
Waktu terus berlalu hari demi hari terus berganti, tanpa terasa begitu banyak perubahan yang dilalui Asmira seakan-akan ia tidak percaya apa yang terjadi saat ini, semua seperti mimpi yang akan hilang saat ia terbangun nanti. Darwin yang memperlakukan dirinya seperti seorang ratu semua keperluan Asmira terpenuhi, sikap romantis Darwin seperti menghipnotis Asmira.
Asmira merebahkan kepalanya di bahu Darwin pria yang kini menjadi suaminya itu. Perkenalan singkat di antara mereka membuat Asmira semakin berpikir.
“Akankah hubungan ini bertahan lama?"
“Sayang kamu mau kita ke mana lagi, jangan sia-siakan waktu sebulan ini?”
“Sekarang giliran Mas dong, mau bawa aku ke mana, di mana tempat yang paling Mas suka,” jawab Asmira.
“Hm ... ke mana ya?” Darwin berpikir sejenak,
“Gimana kalo ...” Darwin menggantungkan kalimatnya.
“Ke mana?” tanya Asmira penasaran.
“Rahasia!” sahut Darwin tersenyum lebar.
“Mas... kasih tahu dong,” rengek Asmira.
“Ada deh pokoknya ...” goda Darwin.
“Kalo Mas enggak kasih tahu, malam ini mas tidur di sofa.” Asmira menyilang kan kedua tangannya di dada.
Darwin terkejut mendengar ucapan Asmira, biasanya ia selalu berhasil membuat istrinya kesal, tapi kali ini berurusan dengan persoalan ranjang, ia tidak mau ambil risiko harus tidur di sofa.
“Sayang jangan ambekan dong...” bujuk
Darwin.
“Habisnya Mas gitu sih,” jawab Asmira tersenyum manis.
Darwin tersenyum lega.
Minggu terakhir mereka berada di Eropa Darwin pergunakan sebaik mungkin, nanti setelah kepulangannya mungkin ia tidak menjamin bisa membawa Asmira jalan-jalan seperti sekarang, pekerjaan yang menumpuk pasti sudah menunggunya di kantor.
Setiap kali mereka melakukan hubungan intim Asmira dibuat terkapar lemas oleh Darwin, tubuh mungil Asmira jadi bulan-bulanan Darwin ia menjamah seluruh tubuh Asmira tanpa ampun.
pembahasan tentang buah hati di masa depan kelak, selalu jadi perbincangan paling seru di antara mereka berdua.
Lusa mereka akan kembali ke tanah air tercinta setelah sebulan lamanya mereka berbulan madu, cuti yang panjang membuat Darwin merindukan pekerjaan yang sudah menantinya.
* *
Jessica menghadiri sidang kedua ditemani Marco, Kelvin sudah berjanji kali ini ia akan menemani Jessica, dengan tergesa-gesa ia memasuki kantor pengadilan agama ia mencari di mana keberadaan Jessica, Marco terkejut melihat kedatangan Kelvin, teman yang dimaksud Jessica adalah Kelvin.
“Om...” Kelvin bersalaman dengan Marco, ia menghampiri Jessica. "Sorry, Jessi aku terlambat.”
“Enggak apa-apa kok Vin,” sahut Jessica.
Sidang umum dibuka sebelum pembacaan gugatan penggugat nanti yang akan ditutup untuk umum, Kelvin terkejut melihat Hardi berada diruang sidang sementara Hardi jauh lebih terkejut melihat keponakannya bersama istrinya. Marco sudah yakin Kelvin pasti tidak tahu apa-apa jika ia tahu tidak mungkin ia akan menemani Jessica hari ini.
__ADS_1
“Jadi Om Hardi ini suami kamu Jess?” tanya Kelvin.
Jessica mengangguk. “Kamu kenal pria brengsek itu, Vin?” tanya Jessica penuh amarah.
“Kelvin keponakannya Hardi Jess,” beritahu Marco.
Mulut Jessica ternganga mendengar bahwa Hardi adalah pamannya Kelvin, ia tidak menyangka dunia begitu kecil.
Sidang selesai pembacaan gugatan yang dibaca oleh Jessica sendiri. Membuat Kelvin lebih terkejut, bagaimana ia tidak tahu selama ini pamannya yang bersikap keji yang telah membuat Jessica begitu menderita, lebam-lebam yang Jessica perlihatkan kemarin itu juga ulah pamannya. Kelvin menutupi mukanya dengan tangan. Hardi mencoba mendekati Kelvin ia ingin berbicara dengannya.
“Stop!” Kelvin melarang Hardi untuk mendekat.
“Aku malu punya Keluarga seperti Om...” ucap Kelvin.
“Vin, ini tidak seperti yang kamu lihat, wanita itu begitu licik.” Hardi menunjuk pada Jessica.
“Diam!” teriak Marco pada Hardi.
“Sebaiknya Anda tinggalkan tempat ini,” ucap Jessica geram.
Kelvin melihat wajah Marco yang begitu murka, ia tidak mau terjadi apa-apa dengan Marco jika sesuatu terjadi Darwin pasti akan menyalahkannya.
“Ayo keluar.” Kelvin menyeret Hardi keluar menuju tempat parkir. “Aku malu Om!” teriak Kelvin.
“Kamu tidak percaya pada Om?” tanya Hardi.
“Gimana aku bisa percaya Om, mereka punya bukti yang kuat,” ujar Kelvin.
Kelvin meninggalkan Hardi yang tidak bisa berkata-kata lagi, ia menghampiri Jessica bersama Marco ia merasa malu dengan Jessica.
Marco menuju mobil ia memberikan sedikit waktu untuk mereka berdua.
“Kamu enggak perlu merasa bersalah Vin, ini bukan salah kamu,” jawab Jessica.
“Tapi Jess,”
“Jangan dibahas Vin.” Jessica memotong omongan Kelvin. “Aku butuh waktu sendiri.”
- Keesokan harinya.
Jessica yang baru selesai mandi dan berpakaian santai ia keluar kamar, perutnya meminta diisi dengan makanan.
“Tante ....” Sara berlari memeluk Jessica.
“Sayang, kamu kenapa di sini, kapan pulang?” tanya Jessica kaget.
“Apa kamu tidak mengharapkan kehadiran kami?” tanya Valen.
Jessica gelagapan. “Bukan gitu maksudnya Mas, aku cuma kaget saja,” jawab Jessica.
Darwin dan Asmira ikut bergabung, disusul Marco dan istrinya, suasana rumah jadi ramai kembali setelah sebulan berlalu rumah terasa sepi seperti kuburan.
__ADS_1
“Kalian udah pulang juga,” Jessica menghampiri Asmira.
“Aku kangen ....” Asmira memeluk kakaknya itu.
“Cukup dramanya, mending kita makan dulu lapar nih,” ujar Darwin. Semuanya tertawa.
Darwin telah bersiap-siap untuk berangkat kerja, ia sudah rapi dengan pakaian kantornya Asmira mengantarnya ke depan.
“Mas, enggak besok saja masuknya?” tanya Asmira.
“Udah sebulan kantor aku tinggal sayang,” jawab Darwin, ia segera meluncurkan mobilnya menuju kantor tidak lupa memberi kecupan mesra di kening Asmira.
Handphone Jessica berdering saat ia sedang berbincang hangat dengan Sara.
“Sebentar ya sayang,” Jessica sedikit menjauh dari Sara.
“Halo Jess,” sapa Kelvin.
“Iya Vin, ada apa?” tanya Jessica.
“Nanti malam kamu ada acara gak?” tanya Kelvin.
“Belum tahu, memangnya kenapa?” tanya Jessica.
“Aku mau ajak kamu dinner,” ucap Kelvin.
“Nanti aku kabari lagi ya Vin,” sahut Jessica.
Sara yang memperhatikan Jessica menerima telepon wajahnya menampakkan ke tidak sukaannya yang membuat ia kesal.
“Pacar Tante?” tanya Sara judes setelah Jessica selesai mengangkat telepon.
“Bukan, teman Tante mengajak makan malam,” jawab Sara.
“Cowok Tan?” tanya Sara.
“Iya, Kenapa?” jawab Jessica kemudian ia balik bertanya.
Sara tidak menjawab, ia memonyongkan bibirnya tanda tidak suka, Jessica tersenyum melihat tingkah Sara yang menggemaskan ia mengacak-acak rambut Sara.
“Kalo kamu enggak suka Tante enggak akan pergi,” ujar Jessica.
“Benaran Tante?” tanya Sara.
Jessica mengangguk tersenyum menampakkan gigi putihnya.
Asmira membagikan oleh-oleh kepada pembantunya yang sengaja ia belikan untuk mereka, wajah bahagia mereka membuat Asmira ikut bahagia.
“Nyonya muda baik banget,” puji salah satu pembantu.
“Ini spesial buat Bu Marni.” Asmira menyodorkan hadiah untuk Marni dan suaminya.
__ADS_1
“Terima kasih banyak Non, tidak usah repot-repot memanggil mereka semua kesini, biar saya saja yang bagikan,” pinta Marni. Asmira tersenyum bahagia indahnya berbagi.
jangan lupa like ya...