengan dokter Susi.


“Tidak apa-apa, silakan duduk.” dokter Susi mempersilahkan Valen duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


“Kalau boleh saya tahu, ada masalah apa ya, dok?” tanya Valen.


Dokter Susi tersenyum. “Maaf sebelumnya saya merepotkan Anda. Namun, ada hal yang ingin saya sampaikan,” ujar dokter Susi.


“Sara membuat kesalahan apa, dok?” tanya Valen lagi, ia tidak tenang sebelum mengetahui apa tujuan dokter mengajaknya bertemu.


Dokter Susi bangkit, ia mengambil salah satu map di antara map yang tersusun rapi di rak, ia membuka map itu dan memperhatikan dengan saksama.


“37 tahun yang lalu, 3 Juli 1982 ada 3 bayi perempuan yang lahir dalam waktu bersamaan, kala itu saya dibantu dokter Ani, beliau telah tiada 3 tahun yang lalu.” Dokter Susi menghempaskan tubuh di kursinya, ia lepaskan kacamata yang melekat di wajahnya.


Valen diam saja, ia masih belum mengetahui ke mana arah pembicaraan dokter Susi, ia sabar mendengarkan lanjutannya.


“Salah satu di antara 3 bayi itu meninggal dunia, orang tuanya tidak diketahui siapa. Bayi itu tergeletak di pagar rumah sakit, malam itu hujan sangat deras, kami membawanya masuk. Namun sayang, nyawanya tak tertolong,” cerita dokter Susi, ia hembuskan nafasnya perlahan.


Dokter Susi bangkit ia berdiri di jendela, ia menyibak tirai dan menatap jauh keluar sana.


“Ada seorang wanita hamil, namanya Fenita, ia juga melahirkan di rumah sakit itu. Bayinya laki-laki, aku sempat memergoki ia masuk ke ruang bayi. Bergegas saya mencegat wanita itu, saat saya tanyakan apa tujuannya masuk ke sana, ia tiba-tiba menjerit karena perutnya kesakitan, ia pun harus segera di operasi.” Dokter Susi meraup muka dengan kedua tangannya.


Valen semakin bingung dengan jalan cerita dokter Susi, terlihat dari wajahnya seolah-olah ia merasa bersalah dengan kejadian masa lalu yang sedang ia ceritakan tersebut. Kemudian dokter Susi lanjutkan kembali ceritanya.


“Saya menyuruh perawat melihat ruang bayi itu, saya yakin pasti ada yang Fenita lakukan. Karena setelah melahirkan, Martha dan Sukma keduanya tidak sadarkan diri.”


Valen menutup mulut dengan tangannya, ia baru mengerti apa yang dokter Susi maksud.


“Anak Martha Ada tanda lahir di dadanya. Sementara anak Sukma mempunyai tahi lalat di telinganya,” ujar dokter Susi.

__ADS_1


Dokter Susi akhirnya lega, selama ini ia hidup dalam kecaman perasaan bersalah, ia tidak punya keberanian untuk menceritakan kejadian sebenarnya pada Martha, siapa yang tidak kenal keluarga Marco Antonio. Jika saja dokter Susi berniat memberitahukan tentu ada caranya. Tapi, selama ini ia belum siap untuk mengungkit masa silam itu.


Jangan lupa like ya...


__ADS_2