Perjanjian

Perjanjian
Episode 22


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan 5 jam lamanya, mereka pun tiba di pantai. Jadwal keberangkatan semula pagi hari, di ubah jadi siang, karena Darwin ada rapat yang tidak bisa diwakilkan.


Setibanya di sana, mereka disuguhkan pemandangan indah. Betapa besarnya anugerah Yang Kuasa, alam ini jadi salah satu bukti Kebesaran-Nya.


“Istirahat saja dulu, sebentar lagi kita mulai sesi pemotretannya,” ucap sang fotografer.


Asmira menggunakan gaun rancangan desainer yang sama dengan gaun pengantin kemarin. Namun yang hadir sore itu hanya asistennya saja, sedangkan perias wajah Martha sengaja menyewa MUA terkenal.


Hanya sedikit riasan wajah, Asmira tampak semakin cantik, siapa saja yang melihatnya pasti berdecak kagum.


“Ih, Mas cocok meong deh istrinya, ye hati-hati jangan sampai direbut orang nanti,” ujar perias itu dengan logat bahasa yang susah di mengerti Darwin. Asmira hanya tersenyum melihat Darwin yang kebingungan.


Asmira yang tanpa heels dikakinya, hanya sedada Darwin. Fotografer profesional itu iseng menjepret beberapa foto sambil menunggu sunset.


Saat matahari mulai terbenam perlahan, Asmira dan Darwin melakukan sesi pemotretan. Awalnya sedikit canggung dan kaku, tapi berkat kesabaran sang fotografer, foto-foto yang dihasilkan cukup memuaskan.


latar belakang sunset dan riak gelombang yang menyapu tepi pantai, menambah keindahan hasil jepretan fotografer Handal itu.


Asmira menggunakan dua gaun yang berbeda, yang satu hanya di tepi pantai saja, yang satunya lagi mereka harus basah-basahan dengan ombak yang menghantam.


Setelah sesi pemotretan selesai, Asmira enggan meninggalkan pantai. Sementara itu, fotografer dan lainnya mulai meninggalkan tempat itu satu persatu.


“Kenapa suka pantai?” tanya Darwin.


“Suka Mas, enggak tahu kenapa,” jawab Asmira yang menyelimuti tubuhnya dengan handuk.


Asmira diam menikmati suasana pantai nan indah itu, ia memejamkan matanya, menikmati embusan angin pantai yang menyibakkan rambutnya ke belakang, yang sedari tadi dibiarkan tergerai.


“Sayang ...” panggil Darwin.


“Ya,” jawab Asmira.


“Mau sampai kapan kita di sinj, pulang yuk...” ajak Darwin.


“Mas, bentar lagi boleh?” pinta Asmira.


“Bentar doang ya,” jawab Darwin.


“Mas kehidupan aku selama ini begitu susah, aku sangat menderita, melihat Kelvin memperlakukan mbak Rose begitu ....” Asmira menggantungkan perkataannya.


“Aku akan membahagiakan kamu sayang, apa pun yang terjadi ke depan, percayalah padaku jangan goyah dan ragu,” jawab Darwin menatap Asmira.


“Ada yang Mas sembunyikan dari aku?” tanya Asmira.


“Enggak ada, mau sembunyikan apa?” jawab Darwin mengerutkan keningnya.


“Benaran?” tanya Asmira meyakinkan.


Darwin berpikir sejenak. “Seingat aku sih enggak ada.”

__ADS_1


“Kepercayaan dan kejujuran nomor satu Mas,” ucap Asmira membuang pandangannya ke laut.


“Tapi kenapa kamu enggak jujur soal kehidupan malam kamu,” gumam Darwin dalam hati menatap dalam-dalam wajah Asmira.


Asmira bangun dari duduknya. “Ayo Mas kita pulang, aku lapar banget,” ajak Asmira.


Darwin menggandeng tangan Asmira menuju tempat parkir mobil, tepat di depan hotel mewah yang berhadapan langsung dengan laut indah.


Darwin meluncurkan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka berhenti sejenak di sebuah restoran untuk mengisi perut yang keroncongan. Setelah selesai makan, mereka melanjutkan kembali perjalanan menuju apartemen Darwin.


* *


Keesokan harinya.


Jessica yang berhasil kabur dari rumah suaminya melalui jendela berkat bantuan salah satu pembantu rumah itu, yang merupakan korban keserakahan bandot tua itu juga.


Wajah Jessica penuh dengan lebam-lebam, matanya bengkak, bibirnya mengeluarkan darah. Seluruh tubuhnya penuh dengan bekas pukulan dan tonjokan. Darah mulai mengering pada luka-lukanya.


Jessica tertatih-tatih memanggil taksi yang lewat.


“Mbak kenapa?” tanya sopir taksi itu. Wajahnya tampan, ia masih terlihat muda. Barangkali baru berusia 25 tahun.


“Antar saya ke jalan Mentari Pak.” Jessica memberitahu alamat tujuannya.


“Kenapa enggak ke kantor polisi saja Mbak, biar saya antar,” pinta sopir itu. Sesekali matanya menatap wajah Jessica di kaca mobilnya.


“Enggak usah Pak, antar saja ke tempat yang saya sebut tadi.” Jessica menyenderkan kepalanya ke jok mobil.


Mereka tiba di apartemen Darwin. “Mbak biar saya bantu,” pinta sopir itu.


“Enggak usah Pak, terima kasih ya, ini ongkosnya,”


“Enggak usah, saya ikhlas membantu Mbak.”


“Ambil saja Pak,”


Sopir itu tetap menolaknya, Jessica pun berterima kasih berulang kali. Ia memasuki apartemen Darwin, sopir itu tetap menunggu di luar memastikan Jessica baik-baik saja.


Setelah Jessica naik lift dan tidak terlihat lagi dari pandangannya, baru sopir itu meninggalkan apartemen tersebut.


Jessica menekan bel beberapa kali, Asmira dengan tergesa-gesa keluar.


“Mbak!!” teriak Asmira kencang.


Jessica yang sedari tadi tubuhnya seperti remuk dan hancur ia pingsan di pangkuan Asmira.


Asmira begitu panik, ia menjerit meminta pertolongan, saking keras jeritannya, satpam yang berada dilantai bawah mendengarnya.


Mereka membopong tubuh Asmira turun ke bawah dan salah satu di antara mereka menawarkan tumpangan membawa Jessica ke rumah sakit.

__ADS_1


Tiba di rumah sakit Jessica langsung ditangani Dokter, Asmira begitu panik, tangan dan kakinya gemetar , air matanya terus mengalir tanpa henti. Ia begitu khawatir keadaan kakak satu-satunya itu.


Darwin tiba di rumah sakit, satpam apartemen menelepon memberitahukannya. Melihat kondisi Asmira begitu kalut, ia memeluk Asmira.


“Sayang tenang ya, mbak Jessica pasti baik-baik saja,” Darwin mengelus rambut Asmira.


“Baik gimana maksud Mas, Mas enggak liat kondisinya tadi, mukanya hancur di pukuli!” teriak Asmira dengan tangis yang makin menjadi.


Darwin menenangkannya, ia memeluk Asmira erat, mengelus-elus rambutnya dan mencium kepalanya.


“Pokoknya aku mau Mas bantu mbak Jessica, kalo Mas sayang aku Mas selesaikan masalah ini!” pinta Asmira.


Dokter keluar dari ruangan selesai menangani Jessica, Darwin menanyakan kondisi Jessica.


“Gimana kondisinya, Dok?” tanya Darwin.


“Apa korban sering mengalami kekerasan seperti ini, dengan pukulan, dan seluruh tubuhnya memar?”


“Memangnya kenapa Dok?” tanya Asmira.


“Tubuhnya penuh luka, luka lama saja belum sembuh, jika selalu terjadi demikian, saya khawatir dengan kondisi pasien, untung saja bukan di kepala,” ucap sang dokter.


“Tapi kondisinya sekarang gimana, Dok?” tanya Asmira khawatir.


“Luka-lukanya telah dibersihkan, kita perlu memeriksa kepala pasien, kita tidak bisa mengabaikan begitu saja, takutnya ada benturan atau sejenisnya,” ujar dokter itu.


“Lakukan yang terbaik, Dok?” pinta Darwin.


“Nanti perawat memberikan salep, harus rutin di oles di tempat yang lebam dan bengkak biar tidak terjadi pembekuan darah, pasien sudah sadar,” ucap dokter tersenyum ramah.


Asmira langsung menemui Jessica, meninggalkan Darwin yang masih berbincang dengan Dokter.


“Penyebab pasien pingsan kenapa, Dok?” tanya Darwin.


“Mungkin karena syok atau kelelahan, bisa jadi juga karena menahan rasa sakit. Sebab itu saya menyarankan pemeriksaan kepalanya, kalo begitu saya permisi dulu.” Dokter itu pun pergi setelah selesai berbicara dengan Darwin.


“Mbak apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Darwin yang baru saja masuk.


Jessica terdiam sejenak. “Kemarin aku ketemu teman lama aku,” ujar Jessica.


“Ya aku sama Mas Darwin juga liat kemarin,” sahut Asmira.


“Jadi?” tanya Darwin.


“Bandot tua itu tahu, ia menyuruh anak buahnya menjemput aku dengan paksa, malamnya aku dipukuli habis-habisan.” cerita Jessica, air matanya kembali meleleh.


Darwin begitu pilu mendengar cerita Jessica, ia juga begitu terpukul melihat tangisan Asmira. Tangisan Asmira sang kekasih membuat Darwin benar-benar murka.


“Siapa yang berani bermain-main dengan gue akan tahu akibatnya!” umpat Darwin kesal dengan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Jangan lupa Like ya...


__ADS_2