
Asmira masuk kamar di ikuti Darwin di belakangnya. Kamarnya bersih dan rapi, Suasana dingin pedesaan menambah hasrat Darwin ingin segera mencium bibir Asmira.
Darwin memeluk Asmira dari belakang, ia merasakan hangatnya tubuh wanita yang dicintainya itu. Asmira memejamkan matanya, ia merasa tenang dengan pelukan Darwin, ia balikkan badannya ia lingkarkan tangannya di leher Darwin.
Darwin membungkuk, ia menarik dagu Asmira, lalu mencium bibirnya perlahan. Asmira membalas, sesekali menggigit bibir bawah Darwin. Asmira mulai berani agresif, tangannya mencengkeram erat leher Darwin.
Nafas Asmira terengah-engah saat Darwin melepaskan ciumannya, Darwin mengelus bibir Asmira yang basah karena ciuman darinya, Asmira memejamkan matanya mulutnya sedikit terbuka. Melihat itu, Darwin kembali mencium bibir Asmira dengan gemas.
Darwin merebahkan tubuh Asmira perlahan ke ranjang dengan ciuman tidak terlepas dari keduanya. Asmira tersadar, ia membuka matanya dan mendorong tubuh Darwin pelan. “Mas cukup!”
“Maaf sayang, aku hilang kendali.” Darwin mencium kening Asmira sebentar.
“Enggak apa-apa Mas, tidur sana gih. Besok pagi-pagi kita kembali ke kota.” Asmira mencium pipi Darwin.
Darwin pun keluar dari kamar Asmira. Kemudian masuk ke kamar satunya lagi, Darwin sudah yakin dari awal, pak Nadir hanya menyiapkan satu kamar. PakPak Nadir mengira mereka adalah pasangan suami istri. Akhirnya, Darwin memilih tidur di sofa karena tidak sanggup lagi menahan kantuknya.
* *
Pagi hari Asmira terbangun. Karena sinar mentari menembus jendela kamarnya yang menerpa wajah cantiknya. Ia bangun dan mengucek matanya, lalu Asmira menyibakkan gorden jendela, Asmira menghirup udara segar pedesaan yang telah lama ia tinggalkan dengan memejamkan matanya.
Selesai mandi, Asmira keluar kamar ia mencari-cari di mana Darwin. Saat ia keluar ternyata Darwin sedang minum teh dan sedang mengobrol dengan penjaga Villa.
“Ngapain di sana, ayo kemari?” ajak Darwin.
“Mari, Non.” Istri pak Nadir menyeduh secangkir teh untuk Asmira yang baru bergabung.
“Mas, ayo kita pulang,” ajak Asmira.
“Makan dulu, mau Bibi masak in apa?” tanya istri pak Nadir.
“Enggak usah Bik, kita makan di restoran saja nanti,” tolak Darwin.
“Terima kasih ya, Pak, Bu?” ucap Asmira.
“Sama-sama Non. Hati-hati di jalan, kapan-kapan kembali lagi kemari, ya?” ujar pak Nadir.
Mobil Darwin segera melaju meninggalkan kampung halaman Asmira. Dalam perjalanan, Asmira kembali mengantuk dan tertidur pulas.
Darwin membangunkannya mengajak sarapan Asmira menolak, ia hanya ingin tidur dan segera sampai ke rumahnya, kemudian segera menemui Jessica.
* * *
Keesokan harinya, Asmira membuka kotak handphone pemberian Darwin, ia masukkan Sim Card agar bisa menghubungi Jessica.
Saat Hp barunya menyala beberapa pesan dari Jessica masuk, sudah dua hari ponsel Asmira tidak aktif, pasti Jessica dirundung rasa khawatir.
[Kamu di mana Mira?]
[Kenapa kamu enggak ada di rumah, terus kenapa handphone kamu enggak aktif.]
[Kenapa kamu non aktif kuliah, ke mana kamu sebenarnya.]
Setelah membaca pesan dari Jessica, Asmira segera menghubungi Jessica. “Ke mana saja kamu anak nakal?” suara Jessica sedikit berteriak.
“Mbak aku mau ketemu,” sahut Asmira.
__ADS_1
“Nanti sore Mbak datang ke rumah, kamu jangan ke mana-mana!” bentak Jessica.
“Aku tunggu Mbak,” sahut Asmira.
“Kamu hutang banyak pertanyaan dari Mbak,” ujar Jessica lagi. Kemudian Jessica memutuskan telepon, Asmira merasa ngeri mendengar ucapan Jessica barusan.
Ting!
Pesan Masuk.
Darwin.
[Sayang antar makan siang ya?]
[Mbak Jessica mau ke rumah, Mas makan di luar saja.]
[Ya udah, salam buat calon kakak ipar.]
* *
Sore harinya, Jessica tiba di rumah Asmira. Asmira menyiapkan kue kesukaan Jessica dan menyeduh kan teh hangat.
“Kamu kenapa berhenti kuliah?” tanya Jessica to the point.
“Setelah nikah aku lanjutkan lagi,” ucap Asmira.
Mata Jessica terbelalak mendengar ucapan Asmira. “Apa-apaan kamu ini?” tanya Jessica terkejut dengan pernyataan adiknya.
“Namanya Marcell,” beritahu Asmira.
“Dalam waktu dekat kita akan segera menikah,” ucap Asmira.
“Di mana kalian kenal dan siapa dia?” kali ini Jessica yakin bahwa Asmira tidak sedang bercanda.
“Kalau Mbak mau kenal, aku bisa menyuruhnya datang kesini sekarang,” sahut Asmira.
“Lain kali, Mbak tidak lama!” jawab Jessica.
“Aku butuh dukungan Mbak,” ujar Asmira.
“Kamu sudah yakin dengan keputusanmu? apa dia pria baik-baik?” tanya Jessica meyakinkan Asmira.
“Yakin Mbak,” jawab Asmira.
“Kamu sudah dewasa, kamu bisa memilih sendiri kehidupan yang kamu inginkan, mbak bisa bilang apa.” Mata Jessica berkaca-kaca.
“Aku akan melepaskan Mbak dari bandot tua itu,” ucap Asmira geram.
“Kamu enggak usah pikiri Mbak, Mbak doa in kamu bahagia, dan pastikan dia berbeda dengan suami Mbak.” Jessica memeluk Asmira.
“Aku rindu ibu Mbak.” Air mata Asmira meleleh di pipinya.
“Mbak usaha in bisa datang ke pernikahan kamu nanti. Doa ibu juga menyertai kamu.” Jessica menghapus air mata Asmira.
“Kalau Mbak punya waktu, aku segera kenali dengan mas Marcell,” ujar Asmira.
__ADS_1
“Pasti sayangnya, Mbak.” Jessica mencubit pipi Asmira gemas.
Jessica pun berpamitan, ia segera kembali ke rumah suaminya. Jika tidak, akibatnya akan fatal. Asmira menatap punggung Jessica yang meninggalkan rumahnya di halaman depan.
“Aku janji akan melepaskan mbak dari bandot tua itu,” gumam Asmira dalam hati .
* *
Keesokan harinya di apartemen Darwin, Asmira baru selesai masak ia akan mengantarkannya ke kantor Darwin, ia mandi dan berpakaian rapi dengan sedikit dandanan tipis di wajahnya.
Asmira turun taksi di depan sebuah gedung putih yang menjulang tinggi. Ia segera masuk dan bertemu karyawan Darwin dan menanyakan ruangan Darwin.
Pandangan karyawan itu sangat judes, menatap sinis ke arah Asmira, karyawan itu menghubungi Pratiwi. Betapa terkejutnya karyawan itu, mengetahui Asmira calon istri Bosnya.
“Mari saya antarkan ke ruang pak Darwin,” ajak karyawan itu lembut.
Asmira hanya tersenyum melihat perlakuan karyawan calon suaminya itu. “Terima kasih, tidak perlu, Mbak hanya perlu menunjukkan ruang yang mana,” tolak Asmira.
Tiba di depan ruang Darwin Asmira terkejut membaca tulisan di depan pintu. “DIREKTUR,” Asmira mengeja pelan tulisan itu, rasanya ia tak percaya.
Asmira mengetuk pintu, terdengar suara Darwin mempersilahkan masuk dari dalam, Asmira membuka gagang pintu pelan.
“Mas ...” panggil Asmira.
Darwin sedang asyik menatap layar komputernya menoleh. “Sayang, Masuk.” Darwin berdiri menyambut hangat kedatangan calon istrinya.
Asmira menekuk wajahnya. “Mas kenapa enggak bilang, kalo Mas direktur utama di perusahaan ini?” tanya Asmira.
Darwin tertawa. “Kamu menyesal mencintai seorang direktur?” goda Darwin.
“Bukan gitu Mas, cuma Mas pelit, kenapa coba enggak kasih kerjaan aku di sini?” tanya Asmira.
“Kamu pilih jadi istri bos, apa jadi karyawan di sini” tanya Darwin.
“Mas, serius tahu?” Asmira memukul pelan bahu Darwin.
“Aku enggak mau pria-pria di sini suka padamu.” Darwin mencubit hidung mungil Asmira.
“Bohong!”
“Bagaimana kemarin mbak Jessica ke rumah?” tanya Darwin mengalihkan pembicaraan.
“Kapan-kapan dia mau bertemu sama Mas,” ujar Asmira.
“Pastikan saja kapan waktunya,” sahut Darwin.
Asmira membuka masakan yang ia bawa dan menyuruh Darwin memakannya, sebelum makanan itu keburu dingin.
Darwin dengan lahap menyantap makanan buatan calon istrinya itu tanpa tersisa. Asmira begitu senang melihat Darwin menghabiskan masakan buatannya.
Jangan lupa jempolnya ya guys.
terima kasih...
baca novel A BIG MISTAKE ya
__ADS_1