Perjanjian

Perjanjian
Episode 64


__ADS_3

Rose menepis tangan Martha. “Maaf saya permisi dulu,” ujarnya menampakkan aura wajah kurang suka.


“Maafkan Mama sayang!” ucap Martha membuat langkah Rose terhenti.


“Aku udah lama maaf in Tante, lagian aku udah anggap orang tuaku udah mati,” ujar Rose dengan nada rendah.


Marco memeluk Rose. “Jangan berkata begitu sayang, kami ini orang tuamu. Ada alasannya mengapa Mamamu melakukan ini,” ujar Marco mengelus-elus rambut Rose.


“Tapi apa alasannya Om!” teriak Rose melepaskan pelukannya.


“Apa pun alasannya, percaya mama, Nak. Mama gak mungkin sengaja membuangmu,” ujar Martha memeluk Rose seakan tak ingin melepaskannya lagi.


Rose terpaku, hidupnya selama ini luntang-lantung karena orang yang di pelukannya itu. Tapi, ia tidak merasakan ikatan batin sama sekali.


“Apa mungkin mereka orang tuaku?" tanya Rose dalam hati.


“Tante udah ya,” ujar Rose melepaskan pelukan Martha.


“Aku butuh waktu untuk mencerna ini semua Tante, enggak semudah itu saja kalian datang lalu mengaku sebagai orang tuaku,” ujar Rose ia berlalu meninggalkan rumah Marco bersama Brandon. Tanpa menghiraukan Fenita yang terus memanggilnya.


Martha menangis di pelukan Marco. Sementara Fenita tidak menyangka kejadian akan serumit itu. Fenita berpikir Rose akan senang mengetahui dirinya anak orang kaya.


“Kalian yang sabar ya. Aku akan coba Ngomong sama Rose.”


*


Martha tidak selera makan, ia cuma mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya. Pikirannya hanya fokus pada Rose,


“Untuk apa hidup, jika anak sendiri saja tidak mau mengakui aku Mamanya,” gumam Martha dalam hati, ia meneteskan air matanya.


Marni memberanikan diri mendekati majikannya itu. Ia coba untuk menanyakan sesuatu. Tapi Jessica mencegahnya.


“Jangan ganggu dulu Bik, tunggu tante Martha tenang dulu,” pinta Jessica berbisik pada Marni.


Marni menarik tangan Jessica menjauh. Marni menengok kiri-kanan, setelah ia rasa aman ia bertanya pada Jessica.


“Nona Jessica tahu sesuatu ya?” tanya Marni berbisik. Dengan santai Jessica mengangguk. Marni menutup mulut dengan tangannya.


“Kemarin aku dengar ibunya Kelvin Ngomong sama mang Joni,” beritahu Jessica.

__ADS_1


“Dari awal saya juga udah yakin, Joni itu aneh,” ujar Marni menimpali omongan Jessica.


Saat Rose sedang berbicara dengan Martha dan Marco Jessica lihat Fenita sedang mengobrol dengan mang Joni secara diam-diam. Karena penasaran Jessica mengintip pembicaraan mereka.


“Saya penasaran Bu Fenita. Kenapa dulu ibu menukar anak Sukma dengan bayi meninggal,” ujar Joni.


“Karena saya tahu Marco tidak suka anak perempuan. Jika saya menukar bayi Sukma dengan bayi meninggal itu, pasti Martha akan menyerahkan anaknya kepada sahabatnya,” cerita Fenita mengingat sepenggal kisah masa lalunya.


“Kenapa bisa yakin Bu, Bu Martha akan memberikan anaknya pada orang lain?” tanya Joni lagi.


“Jika saya di posisinya, saya juga akan melakukan hal yang sama. Lebih baik saya menyerahkan anak saya kepada orang yang saya percaya. Daripada, membesarnya tapi ia tidak diharapkan oleh suami,” ujar Fenita.


Joni mangut-mangut saja. Majikannya benar-benar brilian.


“Berkat gelang yang saya curi, akhirnya dendam saya terbalaskan. Setelah ini saya akan menyuruh Rose meminta warisan dari Marco,” ujar Fenita tersenyum dengan bangga.


“Oh, jadi begitu ceritanya.” Marni mangut-mangut mendengar cerita Jessica.


“Dari awal saya udah yakin, saya anak mereka Bik,” ujar Jessica membuat Marni terkejut.


“Maksud Non apa, ya?” tanya Marni tidak mengerti.


“Bukannya kemarin yang telah mendonorkan darah untuk Anda adalah ayah kandung Anda?” tanya Dokter itu heran.


“Ayah kandung Dok?” tanya Jessica kaget.


“Iya, hasil tes darah Anda dengan Tuan Marco Antonio, 100% cocok Bu,” jawab dokter.


“Dokter yakin?” tanya Jessica. Ia ragu dengan apa yang ia dengar.


Dokter itu tersenyum, lalu ia mengambil hasil laboratorium yang kemarin. “Ini lihat saja," ia menyodorkan kertas hasil lab ke hadapan Jessica.


Di saat Jessica sedang bercerita, Samsul yang dari tadi menguping pembicaraan mereka, tiba-tiba diketahui Marni ia bergegas pergi. “Pak!” panggil Marni. Langkah Samsul terhenti.


“Maaf Bu, Bapak enggak sengaja, tadi cuma lewat...”


“Udah, Bapak kemari!” Marni memotong omongan suaminya.


Samsul merasa tidak enak karena telah menguping pembicaraan Jessica, ia merasa canggung.

__ADS_1


“Jadi sebenarnya, Non Jessica anak yang ibu Sukma asuh?” tanya Marni kemudian.


Jessica mengangguk pelan, sambil menyunggingkan senyum manis di wajahnya.


Marni tidak habis pikir, jika Jessica sudah mengetahui yang sebenarnya. Kenapa ia tidak mengatakan yang sejujurnya kepada Marco dan Martha.


“Tapi kenapa Non diam saja?” tanya Marni geram dengan sikap Jessica.


Jessica tersenyum sinis. “Lalu saya harus apa Bik?” tanya Jessica menyilang kedua tangannya.


“Mereka saja enggak peduli saya anaknya,” ujar Jessica pesimis.


Jessica menarik nafasnya dalam-dalam, “Lagian saya enggak tahu mau ngapain Bik,” ujar Jessica memejamkan matanya, ia menengadah ke atas.


“Mending cerita saja, Non,” Samsul ikut berkomentar.


Jessica berkali-kali menggeleng kepalanya, ia menggigit bibir bawahnya.


“Rumit banget jalan cerita hidupku Ya Tuhan...” batin Jessica menjerit.


Ia sama sekali tidak tertarik untuk mengatakan yang sebenarnya pada kedua orang tuanya, biar saja mereka larut dalam derita yang mereka buat sendiri.


“Aku sudah terlalu lama menderita Bik, biar mereka rasakan sedikit saja apa yang pernah aku rasa,” ujar Jessica. Air mata perlahan jatuh di pipinya.


Marni mengelus-elus bahu Jessica. “Tapi Non, Fenita punya rencana busuk. Apa non tega?” tanya Marni.


“Aku gak peduli dengan harta mereka Bik,” sahut Jessica tegas. Membuat Marni terdiam.


“Maaf Non, saya mengerti apa yang Non rasakan sekarang. Tolong Non pikir lagi matang-matang, jangan gegabah,” ujar Marni mencoba memberi nasehat. Bagaimanapun, ia sayang terhadap Martha dan keluarganya.


Jessica meratapi nasibnya, ia tidak tahu apa yang terjadi ke depan. Untuk sekarang yang ia tahu hatinya sedang terluka. Valen yang ia cintai ternyata pamannya.


“Aku tahu Bik, kenapa Valen menghindari aku,” ujar Jessica menyeka air matanya.


“Kenapa Non?” tanya Marni.


“Gimana mungkin paman dan ponakan menikah.” Jessica tersenyum, padahal hatinya terluka.


Marni dan Samsul tertawa bersama. Jessica jadi bingung, kenapa mereka berdua menertawakan dirinya.

__ADS_1


Jangan lupa like ya...


__ADS_2