
Marco tiba di bandara, ia disambut hangat oleh Valen dan Sara. Keduanya telah lama tak bersua, mungkin sekitar 5 atau 6 Tahun yang lalu. Kesibukan yang padat membuat Valen jarang pulang ke Indonesia. Marco memeluk hangat adik kesayangannya itu, ia menepuk-nepuk bahunya. Tanpa terasa air mata jatuh membasahi pipinya.
“Cony ...” panggil Sara sembari memeluk Kakak ayahnya.
“Kamu sudah semakin besar ya, makin cantik saja nih ponakannya Thany,” ujar Martha. Sara tersenyum manis. Panggilan yang cukup unik yang dibuat Sara sendiri untuk Marco dan Martha.
Dalam perjalanan menuju rumah Valen, mereka tak henti-hentinya berbicara, melepaskan kangen yang lama terpendam. Sara begitu dekat dengan Martha, Sara kehilangan ibunya saat ia berusia 5 Tahun. Tentu ia sangat menginginkan kehangatan seorang ibu, sekarang usianya telah menginjak remaja.
“Darwin juga di sini loh,” beritahu Martha pada Valen.
“Jadi mereka bulan madu kemari?” tanya Valen sesekali matanya melirik Jessica.
“Iya, kami sengaja menyusulnya kemari, sengaja memberi kejutan,” ujar Marco.
Martha yang mengetahui Valen curi-curi pandang kepada Jessica tersenyum.
“Kamu enggak ada rencana buat nikah lagi?” tanya Martha to the point.
Valen tersenyum simpul yang sedang menyetir mobilnya.
“Tahu tuh Daddy, alasannya karena aku.” Sara memonyongkan bibirnya.
“Belum ada yang cocok, Mbak,” sahut Valen.
Valen berbeda dengan Marco usia mereka juga terpaut jauh, kulitnya lebih putih dengan tinggi 180cm dan badan yang proporsional, wajahnya juga tampan. Darwin lebih mirip Valen ketimbang papanya sendiri.
Mereka tiba di rumah Valen, Martha sengaja meninggalkan Jessica bersama Valen, sepertinya Valen menyukai Jessica pada pandangan pertama, Martha mengajak Marco dan Sara segera masuk.
“Tunggu, Tan...” Panggil Jessica, tapi Martha tidak menggubris.
Valen yang dari tadi mencuri-curi pandang pada Jessica tersenyum semringah menatap lekat wajah Jessica.
“Mas enggak apa-apa?” tanya Jessica melihat Valen yang mematung.
“Saya Valen omnya Darwin.” Valen menjulurkan tangannya.
“Udah tahu, udah kenal,” jawab Jessica cuek tanpa meraih tangan Valen.
Valen jadi kikuk, ia mengajak Jessica masuk ke dalam rumahnya.
Jessica melangkah masuk menuju rumah pria yang usianya mungkin sebaya dengan Hardi suaminya, matanya menatap lekat pada pigura kaca yang terletak di dinding ruang tamu, tampak sepasang suami-istri dan anak kecil, Jessica yakin itu pasti Valen dan istrinya, dan masih banyak pigura lainnya. Karena matanya terus menatap dinding ia menabrak meja yang ada di hadapannya.
“Awhh!” teriak Jessica, kulitnya yang putih langsung memar.
“Kamu kenapa?” tanya Valen dengan tergesa-gesa menghampiri Jessica.
“Enggak apa-apa kok Mas.” Jessica segera berlalu meninggalkan Valen dengan menahan rasa sakit.
Jessica menghampiri Martha, di sana juga ada Sara yang sedang asyik bercengkerama bersama Marco.
“Tante kenapa?” tanya Sara.
“Ini olesi salep.” Valen memberikan sebuah salep.
__ADS_1
“Sini biar aku yang olesi Tante...” pinta Sara segera mengambil salep yang ada ditangan Daddy-nya.
Jessica hanya diam mendapat perlakuan lembut dari ayah dan anak itu.
Sementara itu, Asmira dan Darwin telah tiba di Paris.
“Mas aku mau ke menara Eiffel,” ujar Asmira.
“Besok saja gimana?” tanya Darwin.
“Boleh deh, sekarang kita istirahat saja dulu,” jawab Asmira.
Selesai mandi dan berpakaian santai, keduanya sama-sama lapar, akhirnya memutuskan untuk makan dulu sebelum istirahat, Darwin tidak akan membiarkan istrinya tidur dalam keadaan perut kosong.
“Sayang, nanti aku ajak kamu ketemu om Valen ya,” ujar Darwin mulutnya penuh dengan makanan.
Asmira tertawa kecil. “Mas makan dulu, ngomong apa, sih?”
“Nanti kita ketemu om Valen ya,” Darwin mengulangi kalimatnya.
“Siapa om Valen?” tanya Asmira.
“Adiknya Papa,” jawab Darwin.
“Oh...” Asmira membulatkan mulutnya.
Selesai makan mereka segera istirahat melepaskan penat seharian dalam perjalanan.
Seperti biasa saat melihat sesuatu yang membuatnya takjub, penyakit narsis Asmira kambuh ia menjepret dirinya sendiri menggunakan ponselnya, ia juga ikut memotret suaminya dan tidak lupa memposting beberapa foto yang bagus ke media sosial miliknya.
Darwin hanya bisa menahan senyum melihat tingkah istrinya, Asmira seperti bukan dirinya ketika bertemu kamera, ia juga akan berhenti sendiri jika telah lelah dan bosan.
“Mas ayo ke rumah om Valen,” ajak Asmira mulai bosan dengan tempat itu.
“Ayo, sekalian kasih kejutan.” Mereka menuju rumah Valen yang tidak terlalu jauh, menggunakan taksi.
Tiba di rumah Valen Darwin menekan bel beberapa kali, akhirnya pintu terbuka dan Martha keluar membukakan pintu.
“Mama...”Darwin terkejut.
Mereka sama-sama terkejut, awalnya Martha sengaja berangkat ke Eropa untuk memberi kejutan pada Darwin. Namun sebaliknya Darwin telah dulu tiba di sana.
Martha mengajak Darwin masuk. Darwin tertawa kecil saat melihat mereka telah berkumpul di sana.
“Kok bisa berkumpul di sini semua?” tanya Darwin.
“Rencananya kasih kejutan buat kalian,” sahut Jessica.
“Tapi gagal,” sambung Martha. Semuanya tertawa.
Valen menjamu tamunya itu dengan makan malam bersama, menu nikmat yang disediakan pembantu Valen dilahap habis oleh para tamunya itu.
“Enak banget makanannya Om...” puji Asmira.
__ADS_1
“Besok kita pergi makan di tempat paling enak yang pernah om datangi ya,” ajak Valen.
“Wah, boleh tuh om...” sahut Darwin.
Selesai makan mereka berbincang-bincang hangat di ruang tamu, pandangan Valen mentok di Jessica, yang membuat Jessica salah tingkah dibuatnya.
“Kalian menginap di sini, kan?” tanya Martha.
“Enggak Ma, tapi besok kita ketemu lagi kok,” ujar Darwin.
“Tidur di sini, ya, Kak,” ujar Sara.
“Besok juga ketemu lagi kok sayang,” sahut Jessica.
“Udah akrab, nih?” Goda Darwin.
Membuat semua mata menatap Jessica.
ia jadi salah tingkah. “Apaan sih?” ujar Jessica.
Selesai makan Darwin dan Asmira berpamitan kembali ke hotel yang mereka inap yang terletak sedikit jauh dari rumah Valen.
“Tante, temani aku tidur ya ...” rengek Sara.
“Boleh, ayo ...” ajak Asmira.
Valen menatap dari kejauhan, baru kali ini Sara bisa dekat dengan orang yang baru ia kenal.
Sara tertidur pulas di samping Jessica, melihat Sara yang sudah nyenyak, Jessica bangun ingin keluar.
“Ma ... temani aku,” Sara memeluk lengan Jessica.
Jessica mengurungkan niatnya untuk keluar, ia mengelus rambut Sara dan mengecup keningnya, sepasang mata melihat mereka diam-diam dibalik pintu.
Dari kejauhan Martha melihat Valen sedang mengintip di pintu kamar Sara.
“Valen ...” panggil Martha.
“Eh, Mbak ...” Valen terkejut melihat kedatangan Martha.
“Ngapain lihat-lihat, pepet terus ...”ucap Martha.
“Mbak saya cuma...” jawab Valen.
“Cuma kagum dengan sifat keibuan Jessica,” potong Martha.
Valen tidak bisa berkata-kata.
“Mbak dukung kamu,” Martha mengacungkan jempolnya.
Valen hanya tersenyum ia tersipu malu, ia malu karena ketahuan oleh kakak iparnya itu.
Jangan lupa like ya ....
__ADS_1