Perjanjian

Perjanjian
Episode 29


__ADS_3

Martha menyuruh Bik Khodijah meneruskan ceritanya setelah ia memutuskan panggilan dari Marco.


Bik Khodijah bercerita tentang malam di mana Sukma meninggal setelah melahirkan Asmira. Cerita yang benar-benar membuat Asmira begitu sedih mendengarnya.


Bahkan ia tidak sempat memandang ibunya. Hingga dewasa kini, hanya potret yang bisa menggambarkan kecantikan Sukma yang merendam rasa rindu di hati Asmira.


Bik Khodijah juga bercerita bagaimana yang Sukma sampaikan padanya malam itu, bahwa Jessica bukanlah putri Martha.


Martha sangat syok, ia berharap Jessica adalah anaknya. Namun mimpi Sukma mengatakan anaknya memiliki tanda lahir di telinganya. Sementara Jessica tidak memiliki tanda lahir tersebut di telinganya, kata Asmira.


Asmira menangis sejadi-jadinya di pelukan Martha mendengar semua cerita masa lalunya, bagaimana besarnya perjuangan Sukma melahirkannya ke dunia ini, nyawa jadi taruhan.


Sebenarnya Martha juga begitu pilu mendengar bahwa Jessica bukan anaknya, ia sangat berharap bertemu dengan putrinya, tapi melihat Asmira yang begitu terisak ia melupakan kesedihannya.


“Sayang, udah ya,” pinta Martha.


“Ma, meskipun antara aku dan Mbak Jessica tidak mempunyai ikatan apa pun, ia begitu menyayangi aku Ma,” ujar Asmira.

__ADS_1


“Mama tahu.” Martha menghapus air mata di pipi Asmira.


Hari mulai gelap, Martha memutuskan untuk pulang, mereka berpamitan pada Khodijah dan anaknya. Martha memberikan sedikit bunga tangan untuk Bu Khodijah ia tidak mampu membalas kebaikan wanita tua itu.


Dalam perjalanan tidak ada percakapan, yang ada hanya keheningan dan suara deru mobil. Asmira menatap keluar jendela mobil yang berjalan, sementara Martha merebahkan kepalanya pada jok mobilnya.


Entah apa yang ada di pikiran keduanya tidak ada yang tahu, Mang Joni meluncurkan mobil dengan kecepatan tinggi, tidak ada yang berkomentar tidak ada yang menyuruhnya pelan.


Luka tersisa amat dalam di hati Martha, hari ini ia mengetahui dua kabar yang sekaligus membuatnya syok.


Kini penyesalan semakin bersarang di hati martha. Dulu ia berharap anaknya baik-baik saja pada sahabatnya sendiri. Tapi kini, almarhumah sahabatnya mengatakan bahwa yang ia rawat selama ini bukanlah anak martha.


Mereka tiba di rumah keluarga Marco Antonio malam hari, keduanya tertidur pulas di dalam mobil. Marni membangunkan keduanya.


Jessica memapah tubuh Asmira masuk ke dalam kamar.


“Mbak...” panggil Asmira saat Jessica ingin keluar.

__ADS_1


“Iya Mira,” jawab Jessica.


“Mbak temani aku malam ini ya?” pinta Asmira.


“Kenapa?” tanya Jessica.


“Enggak apa-apa, aku hanya ingin sebelum aku menikah,” jawab Asmira.


Jessica tersenyum, tangannya mencubit hidung mungil Asmira. “ Ayo tidur lagi Mbak temani.” Menarik selimut menutupi tubuh keduanya.


“Aku sayang Mbak ...” Asmira memeluk tubuh Jessica.


“Kamu kenapa sih Mira aneh banget?” tanya Jessica, ia membalas pelukan Asmira.


Asmira memejamkan matanya, ia berpura-pura terlelap dalam tidurnya. Pikirannya masih berkecamuk, selama ini ia sama sekali tidak merasa bahwa Jessica bukan kakak kandungnya. Tidak ada celah yang mampu memisahkan ia dan Jessica. Tapi mendengar cerita dari Bik Khodijah membuat Asmira tidak tenang.


Setelah mengubah posisi tidurnya berulang kali, Asmira akhir tertidur di samping Jessica.

__ADS_1


Asmira kembali melanjutkan mimpi-mimpinya yang tadi sempat terhenti, begitu pula Jessica keduanya tertidur pulas merajut mimpi indah, entah akan jadi nyata atau hanya mimpi semata.


Jangan lupa like ya....


__ADS_2