
“Sayang.” Darwin mengelus pipi Asmira.
“Bangun, kita udah sampai.”
Asmira membuka matanya, ia menguap sepertinya ia masih sangat mengantuk, ia menutup lagi matanya. Darwin menyadarkan kembali dengan memanggilnya pelan sampai Asmira benar-benar terbangun.
“Kita sudah sampai ya, Mas.” Asmira mengucek matanya.
“Udah, tu liat.” Darwin menunjukkan sebuah rumah.
Mata Asmira terbelalak melihat rumah yang dimaksud Darwin, Asmira seakan tak percaya. Rumah peninggalan orang tuanya, yang sudah bertahun-tahun ia tinggalkan. Kini ia kembali, tapi bukan dengan Jessica.
Perlahan air mata keluar membasahi pipinya, sesekali ia tersenyum. Asmira sedih juga bahagia kembali ke desa di mana ia habiskan masa kecilnya, tanpa bisa berkata-kata, hanya emosi yang bergejolak dihatinya.
“Jangan menangis dong sayang.” Darwin menghapus air mata Asmira dengan tangannya.
“Kenapa kamu bisa tahu rumahku, Mas?” tanya Asmira.
“Waktu kamu cerita in, aku tahu alamat ini. Dulu, waktu masih kecil aku dan mama sering liburan kesini,” ujar Darwin.
“Iya, banyak Villa di sekitar kampung ini, ke depan lagi Mas.” Asmira mangut-mangut.
“Ayo kita masuk, sayang,” ajak Darwin.
Asmira turun dari mobil ditemani Darwin memasuki halaman rumah besar itu. Memang Jessica memberikan kunci rumah kepada Asmira, dikarenakan ia tidak mau suaminya menanyakan kepadanya perihal rumah ini. Jika bandot tua itu tahu, pasti sudah sejak lama rumah itu dijualbelikan.
Asmira membuka pintu rumahnya. “Aku suka ayunan itu, Mas.” Asmira menunjukkan ayunan rusak di halaman depan.
Semua perabotan rumah itu benar-benar dibiarkan, hanya ditutupi kain putih tidak ada satu pun yang mereka jual atau mereka pindahkan. Semuanya persis seperti saat ayah dan ibu Asmira tinggalkan.
Asmira tidak bisa menahan tangisnya, saat melihat foto keluarga mereka yang berdebu dan ditutup sarang laba-laba yang menempel di dinding. Darwin memegang erat tangan Asmira memberikan kekuatan kepadanya.
Asmira masuk ke kamar orang tuanya, ke kamar Jessica dan kamarnya sendiri. “Kita punya kamar masing-masing, tapi aku selalu tidur di kamar mbak Jessica,” ucap Asmira tersenyum di sela tangisannya.
Darwin melihat tiap sudut rumah yang dipenuhi dengan lukisan-lukisan indah, hanya ada beberapa foto keluarga dan foto Jessica bersama Asmira. Selebihnya semua lukisan.
“Sayang, kita suruh orang untuk bersihkan rumah ini?” tanya Darwin.
“Jangan dulu Mas, kita bicarakan dulu dengan mbak Jessica baru kita ambil keputusan,” jawab Asmira.
“Lukisan-lukisan ini indah sekali,” ujar Darwin.
“Iya, waktu ayah menelantarkan kami mata pencaharian mbak Jessica ya dengan melukis, ia membiayai sekolahku, dan kebutuhan kita.” Asmira menceritakan tentang kisah masa lalunya.
Asmira mengajak Darwin menuju halaman belakang, semua bunga-bunga indah telah berubah menjadi rumput-rumput liar. Dulu, pembantu mereka merawat taman itu dengan baik, karena ayah Asmira suka dengan bunga-bunga.
Mereka duduk di bangku taman itu, Asmira merebahkan kepalanya di bahu Darwin. “Terima kasih Mas, udah membawaku kembali kesini,” ucap Asmira.
__ADS_1
“Sama-sama sayang, yang penting kamu jangan menangis lagi, ya.” Darwin mengelus-elus rambut Asmira.
“Sayang,” panggil Darwin.
“Iya, Mas,” jawab Asmira.
“Bersediakah kamu jadi pendamping hidupku?” tanya Darwin serius.
Asmira menatap Darwin dalam-dalam.
“Jadilah istriku sayang, aku akan menjaga kamu sepenuh jiwaku, takkan kubiarkan air mata ini jatuh lagi.” Darwin menangkup pipi Asmira dengan tangannya.
“Mas,” panggil Asmira, ia benamkan wajahnya di pelukan Darwin.
“Jangan ragu sayang, kamu wanita pertama yang kucintai dan akan kubuat jadi yang terakhir.” Darwin meyakinkan Asmira.
“Aku juga mencintaimu, Mas.” tangisan Asmira kembali pecah.
Namun kali ini benar-benar tangisan kebahagiaan. Bagaimana tidak, selama ini hidupnya begitu pedih, tidak ada tempat berbagi suka dan duka. Sekarang ia mempunyai seorang pria yang begitu perhatian dan tulus mencintainya.
“Aku perlu bicara dengan mbak Jessica dulu, Mas,” ucap Asmira.
“Aku boleh ikut?” tanya Darwin.
“Jangan, Mas,” jawab Asmira.
“Kenapa, aku juga ingin bertemu dengan calon kakak ipar?” tanya Darwin.
“Ceritakan biar aku tahu, mungkin aku bisa bantu,” pinta Darwin.
Asmira menceritakan semua yang mereka lalui selama ini, betapa menderitanya Jessica. Hingga harus mengubur dalam-dalam impiannya menjadi pelukis terkenal.
Darwin begitu terenyuh mendengar semua cerita Jessica, seakan-akan ia mampu merasa kepedihan itu. Hatinya terasa ngilu, begitu menderita orang yang dicintainya. Kenapa Tuhan baru mempertemukannya sekarang pikir Darwin.
“Kamu jangan berhenti kuliah, kamu harus lanjutkan biar aku yang akan membiayainya,” ucap Darwin.
“Jangan, Mas,” jawab Asmira.
“Jangan menolak permintaanku, sayang,” ucap Darwin. Asmira menatap Darwin lalu ia anggukan kepalanya.
“Mas ayo kita pergi, nanti keburu gelap,” ajak Asmira.
“Kita menginap di Villa saja, sayang,” ujar Darwin.
“Tapi besok Mas masuk kerja,” Asmira mengingatkan.
“Enggak apa-apa, aku lelah. Mending kita pulang besok pagi saja, ya,” tawar Darwin.
__ADS_1
Akhirnya mereka memutuskan untuk menginap, Asmira keluar mengunci pintu rumahnya dengan seribu kenangan indah bersama keluarganya ia bawa bersama dirinya ia simpan di lubuk hati terdalam.
Darwin menyetir mobil mencari sebuah tempat makan, mereka belum makan sejak tadi siang.
“Sayang, ini buat kamu.”
Darwin memberikan sebuah kotak ponsel. Asmira meraih kotak Hp tersebut. “Terima kasih, Mas.” Asmira memeluk Darwin tanpa sadar.
“Hari ini aku benar-benar bahagia, Mas,” ucap Asmira.
“Sayang, aku lagi setir mobil, kamu jangan manja begini, buatku semakin gemas saja,” ujar Darwin.
Asmira melepaskan pelukannya. “Cincinnya mana, Mas?” tanya Asmira.
Darwin menyipitkan matanya. “Cincin apa?”
“Tadi kan Mas lamar aku, mana cincinnya,” sahut Asmira.
Darwin tertawa. “Ya sayang, pulang dari sini aku beli in, ya.”
Mereka berhenti di depan warung makan. Matahari mulai terbenam, siang berganti malam. Mereka mengisi perut dengan beberapa suap makanan, sebelum mencari Villa terdekat untuk istirahat sejenak melepaskan kepenatan setelah seharian ini.
Mereka tiba di sebuah Villa yang di sambut hangat oleh penjaga pria tua dan istrinya.
“Mari, Nak.” Pak Nadir mempersilahkan masuk.
“Istirahat saja dulu, kalau ada perlu apa-apa panggil kami di belakang,” pinta istrinya.
“Terima kasih Pak, Bu,” ucap Darwin.
Dua orang itu pergi meninggalkan Asmira dan Darwin, mereka pasti mengira pasangan ini adalah suami istri. Keduanya begitu serasi siapa pun yang melihatnya pasti akan memikirkan hal yang serupa.
“Mas, aku kamar yang di atas ya,” pinta Asmira.
“Boleh,” angguk Darwin.
“Aku takut.” Asmira bergelayut manja.
Darwin mengantar Asmira ke kamar lantai atas, yang sudah pak Nadir bersihkan. Asmira memeluk lengan Darwin berjalan beriringan.
“Sampai di sini sana Mas,” pinta Asmira saat berada di depan kamar.
“Oke, tapi kalo ada kecoak jangan teriak-teriak panggil Mas ... Mas ....” Darwin menakutkan Asmira dengan menirukan cara Asmira memanggil namanya.
“Mas,” rengek Asmira, ia mencubit lengan Darwin.
Lagi-lagi Asmira begitu mudah di tipu mana mungkin ada kecoak, barusan pak Nadir bersihkan kamar tersebut. Itu hanya alasan Darwin saja agar Asmira membolehkan ia masuk.
__ADS_1
Jangan lupa Like ya...
baca novel A BIG MISTAKE ya