Perjanjian

Perjanjian
Episode 51


__ADS_3

Darwin dan Pratiwi sedang dalam perjalanan pulang, mereka baru saja selesai melakukan pertemuan dengan klien di sebuah hotel.


Pikiran Darwin melayang-layang entah ke mana, ia sama sekali tidak bisa fokus, baik tadi saat pertemuan maupun saat menyetir mobilnya.


Tiwi juga tidak memperhatikan ke depan, ia sibuk dengan ponselnya. Saat ia melihat ke depan, tampak lampu merah tapi Darwin melaju kendaraannya cukup kencang.


“Pak! lampu merah, berhenti!” teriak Tiwi.


Karena terkejut Darwin membanting setir mobilnya ke samping.


Untung saja, tidak ada mobil dari arah kanan, Darwin masih tidak percaya apa yang barusan terjadi mereka hampir saja tabrakan dengan sebuah truk besar di depannya karena Darwin galau ia tidak melihat lampu merah di depannya.


“Pak, minum dulu.” Tiwi menyodorkan air mineral untuk Darwin.


“Maafkan saya, hampir saja nyawa kita melayang karena kelalaian saya,” ucap Darwin masih syok dengan kejadian barusan.


“Biar saya saja yang menyetir, boleh?” pinta Tiwi. Darwin mengangguk sembari keluar bertukar posisi dengan Tiwi.


Darwin mendengus kasar, ia menutup muka dengan kedua tangannya. “Rumah tangga kamu baik-baik saja, Wi?” tanya Darwin pada Pratiwi Asisten sekaligus sekretarisnya itu.


Tiwi tersenyum mendengar pertanyaan bosnya. “Namanya saja rumah tangga Pak, hal biasa jika terjadi kesalahpahaman, cukup saling memahami saja.” Tiwi tahu Darwin sedang diterpa isu-isu yang kurang baik.


“Saya bingung Wi," ucap Darwin memejamkan matanya. Tiwi memperhatikan wajah Darwin, ternyata tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang, begitu pikir Tiwi.


Tiwi tidak berani menanyakan apa pun, Darwin juga sepertinya tidak ingin bercerita. Ponsel Darwin berdering, tapi ia acuhkan. “Pak, Hp Bapak tuh,” beritahu Tiwi.


“Halo Pa,” sapa Darwin setelah ia menjawab telepon.


“Kamu pulang ke rumah papa sebentar, ya?” pinta Marco.


“Hm ...” jawab Darwin singkat, lalu ia memutuskan telepon.


Malamnya Darwin tiba di rumah, tampak sepi, semua lampu padam, berulang kali ia memanggil istrinya tapi tidak ada yang menyahuti.


Darwin masuk kamar ia melihat Asmira tiduran di lantai, ia mengangkat tubuh Asmira ke ranjang.


“Sayang kenapa enggak hidup in lampu?” tanya Darwin ketika Asmira mulai membuka matanya.


“Aku lebih suka gelap, untuk apa terang tapi seakan-akan berada di kegelapan yang mencekam,” jawab Asmira ia kembali memejamkan matanya.


Darwin terdiam mendengar ucapan Asmira, ia segera mandi. Selesai mandi Darwin melihat Asmira masih tertidur pulas.


“Sayang, ayo kita ke rumah Mama,” ajak Darwin.


“Mas pergi saja, aku lagi ingin sendiri,” jawab Asmira tanpa membuka matanya.

__ADS_1


Darwin mencium kening Asmira dan berlalu meninggalkan istrinya menuju rumah orang tuanya.


“Bahkan kamu enggak peduli, Mas.” Gumam Asmira menatap kepergian Darwin.


Setiba di rumah orang tuanya, ia disambut Marni namun tampak tegang tidak seperti biasa ketika ia menyambut kepulangan tuan mudanya itu.


Semua berkumpul di meja makan, Marni mempersilahkan Darwin ke sana. Mata Darwin terbelalak melihat Ritha berada di sana.


“Ayo duduk, mari makan dulu,” ajak Marco.


Ritha makan sangat lahap, semua memperhatikannya.


“Makan yang banyak biar cucu papa sehat,” ucap Marco tersenyum bahagia.


“Cucu papa!?” Darwin terkejut dengan ucapan Marco.


“Jangan gila Pa!” teriak Darwin bangkit dari duduknya.


“Kenapa?” tanya Marco.


“Jelaskan ke papa Ritha!” teriak Darwin.


“Nak, sabar dulu. Ingat dia sedang mengandung,” pinta Martha.


Ritha bangun menarik tangan Darwin menjauh dari ruang makan.


“Aku tunggu waktu yang pas untuk jelas in semua ke papa kamu, aku enggak tega usik kebahagiaannya,” ujar Ritha mencari alasan.


“Justru itu merusak kebahagiaanku sendiri Rit. Aku enggak mau tahu, pokoknya sekarang juga kamu jelaskan ke semua kalo yang kamu kandung itu anak Kelvin.”


Darwin tidak mau ambil pusing dengan kondisi yang membuatnya ikut terjepit di antara masalah yang ia sendiri tidak melakukannya.


Ritha mengelus-elus perutnya, usia kehamilannya sudah 12 Minggu, perutnya semakin hari semakin bertambah besar.


“Kasihan anakku, tidak ada yang menginginkannya,” ucap Ritha. Matanya berkaca-kaca.


“Apa Kelvin tahu kamu sedang mengandung anaknya?” tanya Darwin mulai iba.


“Tahu, tapi dia enggak peduli. Sepertinya dia punya wanita lain, Mas,” ucap Ritha di sela tangisnya.


“Intinya aku cuma mau kamu jelaskan semua biar masalah ini kelar, soal kehamilan kamu, itu urusan kamu dengan Kelvin.” Darwin kembali ke permasalahannya sendiri.


Ritha mengangguk. “Sial! sudah capek-capek nangis juga,” gumam Ritha dalam hati.


“Dan satu lagi, kita ke rumahku, kamu harus jelaskan semua pada istriku,” pinta Darwin dengan tegas.

__ADS_1


Mereka melanjutkan makan malamnya, sementara Jessica dan Valen sedang dinner di luar, ditemani Sara juga tentunya. Mereka tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran putri semata wayang Valen itu, malah terasa kurang jika Sara tidak ikut ke mana pun mereka pergi.


Selesai makan, Darwin berpamitan kepada Martha, ia ingin mengajak Ritha ke rumahnya dengan tujuan seperti yang ia maksud tadi, awalnya Marco melarang keras, tapi Ritha meyakinkan Marco bahwa ia tidak apa-apa.


“Sayang, kamu di mana...” panggil Darwin setelah ia tiba di rumahnya.


Asmira masih tidur di ranjangnya sama seperti waktu Darwin meninggalkannya tadi.


“Sayang, kamu sakit?” tanya Darwin menyentuh kening Asmira.


“Aku enggak kenapa-kenapa,” jawab Asmira cuek.


“Aku bersama Ritha, ayo kamu temui dia di bawah,” ajak Darwin.


“Wah, hebat. Bahkan kamu membawanya pulang,” gumam Asmira dalam hati.


Asmira turun bersama Darwin menemui Ritha yang duduk di sofa ruang tamu. Ritha menyalami tangan Asmira dengan tatapan matanya yang tajam.


“Ritha kesini, mau jelasin semua sama kamu sayang,” ucap Darwin pada istrinya itu.


“Mas, boleh tinggalkan kita berdua, ini urusan wanita,” pinta Ritha dengan nada mesra kepada Darwin.


Keduanya terdiam, Ritha bangkit dari duduknya menghampiri Asmira.


“Maafkanku Tari,” ucap Ritha sembari menggenggam tangan Asmira.


“Aku tahu, ini sulit buat kau terima, aku sebenarnya enggak mau usik kebahagiaanmu, tapi semua ini terbongkar karena keteledoran kami berdua,” ujar Ritha memasang wajah sedih.


Asmira tersenyum sinis melihat Ritha yang terasa murahan dimatanya, tapi ia enggan berkomentar.


“Semua ini salahku, aku enggak bisa menolak pesona Darwin, permainannya di atas ranjang selalu membuatku terbuai.”


“Cukup!” bentak Asmira, ia menyela pembicaraan Ritha, ia tidak sanggup lagi mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulut Ritha.


Darwin berlari menghampiri mereka berdua, Ritha langsung memeluk Darwin. “Mas, aku takut, perutku sakit ...” rengek Ritha.


“Kamu tega Mas, aku enggak menyangka kamu bawa dia kesini, cuma buat aku dengarkan ocehannya yang semakin membuatku sakit!” teriak Asmira, ia berlari ke kamarnya meninggalkan mereka berdua di sana.


Ritha mengelus-elus perutnya, ia berpura-pura pusing dan lemas. Darwin memapahnya masuk mobil dan mengantarkannya kembali ke rumah papanya.


“Aku udah jelasin semuanya, Mas,” ujar Ritha berbohong kepada Darwin.


“Semoga semuanya akan baik-baik saja,” ucap Darwin tersenyum lega.


“Kalo dia mencintaimu, dia akan mengesampingkan emosinya, Mas,” ujar Ritha mengelus-elus bahu Darwin.

__ADS_1


Jangan lupa Like ya, Baca juga novel saya, A BIG MISTAKE,


__ADS_2