
Mobil yang membawa Asmira menuju ke sebuah kafe. Hati Asmira sangat gembira, sejak lama ia telah mencari keberadaan sahabatnya itu. Tentu bertemu dengannya hari ini merupakan suatu yang sangat ia nantikan sejak lama. Begitu tiba di sana, ia berlari kecil memasuki Cafe.
“Nindy ...” panggil Asmira.
Nindy duduk di kursi, ia tersenyum melihat Asmira datang kemudian memeluk sahabatnya itu erat. Namun ada yang berbeda, tampilannya tidak semodis dulu.
“Aku kangen kamu.” Mata Asmira berkaca-kaca.
“Jangan menangis dong,” ucap Nindy melepaskan pelukannya.
“Kamu apa kabar?” tanya Asmira menyeka air matanya sembari memaksakan sebuah senyuman.
“Mau pesan apa?” tanya Nindy seolah-olah mengalihkan pembicaraan.
Asmira tidak menjawab, ia menatap sahabatnya dari ujung kaki hingga ujung jemarinya, apa yang menimpa Nindy apakah sebenarnya yang terjadi, Asmira bertanya-tanya dalam hati.
“Aku dapat nomor telepon kamu dari Bastian,” ujar Nindy memecahkan keheningan.
“Oya, Bastian apa kabar?” tanya Asmira tersenyum.
“Apa kalian berdua putus secara baik-baik?” tanya Nindy menyipitkan matanya.
“Putus?” tanya Asmira keheranan.
Pembicaraan mereka terhenti saat seorang pelayan membawakan pesanan mereka dan menyajikannya di atas meja.
“Aku enggak sangka kita bisa ketemu lagi Nin,” ujar Asmira.
Nindy tersenyum. “Semoga pernikahan kalian langgeng ya...”ucapnya.
“Kamu sendiri sudah punya pasangan?” tanya Asmira.
“Aku belum terpikir buat nikah dulu Mir, aku masih sibuk bayar hutang-hutang papa, aku kuliah sambil kerja paruh waktu, itu udah cukup buat aku kerepotan Mir,” ujar Nindy. Tangannya sibuk mengaduk-aduk gelas yang berisi minuman favoritnya, matanya mulai berkaca-kaca.
Asmira mengelus bahu Nindy, beratnya beban yang harus dipikul sahabatnya, membuat Asmira merasa iba.
“Santi adik kamu apa kabar Nin?” tanya Asmira.
“Aku Enggak tahu Mir.” tangisan Nindy pecah saat Asmira mengungkit nama adiknya.
“Nin, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Asmira memeluk tubuh Nindy.
__ADS_1
Nindy bercerita tentang Santi yang tidak ia ketahui di mana keberadaannya sekarang. Asmira juga menanyakan kabar kedua orang tua Nindy. Namun sungguh membuat Asmira semakin merasa iba setelah mengetahui cerita yang sebenarnya.
Mama Nindy lari bersama selingkuhannya setelah Papa Nindy bangkrut. Sementara sang papa kini di rumah, ia lumpuh karena penyakit stroke yang ia derita.
Asmira menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tanpa terasa air mata meleleh di pipinya ia bersumpah akan membantu Nindy keluar dari masalahnya bagaimanapun caranya.
Pertemuannya dengan Nindy membuat Asmira termenung, ia duduk di bangku halaman depan rumah mertuanya.
“Sara sama siapa itu?” gumam Asmira dalam hati, matanya tertuju pada dua gadis muda yang sedang mengobrol di teras samping, ia menghampiri Sara.
“Sara... sama siapa disini?” tanya Asmira saat ia tiba Sara sendirian.
“Sama pembantu Thany yang baru,” jawab Sara.
“Tapi kok sepertinya seusia kamu?” tanya Asmira menyipitkan matanya.
Asmira penasaran dengan pembantu baru yang dimaksud Sara, ia ingin melihat siapa gerangan gadis muda itu, Suara Martha memanggil mereka Asmira mengurungkan niatnya.
“Kalian ngapain disana, ayo masuk udah mau Maghrib nih?” ajak Martha.
Malam harinya.
Selesai makan, semua berkumpul diruang tamu sambil menonton televisi ditemani beberapa Camilan sehat dan enak yang dibuat oleh Marni. Jessica salah tingkah setiap kali berpapasan dengan Valen, ia tidak berani beradu pandang dengannya.
“Daddy punya cara sendiri buat dekati Tante Jessi sayang, kamu tenang saja," jawab Valen santai.
Sara tersenyum mendengarnya. Ia sangat bahagia karena besok ia mulai bersekolah kembali, cukup lama ia menunggu semuanya selesai.
Sementara itu, Asmira mendekati Darwin ia menutup laptop yang ada di hadapannya.
“Sayang bentar lagi...” ujar Darwin.
“Ya udah aku mau tidur dikamar Mbak Jessica saja,” balas Asmira.
“Ya udah iya... Nih aku simpan laptopnya,” Darwin bergegas naik ke ranjang.
Asmira menarik selimut menutupi tubuh keduanya. Mulai sekarang, Asmira punya cara sendiri untuk membuat Darwin tidak bisa membantah setiap ada kemauannya. Jika itu, permintaan yang merupakan kebaikan untuk Darwin sendiri. Setiap malam ia begadang dengan segudang aktivitas, Asmira tidak suka itu.
Saat mereka sama-sama berbaring, Asmira mencoba bicara tentang Nindy pada Darwin, ia meminta agar Nindy diberikan pekerjaan oleh Darwin. Asmira tidak tega melihat Nindy begitu menderita sekarang. Tentu, Darwin mengiyakan permintaan sang istri dengan Senang hati.
- Sementara itu di rumah kelvin.
__ADS_1
Seorang wanita paruh baya mondar-mandir didepan rumah Rose dan Kelvin, ia berkali-kali menekan bel tapi sepertinya tidak ada yang membukakan pintu.
“Kamu di mana Kelvin, Mama di depan rumah kamu, Rose kemana?” tanya Fenita.
“Mama kenapa gak bilang-bilang kalau mau ke rumah.” Kelvin sangat kaget.
“Mama rindu Brandon, ini udah sebulan lebih kamu dan Rose tidak menjenguk mama, apa kamu lupa mama masih hidup?” tanya Fenita kesal.
“Mama tunggu aku pulang ya ...” Kelvin memutuskan telepon sepihak.
Setibanya di rumah ia melihat mamanya duduk di teras depan dengan wajah penuh amarah, Kelvin memejamkan matanya dan tersenyum menyapa Fenita.
Fenita sangat merindukan Brandon cucunya. Akhirnya ia putuskan untuk menjenguknya langsung. Begitu kelvin menyapanya, pertanyaan pertama yang Fenita lontarkan adalah dimana keberadaan Brandon.
Kelvin membohongi Fenita dengan mengatakan Rose sedang ada acara di panti asuhannya. Kelvin menyuruh Fenita pulang. Kelvin berhasil membujuk Fenita dan mengantarkannya pulang, padahal ia sangat lelah setelah seharian meeting dengan klien.
“GrandMa, apa kabar Ma?” tanya Kelvin saat ia tiba di rumah Fenita.
“Kamu enggak masuk dulu,” ajak Fenita.
“Lain kali ya, Ma.” Kelvin meluncurkan mobilnya menuju rumah Ritha dengan kecepatan tinggi.
Kelvin melirik Ritha yang tidur di sebelahnya, ia sudah tertidur pulas ia mencium kening Ritha. Pikirannya melayang kali ini ia berhasil membohongi Fenita, tapi tidak untuk seterusnya lambat-laun pasti Fenita akan tau yang sebenarnya. Kelvin menghembuskan nafasnya perlahan, ia memejamkan matanya tiba-tiba Jessica terlintas di pikirannya.
Semenjak kejadian di pengadilan kemarin, tampaknya Jessica seperti menghindar darinya, Kelvin menghubungi Jessica.
“Halo Jess...” sapa Kelvin saat telepon sudah terhubung.
“Ada apa Vin, malam-malam begini telpon?” tanya Jessica.
“Aku rindu kamu Jess, ayo kita ketemu besok?” ajak Kelvin.
“Maaf ya Vin, sepertinya besok aku gak bisa,” tolak Jessica.
“Sebentar saja aku mohon, aku cuma mau liat kamu doang, aku rindu...” bujuk Kelvin.
Tanpa menjawab, Jessica memutuskan panggilan sepihak. Setelah panggilan Kelvin berakhir terdengar suara ketukan pintu kamar Jessica.
Ternyata Sara, ia menanyakan pada Jessica apakah esok hari ia bersedia mengantarnya ke sekolah. Tentu saja Jessica bersedia. Jawaban Jessica cukup membuat Sara kegirangan. Sara masuk kembali ke kamarnya, ia tampak amat bahagia karena Jessica mengiyakan permintaannya.
Jessica masih syok mengetahui Kelvin adalah keponakan mantan suaminya, jika Hardi sekejam itu bagaimana mungkin Kelvin tidak demikian, tubuh mereka masih mengalir darah yang sama. Buktinya sampai detik ini ia masih berselingkuh, padahal keberadaan Brandon sama sekali tidak ia ketahui di mana. Begitu pikir Jessica.
__ADS_1
Jangan lupa like ya...